RSS

Monthly Archives: May 2012

mild head injury ( cedera kepala ringan )

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

      Sebelum memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala ini, pemahaman perawat tentang teori yang mendasar sangatlah penting. Dalam bab ini, penulis akan membahas mengenai konsep dasar anatomi fisiologi sistem persarafan, cedera kepala dan asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala secara teoritis.

 

  1. A.    Landasan Teori Kasus

 

  1. Pengertian cedera Kepala

Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injuri baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala ( Suriadi dan Yuliani, 2001 , hal . 39).

Cedera kepala adalah gangguan fungsi otak normal karena trauma (trauma tumpul atau trauma tusuk)  ( Nettina, 2001, hal. 72)

Cedera kepala adalah trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak (Smeltzer dan Bare, 2001, hal. 2210)

Cedera kepala meliputi : trauma apapun pada kulit kepala beserta rambutnya, tulang tengkorak atau otak. (Lewis, Heitkemper, Dirksen, 2000, hal. 1624 )

Cedera kepala adalah trauma yang mengenai otak yang disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan kemampuan kognitif, fungsi fisik, fungsi tingkah laku dan emosional. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008 : 103)

Kesimpulan dari cedera kepala adalah suatu trauma atau gangguan fungsi otak yang mengenai kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang   disebabkan oleh injuri, trauma tumpul atau trauma tusuk.

 

 

Cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi :

(1). Cedera kepala ringan/Mild Head Injury (GCS 13-15 dengan     kehilangan kesadaran kurang dari 0-15 menit)

(2). Cedera kepala sedang/Moderat Head Injury (GCS 9-12 dengan  kehilangan kesadaran sampai dengan 6 jam)

(3). Cedera kepala berat/Savere Head Injury (GCS 3-5 dengan kehilangan kesadaran > 6 jam)

  1. Etiologi

Jatuh; kecelakaan kendaraan motor, sepeda dan mobil; kecelakaan pada saat olahraga. (Suriadi dan Yuliani, 2001, hal . 41)

  1. Patofisiologi

Trauma langsung/ Benturan

   Cedera fokal                                                                        cedera difus

Memar otak, hematom epidural,                     Gangguan fungsional

Subdural, intraserebral

Gelombang kejut

Pada seluruh arah

Mengubah tekanan jaringan otak

Tekanan jaringan otak akan meningkat

Jaringan otak akan rusak(coup

Suplay darah keotak menurunGangguan suplay oksigen dan glukosa pada sel

Gangguan metabolisme( anaerob)

Penumpukan asam laktat

Udem

Herniasi pada foramen tentorium, magnum/ falks serebrum

Iskemi

Nekrosis

Mati

( Sjamsuhidayat & jong 2004 )

  1. Manifestasi klinis

Manifestasi klinis yang terjadi pada klien cedera kepala menurut Corwin

( 2000 ) adalah :

1).                Pada konkusio, segera terjadi kehilangan kesadaran

2).    Pada hematom, kesadaran mungkin hilang segera atau bertahap seiring dengan membesarnya hematom

3).                Pola pernapasan dapat secara progesif menjadi abnormal

4).                Respon pupil mungkin lenyap atau secara progesif memburuk

5).    Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan peningkatan tekanan intrakranium

6).    Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium

Menilai tingkat keparahan  menurut Mansjoer ( 2000 ) adalah :

a)      Cedera kepala ringan (kelompok risiko rendah)

(1). Skor skala koma Glasgow 15 (sadar penuh, atentif, dan          orientatif

(2). Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi)

(3). Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang

(4). Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing

(5). Pasien dapat menderita abrasi, laserasi, atau hematoma kulit     kepala

(6). Tidak adanya kriteria cedera sedang berat

b)      Cedera kepala sedang (kelompok risiko sedang)

(1) Skor skala koma Glasgow 9-14 (konfusi, latergi, atau stupor)

(2) Konkusi

(3) Amnesia pasca-trauma

(4) Muntah

(5) Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda Battle, mata    rabun, hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan serebrospinal)

(6) Kejang

c)      Cedera kepala berat (kelompok risiko berat)

(1)  Skor skala koma Glasgow 3-8 (koma)

(2)  Penurunan derajat kesadaran secara progesif

(3)  Tanda neurologis fokal

(4)  Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium

 

 

  1. Pemeriksaan diagnostik

Pada klien cedera kepala dilakukan pemeriksaan diagnostik sebagai berikut

1).    Tomografi komputerisasi atau pencitraan resonan magnetik untuk mengidentifikasi dan melokalisir lesi, edema serebral, pendarahan

2).    Sinar X tengkorak dan spinal servikal untuk mengidentifikasi fraktur dan dislokasi

3).    Uji neuropsikologis selama fase rehabilitasi untuk menentukan defisit kognitif  (Nettina, 2001,hal.73)

4).    Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma

5).    BAER (Brain Auditory Evoked Respons), menentukan fungsi korteks dan batang otak

6).    PET (Positron Enission Tomography), menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak

7).    Pungsi lumbal: dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarakhnoid

8).    GDA (Gas Darah Arteri): mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenisasi yang akan dapat meningkatkan TIK (Doenges, Moorhouse, Geissler, 1999,hal.272)

 

  1. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada klien dengan cedera kepala menurut Corwin (2000) adalah :

1).    Konkusio ringan atau sedang biasanya diterapi dengan observasi dan tirah baring

2).    Untuk cedera kepala terbuka di perlukan antibiotik

3).    Metode-metode untuk menurunkan tekanan intrakranium termasuk pemberian diuretik dan obat anti inflamasi

4).    Mungkin diperlukan ligasi pembuluh darah yang pecah dan evakuasi hematoma secara bedah

  1. B.     Tinjauan Asuhan Keperawatan Kasus

 

Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien cidera kepala ini menurut Doenges, Moorhouse, Geissler  (1999), dilakukan melalui lima proses keperawatan, yaitu : pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1)      Pengkajian

Berikut beberapa hal yang perlu dikaji pada pasien cedera kepala yaitu :

a).     Aktivitas/istirahat

Gejala : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.

Tanda :  Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quardreplegia,

   ataksia cara berjalan tak tegap, masalah dalam

   keseimbangan, cedera (trauma ortopedi), kehilangan tonu

   otot spastik.

b).    Sirkulasi

Gejala:  Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi),

Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia  yang

diselingi dengan bradikardia, disritmia).

c).    Integritas ego

Gejala :  Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau                      dramatis).

Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung,

depresi  dan  impulsif.

 

 

 

d).   Eliminasi

Gejala: Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami  gangguan

fungsi.

e).    Makanan/cairan

Gejala :  Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.

Tanda :  Muntah (mungkin proyektil). Gangguan menelan (batu air

liur keluar, disfagia).

f).     Neuro sensori

Gejala: Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian. Vertigo, sinkope, tinnitus, kehilangan pendengaran, tingling, baal pada ekstremitas. Perubaha

dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia

kehilangan sebagian lapang pandang,

fotofobia. Gangguan pengecapan dan juga penciuman.

Tanda: Perubahan kesadaran bisa sampai koma. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetris), deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan penginderaan, seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran. Wajah tidak simetris. Genggaman lemah, tidak seimbang. Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah. kejang. Sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. Kehilangan sensasi sebagian tubuh. Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.

g).    Nyeri /kenyamanan

Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda,

biasanya lama.

Tanda:  Wajah menyeringai, respons menarik pada rangsangan

nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa beristirahat, merintih.

h).    Pernapasan

Tanda : Perubahan pola napas (apnea yang diselingi hiperventilasi).

Napas berbunyi, stridor, tersedak. Ronki, mengi positif

(kemungkinan karena aspirasi).

i).      Keamanan

Gejala :  Trauma baru/trauma karena kecelakaan.

Tanda : Fraktur/dislokasi. Gangguan penglihatan. Kulit : laserasi,

abrasi, perubahan warna, seperti “raccoon eye”, tanda Batle

disekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma). Adanya

aliran cairan (drainase) dari telinga/hidung (cairan serebro

spinal). Gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak, tonus

otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralisis.

Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh.

j).      Interaksi sosial

Tanda : Afasia motorik/sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang

Sulang, disartria, anomia.

 

2)      Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau risiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Carpernito, 2000, dikutip oleh Nursalam, 2000, hal. 35). Adapun diagnosa keperawatan pada klien cedera kepala  menurut Wahyu Widagdo, dkk (2008)  dan Smeltzer dan Bare (2001) yaitu:

a).    Perubahan perfusi jaringan serebral b.d  trauma kepala, penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi, hematoma); edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera, perubahan metabolik, takar lajak obat/alkohol); penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung), peningkatan tekanan intrakranial (PTIK)(Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 109)

b).    Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak); kerusakan persepsi atau kognitif; obstruksi trakeobronkial. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 109)

c).    Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensori, transmisi dan atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). (Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

d).   Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologis; konflik psikologis. (Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

e).    Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan persepsi atau kognitif; penurunan kekuatan/tahanan; terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan, misal, tirah baring, imobilisasi. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

f).     Defisit perawatan diri b.d kerusakan mobilitas fisik(Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

g).    Risiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif; penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh; kekurangan nutrisi; respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid); perubahan integritas sistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS). (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

h).    Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran; kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan;  status hipermetabolik.(Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

i).      Perubahan proses keluarga b.d transisi dan krisis situasional; ketidakpastian tentang hasil/ harapan. .(Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

j).       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi     dan kebutuhan pengobatan b.d kurang pemajanan, tidak mengenal informasi/sumber-sumber; kurang mengingat/ keterbatasan kognitif. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

 

3)      Perencanaan

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasikan pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. (Doenges, Moorhouse, Geisser (1999)

a).    Perubahan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi, hematoma); edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera, perubahan metabolik, takar lajak obat/alkohol); penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung).

1)       Tujuan : Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi.

2)    Kriteria Hasil : mempertahankan tingkat kesadaran biasa/

perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sensorik;

mendemonstrasikan tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda

peningkatan tekanan intrakranial.

3)    Rencana :

a)Observasi  status neurologis.

Rasional : hasil dari pengkajian dapat diketahui secara dini adanya tanda-tanda PTIK sehingga dapat menentukan arah tindakan selanjutnya. Kecenderungan terjadinya penurunan nilai GCS menandakan adanya peningkatan tekanan intracranial dari normal 0-15 mmHg .

b)      Monitor TTV (TD, nadi, RR, suhu) minimal setiap jam sampai

keadaan pasien stabil.

Rasional : dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda peningkatan TIK.

c)                                          Naikkan kepala dengan sudut 15-450 (tidak hiperekstensi dan

fleksi) dan posisi netral (dari kepala hingga daerah lumbal

dalam garis lurus)

Rasional: dengan posisi kepala 15 – 450 dari badan dan kaki maka akan meningkatkan dan melancarkan aliran balik darah vena kepala sehingga mengurangi kongesti serebrum, edema dan mencegah terjadinya peningkatan TIK. Posisi netral tanpa hiperekstensi dan fleksi dapat mencegah penekanan pada saraf medula spinalis yang menambah peningkatan TIK.

d)                                                                       Monitor masukan dan haluaran setiap 8 jam sekali.

Rasional: untuk mencegah kelebihan cairan yang dapat menambah edema serebri sehingga terjadi peningkatan TIK.

e)  Monitor suhu dan atur suhu lingkungan sesuai indikasi.

Rasional: demam menandakan gangguan hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolik karena demam dan suhu lingkungan yang panas akan meningkatkan TIK.

f)  Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan                                    anti edema seperti manitol, gliserol dan lasix.

Rasional: manitol atau gliserol merupakan cairan hipertonis                                       yang berguna untuk menarik cairan dari intraseluler (sel) ke

ekstraseluler (vaskuler). Lasix untuk meningkatkan ekskresi

natrium dan air yang diinginkan, untuk mengurangi edema

                                    otak.

b).    Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak); kerusakan persepsi atau kognitif; obstruksi trakeobronkial.

1)Tujuan : pola napas efektif dalam batas normal.

2) Kriteria Hasil: Pola napas dalam batas normal dengan frekuensi 14-

20 kali/menit (dewasa) dan iramanya teratur; bunyi napas normal tidak ada stridor, ronchi, dullness dan wheezing; tidak ada pernapasan cuping hidung; pergerakan dada simetris/tidak ada retraksi; nilai AGD arteri normal, yaitu : pH darah 7,35-7,45; PaO2 80-100 mmHg; PaCO2 35-45 mmHg; HCO3- 22-26 mEq/L; BE -2,5 – +2,5; Saturasi O2 95-98%.

3) Rencana :

a)                                                                                                                              Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan.

Rasional: perubahan  yang terjadi dari hasil pengkajian berguna dalam menunjukkan adanya komplikasi pulmonal dan luasnya bagian otak yang terkena.

b)                                                                                                                              Catat kompetensi reflek gag / menelan dan kemampuan pasien

untuk melindungi jalan napas sendiri.

Rasional: kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas.

c)                                                                                                                              Lakukan pengisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari

15 detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari sekret.

Rasional: penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri.

d)                                                                                                                              Auskultasi suara napas.

Rasional: untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi serebral dan menandakan terjadinya infeksi paru.

e)   Kolaborasi berikan oksigen.

Rasional: memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan                                           membantu  dalam pencegahan hipoksia.

c).    Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensori, transmisi dan /atau integrasi (trauma atau defisit neurologit).

1) Tujuan: tidak terjadi perubahan persepsi sensori

2) Kriteria hasil: Melakukan kembali atau mempertahankan tingkat

kesadaran biasanya dan fungsi persepsi, mengakui perubahan

dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu,

mendemonstrasikan perubahan prilaku atau gaya hidup untuk

mengkompensasi atau defisit hasil.

3) Rencana :

a)  Kaji kesadaran sensorik seperti respons sentuhan, panas atau

dingin, benda tajam atau tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh .

Rasional: informasi penting untuk keamanan pasien.

b) Catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan seperti memusatkan kedua mata dengan mengikuti instruksi verbal yang sederhana dengan jawaban “ya” atau “tidak”, makan sendiri dengan  tangan dominan pasien.

Rasional: membantu melokalisasi daerah otak yang mengalami gangguan dan mengidentifikasi tanda dan perkembangan terhadap peningkatan fungsi neurologis.

c)   Hilangkan suara bising atau stimulasi yang berlebihan sesuai kebutuhan.

Rasional: menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan atau bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan.

d)  Pastikan atau validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik

Rasional: membantu pasien untuk memisahakan pada realitas dari perubahan persepsi.

e)   Berikan lingkungan terstruktur termasuk terapi, aktivitas.

Rasional: meningkatkan konsistensi dan keyakinan yang dapat menurunkan ansietas yang berhubungan dengan ketidaktahun pasien tersebut.

f)  Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas.

Rasional: menurunkan frustasi.

g)   Kolaborasi dengan ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi kognitif.

Rasional: pendekatan antar disiplin dapat menciptakan rencana penatalaksnaan integrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ ketidakmampuan secara individu yang berfokus pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik, kognitif, dan keterampilan perseptual.

d).   Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologis; konflik psikologis.

1) Tujuan : perubahan proses pikir tidak terjadi.

2) Kriteria hasil :mempertahankan/melakukan kembali orientasi

mental dan realitas biasanya, mengenali perubahan

berpikir/perilaku, berpartisipasi dalam aturan terapeautik.

3) Rencana :

a)   Pastikan dengan orang terdekat untuk membandingkan

kepribadian / tingkah laku pasien sebelum mengalami trauma dengan respon pasien sekarang.

Rasional : masa pemulihan cedera kepala meliputi fase agitasi, respons marah dan berbicara / proses pikir yang kacau.

b)  Dengarkan dengan penuh perhatian semua hal yang

diungkapkan pasien.

Rasional: perhatian dan dukungan yang diberikan pada individu akan meningkatkan harga diri dan mendorong kesinambungan usaha tersebut.

c)   Tingkatkan sosialisasi dalam batas-batas yang wajar.

Rasional: penguatan terhadap tingkah laku yang positif (seperti interaksi yang sesuai dengan orang lain) mungkin bermanfaat dalam proses belajar struktur internal.

d)  Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi.

Rasional: dapat membantu untuk memfokuskan kembali perhatian pasien dan untuk menurunkan ansietas.

e).    Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan persepsi atau kognitif; penurunan kekuatan/tahanan; terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan, misal, tirah baring, imobilisasi.

1) Tujuan : mampu melakukan aktivitas fisik dan ADL (activity daily living), tidak terjadi komplikasi dekubitus, bronkopneumonia, tromboplebitis dan kontraktur sendi.

2)   Kriteria hasil : pasien mampu dan pulih kembali setelah pasca akut

dalam mempertahankan fungsi gerak, tidak terjadi dekubitus, bronkopneumonia, tromboplebitis dan kontraktur sendi, mampu mempertahankan keseimbangan tubuh, mampu melakukan aktivitas ringan pasca akut dan aktivitas sehari-hari pada tahap rehabilitasi sesuai kemampuan.

 

 

 

3)  Rencana :

a)   Kaji tingkat kemampuan mobilisasi dengan skala 0 – 4.

Rasional : Untuk menentukan tingkat aktivitas dan bantuan yang diberikan.

b)  Atur posisi dan ubah secara teratur tiap 2 jam sekali.

Rasional: merubah posisi secara teratur dapat meningkatkan sirkulasi seluruh tubuh dan mencegah adanya penekanan pada organ tubuh yang menonjol.

c)   Berikan/bantu untuk melakukan latihan rentang gerak.

Rasional: mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus dan kekuatan otot dan mencegah kontraktur.

d)  Lakukan massage, perawatan kulit, dan mempertahankan alat

alat tenun bersih dan kering.

Rasional: meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit dan integritas kulit.

f).     Defisit perawatan diri b.d kerusakan mobilitas fisik

1)      Tujuan: klien mampu melakukan aktivitas fisik dan kebutuhan personal hygiene dan kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi

2)      kriteria hasil: klien mampu dan pulih kembali setelah kecelakaan dan klien tampak segar, badan klien tampak bersih, rambut klien tampak bersih dan rapi, kuku klien pendek dan bersih, gigi klien tampak bersih

3)      Rencana:

a).    Kaji kemampuan klien

Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien

 

b).    Bantu klien dalam aktivitas( bantu klien bangun dari tempat tidur),

Rasional: Untuk merelaksasi otot klien

c).    Kaji kekuatan tonus otot

Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien

d).    Bantu klien dalam personal hygiene, mandi, perawatan kuku jari kaki dan tangan, ganti alat tenun. Ganti alat tenun

Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene klien

e).    Anjurkan klien untuk Range of motion jika tidak ada indikasi Rencana: Untuk melatih kekuatan otot dan relaksasi

f).     Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam melakukan latihan fisik

Rasional: Untuk melatih kekuatan otot dan mencegah artrofi otot

g).    Risiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif; penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh; kekurangan nutrisi; respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid); perubahan integritas sistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS).

1) Tujuan: Infeksi tidak terjadi.

2) Kriteria hasil: tidak terdapat tanda-tanda infeksi seperti rubor,

    dolor, kalor, tumor dan fungsiolesa; tidak ada pus.

3) Rencana :

a)   Observasi  daerah luka.

Rasional : deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya.

 

b)   Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

perawatan secara aseptik dan anti septik.

Rasional : untuk mencegah infeksi nosokomil.

c)   Anjurkan untuk melakukan nafas dalam.

Rasional : peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan risiko terjadinya pneumonia, atelektasis.

d) Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran.

Rasional: untuk mendeteksi tanda-tanda sepsis.

e)   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik

Rasional: antibiotik berguna untuk membunuh atau memberantas bibit penyakit yang  masuk ke dalam tubuh sehingga infeksi dapat dicegah.

f)   Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksanaan

laboratorium  (kadar leukosit).

Rasional: kadar leukosit darah dan urin adalah indikator dalam menentukan adanya infeksi.

h).    Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran; kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah,menelan; status hipermetabolik.

1) Tujuan : kekurangan nutrisi tidak terjadi.

2) Kriteria hasil : BB pasien normal (BB normal = TB – 100 – (10 %

TB-100), tanda-tanda nutrisi tidak ada, nilai-nilai hasil laboratorium normal (protein total 6 – 8 gram %, albumin 3,5 – 5,3 gr %, globulin 1,8 – 3,6 gr %, Hb tidak kurang dari 10 gr %)

3) Rencana :

a)   Observasi kemampuan mengunyah, menelan, reflek batuk dan

cara mengeluarkan sekret.

Rasional: dapat menentukan pilihan cara pemberian jenis makanan.

b)   Auskultasi bising usus.

Rasional:  fungsi saluran pencernaan harus tetap dipertahankan pada penderita cedera kepala. Perdarahan lambung akan menurunkan peristaltik. Bising usus membantu untuk menentukan pemberian makanan dan mencegah komplikasi.

c)   Timbang berat badan.

Rasional: penimbangan berat badan dapat mendeteksi perkembangan berat badan.

d)   Berikan makanan dalam porsi sering tapi sedikit.

Rasional: memudahkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi.

e)  Tinggikan kepala ketika makan.

Rasional:  mencegah regurgitasi dan aspirasi.

f)   Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksaan laboratorium

(protein total, globulin, albumin dan Hb)

Rasional:  untuk mengidentifikasi defisiensi nutrisi.

i).      Perubahan proses keluarga b.d transisi dan krisis situasional ketidakpastian tentang hasil/ harapan.

1) Tujuan: keluarga dapat beradaptasi terhadap perubahan pengalaman

     traumatik secara konstruktif.

2) Kriteria hasil : mulai mengekspresikan perasaan dengan  bebas dan

tepat, mendorong dan memungkinkan anggota yang cedera untuk

maju untuk ke arah kemandirian.

3) Rencana :

a)   Catat bagian-bagian dari unit keluarga, dengan        keberadaan/ keterlibatan sistem pendukung.

Rasional: menentukan adanya sumber keluarga dan mengindentifikasikan hal-hal yang diperlukan.

b)  Anjurkan keluarga untuk mengungkapkan hal-hal yang menjadi perhatiannya.

Rasional: pengungkapan tentang rasa takut secara terbuka    dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan koping terhadap     realitas.

c)  Anjurkan untuk mengakui perasaannya.

Rasional: untuk membantu seseorang menyatakan     perasaannya tentang apa yang sedang terjadi.

d) Berikan penguatan awal terhadap penjelasan tentang luasnya trauma, rencana pengobatan dan prognosisnya.

Rasional: dapat membantu menurunkan konsepsi yang keliru.

j).      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang pemajanan, tidak mengenal informasi/sumber-sumber; kurang mengingat/ keterbatasan kognitif.

1) Tujuan : dapat berpartisipasi dalam proses belajar.

2) Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, aturan

pengobatan, potensial komplikasi.

3) Rencana :

a)   Evaluasi kemampuan dan kesiapan untuk belajar dari pasien dan keluarganya.

Rasional: memungkinkan untuk menyampaikan bahan yang             didasarkan atas kebutuhan secara individual.

b)  Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.

Rasional: berbagai tingkat bantuan mungkin perlu     direncanakan  yang  didasarkan atas kebutuhan yang bersifat    individual.

 

c)  Berikan instruksi dalam bentuk tulisan.

Rasional: memberikan penguatan visual dan rujukan setelah             sembuh.

d) Berikan kembali informasi yang berhubungan dengan proses trauma dan pengaruh sesudahnya.

Rasional: membantu dalam menciptakan harapan yang         realistis dan meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini            dan kebutuhannya.

e)   Berikan penguatan terhadap pengobatan yang diberikan sekarang.

Rasional: aktivitas, pembatasan, pengobatan yang     direkomendasikan diberikan atas dasar pendekatan dan     evaluasi amat penting untuk perkembangan   pemulihan/pencegahan terhadap komplikasi.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2012 in Uncategorized

 

Pencegahan dekubitus

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perawat dalam Mencegah Dekubitus.

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Salah satu aspek penting dalam pelayananan keperawatan adalah menjaga dan mempertahankan integritas kulit klien agar senantiasa terjaga dan utuh. Intervensi dalam perawatan kulit klien akan menjadi salah satu indikator Kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan. Kerusakan integriritas kulit dapat berasal dari luka karena trauma dan pembedahan, namun juga dapat disebabkan karena tertekannya kulit dalm waktu byang lama yang menyebabkan iritasi dan akan berkembang menjadi luka tekan atau dekubitus (Kozier, 1993)

Dekubitus merupakan problem yang serius karena dapat mengakibatkan meningkatnya biaya, lama perawatan dirumah sakit karena memperlambat program rehabilitasi bagi penderita (Potter, Perry, 1993). Selain itu dekubitus juga dapat menyebabkan nyeri yang berkepanjangan, rasa tidak nyaman, tergangu dan frustasi yang menghinggapi para pasien dan meningkatkan biaya dalam penaganan.

Estimasi biaya penanganan dikemukanan oleh Bryant et al (1992) mencapai 5000 dolar – 27000 dolar. Di Amerika, dekubitus akan meningkatkan biaya medis dan perawatan hamper mencapai 1,385 juta dolar Amerika (http:// www. Medlineplus. com). Dekubitus Juga dapat menyebabkan komplikasi berat yang mengarah ke sepsis, infeksi kronis, sellulitis, osteomyelitis serta meningkatkan pravalensi mortalitas pada klien lanjut usia. Karenanya angka kejadian dekubitus menjadi salah satu factor indicator penying mutu pelayanan Rumah skit (DEPKES, 1998)

Insidensi  dan pravelensi terjadinya dekubitus di Amerika tergolong masih cukup tinggi dan perlu mendapatkan perhatian dari kalangan tenaga kesehatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa insidensi terjadinya dekubitus bervariasi, tapi secara umum dilaporkan bahwa 5-11% terjadi ditanan perawtan acute care, 15-25% ditatanan perawat jangka panjang/ longterm care, dan 7-12% ditatanan perawatan rumah// homecare (Mukti, 2002)

Penelitian di Indonesia dilaporkan dari Annas, HA cit Purwaningsih (2000) menyebutkan bahwa dari 78 orang pasien tirah baring yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin  Sudirohusodo, Makasar sebanyak 12 orang (15,8%) mendapatka dekubitus. Setyajati (2001) juga melakukan penelitian yang menghitung angka kejadian dekubitus pada pasien tirah baring di RS Muwardi Surakarta, pada Bulan oktober 2002 angka kejadian dekubitus sebanyak 38,18 %. Penelitian tentang angka kejadian dekubitus juga dilakukan oleh Purwaningasih (2000) di Ruang Al, B1, C1, D1 dan ruang B3 IRNA I RSUP DR. sardjito pada bula oktober 2001, didapatkan hasil dari 40 pasien tirah baring, angka insiden mencapai 40 %. Angka ini relative tinggi dan akan semakin meningkatkan jika tidak dilakukan upaya dalam mencegahnya.

Perawat sebagai kesehatan yang memiliki tanggung jawab utama dalam mencegah kejadian dekubitus perlu mnerapkan pengetahuan terbaik yang dimilikinya dalam mencegah berkembangnya kejadina dekubitus (Moore, et al, 2004). Berbagi studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam kegiatan pencegahan dekubitus ( Buss, et al, 2004). Penelitian  ini telah dilakukan oleh Halfens dan Eggink (1995) dan menyebutkan bahwa sebagian besar perawat yang bekarja dirumah sakit umum tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan pencegahan dekubitus. Selanjutnya pieper dan Mott (1995) menemukan bahwa pengetahuan registered nurse tentang dekuditus tidaklah tinggi hanya mencapi 36% dari total pertanyaan yang dijawab dengan benar.

Penelitian yang dilakukan oleh Bostrom dan Kenneth (1992) menyimpulkan bahwa sikap, nilai dan kepercayaan perawat tidak menempatkan penbcegahandekubitus menjadi ptioritas yang tinggi dalam pelayanan keperawatan.

Moore, et,al  (2004) di Inggris telah melakukan penenlitian tentang hal-hal yang mengahalangi sikap, perilaku dan persepsi perawat dalam mencegah dekubitus, hasil yang diperoleh menyebutkan bahwa sikap yang positif tidak cukup untuk menjamin perubahan perilaku akan berjalan dalm praktek klinik. Selain itu kurangnya waktu, staf, pengetahuan dan informasi yang memadai juga dapat menjadi penghalang bagi perawat dalam mencegah dekubitus, karenanya penting untuk merubah pengetahuan, siakp, nilai dan tindakan perawt dalm upaya mencegah kejadian dekubitus (Buss, et, al, 2004).

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya dekubitus, diantaranya adalah dengan perbaikan keadaan umum penderita, pemeliharaan dan perawatan kulit yang baik, papan/alas tempat tidur  yang baik, pencegahan terjadinya luka dan berbaring yang berubah-ubah(Bauwhuizen, 1996). Selain pencegahan dekubitus juga dapat dilakukan dengan mengkaji resiko klien terkena dekubitus, massase tubuh maupun edukasi pada klien dan support system. Pengetahuan ini harus diniliki perawat, diikuti dengan sikap positif dan dipratekkan dalam tindakan. Antara pengetahuan, sikap dan perilaku selayaknya berjalan secara sinergis karena terbentuknya perilaku baru, akan dimulai dari domain kognitif/pengetahuan, yang selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikpa dank an dibuktikan dengan adanya tindakan atau praktek. Namun pengetahuan dan sikap tidak slalu akan diikuti oleh adnya tindakan atau perilaku (Notoatmojo, 2002).

Dari latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti   faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalh dalam penelitian ini adalah”faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

a. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus.

b. Mengetahui pengaruh sikap terhadap perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengaruh factor pendorong ( dukungan pimpinan dan kebujakan rumah sakit) terhadap perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

b. Mnegetahui pengaruh factor pendukung (ketersediaan waktu dan ketersediaan alat) terhadap  perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

c.  Mengetahui factor dominan yang mempenagruhi perilaku perawat dalam mencegah dekubitus .

D. Manfaat penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi perawat tentang pentingnya pengetahuan dan sikap yang positif dalam mencegah dekubitus.

2. Manfaat bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan  informasi bagi rumah sakit dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pencegahan dekubitus.

3. Manfaat bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam menyusunkarya tulis ilmiah

E. Tinjauan Pustaaka

A. Dekubitus

1. Pengertian

Dekubitus adalah suatu keadaan dimanan timbul ulkus sebagai akibat penekanan yang lama mengenai suatu tempat pada permukaan tubu penderita (Bouwhuizen, 1996). Istilah lain yang sering dipakai dalah pressure sore atau pressure ulcers. Dekubitus  dapat terjadi karena terjepitnya pembuluh darah antara tulang pasien dan tenpat tidurnya. Akibat terjapitnya pembuluh darah tersebut, maka jaringan yang terdapat pada daerah itu tidak bisa nmemperoleh darah yang diperlukan dengan demikina juga tidak bisa memperoleh darah yang diperlukan dengan demikian juga tidak bisa memperoleh darah yang diperlukan dengan demikian juga tidak bisa memperoleh bahan makanan dan oksigen, akibatnya jaringan tersebut mengalami kematian. Orang yangs ehat akan melakukan gerakan spontan sebagai reaksi terhadap stimulasi yang diterima oleh otak, sekalipun orang tersebut dalam keadaan tidur, karena itu, kompresi tidakperbah berlangsung dalam waktu yang lama sehingga terjadi kerusakan jaringan

B. Pengetahuan, sikpa, dan perilaku

 

Pengertian
Dekubitus sering disebut ulkus dermal / ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi akibat tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi. Pertama jaringan kulit memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi kulit rusak dan pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar dan dalam.

Tempat – tempat yang paling sering mengetahui dekubitus, antara lain :
a.Siku e. Pinggul
b.Tumit f. Mata Kaki
c.Bahu g. Telinga
d.Sakrum
Dekubitus umum terjadi pada :
a.Pasien Lansia
b.Pasien yang sangat kurus
c.Pasien kegemukan (Obesitas)
d.Pasien yang tak dapat bergerak
e.Pasien Inkohtivensia
f.Pasien Lemah
Pencegahan Dekubitus
Karena dekubitus lebih mudah dicegah dari diobati, maka sedini mungkin harus dicegah dengan cara :
a.Merubah posisi pasien sedikitnya 2 jam sekali.
b.Anjurkan pasien untuk duduk dikursi roda atau seri gery untuk menegakkan mereka setiap 10 menit untuk mengurangi tekaan atau membantu pasien melakukannya.
c.Anjurkan masukan cairan dan nutrisi yang tepat dan adekuat. Karena kerusakan kulit lebih mudah terjadi dan lambat untuk sembuh jika nutrisi pasien buruk.
d.Segera membersihkan feses atau urin dari kulit karena bersifat iritatif terhadap kulit.
e.Inspeksi daerah dekubitus umum terjadi, laporkan adanya area kemerahan dengan segera.
f.Jaga agar kulit tetap kering
g.Jaga agar linen tetap sering dan bebas dari kerutan
h.Beri perhatian khusus pada daerah – daerah yang beresiko terjadi dekubitu.
i.Masase sekitar daerah kemerahan dengan sering menggunakan losion
j.Jangan gunakan losion pada kulit yang rusak
k.Beri sedikit bedak tabur pada area pergesekan tapi jangan biarkan menumpuk.menggumpal
l.Gunakan kain pengalas bila memindahkan pasien tirah baring
m.Lakukan latihan serak minimal 2x sehari untuk mencegah kontraktur
n.Gunakan kasur busa, kasur kulit atau kasur perubah tekanan.

Pengobatan / Intervensi
Tahap – tahap kerusakan jaringan. Kerusakan jaringan terjadi dalam 4 tahap, maka dari itu pengobatan atau intervensi keperawatan pada tiap tahap/dapat membatasi proses dan menghindari kerusakan lebih lanjut. Tahap satui, yang ditandai dengan :
1. Kulit menjadi kemerahan, akan berubah warna biru ke abu – abuan disekitar daerah yang mengalami tekanan. Pada orang yang berkulit gelap daerah tersebut terlihat lebih kering.
a. Beritahui perawat
b. Masase dengan sambur bagian luar daerah yang kemerahan
c. Jaga agar area sekitar kulit yang rusak tetap bersih dan kering
d. Kurangi semua tekanan berlebihan pada area tersebut
e. Menganjurkan diet bergizi dan cairan yang adekuat
f. Jaga agar kulit yang rusak tetap tertutup sesuai instruksi, biasanya dengan balutan steril kering atau penutup proteksif lainnya.
g. Lakukan pengobatan dengan lampu panas sesuai instruksi dokter
h. Tempatkan pasien pada matras egrate, agar berat badan terdistritansi ke seluruh permukaannya dan memberikan sirkulasi udara.
i. Laporkan indikasi infeksi seperti bau atau drainase, pendarahan dan perubahan ukuran.
j. Pokumatasikan adanya area yang potensia rusak pada catatan pasien menggunakan kata – kata dan diagram.

Tahap dua, yang ditandai dengan :
1. Kulit memerah dan terdapat lesi seperti suka melepuh didaerah tersebut, kulit bisa rusak atau tidak.
Tindakan
a. Pindahkan tekanan dengan mengganti posisi pasien
b. Masase dengan lembut daerah sekitar area yang memerah untuk mencegah pembentukan luka baring.
c. Laporkan ke perawat
d. Dokumentasikan pada catatan perawatan
Tahap tiga, yang diotandai dengan :
1. Semua lapisan kulit rusak,
Tindakan.
a. Perawatan yang diabaikan sama dengan perawatan tahap – tahap dan dilanjutkan dengan tepat jika berlanjut ke tahap 3.
b. Untuk mencegah infeksi perawar dapat mencari daerah luka dengan bahan bakteriostatik misalnya : Phisonex, cara klens, dan Bioleks, pengobatan spesifik bervariasi sesuai dengan instruksi dokter.
c. Jika ada jaringan mati (nevkrotik) salep yang mengangkat jaringan mati (debinderment) dari luka, tersebut dapat diinstruksikan. Pengobatan ini dilakukan oleh dokter atau perawat.
d. Pada beberapa fasilitas, lesi terbuka ditutup tidak terlalu ketat dengan kasa yang direndam dengan Ed. Carrington, yang menjaga agar lesi tetap lambat dan meningkatkan penyembuhan dan debidemen sendiri.
e. Suka dijaga agar tetap lembab dengan menutupinya menggunakan hidrokoloid seperti kembaran tipis dinoderm. Kmudian diplester
f. Ganti balutan setiap 3 sampai 5 hari, kecuali jika balutan tersebut bocor.
g. Pada kasus yang parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk menutupi daerah ulkus.
Tahap empat, ditandai dengan :
1. Ulkus meluas, menembus kulit jaringan subtenta, dan dapat melibatkan tentang, otot dan struktur – struktur lainnya.
Tindakan
a. Lanjutkan tindakan yang dighuanakn pada tahap sebelumnya
b. Pengkajian yang konstan terhadap kerusakan kulit meliputi pengukurn luas luka dan mengobservasi dan mengevaluasi penyembuhan.
Sumber : Buku Asisten Keperawatan

Luka dekubitus adalah kerusakan jaringan lokal pada bagian tubuh dengan permukaan tulang yang menonjol akibat tekanan, pergesekan atau pergeseran. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia.

ETIOLOGI
Luka Dekubitus disebabkan oleh kombinasi dari faktor ekstrinsik dan intrinsik pada pasien.

A. Faktor Ekstrinsik

  1. Tekanan : kulit dan jaringan dibawahnya tertekan antara tulang dengan permukaan keras lainnya, seperti : tempat tidur dan meja operasi. Tekanan ringan dalam waktu yang lama sama bahayanya dengan tekanan besar dalam waktu singkat. Terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi dan nekrosis.
  2. Gesekan dan pergeseran : gesekan berulang akan menyebabkan abrasi sehingga integritas jaringan rusak. Kulit mengalami regangan, lapisan kulit bergeser terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal.
  3. Kelembaban : akan menyebabkan maserasi, biasanya akibat inkontinensia, drain dan keringat.

B. Fase Intrinsik

  1. Usia : pada usia lanjut akan terjadi penurunan elastisitas dan vaskularisasi.
  2. Hilangnya sensasi : paraplegia, hemiparesis, neuropati perifer.
  3. Penurunan kesadaran : gangguan neurologis, trauma, analgetik narkotik
  4. Imobilitas : akibat paralisis, traksi, anestesia, sedasi, total bedrest.
  5. Malnutrisi : gangguan penyembuhan luka. Biasanya berhubungan dengan hipoalbumin.
  6. Dehidrasi
  7. Anemia
  8. Infeksi
  9. Gangguan vaskuler : perokok, diabet

PATOFISIOLOGI

Tekanan normal kapiler adalah 32 mmHg, bila mendapat tekanan lebih besar dari 50 mmHg pada daerah permukaan tulang yang menonjol secara terus menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan kerusakan jaringan. Penekanan pada jaringan lunak akan menyebabkan iskemi bila proses penekan terus berlanjut akan timbul nekrosis dan ulcerasi.

 

Gambar patofisiologi dekubitus

Klasifikasi Dekubitus

  • Stadium 1 : eritema yang menetap
  • Stadium 2 : kerusakan kulit partial (epidermis dan sebagian dermis) ditandai dengan adanya lecet dan lepuh
  • Stadium 3 : kerusakan seluruh lapisan kulit sampai subkutis, tidak melewati fascia
  • Stadium 4 : kerusakan seluruh lapisan melibatkan otot, tendon, ligamen dan sendi.

Penanganan Dekubitus

  1. Penerangan untuk pasien dan keluarga
  2. Bila ulkus kecil dapat sembuh sendiri bila faktor penyebab dihilangkan.
  3. Usaha pencegahan keadaan yang lebih buruk. Mengurangi tekanan dengan cara mengubah posisi selama 5 menit setiap 2 jam. Menggunakan alas tidur yang empuk, kulit dijaga kering dan bersih jangan sampai kotor karena urin dan feses. Diusahakan segera mobilisasi aktif jika telah memungkinkan.
  4. Rawat luka dan debridement
  5. Perbaiki keadaan umum
  6. Operasi dilakukan pada stadium 3 dan 4
  7. Rehabilitasi : melatih otot

Prosedur Operasi

  1. Debridement jaringan non vital
  2. eksisi bursa
  3. ostektomi tulang yang non vital
  4. hemostasis yang baik
  5. memilih flap yang sesuai
  6. hindari jahitan yang tegang
  7. perawatan post operasi : hindari penekanan selama 3-6 minggu dan dilakukan pengawasan, perbaikan nutrisi.

Flap yang Biasa Dipilih Untuk Rekonstruksi

  • Defek ischium : gluteal fasciocutaneous flap, musculocutaneous rotation flap, posterior hamstring musculocutaneous V-Y advancement flap, posterior thigh flap (fasciocutaneous), tensor fascia lata flap.
  • Defek Sacrum : lumbosacral flap (fasciocutaneous), unilateral / bilateral gluteal fasciocutaneous flap, musculocutaneous rotation flap, unilateral / bilateral gluteal musculocutaneous V-Y flap
  • Defek Trochanter : tensor fascia lata flap

Komplikasi Operasi

  • Hematom
  • Infeksi
  • Dehisensi
  • Rekurensi

 

ULKUS DEKUBITUS

AUTHOR: ALFONS OCTAVIAN SABANDAR. DR

MEDICAL FACULTY-SEBELAS MARET UNIVERSITY IN SURAKARTA

FEBRUARY, 2008

PENDAHULUAN

Istilah ulkus dekubitus telah digunakan secara luas dalam dunia kedokteran sejak lama dan sampai saat ini masih menjadi masalah serius. Dekubitus sendiri secara etimologi berasal dari bahasa latin “decumbree” yang berarti  “merebahkan diri” yang didefinisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam1,2. Luka ini terjadi sebagai akibat dari kerusakan jaringan setempat yang disebabkan oleh iskemia pada kulit sampai jaringan di bawah kulit akibat tekanan dari luar yang berlebihan. Umumnya terjadi pada penderita dengan penyakit kronik yang berbaring dalam jangka waktu lama1,3.

Ulkus dekubitus sering disebut sebagai Ischemic ulcers, Pressure ulcers, Pressure sore atau Bed sore1,3,4,5.

Frekuensi ulkus dekubitus di berbagai negara masih cukup tinggi. Di Amerika Serikat, dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa 3-10% pasien yang dirawat di rumah sakit menderita dekubitus dan 2,7%  peluang  terbentuk dekubitus baru, namun angka tersebut terus menunjukkan peningkatan hingga 7,7-26,9%. Penelitian lain memperlihatkan bahwa sekitar 28% pasien di rumah sakit berpeluang untuk menderita ulkus dekubitus, dan 2/3 penderita dekubitus tersebut terjadi pada pasien berusia lanjut1,4,5. Dekubitus juga terjadi  dengan frekuensi yang cukup tinggi pada pasien-pasien neurologis oleh karena imobilisasi yang lama dan berkurangnya kemampuan sensorik1. Insiden dekubitus pada  penderita dengan trauma medulla spinalis mencapai 25-85% dengan angka kematian antara 7-8%3.

Ulkus dekubitus termasuk salah satu daftar penyebab kematian secara langsung (7-8%) pada pasien-pasien paraplegia. Evaluasi secara luas telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa 1/3  pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit yang mengalami dekubitus selama perawatan, dilaporkan meninggal dunia, dan lebih dari setengahnya akan meninggal dalam 12 bulan ke depan. Secara umum pasien-pasien tersebut meninggal oleh karena proses penyakit primer, namun adanya ulkus dekubitus menjadi faktor yang dapat memperberat penyakit primernya1,4.

Ulkus dekubitus telah menjadi hal yang serius baik di negara maju maupun berkembang karena selain tingginya angka morbiditas dan mortalitas, adanya ulkus dekubitus juga mengakibatkan meningkatnya biaya perawatan dan memperlambat program rehabilitasi bagi penderita1,3,4,5,6.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Pada dasarnya ulkus dekubitus terjadi akibat adanya faktor primer dan sekunder.

Faktor primer

Beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab dari ulkus dekubitus oleh karena adanya iskemia dan hipoksia yang mengakibatkan terjadi penurunan asupan maupun distribusi O2 ke jaringan. Teori iskemia berpendapat bahwa ulkus dekubitus merupakan akibat dari tekanan konstan dari luar (tekanan eksternal) yang cukup lama yang merusak aliran darah lokal soft tissue. Tekanan eksternal tersebut harus lebih tinggi dari tekanan intrakapiler arterial dan harus lebih tinggi dari tekanan kapiler vena. Dalam keadaan normal, tekanan intrakapiler arterial adalah 32 mmHg dan tekanan ini dapat meningkat mencapai maksimal 60 mmHg yaitu pada keadaan hiperemia. Tekanan  mid kapiler adalah 20 mmHg, sedangkan tekanan pada vena kapiler adalah 13-15 mmHg. Pada saat tekanan eksternal melebihi tekanan intrakapiler arterial maupun tekanan vena kapiler, maka tekanan tersebut akan merusak aliran pada jaringan dan menghambat aliran darah balik, dan jika tekanan tersebut konstan selama 2 jam atau lebih akan menimbulkan destruksi dan perubahan ireversibel dari jaringan1,3,4,5,6,7.

Substansia H  yang mirip dengan histamine dilepaskan oleh sel-sel yang iskemik dan akumulasi metabolit seperti kalium, adenosine diphosphat (ADP), hidrogen dan asam laktat, diduga sebagai faktor yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Reaksi kompensasi sirkulasi akan tampak sebagai hiperemia dan reaksi tersebut masih efektif bila tekanan dihilangkan sebelum periode kritis terjadi yaitu 1-2 jam. Suatu penelitian histologis memperlihatkan bahwa tanda-tanda kerusakan awal terjadi di dermis antara lain berupa dilatasi kapiler dan vena serta edem dan kerusakan sel-sel endotel. Selanjutnya akan terbentuk perivaskuler infiltrat, agregat platelet yang kemudian berkembang menjadi hemoragik perivaskuler3. Yang menarik, pada tahap awal ini, di epidermis tidak didapatkan tanda-tanda nekrosis oleh karena sel-sel epidermis memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada keadaan tanpa oksigen dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, perubahan patologis oleh karena tekanan eksternal tersebut terjadi lebih berat pada lapisan otot daripada pada lapisan kulit dan subkutaneus1. Hal ini sesuai dengan pernyataan Daniel dkk (1981) yang mengemukakan bahwa iskemia primer terjadi pada otot dan kerusakan jaringan kulit terjadi kemudian  sesuai dengan kenaikan besar dan lamanya tekanan3.

Lindan dkk menyebutkan bahwa pada pasien posisi supine, tekanan eksternal 40-60 mmHg merupakan tekanan yang paling berpotensi untuk  terbentuk ulkus pada daerah sacrum, maleolus lateralis dan oksiput. Sedangkan pada pasien posisi prone, thoraks dan genu mudah terjadi ulkus pada tekanan 50 mmHg. Pada pasien posisi duduk, mudah terjadi ulkus bila tekanan berkisar 100 mmHg terutama pada tuberositas Ischii. Kesimpulannya, tekanan-tekanan tersebut lebih tinggi dari tekanan kapiler yang mengindikasikan alasan area anatomi tersebut sering terjadi ulkus dekubitus.

Kosiak (1959) membuktikan pada anjing, bahwa tekanan eksternal sebesar 60 mmHg selama 1 jam akan menimbulkan perubahan degeneratif secara mikroskopis pada semua lapisan jaringan mulai dari kulit sampai tulang, sedangkan dengan tekanan 35 mmHg selama 4 jam, perubahan degeneratif tersebut tidak terlihat3. Dulu faktor neurotropik disebutkan sebagai faktor penyebab utama ulkus dekubitus, tetapi ternyata hal tersebut tidak terbukti3,4.

Faktor Sekunder

Faktor-faktor yang menunjang terjadinya ulkus dekubitus antara lain:

  • gangguan saraf vasomotorik, sensorik  ataupun motorik,
  • kontraktur sendi dan spasisitas,
  • gangguan sirkulasi perifer,
  • malnutrisi dan hipoproteinemia,
  • anemia,
  • keadaan patologis kulit (gangguan hormonal, edema, autoimun),
  • maserasi,
  • infeksi,
  • higiene kulit yang buruk,
  • inkontinensia urin et alvi,
  • kemunduran mental dan penurunan kesadaran1,2,3,4,5,6,7.

 
KLINIS

Riwayat penderita

Terjadi pada pasien-pasien paraplegia, quadriplegia, spina bifida, multipel sklerosis dan imobilisasi lama di rumah sakit. Selain itu, faktor lain perlu diketahui dari riwayat penderita meliputi onset, durasi, riwayat pengobatan sebelumnya, perawatan luka, riwayat operasi sebelumnya, status gizi dan perubahan berat badan, riwayat alergi, konsumsi alkohol, merokok serta keadaan sosial ekonomi penderita1,3,4,5,7.

Anamnesa sistem termasuk di dalamnya antara lain demam, keringat malam, spasme (kaku), kelumpuhan, bau, nyeri1,4.

 

 

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi :

  1. Lokasi ulkus dekubitus

Setiap bagian tubuh dapat terkena dekubitus, tetapi umumnya pada daerah tekanan dan penonjolan tulang antara lain:

  1. Tuberositas Ischii

Frekuensinya mencapai 30% dari lokasi tersering, terjadi akibat tekanan langsung pada keadaan duduk. Juga karena foot rest pada kursi roda yang terlalu tinggi, sehingga berat badan tertumpu pada daerah ischii.

  1. Trochanter Mayor

Frekuensinya mencapai 20% dari lokasi tersering. Terjadi karena lama berbaring pada satu sisi, kursi roda terlalu sempit, osifikasi heterotropik, skoliosis, yang mengakibatkan berat badan tertumpu ke sisi panggul yang lain.

  1. Sacrum

Frekuensinya mencapai 15% dari lokasi tersering, terjadi pada penderita yang lama berbaring posisi supine, tidak berubah posisi berbaring secara teratur, salah posisi pada waktu duduk di kursi roda. Juga dapat terjadi karena penderita merosot di tempat tidur dengan sandaran miring, terlalu lama kontak dengan urin, keringat ataupun feces.

  1. Tumit

Frekuensinya mencapai 10% dari lokasi tersering. Keadaan spastik pada anggota gerak bawah dapat menimbulkan tekanan dan gesekan tumit pada tempat tidur atau pada foot rest kursi roda.

  1. Maleolous

Maleolus lateralis dapat terkena karena berbaring terlalu lama pada satu sisi, trauma pada waktu pemindahan pasien, posisi foot rest kurang baik. Maleolus medialis juga dapat terkena karena gesekan kedua maleolus kanan dan kiri akibat keadaan spastik otot aduktor.

  1. Genu

Terjadi pada penderita yang lama berbaring pada posisi prone, sedangkan sisi lateral genu karena lama berbaring pada satu sisi.

  1. Lainnya meliputi cubiti, scapula dan processus spinosus vertebrae1,3,4,5,7.

Tanda infeksi pada ulkus dekubitus antara lain tepi luka eritema, berbau, discharge purulen dan nekrosis tulang1,3,4.

  1. Klasifikasi1,3,4,5,6,7

Berdasarkan Nasional Pressure Ulcers Advisory Panel System di Amerika Serikat, ulkus dekubitus  terbagi menjadi 4 derajat berdasarkan tingkat kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot, tulang dan sendi.

 

Derajat  I

Menunjukkan kulit yang utuh (intak) dengan tanda-tanda impending ulkus. Awalnya berupa eritema yang mengindikasikan adanya hiperemis reaktif. Ketika jaringan menjadi iskemia untuk sementara, pembebasan tekanan menyebabkan hiperemis, kemungkinan sebagai mekanisme proteksi dengan meningkatkan aliran darah untuk meningkatkan oksigenasi jaringan dan melepaskan  produk-produk metabolism berbahaya. Hiperemi reaktif akan menunjukkan perubahan dalam 24 jam setelah pembebasan tekanan. Indurasi dan kalor mungkin dapat ditemukan. Eritema tersebut bertahan lebih dari 1 jam setelah tekanan dibebaskan.

Derajat  II

Hilangnya sebagian jaringan epidermis dan dermis (partial thickness). Pada tahap ini dapat ditemukan abrasi, lepuh atau ulkus superficial.

Derajat  III

Hilangnya seluruh jaringan kulit (full thickness) dengan perluasan ke arah jaringan subkutaneus tetapi tidak melampaui fascia. Lesi ini tampak sebagai ulkus dengan atau tanpa kerusakan jaringan sekitar.

Derajat  IV

Menunjukkan perluasan melewati fascia melibatkan otot, tulang,                   tendon dan kapsul sendi. Pada tahap ini dapat terjadi osteomielitis yang                  disertai destruksi tulang serta dislokasi atau fraktur patologis.

Pemeriksaan penunjang

Meliputi pemeriksaan laboratorium darah (antal leukosit, differential count, kadar protein serum, albumin, kadar elektrolit), urinalisa, mikrobiologi (kultur darah, urin, dan pus). Pemeriksaan radiologis jika dicurigai terjadi osteomielitis, dislokasi maupun fraktur, bila perlu dilakukan pemeriksaan MRI dan biopsi tulang. Biopsi luka pada luka kronis dilakukan jika dicurigai terjadi perubahan degeneratif ke arah malignansi 1,3,4,5,9.
KOMPLIKASI

 

Komplikasi sering terjadi pada ulkus dekubitus derajat III dan IV, walaupun dapat juga terjadi pada ulkus yang superfisial. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  1. Infeksi, umumnya bersifat multibakterial baik yang aerobik maupun anaerobik,
  2. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteitis, osteomielitis dan arthritis septik,
  3. Septikemia,
  4. Anemia,
  5. Hipoalbuminemia,
  6. Kematian1,3,4,5.

MANAJEMEN ULKUS DEKUBITUS

Pencegahan

  1. Mengatasi faktor resiko utama :
  1. Hilangkan tekanan : pasien melakukan perubahan posisi tiap 2 jam di tempat tidur sepanjang 24 jam. Melakukan push-up secara teratur pada waktu duduk di kursi roda. Pemakaian berbagai jenis tempat tidur, matras, bantal anti dekubitus seperti circolechic bed, tilt bed, air matras : gel flotation pads, sheepskin, dan lain-lain,
  2. Meminimalkan kelembaban dengan sering mengganti pakaian dan seprai,
  3. Meminimalkan regangan dengan penempatan posisi yang nyaman dan sesuai,
  4. Meminimalkan gesekan dengan cara pemindahan pasien yang hati-hati3,4,5,6,7.
  1. Mengatasi faktor resiko sekunder :
  1. Obati infeksi,
  2. Perbaiki nutrisi yaitu dengan diet tinggi kalori, protein dan vitamin dengan tujuan untuk mempertahankan balans nitrogen tetap positif dan dengan meningkatkan kadar  protein serum hingga 6 mg/100 ml atau lebih,
  3. Menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol,
  4. Kendalikan kadar gula pada pasien-pasien diabetes mellitus,
  5. Mengontrol nyeri,
  6. Mempertahankan volume darah tetap normal dan mengoreksi anemia untuk mencegah vasokonstriksi pada luka dan untuk mengoptimalkan asupan oksigen dalam darah3,4,5,7.

Penanganan Ulkus Dekubitus

Terdapat berbagai macam jenis pembedahan pada ulkus dekubitus. Debridement merupakan tindakan pembedahan untuk membersihkan dan mengangkat jaringan kulit ataupun otot yang mati atau terinfeksi1,3,7,8,9. Tindakan debridement ini akan menyebabkan luka menjadi luas tetapi luka tersebut menjadi lebih sehat dan penyembuhannya menjadi lebih cepat8. Dalam banyak kasus, dilakukan pengambilan sebagian kecil jaringan tulang dari dasar luka untuk mengurangi infeksi berulang1,8. Pada beberapa kasus, hip joint harus diangkat bersama dengan sebagian dari os femur8.

Bedah rekonstruksi pada ulkus dekubitus meliputi tindakan pemindahan sebagian jaringan sehat dari suatu area bagian tubuh penderita untuk menutupi luka di area yang lain. Kulit dan atau otot (flap) ini umumnya diambil dari punggung, glutea atau femur1,8. Jaringan flap ini memiliki suplai darah yang baik, digunakan untuk menutup luka dan membantu memelihara jaringan di sekitar ulkus. Pada saat ulkus telah ditutup, area asal flap juga ditutup dan kadang-kadang diperlukan skin graft untuk menutupi area tersebut8,9

Pada multiple ulkus dekubitus, umumnya dilakukan tindakan pembedahan lebih dari satu kali secara bertahap dan pada kasus-kasus berat dapat dilakukan amputasi tungkai untuk memenuhi kebutuhan jaringan pada proses rekonstruksi8.

Langkah-langkah penanganan ulkus dekubitus meliputi :

  1. Pastikan perubahan posisi pasien secara bertahap setiap 2 jam.
  2. Ulkus dekubitus Partial Thickness :
  1. Atasi semua etiologi,
  2. Penutupan luka, dapat ditambah dengan silver sulfadiazon,
  3. Biasanya sembuh dalam 2-3 minggu secara konservatif1,3,4,7.
  1. Ulkus dekubitus Full Thickness :
  1. Atasi semua etiologi.
  2. Debridement untuk membuang semua jaringan mati.

Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akan menghambat aliran bebas dari bahan yang terinfeksi dan karenanya juga menghambat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi, oleh karena itu pengangkatan jaringan nekrotik akan mempercepat proses penyembuhan luka7.

Terdapat 3 metode debridement yaitu :

  • Sharp debridement (dengan pisau, gunting, dan lain-lain)
  • Enzymatic debridement (dengan enzim proteolitik, kolagenolitik dan fibrinolitik)
  • Machanical debridement (dengan tehnik pencucian, pembilasan, kompres dan hidroterapi)3.
  1. Penutupan luka lembab-basah, antibiotik bila infeksi, penutup oklusif untuk luka pasca debridement tidak terinfeksi, mengobati infeksi jaringan lunak (debridement, drainase, antibiotik), mengobati bila terjadi osteomielitis (debridement agresif, antibiotik sistemik) dan penggunaan Vacuum Assisted Clossure pada luka dekubitus tertentu1,7,8.
  2. Jaringan yang terbuka ditutup dangan flap ataupun pada kasus sederhana dapat dengan graft 1,7,8,9.

 

PROGNOSIS

Terjadinya proses penyembuhan ulkus dekubitus tergantung faktor-faktor primer maupun sekunder serta penatalaksanaan ulkus itu sendiri. Meskipun perkembangan dan penerapan berbagai prosedur serta pengobatan baru pada ulkus dekubitus, namun tidak ada penelitian yang memperlihatkan penurunan insidensi maupun prevalensi dekubitus dalam 3 dekade terakhir4.

Perlu diingat pentingnya tindakan pencegahan karena pada dasarnya ulkus dekubitus dapat dicegah.

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

  1. Brandon J Wilhelmi. 2006. Pressure Ulcers, Surgical Treatment and Principles.

http://www.emedicine.com/plastic/topic462.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Arwaniku. 2007. Ulkus Dekubitus

http://surabayaplasticsurgery.blogspot.com/2007/05/pressure-sore-ulkus-dekubitus.html Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Djunaedi Hidayat, Sjaiful Fahmi Daili, Mochtar Hamzah. 1990. Ulkus Dekubitus dalam Cermin Dunia Kedokteran. FK UI, Jakarta. Hal : 33-5

 

  1. Don R Revis Jr. 2006. Pressure Ulcers, Nonsurgical Treatment and Principles.

http://www.emedicine.com/plastic/topic424.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Don R Revis Jr. 2005. Decubitus Ulcers.

http://www.emedicine.com/plastic/topic391.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Subhan Kadir. 2007. Dekubitus.

http://subhankadir.wordpress.com/2007/08/20/decubitus/ Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Gentur Sudjatmiko. 2007.  Ulkus Dekubitus dalam Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi. Mahameru Offset Printing, Jakarta. Hal : 95-8

 

  1. Jorge de La Torre and Ann. Marie Oberheu. 2005. Reconstruction Surgery for Pressure Sores.

http://images.main.uab.edu/spinalcord/pdffiles/PO-09-05.pdf+reconstruction+of+pressure+ulcer&hl=id&ct=clnk&cd=13&gl=id Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Don R Revis Jr. 2005. Skin, Grafts.

http://www.emedicine.com/plastic/topic392.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

February 14, 2008 in Science | Permalink

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Asmatikus

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Meskipun asma sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, para ahli belum sepakat mengenai definisi penyakit ini. Definisi asma yang saat ini umumnya disetujui oleh para ahli adalah merupakan penyakit paru dengan karakteristik:

  1. Obstruksi saluran nafas yang reversible
  2. Inflamasi saluran nafas
  3. Peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan.

Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala- gejala asma seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Diduga baik obsrtuksi maupun peningkatan respon terhadap rangsangan didasari oleh inflamsai saluran nafas.

Prevalansi asma dipengaruhi banyak factor antara lain jenis kelamin. Umur klien, keturunan, serta lingkungan. Pada masa anak- anak ditemukan prevalansi 1,5 : 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak dari laki- laki. Di Indonesia prevalensi asma tikus berkisar antara 5 sampai 7%.

  1. Tujuan penulisan
    1. Tujuan umum

Diharapkan mahasiswa/i mampu memahami penyakit asma dan penatalaksanaannya dalam keperawatan gawat darurat.

  1. Tujuan khusus

Diharapkan mahasiswa/i dapat mengetahui tentang:

  1. Anatomi fisisiologi sistem pernapasan
  2. Pengertian asmatikus
  3. Etiologi penyakit asma
  4. Patofisiologi
  5. Manifestasi klinis
  6. Komplikasi
  7. Pemeriksaan diagnostic
  8. Penatalaksanaan
  9. Asuhan keperawatan
  1. Ruang lingkup penulisan

Makalah ini membahas mengenai konsep dasar penyakit asma meliputi anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asma tikus, etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan keperawatan serta dalam  penanganan penyakit asma dalam keperawatan gawat darurat.

  1. Metode penulisan

Makalah ini disusun menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan membaca dan menuliskan kembali pendapat, penjelasan/ uraian maupun hasil penelitian dari pustaka- pustaka yang kami pilih sebagai referensi yang berhubungan dengan meteri yang akan dibahas.

  1. Sistematika penulisan

Makalah ini disusun secara sistematis, yang terdiri dari tiga bab; Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, teknik penulisan, ruang lingkup penulisan dan sistematika penulisan; BAB II tinjauan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asmatikus, etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan keperawatan dalam penanganan kegawat daruratan; BAB III penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. Konsep Dasar
  1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan

Organ-organ pernafasan terdiri dari :

  1. Hidung / Nasal

Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang              ( kavum nasi ), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ). Didalamn ya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung. Lapisan-lapisan lubang hidung yaitu :

  1. lapisan luar dinding terdiri dari lapisan kulit
  2. lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan
  3. lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat (konka nasali/karang hidung) yang berjumlah 3 buah yaitu konka nasalis inferior, konka nasalis media, dan konka nasalis superior.

Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakrimalis. Fungsi hidung yaitu sebagai saluran pernafasan, penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung, menghangatkan udara pernafasan yang dilakukan oleh mukosa, membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir ( mukosa ).

  1. Tekak / Faring

Faring merupakan persimpangan antara jalan pernafasan dengan pencernaan, yang terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung atau mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain : ke atas berhubungan dengan rongga hidung, ke depan berhubungan dengan rongga mulut. Rongga faring terdiri dari  dalam tiga bagian : sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring, bagian tengah yang sama tingginya dengan ismus fausium disebut orofaring, bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.

  1. Pangkal / Tenggorok

Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea di bawahnya.

  1. Batang tenggorok / Trakea

Merupakan lanjutan dari faring yang dibentuk oleh 16 s/d 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda    (huruf C), sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar disebut sel bersilia, hanya bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel berselia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan, yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan yang disebut karina.

  1. Cabang tenggorok / Bronkus

Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis ke IV dan ke V. Mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-11 cincin mempunyai 2 cabang.

  1. Paru – paru

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung udara (alveoli). Gelembung-gelembung alveoli terdiri dari: sel-sel epitel dan endotel. Pada lapisan ini terjadi pertukaran darah, O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner: ventilasi pulmoner, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar; arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari tubuh masuk ke paru-paru; distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian; difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen (Syaifuddin, 1997, hal. 87-93).

  1. Pengertian

Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkeolus. (Corwin. 2001. hal, 430).

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (Ngastyah. 1997. hal, 66).

Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang terjadi karena spasme bronkus yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo. 1997. hal, 565).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner & suddart. 2001. hal 614).

Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkeolus berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).

Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal, 566).

  1. Etiologi

Menurut Mansjoer. 2003 hal 461 faktor pencetus dari asma adalah allergen, infeksi (terutama saluran nafas bagian atas) iritan, cuaca, kegiatan jasmani, refluks esophagus dan psikis. Sedaangkan status asmatikus itu sendiri menurud Brunner & Suddart 2002 hal 614, disebabkan oleh infeksi, asietas, penggunaan tranguilizer berlebihan, penggunaan nebulizer berlebihan, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic dan iritan non spesifik serta hipersensitifitas terhadap penicillin.

  1. Patofisiologi

Allergen masuk ke dalam tubuh

Merangsang sel plasma

Ig E

Sejumlah mediator (histamine, neokotrien, factor pengaktifasi platelet, bradikinin dll)

Permeabilitas kapiler meningkat

Produksi mucus meningkat (pembengkakan mukosa bronchial dan pengentalan sekresi)

Diameter bronchial menurun

Abnormalitas ventilasi perfusi

Hipoksemia dan respirasi alkalosis

Respirasi asidosis

(Brunner & Suddart. 2002. hal 614).

  1. Manifestasi klinis

Menurut Brunner & Suddart. 2002.hal 614.

  1. Asma hebat
  2. Perpanjangan ekhalansi
  3. Pembesaran vena leher
  4. Mengi

Menurut Hudak & gallo 1997. hal 566 adalah:

  1. Asietas akut
  2. Usaha bernapas dengan keras
  3. Takikardi
  4. Berkeringat

Menurut Corwin 2001. hal 431. adalah:

  1. Dipsnea  berat
  2. Retraksi dada
  3. Napas cupin hidung
  4. Whizzing
  5. Pernapasan dangkal dan cepat
  1. Komplikasi

Komplikasi dari status asmatikus adalah gagal nafas ( Brunner & Suddart. 2002. hal, 614).

  1. Pemeriksaan diagnostic
  2. Pemeriksaan fungsi paru: digunakan untuk mengkaji obstruksi jalan nafas akut
  3. Pemeriksaan gas darah arteri: dilakukan jika klien tidak mampu melakukan manufer fungsi pernapasan, karena obstruksi berat atau keletihan atau jika klien tidak berespon terhadap tindakan
  4. Respirasi alkalosis( CO2 rendah) adalah temuan yang palibg umum pada pasien asmatikus dan peninglatan PCO2) ke kadar normal atau kadar yang menandakan respirasi asidosis) sering kali merupakan tanda bahaya serangan gagal nafas
  5. Lakukan fototoraks
  6. Lakukan pemeriksaan EKG
  1. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan keperawatan:

  1. Berikan posisi fowler/ semi powler serta longgarkan pakaian klien.
  2. Buka saluran pernafasan dengan mengekstensikan leher.
  3. Tanda- tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa turgor kulit.
  4. Masukan cairan penting untuk melawan dehidrasi.
  5. Mengencerkan sekresi dan untuk memudahkan ekspekturasi hingga 3 sampai 4 liter per hari kecuali jika ada kontra indikasi.
  6. Pemantauan terhadap pasien oleh perawat secara terus- menerus penting dilakukan dalam 12 sampai 24 jam pertama, atau sampai status asmatikus dapat diatasi.
  7. Enegi pasien harus dihemat dan ruangan harus tenang serta bebas dari iritan pernapasan, termasuk bunga, asap tembakau, perfume, atau bau bahan pembersih.
  8. Bantal non alergik harus digunakan.
  9. Berikan pendidikan kesehatan pada pasien berupa instruksi untuk dengan segera melaporkan tanda dan gejala yang menyulitkan seperti bangun saat malam hari dengan serangan akut, tidak mendapatkan peredaan komplit dari penggunaan inhaler atau mengalami infeksi pernapasan.

Penatalaksanaan medik:

  1. Dalam lingkungan kedaruratan pasien mula- mula diobati dengan agonis beta (misalnya metapropanol, terbutalin, dan albuteron) dan kortikosteroid.
  2. Pasien juga membutuhkan oksigen supplemental dan cairan intravena untuk dehidrasi.
  3. Terafi oksigen dilaksanakan untuk mengatasi dipsnea, sianosis, dan hipoksemia.
  4. Aliran oksigen yang diberikan harus didasarkan pada nilai gas darah. PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg.
  5. Pemberian sedative merupakan kontra indikasi jika tidak mendapat respon dari pengobatan berulang, dibutuhkan perawatan dirumah sakit.
  1. Asuhan keperawatan
  1. Pengkajian

Pengkajian khusus:

Kaji ABCDE terlebih dahulu pada pasien yang mengalami kegawat daruratan

Pengkajian lengkap “Head to toe” hanya dilakukan jika masalah ABC telah tertangani only after.

  1. Airway

Tanyakan pada pasien bagaimana keadaannya?

  1. Breathing

1)      Minta pasien untuk bernafas dan batuk

2)      Observasi pergerakan dada

3)      Observasi kedalaman dan kecepatan nafas

4)      Catat pengunaan otot-otot bantu pernafasan

5)      auskultasi

  1. Circulation

1)      Kaji warna kulit / temperature / capilary reffil

2)      Pulse (kecepatan, kekuatan dan irama)

Pengkajian umum:

Dapatkan riwayat:

Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic, riwayat pasien tentang disfungsi pernafasan sebelumnya; bukti terbaru penularan terhadap infeksi, allergen atau iritan lain, trauma. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru.

Observasi pernafasan terhadap:

Frekuensi: cepat ( takipnea ), normal atau lambat

Kedalaman: kedalaman normal, terlalu dangkal ( hipopnea ), terlalu dalam (hiperpnea), biasanya diperkirakan dari amplitude torakal dan pegembangan abdomen.

Kemudahan: kurang upaya, sulit (dispnea), ortopnea, dihubungkan dengan retraksi enterkosta dan atau substrenal (inspirasi “ tenggelam” dari jaringan lunak dalam hubungannya dengan kartilaginosa dan tulang toraks), pulsus paradoksus (tekanan darah turun dengan inspirasi dan menigkat karena ekspirasi), pernafasan cuping hidung dan mengi.

Pernafasan sulit: kontinu, intermiten menjadi makin buruk dan menetap, awitan tiba- tiba pada saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi, menggorok, dihubungkan dengan nyeri.

Irama: variasi dalam frekuesi dan kedalaman pernafasan.

Observasi dalam adanya:

Bukti infeksi: peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe serfikal, membrane mukosa terinflamasi, dan rabas purulen dari hidung, telinga atau paru- paru (sputum).

Mengi (wheezing): ekspirasi atau inspirasi, nada tinggi atau musical, memanjang, secara lambat progresif atau tiba- tiba, berhubungan dengan pernafasan sulit

Sianosis: perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang tubuh sera wajah, derajat, durasi, berhubungan dengan aktivitas).

Nyeri dada: perhatikan lokasi dan situasi; terlokalisir atau menyebar, pernafasan cepat, dangkal atau menggorok.

  1. Diagnosa keperawatanan

1)      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekresi mucusa pada jalan nafas

2)      Pola nafas tidak efektif berhubugan dengan spasme otot bronkus

3)      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan

  1. Intervensi keperawatan

Diagnosa 1 dan 2

  1. Berikan klien posisi fowler atau semifowler

Rasional: posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan.

  1. lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi

Rasional: pembersihan jalan nafas secara mekanik pada klien akan membantu dalam pengeluaran sekret

  1. berikan cairan atau minuman hangat (kecuali ada kontra indikasi)

Rasional: cairan khususnya air hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret

  1. kolaborasi dalam pemberian nebulizer sesuai indikasi

Rasional: memudahkan pengenceran dan pengeluaran sekret.

Diagnosa 3

  1. Kaji tingkat toleransi klien
  2. Bantu klien dalam beraktivitas
  3. Berikan periode istirahat yang cukup
  1. Evaluasi keperawatan
    1. Bersihan jalan nafas adekuat
    2. Pola nafas kembali efektif
    3. Pasien mempertahankan tingkat energi yang adekuat

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang terjadi karena spasme brongkus yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo. 1997. hal, 565).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner & suddart. 2001. hal 614).

Statatus asmatikus adalah keadaan spsme bronkeolus berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).

Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal, 566).

Dalam penanganan keperawatan gawat darurat status asmatikus dapat disesuaikan dengan etiologi atau factor pencetusnya.

  1. SARAN

Diharapkan setelah mempelajari makalah seminar “asuhan keperawatan gawat darurat pada gangguan sistem pernafasan: status asmatikus” pembaca khususnya mahasiswa/ I akademi keperawatan sintang dapat mengerti dan mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan sesuai rencana keperawatan secara komprehensif.

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Kasuistik

BAB II

PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

  1. PENGERTIAN KASUISTIK

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengetian kasuistik yaitu ilmu atau moral. Jika dihubungan dengan ilmu kedokteran kasustik berarti sebab-sebab timbulnya sesuatu, kumpulan kasus penyakit dokter membuat catatan dan diagnosa melalui Tanya jawab dengan pasiennya.

 

  1. PERKEMBANGAN KASUISTIK

 

Jika kita memandang sejarah etika kasuistik mempunyai suatu tradisi panjang dan kaya yang sebebnarnya sedah dimulai dengan pengertian Aristoteles mengenai etika sebagai ilmu praktis. Karena sifatnya praktis, setiap uraian tentang etika dengan sendirinya disertai contoh-contoh konkret yang sudah terlihat sejak permulaan sejarah etika itu mudah berkembang kea rah kasuistik. Tapi dalam perkembangannya sering mengalami turun naik. Zaman kejayaan kasuistik di susul zaman kemunduran dan kecurigaan. Salah satu zaman kejayaan adalah abad pertengahan ketika metode kasuistik banyak dipakai dalam teologi moral Kristen khususnya dalam kaitan dengan praktek pengakuan dosa. Puncak kejayaan kasuistik berlangsung antara pertengahan abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17. pada waktu itu diterbitkan banyak buku tentang teologi moral yang di dasarkan atas metode kasuistik. Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan amat mendadak karena kritik Blaire Pascal (1623-1662). Dalam bukunya surat-surat provincial (1656-1657) Filsuf Prancis ini melontarkan serangan tajam kearah teolog-teolog yang menurutnya menyalahgunakan kasuistik untuk mempermudah tingkah laku permisif bagi orang-orang bangsawan yang kaya. Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama di anggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

 

  1. PENERAPAN KASUISTIK

 

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang dimana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis. Dalam buku pegangan dan majalah tentang etika biomedis sudah menjadi kebiasaan agak umum membicarakan kasus-kasus konkrit.

Praktek kasuistik ini cocok sekali dengan bidang kedokteran itu sendiri. Ilmu kedokteran juga mempunyai tradisi panjang menerapkan prinsip-prinsip ilmiahnya pada kasus-kasus konkret. Pengetahuan tentang penyakit pun bisa dianggap sebagai hal abstrak yang perlu diterapkan pada kasus pasien dengan mengikutsertakan situasinya yang khusus.

Sebelum menentukan diagnosis, seorang dokter yang baik tidak akan lupa membuat anamnesis dulu atau yang dalam bahasa Inggris disebut The Case History (riwayat kasusnya). Ia akan mengajukan pertanyaan seperti ini : “penyakit apa yang diidap pasien sebelumnya? Penyakit apa yang pernah terjadi dalam keluarganya ? akhir-akhir ini pasien berada di tempat mana (di daerah malaria umpamanya) ? dan lain-lain.” Baru sesudah itu ia akan memastikan penyakit pasien. Juga dalam mendidik dokter-dokter baru atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi dokter-dokter lama , sering dipergunakan metode kasus. Juga dalam teologi Kristen abad pertengahan berulang kali ditekankan bahwa seorang Teolog moral harus bertindak seperti “seorang tabib yang berpengalaman” dalam mengamalkan ilmunya. Dengan demikian minat besar untuk kasuistik dalam etika biomedis bukan merupakan hal yang baru, tapi hanya menghidupkan kembali suatu metode yang sudah lama dikenal dalam ilmu dan praktek kedokteran.

Suatu bidang lain dimana kasuistik sudah lama dipraktekkan adalah hukum. Disitu juga ketentuan-ketentuan yang umum diterapkan pada kasus-kasus konkret. Dan disitupun situasi khusus si klien memainkan peranan penting dalam konteks kehakiman sering dibicarakan tentang faktor-faktor yang meringankan atau memberatkan.

Hal yang masih agak baru bagi kasuistik adalah etika bisnis, seperti cabang terapan etika itu sendiri masih sesuatu yang baru. Dalam buku pegangan tentang etika bisnis kini tak urung akan ditemukan juga pembahasan kasus. Hal ini sejalan dengan ilmu manajemen modern yang juga banyak dipraktekkan dengan menganalisis kasus-kasus konkret, terutama di Amerika Serika. Tendensi dalam etika terapan sekarang ini rupanya sesuai dengan orientasi dalam ilmu manajemen modern, sehingga hampir diam-diam kasuistik memasuki etika bisnis juga. Mengapa kasuistik bisa menjadi cara yang popular untuk menangani masalah-masalah moral ? karena ternyata kasuiatik diakui sebagai metode yang efisien untuk mencapai kesepakatan di bidang moral. Jika orang berangkat dari teori, jauh lebih sulit untuk sampai pada kesepakatan seperti itu.

 

  1. PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

 

Mengahdapi maslah-masalah moral yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tenaga medis harus bersedia melibatkan diri secara aktif , karena sumbangan mereka bersifat menentukan. Maslah ledakan penduduk yang berkaitan dengan praktik-praktik kontrasepsi, sterilisasi dan aborsi, tidak boleh ditentukan oleh para politisi dan ahli hukum saja. Masalah narkotik yang membahayakan kesejahteraan bangsa, terutama generasi muda, tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa keterlibatan aktif dari tenaga media. Juga dalam menangani masalah baru seperti AIDS, tenaga medis harus ikut menyumbangkan pikiran dan keahlian mereka.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pasien

 

Hubungan antara tenaga medis dan pasien ditandai oleh kepercayaan timbale balik. Tenaga medis berusaha membantu pasien dengan sebaik mungkin dan mau menyimpan semua rahasia. Pasien, bahkan sesudah pasien itu meninggal. Mereka menambah pengetahuan dan keterampilan terus menerus demi ke[pentingan orang sakit, dan tetap rendah hati dan mengenal batas-batas kemampuan mereka. Mereka setia membantu pasien, dan tidak meninggalkan mereka bila belum jelas bahwa ada tenaga media lain yang akan meneruskan perawatan. Mereka memberi kebebasan pada pasien untuk berhubungan dengan keluarga, dan dengan penasehat mereka dalam bidang agama. Itu semua merupakan dasar yang kuat bagi apsien, untuk percaya penuh pada mereka. Tenaga medispun percaya pada pasien, maka mereka menghargai hati nurani pasien. Yang terpenting untuk diperhatikan oleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasien ialah bahwa merekka itu manusia seutuhnya, maka perlu siperlakukan dan dibantu secara manusiawi sepenuhnya. Walaupun tenaga medis teerutama bertanggung jawab atas kesehatan badan meraka, tidak boleh dilupakan segi-segi kejiwaan dan kerohanian yang merupakan kesatuan dengan segi kejasmanian mereka. Para ahli semakin memahami bahwa obat dan perawatan hanya merupakan salah satu usaha dari berbagai kenyataan yang memabntu penyehatan kembali para pasien. Sebab, ada kenyataan lain yang membantu kesembuhan orang sakit, misalnya : tekad pasien untuk sembuh, dan hidup terus; dukungan dan doa keluarga; dan berkat dari Tuhan sendiri.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan masyarakat

 

Dalam abad-abad terakhir ini, orang semakinmenyadari segi sosial dari hisup mereka. Walaupun setiap individu bersifat unik dan merupakan pribadi yang bebas, ia sekaligus mempunyai kodrat sosial sebagai mahkluk yang memerlukan dan diperlukan oleh orang lian. Proses sosialisasi, baik dalam kesadaran maupun dalam kenyataan kehidupan dalam masyarakat juga terjadi dalam lingkungan tenaga medis.

Kalau pada zaman dulu tenaga medis melakukan tugas mereka dengan perhatian penuh pada masing-masing pasienyang menjadi langganan mereka, maka dewasa ini mereka bekerja dalam “team” yang tidak hanya mempunyai tanggung jawab atas masing-masing penderitas sakit, melainkan juga terhadap kesejahteraan masyarakat luas, terhadap seluruh banagsa. Tanggung jawab keluarga besar tenaga medis terhadap kesejahteraan seluruh masyarakat tidak hanya bersifat kuratif, melainkan juga bersifat preventif. Tanggung jawab itu mereka laksanakan sebagai kewajiban moral, yang juga mereka jalankan tanpa diminta oleh masyarakat, tanpa diperintahkan oleh pemerintah. Sebab panggilan yang dulu dimenergerti sebagai panggilan membantu masing-masing orang sakiat, ini lebih dipahami sebagai pamnggilan untuk ikut mensejahterakan seluruh masyarakat.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya

 

Dalam sumpah Hipocrates, terungkap kerendahan hatinya sebagai tenaga medis, yang selalu bersedia bekerja sama dengan tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya. Ia bersumpah untuk mencintai para gurunya dalam bidang medis seperti mencintai bapak ibunya sendiri, dan bersedia membagi harta dengan mereka, apabila memang perlu. Ia bersedia memperlakukan anak-anak mereka sebagai saudara kandungnya. Ia bersedia mengajar siapa saja yang ingin menjadi tenaga medis , asal mau menerima etos yang menjiwainya.

Tenaga medis bekerja sama dengan tenaga medis serta pejabat-pejabat pemerintah di bidang kesehatan masyarakat, pertama-tama karena mereka mempunyai tujuan dan panggilan hidup yang sama, yakni mengabdikan hidup mereka untuk kemanusiaan, membantu orang-orang yang menderita sakit, dan membantu mereka yang sehat supaya tidak jatuh sakit. Kerja sama itu seharusnya meliputi berbagai bidang terutama di bidang penelitian, penyelidikan dan pengembangan kesehatan masyarakat. Sebab pengembangan dan pengetahuan dan pelayanan medis hanya terlaksana secara berdaya guna apabila dilaksanakan bersama,. Oleh berbagai spesialis bidang medis yang berbeda-beda. Para ahli yang mengadakan percobaan-percobaan dan penelitian medis harus jujur dan rendah hati dalam mengumumkan hasil-hasil usaha mereka. Sebab hanya dengan demikian para dokter dan tenaga medis lainnya sungguh-sungguh mendapat bantuan yang berarti. Percobaan-percobaan itu tidaklah dipakai dari kemasyuran mereka sendiri melainkan demi pengembangan pelayanan medis bagi mayarakat, bagi kemanusiaan.

Dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan baru yang dpat dilaksanakan oleh tenaga medis, kerja sama dengan para ahli di bidang etika mutlak perlu, supaya kemungkinan-kemungkinan baru itu tidak mewujudkan suatu ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan, misalnya dalam hal : inseminasi buatan dalam tabung, cloning, operasi otak, euthanasia, kontrasepsi, tranplantasi. Dalam kerja sama itu, kedua belah pihak saling mengembangkan pandangannya secara jujur, tidak saling menyalahkan. Juga etika tidak boleh mendikte begitu saja apa yang harus dilakukan oleh tenaga medis .

Selain hal tersebut di atas, masalah-masalah etika moral muncul di antara perawat dank lien, perawat dan dokter, perawat dan pegawai lainnya. Yang mana perawat sering mendapatkan masalah ketika dalam melaksanakan tugasnya.

  • Masalah perawat dan klien dapat berupa ketidakcocokan antara klien, terjadi pengelompokan dan tidak terjadinya interaksi satu sama lain.
  • Masalah lain yang timbul antara perawat dan dokter, yaitu :

v  Masalah rasa menghormati dalam lingkup profesi

v  Ketidakcakapan seorang dokter yang berdampak ke perawat.

  • Masalah perawat dengan perawat lain (pegawai lain) adalah :

v  Kurangnya loyalitas perawat = kurangnya kerja sama perawat dalam menangani pasien

v  Ketidak cakapan perawat = ketidakmampuan perawat dalam mengatasi masalah kliennya.

 

Dari masalah-masalah di atas, maka dipandang perlu adanya pembahasan masalah-masalah kasuistik untuk memecahkan kasus-kasus kompleks.

 

  1. UPAYA HUKUM BAGI KASUS MAL PRAKTEK

Definisi Mal Praktek menurut Taufik Basari, SH. SS, Kepala Divisi Advokasi Publik LBH Jakarta, adalah kesalahan dokter maupun tenaga medis sesuai dengan standar profesi kedokteran atau sesuai dengan ukuran-ukuran ilmu pengetahuan medis dan pengetahuan rata-rata tenaga medis secara umum.

Mal praktek dapat dikelompokkan dalam dua katagori yaitu perbuatan melawan hukum dan pelanggaran perjanjian. Hal hal yang masuk kategori perbuatan melawan hukum misalnya kelalaian, kesalahan atau ketidakhati-hatian yang dilakukan tenaga medis terhadap pasien. Sedangkan kategori pelanggaran perjanjian adalah setiap tindakan dokter bagi pasien yang dikatakan tidak tepat memberikan hasil.

Criteria “hasil”, menurut Taufik, bisa dalam arti sembuh atau lebih baik, ataupun berarti peningkatan. Misalnya pasien bedah plastic mungkin tidak sakit, tapi dia mengharapkan dengan operasi plastic bisa mendapat hasil yang lebih baik. Jadi dokter terikat untuk memenuhi perikatan tersebut. Ketika hasil itu tidak terjadi berarti ada pelanggaran perjanjian.

 

 

 

EMPAT UPAYA HUKUM

Korban atau keluarga korban yang mengalami malpraktek dapat menempuh 4 upaya hukum, yaitu :

  • Tuntutan pidana. Kasus kelalaian dokter atau tenaga medis yang menyebabkan kematian merupakan kasus yang dapat dituntut secara pidana.
  • Tuntutan perdata. Melalui tuntutan ini korban dapat meminta ganti rugi atau permintaan maaf dari dokter atau tenaga medis yang bersangkutan. Pada gugatan perdata juga dikenal istilah “pemenuhan kembali”, misalnya dalam kasus operasi plastic yang tidak berhasil sehingga malah merusak bagian tubuh pasien, maka dokter dapat dituntut melakukan operasi ulang tanpa biaya bagi si korban.
  • Prose internal korps kedokteran dengan menggunakan jalur MKEK ( Majelis Kode Etik Kedokteran ).
  • Upaya administrasi. Upaya hukum ini sangat lemah dan kasuistik sekali, yaitu hanya untuk permasalahan izin praktik, bukan untuk kasus kelalaian atau kecelakaan. Contohnya, seorang sarjana kedokteran yang membuka praktik dokter umum, bila melakukan salah penanganan pada pasien maka dapat dituntut secara administrative.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

  1. KESIMPULAN

Dengan kasuistik dimaksudkan usaha untuk memecahkan kasus-kasus konkret di bidang moral dengan menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum. Kasuistik ini sejalan dengan maksud umum etika terapan.

Tidak mengherankan bila dalam suasana etis yang menandai zaman kita sekarang, timbul minat baru untuk kasuistik. Salah satu zaman kejayaan kasuistik adalah abad pertengahan, ketika metode kasuistik banyak di pakai dalam teologi moral Kristen, khususnya dalam berkaitan dengan praktek pengakuan dosa.

Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan agak mendadak karena kritik Blaise Pascal (1623 – 1662). Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama dianggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang di mana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis.

 

  1. SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak lagi membaca literatur dari sumber-sumber lainnya karena keterbatasan materi yang kami sampaikan di sini. Selain itu kami juga menyarankan untuk menerapkan ilmu yang telah di dapatkan selama berada di lapangan nantinya terutama di saat menemukan kasus-kasus kasuistik yang perlu di tangani secara moral berdasarkan prinsip etika.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

  1. K. bertens, 2001, Etika, PT. Gramedia, Jakarta.
  2. Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo Msf, 1989, Etika Medis, Pustaka Filsafat, Yokyakarta.
  3. Http://www. Tabloid-nakita.com/artikelz.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Hedonisme

BAB II

PENERAPAN HEDONISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

  1. 1.      PENDAHULUAN

Sepanjang sejarah barangkali tidak ada filsafat moral yang lebih mudah dimengerti dan akibatnya tersebar lebih luas seperti hedonisme. Hedonisme berasal dari bahasa Yunani “hedone” yang berarti kesenangan. Dalam filsafat Yunani hedonisme sudah ditemukan oleh Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 s.M), seorang murid Sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tapi ia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengeritik jawaban yang dikemukakan oleh orang lain.Aristippos menjawab : yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan. Hal ini terbukti karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenangan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain daripada gerak dalam badan. Mengenai gerak itu ia membedakan 3 kemungkinan yaitu :

  • Gerak yang kasar dan itulah ketidaksenangan, misalnya rasa sakit
  • Gerak yang halus dan itulah kesenangan
  • Tiada gerak merupakan keadaan netral misalnya saat kita tidur.

Aristippos menekankan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan actual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di masa mendatang. Sebab, hal-hal terakhir ini hanyalah ingatan akan atau antisipasi atas kesenangan. Yang baik dalam arti sebenarnya adalah kenikmatan kini dan disini. Jika kita melihat pandangan Aristippos ini sebagai keseluruhan , perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, actual dan individual.

Akan tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Aristippos pun mengakui perlunya pengendalian diri, sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui perlunya pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terbawa olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti meninggalkannya, tapi menguasainya menurut kehendak kita. Konon kepada teman-teman yang mengeritiknya karena hubungannya dengan seorang wanita penghibur kelas tinggi yang bernama Lais ia menjawab :”Saya memiliki Lais, ia tidak memiliki saya”.secara konsekwen ia berpendapat juga bahwa manusia harus membatasi diri pada kesenangan yang diperoleh dengan mudah dan tidak perlu mengusahakan kesenangan dengan susah payah serta kerja keras.

Filsuf Yunani lain yang melanjutkan hedonisme adalah Epikuros (341-270 s.M), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan, tapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos. Walaupun tubuh manusia merupakan “asas serta akar” segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus dianggap paling hakiki , namun Epikuros mengakui adanya kesenangan yang melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia menulis : “ bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami tidak maksudkan kesenangan inderawi, tapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa” (surat kepada Menoikeus). Tapi kesenangan rohani itu hanyalah bentuk yang diperhalus dari kesenangan badani. Ia juga tidak membatasi kesenangan pada kesenangan actual saja. Dalam menilai kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan termasuk juga masa lampau dan masa depan.

3

  1. 2.      PANDANGAN TERHADAP HEDONISME
  1. KESENANGAN DAN KETIDAKSENANGAN

Dalam hedonisme terkandung kebenaran yang mendalam : manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidaksenangan. Psikologi modern –khususnya psikologi yang memamfaatkan psikoanalisis Sigmund Freud memperlihatkan bahwa kecendrungan manusia itu bahkan terdapat pada taraf tak sadar. Seringkali manusia mencari kesenangan tanpa diketahuinya (bandingkan paham libido pada Freud). Tidak bisa disangkal , keinginan akan kesenangan  merupakan suatu dorongan yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Tapi disini perlu dikemukakan sebuah catatan kritis yang pertama , apakah manusia selalu mencari kesenangan ? Apakah manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dalam arti bahwa ia tidak lagi manusia (tapi malaikat atau apa..), jika ia tidak mencari kesenangan ? Apa tidak mungkin juga manusia yang membaktikan seluruh hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan nilai murni dan tanpa pamrih? Tentu saja para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mencari kesenangan adalah motivasi terakhir. Jika kita melihat ibu Teresa dari Kalkuta beserta rekan-rekannya membaktikan hidupnya dengan melayani orang yang paling menderita dan miskin, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya melakukan hal itu untuk mencari kesenangan, untuk dipuji khalayak ramai, untuk meraih hadiah Nobel (dan ternyata ia berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh kebahagiaan kekal di Surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu juga menyenangkan , karena “lebih baik memberi daripada menerima”. Orang yang sanggup memberi selalu berada dalam posisi yang lebih menyenangkan . tetapi apakah itu seluruhnya benar ? Apakah orang seperti ibu Teresa berbuat baik hanya selama dan sejauh mana perbuatannya membawa kesenangan? Apakah kesenangan betul-betul motivasi terakhir hidupnya? Sulit untuk membuktikan ketidakbenaran para hedonis. Kita yakin mereka tidak benar bukan karena suatu kekurangan logis dalam argumentasinya, melainkan karena pandangan mereka tidak cocok dengan pengalaman hidup kita. Kita menerima kemungkinan sikap altruistic yang murni, biarpun barangkali jarang tercapai.

  1. HEDONISME TERDAPAT LONCATAN YANG TAK DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Dari anggapan bahwa kodrat manusia adalah mencari kesenangan , ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moralitas yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika deskripsi saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkah lakunya dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif (yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Jika manusia memang cenderung kepada kesenangan , apa yang membuktikan hal itu tentang kualitas etisnya? Jika manusia cenderung kepada kesenangan, apa yang menjamin kecenderungan itu baik juga? Ada yang memperoleh kesenangan dengan menyiksa atau malah membunuh orang lain, yaitu mereka yang disebut kaum sadis. Para hedonis tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu dengan menandaskan : tapi perbuatan seperti itu akan dihukum dan karena itu akan disertai ketidaksenangan. Sebab, banyak perbuatan jahat tidak diketahui dan akibatnya tidak dihukum. Karena itu kesenangan saja tidak cukup untuk menjamin sifat etis suatu perbuatan.

  1. KONSEPSI YANG SALAH TENTANG KESENANGAN

Para hedonis menpunyai konsepsi yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan tetapi. Kesenangan tidak merupakan suatu perasaan yang subjektif belaka tanpa acuan objektif apapun. Sebenarnya kesenangan adalah pantulan subjektif dari sesuatu yang objektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang baik.

4

Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinsic, bukan karena kita secara subjektif belaka menganggap hal itu baik. Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi objek kesenangan mendahului dan diandalkan oleh kesenangan itu. Dalam hal ini James Rachels memberi sebuah contoh yang jelas”andaikan saja saya mempunyai seorang sahabat . saya senang sekali dengan dia, karenan berulang kali saya mengalami keramahan, perhatian dan kebaikan hatinya terhadap saya. Saya pikir, belum pernah saya mempunyai seorang sahabat  sebaik dia. Tapi pada kenyataannya dan tanpa saya mengetahuinya , yang disebut sahabat itu terus menerus membohongi saya, menipu saya dan menjelekkan nama baik saya. Lalu timbul pertanyaan : Apakah saya sungguh sungguh senang dengan dia? Tentu tidak. Kesenangan saya dengan dia tidak lebih daripada sebuah ilusi saja, suatu dunia khayalan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi , tapi saya dijadikan senang karena memiliki sesuatu yang betul betul baik.

  1. HEDONISME DAN EGOISME

 

Jika dipikirkan secara konsekuen, hedonisme mengandung suatu egoisme, karena hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja. Itulah keberatan keempat terhadap hedonisme. Yang dimaksudkan dengan egoisme disini adalah egoisme etis atau egoisme yang mengatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban moral membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik bagi diri saya sendiri. Egoisme etis mempunyai prinsip : saya duluan, orang lain belakangan saja. Tapi prinsip itu sulit untuk dipertahankan. Apa yang membuat saya menjadi begitu istimewa? Mengapa saya membutuhkan lebih banyak atau hal hal lebih baik daripada orang lain ? Egoisme etis harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip persamaan: semua manusia harus diperlakukan dengan cara sama, selama tidak ada alasan untuk perlakuan berbeda. Jika dua pasien pada waktu yang sama tiba di rumah sakit, yang satu pasien gawat, yang lain pasien biasa, maka ada alasan untuk melayani pasien gawat dulu dan baru kemudian pasien biasa. Jika dua anak muda ikut dalam tes masuk perguruan tinggi dan yang satu memperoleh nilai bagus sedangkan yang kedua mendapat nilai jelek, maka ada alas an juga untuk perlakuan yang berbeda, yaitu menerima yang pertama dan menolak yang kedua. Tapi jika tidak ada alasan untuk perlakuan yang berbeda, dua oran harus diperlakukan dengan cara yang sama. Saya tidak bias menuntut bahwa sayalah yang didahulukan, jika tidak ada alasan yang relevan.

  1. 3.      PENERAPAN DAN DAMPAK HEDONISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

  1. A.    PENGARUH POSITIF HEDONISME

Biarpun pada dasarnya  setiap kesenangan bisa dinilai baik , namun itu tidak berarti bahwa setiap kesenangan harus dimamfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah perbedaan yang diajukan Epikuros antara tiga macam keinginan  yaitu : keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama yang harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena itu Epikuros menganjurkan semacam “pola hidup sederhana”. Orang bijaksana akan berusaha sedapat mungkin terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ataraxia, ketenangan jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikuros, sehingga ia menyebutnya juga tujuan kehidupan manusia (disamping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa, seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa itu akan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati pergaulan dengan sahabat-sahabat.

5

B. PENGARUH NEGATIF HEDONISME

         a. MASYARAKAT YANG MATERIALISTIK DAN KONSUMERISME.

Manusia mempunyai berbagai keinginan di dalam dirinya, yang diantaranya adalah keinginan atau kecenderungan kepada spiritual, keadilan, membantu kepada sesama dan kesenangan kepada keindahan. Dengan kata lain, Tuhan telah mengaruniakan kepada manusia kecenderungan kepada keindahan dan kecenderungan untuk memiliki kecantikan. Dengan begitu manusia akan berbuat untuk memiliki kehidupan materi dan spiritual yang lebih baik. Amat disayangkan, sebagian orang terlalu berlebihan dalam memandang keindahan sehingga terperosok ke dalam lembah hedonisme. Hedonisme berarti berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dan penyimpangan dari daya tarik alami ini. Imam Ali as menyebut tiga tanda bagi orang yang berlebihan dalam hal memanfaatkan karunia dan kenikmatan Allah. Pertama: Memakan apa yang tidak sesuai baginya, kedua mengenakan pakaian yang tidak seharusnya, dan ketiga membeli yang tidak pantas untuk dirinya.Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjerat ke dalam gaya hedonisme yang sebagiannya akan kami bahas pada kesempatan ini.Biasanya kecenderungan kepada hedonisme berpangkal pada kepribadian seseorang. Misalnya, kesombongan dan egoisme adalah penyebab kecenderungan seseorang kepada kehidupan mewah. Orang sombong akan selalu membanggakan kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya untuk menunjukkan keunggulannya atas orang lain.

Persaingan tidak sehat untuk menunjukkan kemewahan terkadang menimbulkan perasaan dengki dan iri. Mereka mengira bahwa cara menunjukkan kelebihan atas orang lain adalah dengan cara bersaing seperti ini. Orang yang hedonis memandang rendah kepada orang lain. Pandangan ini sudah barang tentu akan menyebabkan timbul jurang yang dalam antara mereka dengan orang lain. Dalam mengumpul harta dan barang-barang mewah mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan, dan orang seperti ini tidak akan bersedia memberikan harta mereka kepada orang lain.Penyebab lain penyakit hedonisme ialah, kepribadian tidak sempurna yang dimiliki oleh seseorang. Dari pandangan psikologi, orang yang cenderung kepada kemewahan berusaha menutupi kelemahan dirinya yang kurang dari segi ilmu dan spiritual. Pada sebagian kasus, kita menyaksikan orang-orang kaya yang tidak tahu bagaimana membelanjakan hartanya. Karena itu, mereka membeli dan mengumpulkan barang-barang mewah dan pakaian-pakaian yang mahal.

Faktor penting lainnya adalah, pandangan materialis dan cinta dunia. Orang yang tidak  beriman kepada alam akhirat dan tidak memperdulikan nilai-nilai moral seperti kesederhanaan, kedermawanan dan persahabatan, tidak akan memikirkan nasib orang lain. Mereka tenggelam dalam kemewahan hidup.

Ada pula faktor luar yang menjadi penyebab kecenderungan kepada kemewahan, antara lain adalah budaya masyarakat dan lingkungan sekitar. Dalam sebuah masyarakat yang memiliki budaya hidup mewah, kecenderungan kepada kemewahan akan menguasai seluruh anggota masyarakat. Dalam hal ini, kemewahan para pejabat dan tokoh masyarakat akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada gaya kehidupan ini.

Di era kontemporer ini iklan yang terdapat di berbagai sarana media ikut membantu menciptakan budaya hedonisme. Media-media ini dalam banyak kasus mengiklankan produk-produk yang sebenarnya tidak diperlukan. Iklan-iklan ini pula meninggalkan berbagai dampak psikologis terhadap para pemirsa.Tuhan mengaruniakan nikmat yang tidak terhingga untuk digunakan oleh manusia dalam kehidupan, dan Allah memerintahkan manusia untuk mengunakannya nikmat dan karunia ini secara benar dan adil serta tidak melanggar hak orang lain.

6

Dengan demikian, hedonisme berarti keluar dari aturan ilahi dan menyimpangkan karunia Allah dan hak orang lain.Orang yang hedonis, tidak hanya dikecam karena sikapnya yang memubazirkan anugerah Allah saja, tetapi ia dikecam juga karena dia menutup kesempatan berkembangnya nilai-nilai kebaikan seperti infak, kemanusiaan dan kedermawanan, serta menyebabkan berkembangnya kemiskinan dan ketidak-adilan dalam masyarakat serta meruntuhkan nilai-nilai spiritualitas.

Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya, berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.Di pihak lain, membuang-buang harta untuk membeli barang-barang mahal yang hanya dimaksudkan untuk berbangga-bangga, perlahan-lahan akan menyeret sebuah negara kepada pihak asing. Hal inilah yang terjadi saat ini dunia. Banyak negara dunia yang bergantung kepada Barat yang setiap waktu memasarkan produk-produk baru untuk dikonsumsi.Meskipun pekerjaan, usaha dan jerih payah untuk mencari harta, dapat mengantarkan seseorang dan masyarakatnya kepada kemajuan dan hal ini didukung oleh agama Islam, namun jangan sampai hal itu menjerumuskan kita ke lembah hedonisme dan kemewahan. Sebab, hal itu akan membawa kerugian dan menghalangi manusia untuk sampai kepada tujuan hidup yang sebenarnya. Untuk itu, harus dibedakan antara kecenderungan ke arah keindahan yang merupakan tuntutan fitrah manusia dengan hedonisme yang akan menyeret ke kemewahan dan kesombongan.

b.MUNCULNYA HEDONISME INSTAN

Caleg pemalsu ijazah, masyarakat pembeli gelar (akademis), plagiator skripsi dan tesis, pembobolan bank dan pengemplangan utang (uang rakyat), kleptokrasi habis-habisan, pola terabas perebutan kekuasaan dan seterusnya jika diteliti lebih dalam bermuara pada satu hal: sebuah budaya bangsa yang dinamakan dengan pola hidup jalan pintas. Intinya, ada yang mau terhormat, mau kaya raya, mau berkuasa, dan seterusnya, tetapi dalam tempo sesingkat-singkatnya (dan segampang-gampangnya).Pola hidup atau budaya jalan pintas ini seolah sudah menjadi penyakit bangsa ini, yaitu semacam sikap untuk mengambil jalan atau cara paling cepat dan praktis tanpa mempertimbangkan proses. Pendeknya, orang serba mau enak dengan cepat, tak mau repot. Ciri manusia Indonesia yang “suka main terabas” ini pernah dipopulerkan Mochtar Lubis. Selain itu, menurut Machiavelli, kebiasaan tujuan menghalalkan cara (the ends justify the means) telah menjadi senjata keseharian demi mendukung kelancaran pola jalan pintas tersebut. Pola hidup yang buruk dan dekil itu berakar pada dua sikap mental bangsa, yakni (1) sikap anti-aktualisasi diri dan (2) sikap yang pro hedonisme instan.

Sikap anti-aktualisasi diri adalah sikap hidup yang tidak lagi menjalani hidup demi makna hakiki hidup itu sendiri, hidup sebagai sebuah panggilan, yang konsekuensinya adalah sebuah keyakinan bahwa hidup tak lain sebuah tanggung jawab terhadap kehidupan itu sendiri. Menurut Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya adalah mereka yang membaktikan dan mempersembahkan hidupnya pada “panggilan” hidup tertentu yang dianggap bermakna, baik itu pekerjaan, tugas, profesi maupun status diri. Minat dan daya hidupnya menjadi besar, karenanya mereka akan dan selalu menjalankan fungsi hidupnya, bekerja dengan keras serta memenuhi kewajiban dengan hati dan cinta, menjalani semuanya dengan nikmat, nyaman, menggairahkan dan penuh sukacita.

Proses aktualisasi diri merupakan proses penemuan dan pengembangan (terus- menerus) jati diri serta mekar semerbaknya potensi terbesar dan terdalam manusiawi. Manusia yang menjalankan proses aktualisasi diri tidak emosional- reaktif-subyektif mampu melihat dan menyikapi permasalahan secara bening-obyektif serta memandang hidup apa adanya tanpa memaksakan persepsi dan keinginan egonya sendiri.

7

Jelaslah kini, budaya atau pola hidup jalan pintas sangat anti-aktualisasi diri, yang justru mengebiri jati diri itu sendiri, mereduksi potensi-potensi terdalam dan terbesar manusiawi.

Adapun sikap pro hedonisme instan adalah sikap hidup yang terobsesi oleh segala macam kenikmatan (duniawi) dan bersifat seketika serta sesaat. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memerlukan “kenikmatan-kenikmatan” (baca: reward) dalam hidupnya setelah ia mengusahakan sesuatu atau menjalankan sebuah fungsi hidup.

Namun, ketika orientasi perburuan kenikmatan itu sudah bersifat obsesif, persoalannya menjadi lain. Sikap pro hedonisme instan, sampai batas tertentu, terpengaruh oleh sikap pertama, sikap anti-aktualisasi diri. Tereduksinya potensi-potensi terdalam manusiawi menyebabkan manusia kehilangan kapasitas kesadaran (diri) dalam menyikapi dan mengejar kenikmatan dalam hidupnya.

Merujuk Nuttin, seorang tokoh psikologi humanistis, ada tiga lapis kesadaran manusia. Pertama, lapis kesadaran psikobiologis, sebuah lapis kesadaran yang bersifat sensasional dan terfokus pada pengalaman indriawi. Contoh sederhana adalah munculnya kesadaran manusia untuk makan karena distimulasi oleh perihnya perut yang lapar keroncongan.

Kedua, lapis kesadaran psikososial, sebuah lapis kesadaran yang membuat manusia sadar bahwa dirinya (dan juga orang lain) memiliki pusat kesadaran masing-masing dan karenanya memberikan keunikan (uniqueness) serta juga keterasingan (loneliness). Dari kondisi inilah lahir kebutuhan untuk bersosialisasi dan berbagi. Kegagalan terhadap pemenuhan kebutuhan ini bisa membuat manusia tertekan dan frustrasi.

Ketiga, lapis kesadaran transendental, sebuah lapis kesadaran yang mengacu kepada dimensi-dimensi di luar batas manusiawi tentang mistery of life. Kondisi inilah yang membuat manusia melakukan transendensi diri untuk menguak semua misteri kehidupannya, dimensi hidup yang kompleks, mencari eksistensi diri lewat beragam upaya pengembangan diri, ilmu pengetahuan, filsafat, dan religiositas.

Ketiga lapis kesadaran itu akan bersinergi dalam situasi-situasi stabil dan normal. Misalnya, orang yang makan dan minum, pada satu momentum tertentu, bisa sebagai upaya mengenyangkan perut lapar, bersosialisasi, namun sekaligus ketertundukan kepala oleh rasa syukur, haru sekaligus sukacita atas kemurahan hati Tuhan.Sikap pro hedonisme instan yang serba sensasi(onal), seketika, sesaat, hanya berada di lapis kesadaran psikobiologis, lapis terendah kesadaran manusiawi. Jadi singkatnya, sikap-sikap anti-aktualisasi diri serta pro hedonisme instan sebagai dasar pola hidup atau budaya jalan pintas tampaknya sangat menghegemoni kehidupan kita semua, masyarakat Indonesia.

Berbagai contoh di awal tulisan mengisyaratkan hal itu secara eksplisit. Secara prinsip, semuanya itu dilakukan dalam rangka upaya kita (manusia) mendapatkan berbagai peak experiences dalam kehidupan. Peak experiences (pengalaman-pengalaman puncak) merupakan kebutuhan hakiki manusia untuk terus-menerus mendaki puncak eksistensinya.

Nah, pola hidup jalan pintas adalah upaya untuk mencapai berbagai pengalaman puncak, namun bersifat segmental, sepotong-sepotong, sesaat, meaningless, dan bahkan sesungguhnya tidak manusiawi. Adapun pencapaian pengalaman puncak yang seharusnya dicapai secara esensial adalah komprehensif dan berkesinambungan, melalui proses aktualisasi diri, serta integral dan meaningful, melalui lapis kesadaran transendental.

Sampai di sini terlihat jelas, betapa budaya atau pola jalan pintas dalam menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara selama ini sangat kontradiktif dengan prinsip pemenuhan kebutuhan akan pengalaman puncak melalui aktualisasi diri dan fungsionalisasi kesadaran transendental. Padahal tanpa semuanya itu, kita sebagai individu warga negara, ataupun kolektif sebagai bangsa, tak akan pernah mampu menguak batas- batas tertinggi kapasitas manusiawi, sulit menyentuh berbagai misteri kehidupan yang kaya dengan hakikat kehidupan, mustahil mendaki tangga-tangga tertinggi eksistensi manusiawi.

8

Pada ujungnya, terjadilah semua kontradiksi kondisi dan fakta kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia. Katanya kita adalah bangsa yang besar, kenyataannya kita tetap bangsa yang kerdil oleh berbagai ketidakadilan, penindasan, dan ketidakmerdekaan. Katanya kita adalah bangsa yang kaya, tetapi faktanya kita adalah bangsa yang melarat, rakyat tergusur-gusur, pengangguran kececeran, dan kampiun utang. Katanya kita adalah bangsa yang luhur, tetapi kondisi keseharian justru berkata, kita bangsa yang culas, bopeng oleh korupsi, “manajemen maling”, dan lainnya yang serba buruk.

Kebesaran, kekayaan, serta keluhuran memerlukan masyarakat yang mempunyai sikap (mental) penuh aktualisasi diri serta dikuasai lapis kesadaran transendental dalam kehidupan dan dalam berkarya. Saat ini kita adalah bangsa yang kerdil, melarat, serta culas, akibat pola hidup jalan pintas.

Republik Indonesia namanya-negeri tercinta ini-mau hidup seribu tahun lagi, setidaknya! Dan itu memerlukan masyarakat yang penuh aktualisasi diri dan selalu memiliki kesadaran transendental. Negeri ini bukannya tempat persinggahan sementara semacam diskotik yang dipenuhi orang- orang maniak pesta pora dengan cara-cara seenaknya atau tempat orang melampiaskan hasrat-hasrat primitif hedonisme instannya.

  1. c.               HEDONISME DAN KAPITALISME GLOBAL

Kapitalisme, bila ditinjau dari asal-usulnya, merupakan bapak dari imperialisme dan kakek dari globalisasi ekonomi, politik, ideologi, hukum dan budaya. Sebagai generasi pertama kapitalisme, imperialisme mencaplok wilayah-wilayah di luar teritorinya dengan menggunakan kekerasan, yang melahirkan kolonialisme. Sesuai karakter bapaknya, imperialisme menguras semua kekayaan alam daerah yang menjadi koloninya, meski harus memberantas semua penghalangnya dengan senjata. Ketika tindakan kasar dan tidak manusiawi dikutuk banyak pihak dan dianggap ketinggalan zaman, generasi kedua kapitalisme lahir dan diberi nama globalisasi. Dengan keadaban yang lebih meningkat, keturunan lebih lanjut kapitalisme yang tetap rakus pada keuntungan maksimal tersebut, menggarap korbannya lewat kebudayaan.

Kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika dan spiritual. Bahkan, bidang ini makin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme dan peradaban modern. Perkembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata melahirkan masalah disharmonis antara pemenuhan tujuan duniawi dan rohani. Masalah disharmonis ini sangat serius, bahkan melahirkan krisis integrasi diri dan budaya. Peradaban dunia modern yang diwarnai dengan pola pikir dan gaya hidup yang rasionalitas, materialistis, hedonis dan pragmatis ternyata belum mampu memberikan kebahagiaan yang sejati. Jawaban yang diberikan oleh ilmu pengetahuan, sains dan teknologi bersifat parsial, temporal dan lokal, belum mampu holistik dan komprehensif.

Degradasi moral, keimanan, etika dan spiritual terasa makin tak terbendung. Temuan-temuan di bidang sains dan teknologi hanyalah sebagai instrumen, bukan tujuan. Sebagai sesuatu yang bebas nilai produk intelektualitas, sangat bergantung kepada manusia yang menggunakannya.

Dari pengamatan selama bertahun-tahun, bagi Rubag, kehendak setan justru lebih mendominasi tindakan manusia. Kekacauan yang menjurus ke tindakan “serigala makan serigala” terus berlanjut dan semakin menghebat, sementara berbagai jenis sains dan teknologi dikembangkan secara maksimal dan ajaran agama pun dikumandangkan tak henti-henti. Lucunya, pembunuhan oleh manusia atas manusia terus berlangsung, bahkan di antaranya dilakukan atas nama Tuhan.

Kehendak bebas, kata Fromm, merupakan kerinduan umat manusia yang teramat dalam di era kontemporer ini. Liberalisme ekonomi, demokrasi politik, otonomi religius dan individualisme dalam kehidupan pribadi adalah prinsip-prinsip yang mereka ingin wujudkan. Kerinduan terhadap kebebasan yang berkesan kontradiktif dengan prinsip-prinsip kebebasan menciptakan bentuk-bentuk penjajahan baru. Karena, hubungan antara kerinduan dan prinsip bersifat ambivalen atau ambigu, sehingga ketika keluar dari sarang macan, mereka masuk ke kandang buaya.

9

Banyak orang kemudian tidak siap menerima kebebasan yang gigih diperjuangkannya, karena terburu masuk perangkap konsumerisme dan hedonisme. Korupsi, kriminalitas dan prostitusi yang melahirkan berbagai varian, yang bagi Rubag merupakan kehendak setan, seperti yang difatwakan Luther, menjadi warna mencolok kehidupan manusia pascamodern yang menganut budaya postmodernisme (postmo).

Rubag tertarik pandangan kaum posmodernis yang mengatakan bahwa mereka tidak punya sejarah, karena sejarah bagi mereka dimulai hari ini. Karena itu, mereka tidak mau mengingat kejadian-kejadian masa lampau yang menurut mereka terlalu rumit untuk dipikirkan. Mereka juga tak tertarik memikirkan isu-isu masa depan, sebab mereka lebih menikmati masa sekarang yang abadi. Sejarah, mitologi dan buku-buku suci yang mengandung teks terlalu panjang, bagi para pengikut nabi Postmo Lyotard atau Baudrillard, adalah narasi besar yang cuma memberatkan pikiran dan tidak cocok lagi dipakai pandangan hidup.

Hedonisme dan konsumerisme lalu dijadikan kredo, sedangkan mal, swalayan, konser musik dan cafe dipilih sebagai pusat perayaan ritual mereka. Lalu, khotbah yang mereka percaya dan ikuti saran serta nasihatnya hanya televisi, internet dan radio, karena ketiganya menyajikan narasi-narasi kecil, berupa sinetron, infotainment dan iklan, yang diselingi irama pop, rock dan dangdut. Dari ketiga berhala baru itu, mereka menyerap gaya hidup glamour yang bersemboyan, “Karena bersenang-senanglah aku ada!” untuk mendekonstruksi semboyan kaum Cartesian, “Karena berpikirlah aku ada!” 

Amnesia sejarah akibat konsumerisme dan hedonisme menyebabkan lahirnya apatisme atau paham yang tidak peduli atas apa pun yang terjadi. Apalagi masa depan bangsa dan negara. Menggelembungnya jumlah Golput sebanyak 34,5 juta orang dan swingging voters yang mendongkrak perolehan suara parpol baru yang jelas belum punya ideologi pada Pemilu 2004 lalu, merupakan indikasi signifikan atas apatisme tersebut.

Konsumerisme dan hedonisme yang disebarkan kapitalisme global lewat berbagai cara, bagi Rubag, seakan-akan sudah mendarah daging bagi masyarakat, khususnya kalangan berpangkat dan berduit. Iklan-iklan menggoda, kata Wahyu Wibowo, mirip seperti nenek sihir yang datang setiap saat di sekitar masyarakat. Setelah menebar mantra-mantra lalu menghilang, namun segera diganti aktor dan aktris ganteng dan cantik pemain sinetron sabun, yang di sekujur tubuhnya juga menempel balutan iklan. Dari sandal atau sepatu hingga jepitan rambut, dari kutek hingga ikatan gigi, merupakan semiotika konsumerisme yang merangsang orang berduyun-duyun mengunjungi mall, shopping center, dan swalayan. Teknologi dan desain yang dimodifikasi setiap saat membuat para konsumen membeli karena keinginan, bukan kebutuhan. Semua dibeli bukan karena belum punya, namun karena yang dimiliki dirasa ketinggalan zaman dan untuk ”jaim” atau jaga imej, si dompet harus dikuras.

10

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Solovon C. Robert, 1987, Etika Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.

2.   Berstens,K, Etika, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994.

3.   Tjahjono, H, Republik Ini Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, www. Bali. Com

4.   Supeli Karlina, Carpe Diem, Majalah Kartini.

5.   Www. Bali-Post.co-id.

 

 

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Etika sebagai refleksi manusia tentang apa yang dilakukannya dan dikerjakannya mempunyai suatu tradisi yang panjang.namun banyak gejala menunjukkan bahwa di zaman kita minat untuk etika tidak berkurang justru bertambah. Sebabnya tentu karena kita lebih dari generasi sebelumnya menghadapi berbagai masalah moral yang baru dan berat. Masalah-masalah itu ditimbulkan karena perkembangan pesat dibidang ilmu dan teknologi, tapi juga karena perubahan sosio-budaya yang mendalam yang pada waktu bersamaanberlangsung dimana-mana dalam masyarakat modern.

Etika adalah pelajaran tentang hidup yang baik dalam pengertian bahwa hal itu merupakan usaha yang sangat penting untuk mengerti susunan dan prioritas nilai-nilai kita dan bagaimana nilai-nilai tersebut terpadu harmonis. Aristoteles menulis panjang lebar tentang hidup baik dan kebahagiaan, dan menegaskan bahwa hidup yang paling baik dan paling bahagia adalah hidup dengan penalaran dan perbuatan penuh kebajikan.sebagai seorang filsuf dia cenderung menekankan “hidup komtemplatif”, hidup berpikir, karena inilah kegiatan manusia yang paling tinggi dalam cara berpikirnya. Namun demikian dia juga menegaskan bahwa hidup mestinya penuh dengan kesenangan-kesenangan dan sahabat-sahabat, dengan kehormatan dan famili,dan mestinya bukan hidup terisolasi seperti kehidupan pertapa.

Terlepas dari kecendrungan seseorang terhadap kehidupan penuh kenikmatan yang tak bermoral atau terhadap hidup religius dengan penyangkalan diri dan kesederhanaan, bila pencarian hidup yang baik diukur dengan kepuasan perseorangan semata-mata, kitan mungkin akan menjadikan etika sebagai masalah kesenangan dan selera pribadi yang bersifat subjektif semata-mata.dan bukan lagi masalah benar atau salah.

Satu cara untuk memperjalan hal ini adalah membedakan diantara sekian pengertian “kepuasan” yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa mungkinlah memuaskan kinginan kita yang mendesak tetapi kemudian kita sendiri yang tidak puas pada akhirnya.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu filsafat moral yaitu hedonisme dan penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Hedonisme adalah pandangan tentang kesenangan. Dalam dunia modern ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk yang lain. Hedonisme merupakan “etika implicit” yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. Pada kenyataannya mereka berpegang pada prinsip-prinsip hedonistis. Didalam makalah yang sederhana ini tidak membahas hedonisme terlalu dalam tetapi hanya mengambil batasan hedonisme dalam kehidupan yang sederhana.

  1. RUANG LINGKUP PENULISAN

Ruang lingkup penulisan makalah ini mencakup sejarah hedonisme, ahli-ahli yang menganut paham hedonisme, dan pengaruh hedonisme dalam kehidupan kita sehari-hari.

  1. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. memperoleh gambaran yang jelas tentang hedonisme
  2. menambah pengetahuan dan ilmu tentang hedonisme dan pengaruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari
  3. menjalin kerjasama yang baik sesama mahasiswa dan dosen
  4. Menambah ilmu dan pengalaman dalam penyusunan makalah.

1

  1. METODE PENULISAN

Metode penulisan makalah ini dengan  cara studi kepustakaan yang mana sumber-sumber tentang pembahasan hedonisme diambil dari bahan-bahan perpustakaan dan juga internet.

  1. SISTEMATIKA PENULISAN

Makalah ini menguraikan tentang hedonisme dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh makalah ini diuraikan dalam tiga bab yaitu :

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang penulisan, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab kedua berisikan tentang teori hedonisme, pandangan terhadap hedonisme dan pengaruh yang ditimbulkan hedonisme dalam kehidupan sehari-hari.

Bab ketiga berisikan kesimpulan dan saran.

2

BAB III

PENUTUP

  1. A.                                  KESIMPULAN

Hedonisme atau pandangan yang menyamakan “baik secara moral” dengan “kesenangan” tidak saja merupakan suatu pandangan pada permulaan sejarah filsafat, tetapi dikemudian hari sering kembali dalam pelbagai variasi. Tendensi hedonistis terutama tampak dalam filsafat moral Inggris. Filsuf Inggris, John Locke (1632-1704), misalnya akan menandaskan : “ kita sebut baik apa yang menyebabkan atau meningkatkan kesenangan ; sebaliknya , kita namakan jahat apa yang dapat mengakibatkan atau meningkatkan ketidaksenangan apa saja atau mengurangi kesenangan apa saja dalam diri kita”. Juga dalam utilitarisme Inggris masih terdengar dengan jelas suatu nada hedonistis. Tapi dalam bentuk modernnya sifat individualistis dan egoistis dari hedonisme Yunani kuno telah ditinggalkan. Hedonisme yang menjiwai pemikiran modern itu mengakui dimensi social sebagai factor yang tidak bias disingkirkan.

Dalam dunia modern sekarang ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk yang lain. Hedonisme merupakan etika implisit yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. Dan bukan saja pada taraf individual hedonisme tersembunyi ini dapat ditemukan , dalam masyarakat luas pun hedonisme tidak absen. Jika kita menganalisis publisitas periklanan dalam masyarakat yang disebut konsumeristis sekarang ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk menunjukkan dibelakangnya cita-cita hedonisme.

Sudah sejak sastrawan Inggris, Oscar Wilde, menulis novel Dorian Grey, new hedonism ia sebut sebagai tuntutan zaman (maksudnya abad ke-18). Namun hedonisme sebetulnya sudah muncul sejak abad ke-4 SM. Bagi para hedonis yang sungguh baik bagi manusia adalah yang memberi kesenangan. Bukankah sejak kecil manusia selalu merasa tertarik akan kesenangan? Bila kesenangan sudah tercapai , ia tidak akan mencari sesuatu yang lain lagi.

Mungkin kita tidak perlu sampai membaca Dorian Gray untuk memahami hedonisme baru sesuai dengan zamannya.cukuplah kita menyetel televisidan memilih salah satu saluran yang mana saja, antara pukul 19.00 – 21.00. Itu prime time. Artinya jumlah pemirsa diyakini paling banyak. Saat itu semua saluran menayangkan hiburan mulai dari dangdut, sinetron, kuis sampai gossip.

Tawaran-tawaran kesenangan , ada musik yang dilengkapi dengan goyang tubuh yang kian hari kian sensual, ada tawaran dapat uang hanya dengan menebak jawaban bagi pertanyaan yang sebagian besar tidak mencerdaskan.ada dunia rekaan sinetron yang hampir tak ditemukan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.ada kisah sensasional para selebriti. Tayangan-tanyangan itu pun ditaburi janji iklan bagi improvement kilat laksana sulap (kulit lebih putih dalam lima hari, tubuh lebih langsing dalam seminggu, rambut lebih berkilap dalam sekali keramas dengan shampoo produk tertentu). Saking sibuknya mencari kesenangan , jangan jangan pada akhirnya kita semua Cuma meraih udara kosong , sementara para pemilik modal yang membuat kita berlarian mengejar kesenangan yang mereka tawarkan , meraih laba sebanyak-banyaknya dari kantong jiwa kita yang semakin dangkal.

Dari ini semua dapat disimpulkan bahwa dampak hedonisme dalam kehidupan kita sehari-hari lebih banyak mengarah kearah yang negatif dan merugikan diri sendiri dan orang banyak.

  1. SARAN

Sesuai dengan kesimpulan diatas maka kelompok menyarankan kepada pembaca :

  1. Cepat tanggap dan peka terhadap masalah masalah etika yang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari terutama yang berhubungan dengan hedonisme yang bersifat negatif.
  2. Meningkatkan pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan etika dan penerapannnya dalam kehidupan kita sehari-hari.
  3. Melaksanakan atau mempraktekkan apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk yang berhubungan dengan pelajaran etika dan hedonisme ini.
  4. Kepada perpustakaan untuk lebih banyak menyediakan referensi buku-buku yang berhubungan dengan etika.
 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

EUDEMONISME

BAB II

EUDEMONISME

 

 

Eudemonisme merupakan salah satu filsafat moral selain hedonisme dan yang lainnya. Eudemonisme berasal dari kata “ Eudaimonia” yang berarti kebahagiaan. Pandangan ini berasal dari filsuf Yunani besar, Aristoteles (384-322 s.M). Dalam bukunya , Ethika Nikomakheia, ia mulai dengan menegaskan bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan. Bisa dikatakan juga, dalam setiap perbuatan kita ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita. Seringkali kita mencari suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain lagi. Misalnya, kita minum obat untuk bisa tidur dan kita tidur untuk dapat memulihkan kesehatan. Timbul pertanyaan apakah ada juga tujuan yang dikejar karena dirinya sendiri dan bukan karena sesuatu yang lain lagi ; apakah ada kebaikan terakhir yang tidak dicari demi sesuatu yang lain lagi. Menurut Aristoteles, semua orang akan menyetujui bahwa tujuan tertinggi ini – dalam terminology modern kita bisa mengatakan : makna terakhir hidup manusia – adalah kebahagiaan (eudaimonia). Tapi jika semua orang mudah menyepakati kebahagiaan sebagai tujuan terakhir hidup manusia, itu belum memerlukan semua kesulitan, karena dengan kebahagiaan mereka mengerti banyak hal yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kesenangan adalah kebahagiaan, ada yang berpendapat bahwa uang dan kekayaan adalah inti kebahagiaan dan ada pula yang menganggap status sosial atau nama baik sebagai kebahagiaan. Tapi Aristoteles beranggapan bahwa semua hal itu tidak bisa diterima sebagai tujuan terakhir. Kekayaan misalnya paling-paling bisa dianggap tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain. Karena itu masih tetap tinggap pertanyaan : apa itu kebahagiaan?.

Menurut Aristoteles, seseorang mencapai tujuan terakhir dengan menjalankan fungsinya dengan baik. Tujuan terakhir pemain suling adalah main dengan baik. Tujuan terakhir tukang sepatu adalah membikin sepatu yang baik. Nah, jika manusia menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, ia juga mencapai tujuan terakhirnya atau kebahagiaan. Apakah fungsi yang khas bagi manusia itu ? apakah keunggulan manusia, dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain ? Aristoteles menjawab : akal budi atau rasio. Karena itu manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan secara paling baik kegiatan-kegiatan rasionalnya. Dan tidak cukup ia melakukan demikian beberapa kali saja, tap[I harus sebagai suatu sikap tetap. Hal itu berarti bahwa kegiatan-kegiatan rasional itu harus dijalankan dengan disertai keutamaan. Bagi Aristoteles ada dua macam keutamaan : keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual menyempurnakan langsung rasio itu sendiri. Dengan keutamaan-keutamaan moral ini dibahas Aristoteles dengan panjang lebar. Keutamaan seperti keberanian dan kemurahan hati merupakan pilihan yang dilaksanakan oleh rasio. Dalam hal ini rasio menentukan jalan tengah antara dua ekstrem yang berlawanan. Atau dengan kata lain, keutamaan adalah keseimbangan antara “kurang “ dan “terlalu banyak”. Misalnya, keberanian adalah keutamaan yang memilih jalan tengah antara sikap gegabah dan sikap pengecut; kemurahan hati adalah keutamaan yang mencari jalan tengah antara kekikiran dan pemborosan. Keutamaan yang menentukan jalan tengah itu oleh Aristoteles di sebut phronesis (kebijaksanaan praktis). Phronesis menentukan apa yang bisa dianggap sebagai keutamaan dalam suatu situasi konkret. Karena itu keutamaan ini merupakan inti seluruh kehidupan moral.

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa tidaklah cukup kita kebetulan atau satu kali saja mengadakan pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan kita sehari-hari. Baru ada keutamaan jika kita bisa menentukan jalan tengah di antara ekstrem-ekstrem itu dengan suatu sikap tetap. Menurut Aristoteles, manusia adalah baik dalam srti moral, jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan-perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual. Orang seperti itu adalah bahagia. Kebahagiaan itu akan disertai kesenangan juga, walaupun kesenangan tidak merupakan inti yang  sebenarnya dari kebahagiaan.

 

TINJAUAN KRITIS

 

Pemikiran Aristoteles tentang etika tentu lebih kompleks dan berisi daripada yang sempat diuraikan di atas. Kami terutama menguraikan pemikirannya tentang keutamaan dan itupun hanya secara singkat. Memang benar, pemikiran tentang keutamaan adalah bagian paling menarik dalam etikanya. Tapi ajarannya mempunyai kelemahan juga. Salah satu kelemahan adalah bahwa daftar keutamaan yang disebut olehnya tidak merupakan hasil pemikiran Aristoteles saja tapi mencerminkan pandangan etis dari masyarakat Yunani pada waktu itu dan lebih khusus lagi mencerminkan golongan atas dalam masyarakat Athena tempat Aristoteles hidup. Dan ternyata tidak bisa diharapkan juga ia akan menyajikan daftar keutamaan yang berlaku selalu dan dimana-mana. Pasti ada sejumlah keutamaan yang berlaku agak umum. Tapi di samping itu setiap kebudayaan dan setiap periode sejarah akan memiliki keutamaan-keutamaan sendiri, yang belum tentu sama dalam kebudayaan atau periode sejarah lain. Kerendahan hati, misalnya, merupakan keutamaan yang berasal dari tradisi lain dan belum bisa diharapkan dalam pembahasan Aristoteles. Suka bekerja keras merupakan contoh lain tentang keutamaan yang tidak mungkin ditemukan pada Aristoteles. Malah ia memandang rendah pekerjaan fisik, sesuai dengan pandangan Yunani pada waktu itu.

Keberatan lain menyangkut pemikiran Aristoteles tentang keutamaan sebagai jalan tengah antara sua ekstrem. Aristoteles menjelaskan hal itu dengan sebuah analisis bagus dan tajam tentang keberanian, misalnya. Tapi soalnya adalah apakah keutamaan selalu merupakan jalan tengah antara “kurang’ dan “terlalu banyak”. Aristoteles sendiri mengalami kesulitan dengan keutamaan seperti pengendalian diri. Perbuatan seperti makan terlalu banyak, jelas bertentangan dengan keutamaan pengendalian diri. Tapi jika orang makan kurang daripada apa yang dianggap perlu , apakah perbuatannya melanggar keutamaan itu juga ? rupanya sulit mengatakan demikian. Perbuatan seperti berpuasa justru dianggap suatu perbuatan terpuji dan pelaksanaan keutamaan pengendalian diri. Aristoteles sendiri mengakui bahwa praktis tidak ada manusia yang tak acuh terhadap makanan, sehingga segi “kurang” di sini sulit ditunjukkan.

Tadi sudah dijelaskan bahwa pemikiran Aristoteles diwarnai suasana eliter karena terutama mencerminkan golongan atas dalam mesyarakat Yunani waktu itu. Bisa ditambah lagi bahwa pada Aristoteles kita sama sekali belum melihat paham hak manusia, apalagi persamaan hak semua manusia. Malah ia membenarkan secara rasional lembaga perbudakan, karena ia berpendapat bahwa beberapa manusia menurut kodratnya adalah budak. Suatu pandangan menurut orang modern justru tidak etis. Tapi keberatan ini tidak perlu terlalu ditekankan, karena kita tidak bisa mengeritik seseorang karena dia anak dari zamannya. Kita tidak bisa menghukum filsuf Yunani kuno ini, karena belum termasuk zaman modern.

Etika Aristoteles dan khususnya ajarannya tentang keutamaan tidak begitu berguna untuk memecahkan dilemma-dilema moral besar yang kita hadapi sekarang ini. Pemikirannya tidak membantu banyak dalam mencari jalan keluar bagi masalah-masalah moral penting di zaman kita, seperti misalnya risiko penggunaan tenaga nuklir, reproduksi artificial, percobaan medis dengan embrio dan sebagainya. Disini kita membutuhkan pertimbangan –pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pandangan Aristoteles tentang keutamaan lebih cocok untuk menilai kadar moral seseorang berdasarkan perbuatan-perbuatannya, termasuk juga hidup moralnya sebagai keseluruhan.

TIGA KUNCI HIDUP YANG BAHAGIA

 

          Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak orang yang mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah Anda akan berbahagia jika mempunyai rumah yang indah, mobil mewah, penghasilan yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-anak yang tampan dan cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ‘’ya.’’ Tapi,percayalahitu tidak akan berlangsung lama. Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu Anda berhasil memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan Anda membeli mobil mewah, handphone yang canggih, atau sekadar baju baru. Anda begitu ingin memilikinya.

Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa bahagia itu segera hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan, Anda mulai melirik orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus lagi daripada yang Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk memilikinya. Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan pernah bahagia.

Budha Gautama pernah mengatakan, ‘’Keinginan-keinginan yang ada pada manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan.’’ Ia benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Anda tidak perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah sesuatu yang sudah Anda putuskan dari awal. Coba katakan pada diri Anda sendiri, ‘’Saya sudah memilih untuk bahagia apapun yang akan terjadi.’’ Anda akan merasa bahagia walaupun tidak memiliki harta yang banyak, walaupun kondisi di luar tidak sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak akan mengganggu karena Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda
disana. Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri Anda sendiri. Inti
kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara Anda berpikir dan Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman batin. Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda tumbuhkan. Saya mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci kebahagiaan ini setelah merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang kita ucapkan tiap hari tapi sering tanpa makna yang mendalam. Saya kira ajaran seperti ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam ajaran agama yang lain.

Kunci pertama kebahagiaan adalah rela memaafkan. Coba renungkan kata subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak padaketidaksempurnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang- orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan, alhamdulillah.

Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer.
Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah. Cerita itu sangat inspiratif karena dapat
menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.

Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar- besarkan hal-hal kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang.

Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal- hal seperti ini bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ‘’agak besar.’’ Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah
kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. KESIMPULAN

Eudemonisme adalah salah satu filsafat moral yang menganut tentang kebahagiaan. Aristoteles menulis panjang lebar tentang hidup baik dan kebahagiaan dan menegaskan bahwa hidup yang paling baik dan paling bahagia adalah hidup dengan penalaran dan perbuatan penuh kebajikan.

Aristoteles menegaskan dan kita juga menekankan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagia, dan kegembiraan meliputi kepuasan pribadi. Tetapi kegembiraan dan kepuasan keinginan khusus seseorang belum merupakan kebahagiaan, seperti yang kita temukan dengan mudah oleh Socrates dan Aristoteles sebagai menyerah kepada keinginan yang kita ketahui salah atau buruk bagi kita.

Memuaskan keinginan kita langsung tidak sama dengan kepuasan diri. Kebahagiaan menuntut pemikiran yang panjang/hati-hati/teliti- pandangan yang jauh tentang kegembiraan pribadi- dan bukan sekedar keegoisan. Dan sebaliknya pemikiran yang teliti mencakup pertimbangan-pertimbangan yang kiranya tidak ada dalam kepentingan diri kita sama sekali. Kepuasan diri itu mempunyai banyak tingkatan dan ada batasannya juga. Kepuasan diri tidak selalu ada dalam hidup yang baik.

 

  1. SARAN

Dengan menyimpulkan apa yang telah dipelajari kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak membaca literatur yang ada untuk menambah wawasan dan pengertian tentang kebahagiaan atau paham eudemonisme. Selain itu kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk menerapkan ilmu yang telah di pelajari selama berada di lapangan atau di masyarakat nantinya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. K. BERTENS, ETIKA, 2001, GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, JAKARTA.
  2. WWW.KOMPAS.COM

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

DEONTOLOGI

  1. PENGERTIAN DEONTOLOGI

©       Berasal dari bahasa Yunani : Deon berarti apa yang harus dilakukan (kewajiban).

©       DEONTOLOGI : Suatu sistem moral / etika yang mengukur baik tidaknya suatu perbuatan semata-mata berdasarkan maksud si pelaku dalam melakukan perbuatan tersebut.

©       Pencipta sistem moral ini adalah filsuf besar dari Jerman Immanuel Kant ( 1724 – 1804 )

  1. KONSEP-KONSEP DEONTOLOGI
    1. Sistem etika ini hanya menenkankan suatu perbuatan di dasarkan pada wajib tidaknya kita melakukan perbuatan itu.
    2. Yang disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak yang baik, semua hal lain di sebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Contohnya : kesehatan, kekayaan, intelegensia, adalah baik juka digunakan dengan baik oleh kehendak manusia. Tetapi jika digunakan oleh kehendak jahat, semua hal itu menajdi jahat sekali.
    3. Kehendak menjadi baik, jika bertindak karena kewajiban. Kalau perbuatan dilakukan dengan suatu maksud atau motif lain, perbuatan itu tidak bisa di sebut baik, walaupun perbuatan itu suatu kecendrungan atau watak baik.
    4. Perbuatan dilakukan berdasarkan kewajiban, bertindak sesuai dengan kewajiban si sebut legalitas. Dengan legalitas kita memenuhi norma hukum.
    5. Paham deontologi membagi kewajiban moral menjadi 2 yaitu :

Imperatif (perintah) kategoris (hukum moral)

$ Kewajiban moral yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat.

$ Imperatif ini menjiwai semua peraturan etis. Contoh janji harus ditepati senang atau tidak, barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.

Imperalis hipotesis : kewajiban moral yang mengikutsertakan sebuah syarat.

N  Kalau kita ingin mencapai suatu tujuan, maka kita harus menghendaki sarana-sarana yang menuju ke tujuan itu.

N  Contoh : jika kita ingin lulus ujian, kita harus belajar dengan tekun tetapi sarana (belajar) itu hanya mewajibkan kita, sejauh kita ingin mencapai tujuan (lulus).

  1. Kalau norma moral dipahami sebagai imperative kategoris, maka dalam bertindak secara moral, kehendak dibagi menjadi 2 sifat, yaitu :

Bersifat otonom

­  Yang menentukan dirinya sendiri (memberikan hukum moral kepada dirinya sendiri)

­  Dalam tingkah laku moralnya, manusia tidak menaklukkan diri kepada yang lain, melainkan kepada hukumnya sendiri.

­  Otonomi kehendak berarti kebebasan manusia (manusia bebas karena mengikat dirinya sendiri dengan hukum moral).

­  Kehendak bebas dan kehendak yang menundukkan diri kepada hukum moral mempunyai arti yang sama.

Bersifat heteronom

­  Membiarkan diri ditentukan oleh faktor dari luar dirinya seperti kecendrungan atau emosi.

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

UTILITARISME

 

Dalam sejarah filsafat terdapat banyak sistem etika artinya banyak uraian sistematis yang berbeda beda tentang hakikat moralitas dan peranannya dalam hidup manusia. Utilitarisme mengajarkan bahwa semua tindakan dan keadaan harus ditentukan oleh akibat-akibatnya.

Utilitarisme adalah salah satu konsep tentang etika yang ada dalam masyarakat. Utilitarisme terbagi dua yaitu :

 

  1. 1.       Utilitarisme Klasik

 

Aliran ini berasal dari tradisi pemikiran moral di United Kingdom dan di kemudian hari berpengaruh ke seluruh kawasan yang berbahasa Inggris. Filsuf Skotlandia, Davis Hume (1711-1776), sudah memberi sumbangan penting kea rah perkembangan aliran ini, tapi utilitarisme menurut bentuk lebih matang berasal dari filsuf Inggris Jeremy Bentham (1748-1832), dengan bukunya Introduction to the Ptinciples of moral and Legislation (1789). Utilitarisme dimaksudkan sebagai dasar etis untuk membaharui hukum Inggris, khususnya hukum pidana. Jadi ia tidak ingin menciptakan suatu teori moral abstrak, tetapi mempunyai maksud sangat konkret. Ia berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga Negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi yang disebut hak-hak kodrati. karena itu ia beranggapan bahwa kalsifikasi kejahatan , umpamanya, dalam sistem hukum Inggris sudah ketinggalan zaman dan harus diganti. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan atas berat tidaknya pelanggaran dan yang terakhir ini diukur berdasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. Suatu pelanggaran yang tidak merugikan orang lain, menurut Bentahm sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan criminal, seperti misalnya pelanggaran seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Bentham mulai dengan menekankan bahwa umat manusia menurut kodratnya ditempatkan di bawah pemerintahan dua penguasa yang berdaulat : ketidaksenangan dan kesenangan. Menurut kodratnya manusia menghindaari ketidaksenangan dan mencari kesenangan. Kebahagiaan tercapai, jika ia memiliki kesenangan dan bebas ddari kesusahan. Dalam hal ini Bentham sebenarnya melanjutkan begitu saja hedonisme klasik.

Karena menurut kodratnya tingkah laku manusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk, sejauh mana dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Dalam hal ini Bentham meninggalkan hedonisme individualistis dan egoistis dengan menekankan bahwa kebahagiaan itu menyangkut seluruh umat manusia. Moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian Bentham sampai pada The principle fo utility yang berbunyi : the greatest happiness of the greatest number, “kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar”. Prinsip keguanaan ini menjadi norma untuk tindakan-tindakan kita pribadi maupun untuk kebijaksanaan pemerintah, misalnya dalam menentukan hukum pidana.

Menurut Bentham , prinsip kegunaan tadi harus diterapkan secara kuantitatif belaka. Karena kualitas kesenangan selalu sama, satu-satunya aspeknya yang bisa berbeda adalah kuantitasnya. Bukan saja greatest number tapi juga the greatest happiness dapat diperhitungkan. Untuk itu ia mengembangkan the hedonistic calculus. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungkan menurut intensitas dan lamanya perasaan yang diambil daripadanya, menurut akibatnya, menurut kepastian akan dapat menghasilkan perasaan itu, menurut jauh dekatnya perasaan, menurut kemurnian serta jangkauan perasaan dan sebagainya. Perhitungan ini akan menghasilkan saldo positif, jika kredit (kesenangan) melebi\hi debetnya (ketidaksenangan). Salah satu contoh dari perbuatan itu dapat digambarkan sebagai berikut :

 

KEMABUKAN

Ketidaksenangan (debet)

Kesenangan (kredit)

Lamanya : Singkat

 

Akibatnya : – Kemiskinan

-Nama buruk

-Tidak sanggup bekerja

 

Kemurnian : dapat diragukan

(= dalam keadaan mabuk

sering tercampur unsure

ketidaksenangan)

Intensitas    : membawa banyak

kesenangan

 

Kepastian   : kesenangan pasti terjadi

 

Jauh/dekat  : kesenangan timbul cepat

 

 

Seandainya tidak ada segi negatif, maka keadaan mabuk akan merupakan sesuatu yang secara moral baik. Tapi sebagai keseluruhan saldo adalah negatif dan menurut Bentham malah sangat negatif, sehingga kemabukan harus dinilai secara moral sangat jelek. Moralitas semua perbuatan dapat diperhitungkan dengan cara sejenis.

Utilitarisme diperhalus dan diperkukuh lagi oleh filsuf Inggris besar, John Stuart Mill (1806 – 1873) dalam bukunya utilitarianism (1864). Dari pendapatnya patutu disebut di sini dua hal. Pertama ia mengeritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus di ukur secara kuantitatif. Ia berpendapat bahwa kualitasnya perlu dipertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Kesenangan manusia harus dinilai lebih tinggi daripada kesenangan hewan, tegasnya, dan kesenangan orang seperti sokrates lebih bermutu daripada kesenangan orang tolol. Tetapi kualitas kebahagiaan dapat diukur juga secara empiris, yaitu kita harus berpendapat pada orang yang bijaksana dan berpengalaman dalam hal ini. Orang seperti itu dapat memberi kepastian tentang mutu kesenangan.

Pikiran Mill yang kedua yang pantas disebut di sini adalah bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan satu orang saja yang barangkali bertindak sebagai pelaku utama. Raja dan seorang bawahan dalam hal ini harus diperlakukan sama. Kebahagiaan satu orang tidak pernah boleh dianggap lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. menurut perkataan Mill sendiri : everybody to count for one, nobody to count for more than one. Dengan demikian suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan, di mana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

Salah satu kekuatan utilitarisme adalah bahwa mereka menggunakan sebuah prinsip jelas dan rasional. Dengan mengikuti prinsip ini pemerintah mempunyai pegangan jelas untuk membentuk kebijakannya dalam mengatur masyarakat. Dan salah satu tujuan utama Bentham memang demikian. Suatu kekuatan lain adalah bahwa teori ini memperhatikan hasil perbuatan. Kita semua mempunyai kesan spontan bahwa hasil perbuatan turut menentukan kualitas etis perbuatan itu. Suatu perbuatan yang mempunyai akibat jelek-karena umpamanya mencelakakan orang lain- mempunyai peluang lebih besar untuk dianggap secara etis jelek daripada perbuatan yang mempunyai akibat baik (karena umpamanya membantu orang lain). Kita mempunyai simpati untuk Robin Hood, karena ia mencuri dari orang kaya untuk membagi jarahannya kepada orang miskin. Dengan demikian kerugian orang kaya tidak seberapa dan orang miskin tertolong. Akibat dari perbuatannya itu memang membuat pencuriannya tampak lain daripada bilamana ia mencuri dengan akibat semata-mata memperkaya diri. Akan tetapi, utilitarisme mempunyai juga beberapa kelemahan serius. Sekarang kita akan memandang beberapa keberatan terhadap utilitarisme.

 

  1. Keberatan-keberatan yang dikemukakan terhadap hedonisme untuk sebagian berlaku juga bagi utilitarisme. Tapi utilitarisme tidak lagi memuat egoisme etis, karena prinsip kegunaan berbunyi: kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar. Utilitarisme tidak lagi mengambil sebagai titik acuan pelaku individual saja, melainkan umat manusia sebagai keseluruhannya. Tapi dapat dipertanyakan bagaimana Bentham bisa mempertanggung jawabkan sifat umum itu. Ia bertolak dari suatu dasar psikologis: Sebagai manusia kita mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Dasar psikologis itu bersifat semata-mata individualistis. Karena itu ia tidak konsekuen dengan loncatannya ke jumlah orang terbesar. Kita tidak mendengar bagaimana loncatan ini bisa dipertanggungjawabkan.
  2. Prinsip kegunaan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya benar. Misalnya, kita bisa bayangkan suatu kasus sadisme di mana satu orang dengan cara kejam disiksa oleh banyak orang lain. Kalau kesenangan para penyiksa melebihi penderitaan korban, maka menurut prinsip utilitarisme perbuatan itu bisa dinilai baik. Di sini kesdaran moral kita akan memberontak. Semua orang akan mengatakan bahwa kesenangan yang diperoleh dengan membuat menderita orang lain, tidak pernah dapat dibenarkan. Dengan kata lain, dalam sistem utilitarisme tidak ada tempat untuk paham “hak”. Padahal, hak merupakan suatu kategori moral yang amat penting.
  3. Keberatan lain lagi adalah bahwa prinsip kegunaan tidak memberi jaminan apapun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan sejahtera serta hanya ada minoritas kecil yang serba miskin dan mengalami rupa-rupa kekurangan, menurut utilitarisme dari segi etis masyarakat seperti itu telah diatur dengan baik, karena kesenangan melebihi ketidaksenagan. Akan tetapi, kita berpendapat bahwa masyarakat itu justru tidak diatur baik, karena tidak disusun dengan adil. Sebuah contoh lain yang bisa menimbulkan kesulitan untuk utilitaisme adalah menepati janji. Bila saja bahwa kebahagiaan lebih banyak orang akan ditingkatkan drastic karena suatu janji tidak ditepati dan bahwa neraca antara kesenangan dan tidak kesenangan menunjukkan bahwa secara menyeluruh kesenangan jauh lebih banyak, namun kita harus menegaskan bahwa janji tetap harus ditepati. Ini pun merupakan suatu masalah keadilan. Kita menyimpulkan bahwa salah satu kekurangan pokok utilitarime sebagai sistem moral adalah bahwa mereka tidak dapat menampung prinsip keadilan dalam teori mereka. Karena itu sistem moral yang hanya didasarkan atas prinsip kegunaan tidak bisa diterima sebagai suatu sistem moral yang lengkap.Tapi pretensi mereka sesungguhnya demikian.

 

  1. 2.       Utilitarisme Aturan

 

Suatu percobaan yang menarik untuk mengatasi kritikan berat yang dikemukakan terhadap utilitarisme adalah membedakan antara dua macam utilitarisme: utilitarisme perbuatan dan utilitarisme aturan. Hal ini dikemukakan antara lain oleh filsuf Inggris-Amerika Stephen Toulmin. Toulmin dan kawan-kawannya menegaskan bahwa prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas salah satu perbuatan (sebagaimana dipikirkan dalam utilitarisme klasik), melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan kita. Orang sebaiknya tidak bertanya “apakah akan diperoleh kebahagiaan paling besar untuk paling banyak orang, jika seseorang menepati janjinya dalam situasi tertentu?” Yang harus ditanyakan adalah: “apakah aturan moral ‘orang harus menepati janjinya’ merupakan aturan yang paling berguna bagi masyarakat atau sebaliknya, aturan ‘orang tidak perlu menepati janji’ menyumbangkan paling banyak untuk kebahagiaan paling banyak orang?” Tanpa ragu-ragu dapat kita jawab bahwa aturan “orang harus menepati janji” pasti paling berguna dan kerena itu harus diterima sebagai aturan moral. Juga kesulitan-kesulitan lain terhadap utilitarisme, seperti hak manusia atau perlunya keadilan, akan hilang dengan sendirinya, asal prinsip kegunaan diterapkan atas aturannya dan bukan atas perbuatan satu demi satu.

Filsuf seperti Richard B. Brandt melangkah lebih jauh lagi dengan mengusulkan agar bukan aturan moral satu demi satu, melainkan sistem aturan moral sebagai keseluruhan diuji dengan prinsip kegunaan. Kalau begitu, perbuatan adalah baik secara moral, bila sesuai dengan aturan yang berfungsi dalam sistem aturan moral yang paling berguna bagi suatu masyarakat.

Utilitarisme aturan ini merupakan sebuah varian yang menarik dari utilitarisme. Perlu diakui bahwa dengan demikian kita bisa lolos dari banyak kesulitan yang melekat pada utilitarisme perbuatan. Namun demikian, utilitarisme aturan ini sendiri tidak tanpa kesulitan juga. Kesulitan utama timbul, jika terjadi konflik antara dua aturan moral. Misalnya, seorang bapak keluarga mencuri uang untuk dapat membeli obat yang sangat dibutuhkan bagi anaknya.Jika anak itu tidak minum obat tersebut, segera ia akan mati. Bapak itu sudah berusaha seribu satu cara untuk memperoleh uang yang sangat diperlukan itu, tapi selalu gagal. Tinggal kemungkinan terakhir ini: mencuri. di sini terdapat konflik antara dua aturan moral: “orang tidak boleh mencuri” dan “orang tua harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya”. Dari dua aturan moral ini, mana yang paling penting? untuk menjawab pertanyaan ini harus kita lihat situasi konkret. Dan mungkin kebanyakan orang akan mengatakan bahwa dalam situasi konkret tadi bapak keluarga itu boleh saja mencuri, asal dengan itu ia tidak terlalu merugikan orang lain. Akan tetapi, apakah dengan demikian kita tidak meniggalkan utilitarisme aturan dan terjerumus ke dalam utilitarisme perbuatan? rupanya memang demikian.

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

ETIKA DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI

Bab 11

ETIKA DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI

 

          Di antara faktor-faktor yang mengakibatkan suasana etis di zaman kita sekarang, perkembangan pesat dan menakjubkan di bidang ilmu dan teknologi pasti mempunyai kedudukan penting. Dengan “ilmu” di sini terutama dimaksudkan ilmu alam. Dengan teknologi dimengerti penerapan ilmu alam yang memungkinkan kita menguasai dan memamfaatkan daya-daya alam. Di antara masalah-masalah etis berat yang dihadapi sekarang ini tidak sedikit berasal dari hasil – kadang-kadang spektekuler yang di capai ilmu dan teknologi modern. Di bandingkan dengan generasi sebelumnya, perkembangan ilmiah dan teknologis itu mengubah banyak sekali dalam hidup manusia, antara lain juga menyajikan masalah-masalah etis yang tidak pernah terduga sebelumnya. Tentu saja topic yang begitu luas dan rumit tidak mungkin di uraikan disini dengan lengkap dan menurut segala aspeknya. Kita harus membatasi diri pada beberapa catatan saja.

 

  1. 1.       MASALAH BEBAS NILAI

Dari yang dikatakan tadi kiranya sudah jelas bahwa kami melihat hubungan langsung antara ilmu dan pertimbangan moral. Ilmu dan moral tidak merupakan dua kawasan yang sama sekali asing yang satu terhadap yang lain, tetapi ada titik temu di antaranya. Pada saat-saat tertentu dalam perkembangan ilmu dan teknologi bertemu dengan moral. Dengan itu kami sebenarnya sudah menjawab pertanyaan hubungan antara ilmu dan nilai-nilai moral yang dikenal baik dalam bentuk “apakah ilmu itu bebas nilai?”. Atas pertanyaan ini sekarang agak umum dijawab bahwa ilmu tidak asing terhadap nilai dan dalam arti itu ilmu tidak bebas nilai. Dulu banyak ilmuwan merasa segan mengakui bahwa ilmu itu tidak bebas nilai, karena mereka mengkhawatirkan dengan itu otonomi ilmu pengetahuan akan dirongrong. Tapi kekhawatiran seperti itu tidak beralasan. Metode ilmu pengetahuan memang otonom dan tidak boleh dicampuri oleh pihak lain, entah itu terjadi atas nama nilai moral, nilai keagamaan, pertimbangan nasional atau alas an apapun juga. Dalam hal ini kita sudah cukup belajar dari sejarah. Kita ingat saja akan “perkara Galilei “ yang terjadi dalam abad ke-17. tahun 1633 Gereja Katolik memaksa ilmuwan Italia, Galileo Galilei, untuk menarik kembali teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari dan tidak sebaliknya (heliosentrisme), yang dinilai bertentangan dengan Kitab Suci Kristen. Campur tangan agama dalam metode ilmiah tidak saja merugikan ilmu, tapi merugikan agama itu sendiri, karena kredibilitasnya bisa berkurang. Dalam abad ke-20 masih terjadi kasus yang sejenis di Uni Soviet. Ahli biologi dan Genetika, T.D. Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintah Stalin bahwa teori genetika Mendel yang tradisional itu bersifat anti marxixtis dan bahwa teorinya sendiri sesuai dengan ajaran komunis dan akan memungkinkan loncatan maju di bidang pertanian. Di kemudian hari terbentuk pendapat umum dal;am kalangan ilmiah bahwa teori Lysenko itu tidak benar. Tapi Stalin memenangkan Lysenko dan para pengikutnya, sedangkan ilmuwan-ilmuwan yang tidak sependapat disingkirkan. Ahli genetika terkemuka, N>I> Vavilov, yang sampai berani mengeritik teori Lysenko, meninggal dalam camp konsentrasi sebagai martir demi ilmu pengetahuan yang otonom.

Bahwa ilmu adalah otonom dalam mengembangkan metode dan prosedurnya, kini bisa diterima tanpa keberatan apapun. Tidak ada instansi lain yang berhak menyensor atau memerintahkan penelitian ilmiah. “kami mencari kebenaran dan bukan sesuatu yang lain” sudah lama menjadi semboyan untuk banyak ilmuwan. Akan tetapi, ilmu dan terutama teknologi sebagai penerapan ilmu teoritis tercantum juga dalam suatu konteks lebih luas. Dan terutama karena alasan itulah ia berjumpa dengan nilai-nilai moral. Ilmu dan teknologi bergumul dengan pertanyaan “bagaimana” (bagaimana struktur materi, bagaimana crania membuat mesin mobil yang irit bahan bakar, banyak sekali lagi). Teori ilmiah dan penerapannya dalam tehnik memberi jawaban atas pertanyaan itu. Tapi disamping itu masih ada pertanyaan-pertanyaan lain, misalnya, pertanyaan yang sangat penting, yaitu “untuk apa?”. Dan sebenarnya pertanyaan terakhir ini secara kronologis tidak terpisah dari yang pertama. Konon, ketika seorang ilmuwan Amerika yang ikut serta dalam” Manhattan Project”- proyek yang mengembangkan bom atom pertama pada awal tahun 1940-an ditanyakan tentang implikasi lebih lanjut dari proyek ilmiah itu, ia menjawab: After all, it is superb physics, “bagaimanapun juga, inilah fisika yang luar biasa”. Maksudnya, ia membatasi diri pada segi ilmiah saja. Ia tidak bersedia meninggalkan lengkup pertanyaan “bagaimana?”. Namun demikian, pada kenyataannya pekerjaannya tidak bisa dilepaskan dari yang terjadi beberapa waktu kemudian di kota Hiroshima dan Nagasaki. Selama ilmuwan bisa membatasi diri pada pertanyaan “bagaimana?”, mungkin ia hanya mencari kebenaran murni. Tapi secara konkret pertanyaan ini dibarengi pertanyaan “untuk apa?”. Hal itu sekarang jauh lebih jelas daripada awal perkembangan ilmu modern. Dalam situasi kita, kemampuan manusia yang tampak dalam ilmu dan teknologi bertautan erat dengan kekuatan ekonomis dan politik/militer. Salah satu alasan terpenting adalah bahwa penelitian ilmiah yang amat terspesialisasi itu menjadi usaha yang semakin mahal. Ilmuwan dengan cita-cita paling luhur pun tidak bisa berbuat banyak, kalau tidak tersedia dana yang sangat dibutuhkan. “hampir semua ilmuwan adalah orang yang dari segi ekonomi tidak bebas” sudah dikatakan Albert Einstein. Yang membiayai penelitian ilmiah tentu sudah mempunyai maksud dan harapan tertentu. Karena keadaan itu di zaman kita sekarang perkembangan ilmu dan teknologi hampir tidak bisa dipisahkan lagi dari kepentingan bisnis dan politik/militer.

 

  1. 2.       AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMIAH

Pertama-tama perlu kita sadari bahwa kemajuan yang di capai berkat ilmu dan teknologi bersifat ambivalen, artinya di samping banyak akibat positif terdapat juga akibat-akibat negatif. Tidak bisa di sangkal, berkat adanya ilmu dan teknologi manusia memperoleh banyak kemudahan dan kemajuan yang dulu malah tidak diimpikan. Kita ingat saja akan fasilitas transportasi dan telekomunikasi yang sangat memudahkan komunikasi bagi banyak sekali orang. Contoh yang tidak kalah penting adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang membuat hidup kita lebih berkualitas dan cukup drastic meningkatkan umur harapan hidup (life expectancy). Memang benar apa yang di katakana Filsuf dan sastrawan Inggris, Bertrand Russell (1872-1970):”perbaikan dalam bidang kesehatan itu sendiri sudah cukup untuk membuat zaman ini lebih disenangi dibanding waktu-waktu sebelumnya yang kini kadang kala masih menjadi objek nostalgia sementara orang. Secara keseluruhan, menurut saya, zaman ini ditandai oleh perbaikan dan kemajuan dalam segala hal dibanding dengan sebelumnya, kecuali bagi yang dulunya sudah kaya dan memiliki hak-hak istimewa”. Yang terutama bertambah dengan kemungkinan-kemungkinan ilmiah dan teknologis ini adalah kemampuan manusia. Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1623) sudah menyadari aspek penting ini dengan menekankan bahwa knowledge is power, “ penetahuan adalah kuasa”. Tidak lama kemudian Filsuf Prancis, Rene Descartes (1596-1650), menulis buku kecil dimana ia menguraikan pendangannya tentang metode ilmu baru yang sedang bertumbuh itu dan pada akhir bukunya ia mengucapkan keyakinannya bahwa dengan demikian umat manusia bisa menjadi maitres et possesseurs de la nature, “penguasa dan pemilik alam”.

Mula-mula perkembangan ilmiah dan teknologi itu dinilai sebagai kemajuan belaka. Orang hanya melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka luas bagi manusia. Pandangan optimistic itu berlangsung terus dan mencapai puncaknya dalam abad ke 19. ilmu dan teknologi dianggap sebagai kunci untuk memecahkan semua kesulitan yang mengganggu umat manusia. Kepercayaan akan kemajuan itu menjadi kentara sekali dalam pemikiran filsuf Prancis, Auguste Comte (1798-1857), yang memandang zaman ilmiah yang disebutnya “zaman positif” sebagai puncak dan titik akhir seluruh sejarah. Pandangan yang begitu optimistic kini tampaknya agak naïf. Kita sekarang ini jauh lebih modest dalam menilai ilmu dan teknologi. Kita menginsafi ambivalensi seluruh proses ilmiah-teknologis itu : ada segi positif tapi ada juga segi negatif. Di samping kemajuan luar biasa, ditimbulkan juga banyak problem dan kesulitan baru. Dan tidak bisa dipungkiri, problem dan kesulitan ini sering mempunyai konotasi etis. Kesadaran akan aspek=aspek negatif yang melekat pada ilmu dan teknologi mungkin belum pernah dirasakan begitu jelas dan meyakinkan seperti pada saat bom atom pertama dijatuhkan di atas kota Hiroshima tanggal 6 agustus 1945 dan tiga hari kemudian di atas kota Nagasaki. Pada ketika itu segera disadari akibat-akibat dahsyat dari kemampuan manusia melalui penguasaan fisika nuklir. Dengan adanya bom nuklir ini ternyata manusia memiliki kemungkinan yang mengerikan utnuk memusnahkan kehidupan di seluruh bumi. Untuk kedua kalinya kesadaran yang sama menyatakan diri ketika sekitar tahun 1960-an mulai dikenal dan diinsafi dengan jelas masalah ekologi dan lingkungan hidup. Bukan saja bom nuklir, melainkan juga perusakan dan pencemaran lingkungan hidup merupakan ancaman besar bagi kehidupan di planet kita. Penggunaan teknologi tanpa batas dalam industri modern akhirnya membahayakan kelangsungan hidup itu sendiri. Yang dibawakan oleh ilmu dan teknologi bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran, bahkan kehancuran, jika manusia tidak segera tahu membatasi diri. Dengan adanya persenjataan nuklir dan perlunya kelestarian lingkungan hidup menghadapi manusia dengan tanggung jawabnya dank arena itu menjadi masalah – maslah etis.

TANDA-TANDA YANG MENIMBULKAN HARAPAN

Bukan saja sedikit sekali perhatian untuk etika dalam masyarakat, melainkan juga perhatian itu hampir selalu terlambat datang. Pemikiran etis hanya menyusul perkembangan ilmiah-teknologis. Baru sesudah problem-problem etis timbul, etika sebagai ilmu mulai diikutsertakan. Refleksi etis tentang persenjataan nuklir baru dimulai, setelah bom atom pertama diledakkan. Refleksi etis tentang reproduksi artificial baru dikembangkan, sesudah “bayi tabung” pertama telah lahir dan eksperimen-eksperimen sudah lama diadakan. Perkembangan ilmiah-teknologis selalu mendahului pemikiran etis. Yang ideal adalah bahwa pemikiran etis mendahului dan mengarahkan perkembangan ilmiah-teknologis, tapi cita-cita seperti itu rasanya masih mustahil untuk diwujudkan. Namun demikian, perlu dicatat bahwa di sini ada beberapa perkembangan yang menggembirakan dan dapat membesarkan hati. Salah satu di antaranya adalah munculnya komisi-komisi etika. Di banyak Negara modern sudah menjadi kebiasaan luas bahwa rumah sakit-rumah sakit dan proyek-proyek penelitian biomedis mempunyai komisi etika yang mendampingi dan mengawasi rumah sakit atau proyek penelitian itu dari sudut etis. Komisi etika seperti itu bisa menjadi semacam “hati nurani”, agar rumah sakit memberi pelayanan yang sungguh-sunggu manusiawi. Komisi dapat dikonsultasi, jika direksi dan staf medis mengalami keraguan etis dalam menjalankan tugasnya, dan komisi sendiri dapat mengambil inisiatif juga, jika menurut pendapatnya terjadi peristiwa yang dari segi moral menimbulkan tanda tanya. Komisi etiaka untuk setiap penelitian ilmiah yang melibatkan manusia sudah menjadi rutin di banyak Negara. Komisi itu harus menyetujui rancangan penelitian dan akan mendampingi seluruh penelitian selama proyek berlangsung. Perhatian untuk segi etis penelitian menjadi suatu sector penting di antara masalah–masalah etis yang disebabkan ilmu dan teknologi. Setelah lebih dulu di buat eksperimen dengan binatang atau ditempuh cara eksperimentasi lain lagi, mau tidak mau timbul saatnya bahwa tidak bisa dihindari lagi mengadakan percobaan langsung dengan manusia untuk mencobai obat baru, prosedur medis baru, atau sebagainya. Percobaan-percobaan ini selalu harus dilakukan demikian rupa sehingga martabat manusia tetap dihormati. Dalam hal ini kekejaman-kekejaman yang dilakukan dokter-dokter nasional-sosialis di Jerman waktu rezim Hitler merupakan peringatan tetap bagi seluruh umat manusia. Tidak pernah bisa diterima kemajuan ilmiah yang diperoleh dengan memperkosa martabat manusia.

Suatu gejala lain yang menggembirakan adalah keikutsertaan etika dalam penelitian genetika tentang gen-gen manusia. Di Amerika Seriakt pada tanggal 1 Oktober 1990 secara resmi dimulai proyek penelitian raksasa yang bertujuan mempelajari bentuk dan isi gen-gen manusia. Proyek yang diberi nama resmi The Human Genome Project ini akan memetakan dan menentukan runtunan seluruh DNA genom manusia. Melalui proyek besar ini lokasi yang tepat dan runtunan nucleotide yang menyusun sekitar 3 biliun DNA genom manusia akan diketahui dan dikatalogkan. Telah didirikan suatu institute khusus, yaitu National Center for Human Genome Research, yang akan melaksanakan penelitian ini dalam kerja sama dengan organisasi-organisasi lain dalam dan luar negeri. Diperkirakan penelitian ini dapat diselesaikan dalam jangka waktu 15 tahun. The Human Genome Project ini telah dinilai proyek Apollo dalam tahun 1960-an yang bertujuan membawa manusia ke bulan. Tidak mustahil informasi yang diperoleh melalui penelitian ini akan mengakibatkan revolusi baru di bidang ilmu-ilmu biomedis umtuk masa mendatang. Akan tetapi, penelitian genetis yang sangat kompleks ini mempunyai banyak implikasi etis yang berat. Bagaimana informasi yang diperoleh di sini akan dimanfaatkan? Penelitian seperti ini selalu dibayangi kekhawatiran bahwa manusia tergoda untuk memanipulasi gen-gennya sendiri dan akhirnya berusaha menciptakan keturunan yang serba-super. Tapi masih ada banyak penyalahgunaan lain lagi yang dimungkinkan dengan penelitian canggih ini. Tidak bisa disangkal, dengan memulai penelitian genetis seperti itu manusia memikul tanggung jawab moral yang berat. Rupanya dalam proyek ini tanggung jawab moral ini diakui sepenuhnya. Dari permulaannya seluruh proyek ini didampingi oleh Ethical, Legal and Social Implications Program: suatu program yang menyoroti implikasi moral, yuridis dan sosial dari proyek penelitian ini (yang konon diberi jatah 3% dari seluruh budgetnya). Dengan demikian mungkin untuk pertama kali dalam sejarah suatu proyek ilmiah besar menyoroti juga aspek-aspek non-ilmiah, khususnya aspek-aspek etis. Hal itu merupakan tanda yang menggembirakan. Kita hanya dapat mengharapkan bahwa dengan itu kesulitan-kesulitan etis dalam wilayah penelitian yang rawan ini dapat diatasi dengan memuaskan.

 

 

 

  1. 3.       TEKNOLOGI YANG TAK TERKENDALI

Dalam refleksi filosofis tentang situasi zaman kita sudah beberapa kali dikemukakan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi merupakan proses yang seakan-akan berlangsung secara otomatis, tak tergantung dari kemauan manusia. Keadaan ini bisa mengherankan, karena teknik sebenarnya dimulai untuk membantu manusia. Fungsinya pada dasarnya bersifat instrumental, artinya, menyediakan alat-alat bagi manusia. Teknik mula-mula dianggap memperpanjang fungsi-fungsi tubuh manusia : kaki (alat transportasi), tangan (mesin-mesin, alat-alat besar), mata (film,televisi), telinga (radio, telepon), sampai dengan otak (computer). Tapi apa yang dirancang sebagai sarana yang memungkinkan manusia untuk memperluas penguasaannya terhadap dunia ternyata menjadi sukar untuk dikuasai sendiri, malah kadang-kadang tidak bisa dikuasai. Martin Heidegger (1889-1976), filsuf jerman yang dalam hal ini barangkali mempunyai pandangan paling ekstrem, berpendapat bahwa teknik yang diciptakan manusia untuk menguasai dunia, sekarang mulai menguasai manusia sendiri. Kesan bahwa proses ilmu dan teknologi berkembang otomatis tampaknya sering kali beralasan. Ketika astronaut Amerika, Neil Amstrong, sebagai manusia pertama yang menginjakkan kakinya pada permukaan bulan tanggal 20 juli 1969, hal ini merupakan hasil suatu proses yang harus terjadi, walaupun tidak ada orang yang tahu persis maksudnya apa. Sekarang manusia akan menuju ke planet lain, khususnya Mars atau Venus. Hal itu merupakan proses yang seolah-olah tak terhindarkan. Pertanyaan tentang tujuannya apa dan apakah dana raksasa yang ditanamkan dalam proyek seperti itu tidak bisa dipakai dengan lebih baik, rupanya dalam konteks ini kurang relevan. Manusia diatas bulan dan manusia diatas planet Mars seolah-olah merupakan keniscayaan yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam hal yang sama berlaku untuk banyak proyek ilmiah dan teknologis lainnya.

Gambaran tentang situasi ilmu dan teknologi ini bagi banyak orang barangkali terlalu pesimistis. Tapi bagi orang lain setidak-tidaknya ada ini kebenaran didalamnya. Kesulitan yang dialami etika untuk memasuki kawasan ilmiah dan teknologis bisa memperkuat lagi kesan itu. Kita teringat di sini akan pengalaman peneliti Amerika, Thomas Grissom, yang disebut pada awal bab 2: hati nuraninya mendesak dia untuk berhenti bekerja dalam proyek pengembangan senjata nuklir, tapi ia insaf juga bahwa tempatnya akan diisi oleh orang lain, karena -bagaimanapun juga- proyek itu berjalan terus. Banyak orang mendapat kesan bahwa proses perkembangan ilmu dan teknologi seolah-olah kebal terhadap tuntutan etis. Dan memang benar, memperhatikan segi-segi etis tidak menjadi tugas ilmu pengetahuan sendiri, melainkan tugas manusia di balik ilmu dan teknologi. Jika kemampuan manisia bertambah besar berkat kemajuan ilmiah dan teknologis, maka kebijaksanaannya dalam menjalankan kemampuan itu harus bertambah pula. “Apakah semua yang bisa dikerjakan ilmu dan teknologi, pada kenyataannya boleh dikerjakan juga?” tidak merupakan pertanyaan yang dapat dijawab oleh manusia yang berperanan sebagai ilmuwan atau teknikus. Dan jelas jawabannya adalah: tidak. Tidak semuanya yang bisa dilakukan dengan kemampuan ilmiah dan teknologis boleh dilakukan juga. Itu berarti bahwa manusia harus membatasi diri. Batas bagi yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan ilmu dan teknologi harus ditentukan berdasarkan kesadaran moral manusia. Akan tetapi, secara konkret siapa yang akan mengambil keputusan? Organisasi profesi ilmuwan dan teknisi yang harus menentukan batas-batas moral itu, atau megara, atau masyarakat internasional? Atau keputusan moral sebaiknya diserahkan kepada ilmuwan dan teknikus masing-masing? Kita mulai menyadari bahwa dalam menangani masalah-masalah moral yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi, Individu-individu sendiri tidak berdaya. Masalah-masalah etis yang begitu berat meninta penanganan lebih menyeluruh. Dalam praktek kita lihat bahwa masalah-masalah etis yang ditimbulakan oleh ilmu dan teknologi ditangani dengan cara yang berbeda-beda. Masalah-masalah di bidang ilmu-ilmu biomedis biasanya ditangani oleh setiap negara, setelah diminta advis dari suatu komisi ahli (fertilisasi in vitro dan reproduksi artificial pada umumnya, transplantasi organ tubuh, eksperimen dengan manusia, dan lain-lain). Masalah-masalah persenjataan nuklir dan kimia diusahakan untuk diatur melalui perjanjian-perjanjian internasional. Masalah-masalah lingkungan hidup baru mulai dipikirkan: ada usaha pada taraf nasional, regional dan malah global, tapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Biarpun perhatian untuk segi etis perkembangan ilmu dan teknologi memang ada, namun usaha pemikiran etis ketinggalan jauh dari usaha untuk memacu ilmu dan teknologi. Jika kita lihat betapa banyak dana, tenaga dan perhatian dikerahkan untuk menguasai daya-daya alam melalui ilmu dan teknologi, perlu kita akui bahwa hanya sedikit sekali dilakukan untuk refleksikan serta mengembangkan kualitas etis dari usaha-usaha raksasa itu. Situasi di universitas- universitas dan institut-institut penelitian lainnya mencerminkan keadaan ini: ilmu dan teknologi digalakkan dengan cara mengagumkan, tapi sedikit sekali perhatian diberikan kepada studi mengenai masalah-masalah etisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. A.    KESIMPULAN

Gambaran tentang situasi ilmu dan teknologi bagi banyak orang barangkali terlalu pesimistis. Tapi bagi orang lain setidaknya ada inti kebenaran di dalamnya. Kesulitan yang dialami etika untuk memasuki kawasan ilmiah dan teknologi bisa memperkuat lagi kesan itu. Kita teringat di sini akan pengalaman peneliti Amerika, Thomas Grissom: hati nuraninya mendesak kita untuk berhenti bekerja dalam proyek pengembangan senjata nuklir, tapi ia insaf juga bahwa tempatnya akan diisi oleh orang lain, karena bagaimanapun juga proyek itu berjalan terus. Banyak orang mendapat kesan bahwa proses pengembangan ilmu dan teknologi seolah-olah kebal terhadap tuntutan etis. Dan memang benar, memperhatikan segi-segi etis tidak menjadi tugas ilmu pengetahuan sendiri, melainkan tugas manusia dibalik ilmu dan teknologi.

 

  1. B.     SARAN

Melalui makalah yang sederhana ini kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak lagi membaca referensi lain yang berhubungan dengan etika dan teknologi untuk menambah pengetahuan. Selain itu juga menerapkan apa yang telah didapatkan setelah berada di lapangan atau di lingkungan masyarakat nantinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

K. Bertens, Etika, 2001, PT. Gramedia, Jakarta.

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

MENJADI MANUSIA YANG BAIK (ETIKA KEWAJIBAN DAN ETIKA KEUTAMAAN) ( KEUTAMAAN DAN WATAK MORAL ) ( KEUTAMAAN DAN ETHOS )

  1. A.    ETIKA KEWAJIBAN DAN ETIKA KEUTAMAAN

Ada 2 pendekatan dalam penilaian etis

  1. 1.      Memandang perbuatan dan mengatakan

(baik / buruk, adil / tidak adil, jujur / tidak jujur ).

  1. 2.      Memandang keadaan perilaku itu sendiri.

(baik / buruk, adil / tidak adil, jujur / tidak jujur ).

N  Kita menunjuk / memandang bukan pada norma melainkan pada sifat watak atau akhlak yang dimiliki orang itu.

 

ETIKA KEWAJIBAN

J  Prinsip atau moral yang berlaku untuk perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari dan tentukan prioritas mana yang baik dan buruk kelakuan kita.

J  Fokus perhatian pada doing manusia (what shoul I do ?) sya harus melakukan apa ?

 

ETIKA KEUTAMAAN

_ Tidak memandang perbuatan tapi apakah kita sendiri orang baik atau buruk.

_ Fokus perhatian pada being manusia (what kind of person I be ?) saya harus menjadi orang yang bagaimana ?

_ Etika keutamaan ini mulai ditinggalkan.

 

Kedua etika tersebut di atas tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan dan melengkapi dan sangat tidak praktis seorang guru dalam menjalankan tugasnya sepanjang hari harus mengukur perbuatan dengan melihat prinsip-prinsip moral. Dan lebih efisien jika tingkah lakunya diarahkan pada kesetiaan dan ketekunan kerja.

 

  1. B.     KEUTAMAAN DAN WATAK MORAL

KEUTAMAAN

N  Kecenderungan tetap yang tidak bisa hilang tapi tidak mudah terjadi. Sifat watak yang ditandai stabilitas (sifat watak yang berubah-ubah à hari ini begini, besok lain lagi à bukan sifat keutamaan).

N  Keutamaan adalah sifat baik yang mendarah daging pada seseorang . contoh :

  • Kesehatan atau kekuatan fisik.
  • Daya ingatan atau daya konsentrasi yang kuat.

N  Disposisi yang membuat kehendak tetap cenderung ke arah yang tertentu. Contoh : tidak menonjolkan diri meskipun perbuatan saya dianggap tidak baik namun maksud saya baik dan saya tetap rendah hati.

N  Membiasakan diri dan latihan panjang (keutamaan tidak dimiliki sejak lahir ) pendidikan peranan penting ditambah korektif ( mengoreksi sifat awal yang baik) “melawan arus “ seperti keberanian. Contoh :

  • Melawan rasa takut bila menghadapi bahaya.
  • Pengendalian diri melawan kecendrungan untuk mencari kesenangan tanpa batas.

N  Keterampilan melalui latihan karena bakat alamiah mempermudah membentuk keterampilan.

4 macam perbedaan keterampilan :

  • Keterampilan hanya memungkinkan orang melakukan jenis perbuatan tertentu, sedangkan keutamaan tidak terbatas pada satu jenis perbuatan saja. (seorang pemain piano, bulu tangkis, penembak jitu, pilot, semua keterampilan tertentu) akan lebih terampil kalau diberikan sesuai bidangnya. Orang memiliki keberanian, kemurahan hati, kesabaran tidak terarah pada jenis perbuatan tertentu.
  • Keterampilan berciri korektif. Yaitu membantu mengatasi kesulitan awal bersifat teknis jika sudah diperoleh ketangkasan , kesulitan teknis akan teratasi. Kesulitan itu berkaitan dengan kehendak, jika menghadapi bahaya kita senderung melarikan diri, dengan memperoleh keberanian kehendak kita mempunyai kesanggupan mengatasi ketakutan itu.
  • Keterampilan dapat diperoleh setelah ada bakat tertentu seperti : membaca buku petunjuk, ikut kursus, melatih diri.
  • Keterampilan membuat kesalahan, jika orang yang mempunyai keterampilan membuat kesalahan, ia tidak akan kehilangan keterampilan, jika seorang perawat dengan sengaja mengangkat pasien dengan kasar ( supaya klien terbangun dari tidur tidak sadarnya) ia tetap dikatakan perawat yang terampil sebab ia bisa juga bekerja dengan terampil mengangkat kliennya dengan halus. Tapi jika perawat dengan tanpa sengaja mengangkat klien dengan kasar, ia tidak bisa dikatakan perawat terampil.

 

  1. C.    KEUTAMAAN DAN ETHOS.

[  Keutamaan membuat manusia menjadi baik secara pribadi. Sebuah perusahaan disebut jujur bukan sebagai perusahaan tetapi karena semua karyawannya memiliki kejujuran sebagai keutamaan.

[  Ethos atau ciri-ciri, pandangan dan nilai yang menandai suatu kelompok. Dalam concise oxford dictionary à ethos disifatkan sebagai characteristic spirit of community. people or system ( suasana khas yang menandai suatu kelompok, bangsa atau sistem ).

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.