RSS

PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR

17 May

TUGAS INDIVIDU MATA KULIAH
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN NON MENULAR

 
Disusun oleh :

Rudiansyah
NIM 25010111150021

 

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2011

 

 

 

 
1. KUSTA
Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem muskulo retikulo endotelia, mata, otot, tulang, dan testis.
Macam-macam Kusta:
a. TuberculoidLeprosy (TT)
•Resistance relatiftinggi
•Tidakadabacilli yang padapatch
•Skin patches sedikit dan kering
b. LepromatousLeprosy (LL)
•Resistance sangatrendah
•Bacilli sangatbanyak
•Dapatditularkanpadaoranglain
•Matirasa dan lemah pada kedua tangan dan kaki
c. Borderline LeprosyDibagimenjadi:
1. Borderline Tuberculoid (BT)
2.Bordeline (BB)
3. Borderline Lepromatous (BL)
1. Agen biologik
Bakteri Mycobakterium leprae
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang Viabilitas
Mycobakterium leprae. Organisme ini belum bisa dibiakkan pada media bakteri atau kultur sel. Bateri ini dapat dibiakkan pada jaringan telapak kaki tikus dengan jumlah mencapai 106 per gram jaringan; pada percobaan infeksi melalui binatang armadillo, bakteri ini bisa tumbuh hingga 109 sampai 110 per gram jaringan. Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta. Sebuah bakteri yang tahan asam, M. leprae juga merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium. M. leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.
7. Host
Manusia dan binatang armadillo
8. Reservoir
Manusia, monyet dan simpanse
9. Tipe reservoir pada manusia
Pada penyakit kusta tipe reservoir pada manusia yakni carriers dan chronic carriers, karena jika orang tersebut melakukan kontak langsung dan dalam waktu yang lama dengan orang yang membawa bakteri kusta dan belum minum obat, maka orang tersebut akan mengalami sakit kusta dan Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2 – 5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun.
10. Lingkungan fisik
Mycobacterium leprae hidup dalam lingkungan kondisi lembab dan dingin, tidak tahan pada cuaca yang panas.
11. Lingkungan biologik
Hewan armadillo yang terkena kusta juga dapat menyebarkan penularan kusta pada manusia.
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Sebagian besar penderita kusta adalah dari negara yang sedang berkembang dan masyarakat golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakatnya.
Rata-rata orang yang memiliki pendapatan rendah sering terkena penyakit kusta, karena kondisi lingkungan rumah yang tidak sesuai dan buruk, asupan gizi yang kurang sehingga dapat menurunkan imunitas yang dimilikinya.
13. Portal of exit
Kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit.
14. Mode of transmission
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
15. Portal of entry
Pintu masuk dari M. leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan bahwa kulit yang terluka dan saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya bakteri.
16. Susceptible host
Individu yang memiliki sistem imun rendah dan berada dalam lingkungan yang buruk dan Lepra hanya menular jika terdapat dalam bentuk lepromatosa yang tidak diobati dan itupun tidak mudah ditularkan kepada orang lain. Selain itu, sebagian besar secara alami memiliki kekebalan terhadap lepra dan hanya orang yang tinggal serumah dalam jangka waktu yang lama yang memiliki resiko tertular.
17. Moda transmisi penularan
Transmisi tidak langsung melalui udara dan kulit yang terluka. Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas penularan di dalam rumah tangga dan konta/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta tipe lepromatosa yang tidak diobati, dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada penderita kusta lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Organisme kemungkinann masuk melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun, penularannya diduga melalui plasenta.

 

18. Course of infection
a. Incubation period
Berkisar antara 9 bulan sampai 20 tahun dengan rata-rata adalah 4 tahun untuk kusta tuberkuloid dan dua kali lebih lama untuk kusta lepromatosa. Penyakit ini jarang sekali ditemukan pada anak-anak dibawah usia 3 tahun; meskipun, lebih dari 50 kasus telah ditemukan pada anak-anak dibawah usia 1 tahun, yang paling muda adalah usia 2,5 bulan.
b. Prodromal period
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala.
Bentuk awal dari kusta ditandai dengan munculnya macula hipopigmentasi dengan batas lesi yang tegas yang dapat berkembang menjadi bentuk tuberkuloid, borderline atau bentuk lepromatosa. Gejala klinis dari kusta dapat juga berupa “reaksi kusta” yaitu dengan episode akut dan berat. Reaksi kusta ini disebutkan dengan nama erythema nodosum leprosum pada penderita tipe lepromatosa dan disebut dengan reaksi terbalik pada kusta borderline. Diagnosa klinis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan kulit secara lengkap dengan menemukan tanda-tanda terserangnya syaraf tepi berupa gejala hipestasia, anesthesia, paralysis pada otot dan ulkus tropikum.
c. Fastigium period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
Mycobacterium merupakan parasit obligat intraseluler, terutama pada makrofag disekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel schwan di jaringan saraf. Basil masuk ke tubuh, tubuh bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit). Pada tipe LL menyebabkan kelumpuhan sistem imunitas akibatnya makrofag tidak dapat menghancurkan basil. Pada tipe TT, fungsi imunitas masih tinggi dan makrofag mampu menghancurkan basil. Sel Schwan meruapakan sel target untuk pertumbuhan M.Leprae, berfungsi sebagai demielinisasi dan sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Gangguan imunitas tubuh dalam sel schwan, basil bermigrasi dan beraktivasi, akibatnya regenerasi sel saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif
d. Defervescence period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
Fakta klinis dan laboratorium membuktikan bahwa infektivitas penyakit ini hilang dalam waktu 3 bulan melalui pengobatan berkelanjutan dan teratur dengan menggunakan Dapsone (DDS) atau clofasimine atau dalam waktu 3 hari dengan menggunakan rifampin
f. Defection
Defection adalah masa ketika patogen dibunuh atau dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh.
Respon imun pada penyakit kusta meliputi respon imun humoral atau antibody mediated immunity dan respon imun seluler atau cell mediated immunity (CMI). Pada respon imun humoral, tubuh akan memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen yang masuk. Dengan CMI, bahan asing atau antigen akan memacu produksi sel pertahanan spesifik yang dapat dimobilisasi untuk menghancurkan antigen dan akan memicu terjadinya reaksi kusta. Sel pertahanan spesifik adalah limfosit, yang tidak berkemampuan fagosit. Sedangkan makrofag dapat memakan Mycobacterium leprae. Pada kusta terdapat respon imun seluler yang merupakan imunitas protektif, sebanyak 90 % – 95 % manusia mempunyai imunitas ini dengan berbagai tingkatan. Meskipun respon imun berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap bakteri atau antigen, tetapi respon imun yang berlebih dapat menimbulkan reaksi kusta reversal maupun ENL. 40 Mycobacterium leprae bersifat patogen intraseluler dan dapat mempengaruhi makrofag serta saraf tepi. Limfosit Th CD – 4 dan Th1 keduanya dapat memproduksi sitokin yang mengaktifkan makrofag dan efektif sebagai bagian respon imun seluler. Pada kusta tipe lepromatosa aktivasi limfosit Th2 mempengaruhi produksi IL – 4 dan IL -10, yang akan menstimulasi respon imun humoral dan intensitas produksi antibody limfosit B. Karakteristik respon imun yang diaktivasi limfosit Th2 oleh IL – 4 dan IL – 10 tidak menyebabkan formasi dari sel epitel granuloma dan dapat aktifitas makrofag. Sebanyak 15 % – 50 % kusta tipe lepromatosa berkembang menjadi ENL. Reaksi ENL berhubungan dengan bakteri yang hancur, antigen serta intensitas produksi antibodi. Berdasarkan tanda klinis dan laboratorium, patogenesis ENL belum dapat ditetapkan dengan jelas. 40 Reaksi ENL sering terjadi pada kusta tipe borderline lepromatous dan lepromatous. 41 Konsentrasi antigen dari bakteri yang tinggi dalam jaringan akan meningkatkan level antibodi IgM dan IgG pada penderita tipe lepromatosa. Formasi dan berkurangnya komplek imun serta aktivasi sistem komplemen dengan meningkatnya mediator inflamasi, merupakan mekanisme imunopatologi penting pada ENL. Selama reaksi ENL terjadi penurunan tingkat IgM anti PGL -1 (phenol glukolipid) yang berasal dari dinding M. leprae.
Sesudah penderita mengalami pemulihan, memacu antibodi IgM membentuk komplek imun dengan konsentrasi yang berlebihan dari PGL -1 dalam jaringan. Beratnya ENL disebabkan oleh meningkatnya produksi sitokin oleh limfosit Th2 sebagai respon imun tubuh untuk mengatasi peradangan. Sitokin tumor necrosis factor alpha (TNF-α) dan interferon gamma (IFN-γ), merupakan komponen sitokin spesifik pada ENL.39 Sirkulasi TNF yang tinggi terjadi pada reaksi ENL, diduga akibat sel mononuklear pada darah tepi penderita ENL yang dapat meningkatkan jumlah TNF. 41 Sebaliknya reaksi reversal (RR) merupakan reaksi hipersensitifitas tipe lambat yang dijumpai pada kusta tipe borderline. Antigen Mycobacterium leprae muncul pada saraf dan kulit penderita reaksi tipe ini. Infeksi Mycobacterium leprae akan meningkatkan ekspresi major histocompatibility complex (MHC) pada permukaan sel makrofag dan memacu limfosit Th CD – 4 untuk menjadi aktif dalam membunuh Mycobacterium leprae. Pada studi immunohistochemistry, terjadi peningkatan bercak TNF pada kulit dan saraf penderita dengan reaksi kusta tipe I dibandingkan penderita yang tidak mengalami reaksi kusta.

 

 

 

19. Web of causation

 

Jaring-jaring sebab akibat penyakit kusta

 

Asupan gizi kurang

Lingkungan yang buruk Imunitas rendah

Perubahan hormonal
Penyakit Kusta (M. Leprae)
Kelelahan Fisik

Antigen M. Leprae

Lama sakit >1 tahun

Tipe kutsa MB

Lama pengobatan >6 bulan

Riwayat pengobatan reaksi tidak adekuat

 

 

 

 

 

 

2. TUBERKULOSIS

1. Agen biologik
Mycobacterium tuberculosis
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang viabilitas
Mycobacterium tuberculosis mempunyai sifat khusus yaitu tahan asam (BTA). Kuman tuberkolosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tampat yang gelap dan lembap. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun.
7. Host
Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia.
8. Reservoir
Umumnya manusia berperan sebagai reservoir, jarang sekali primata, dibeberapa daerah terjadi infeksi yang menyerang ternak seperti sapi, babi dan mamalia lain.
9. Tipe reservoir pada manusia
a. Accute Clinical case : -
b. Carriers. : Seseorang mempunyai bakteri TBC dalam tubuhnya dan tidak ada gejala. tes tuberculin akan memberikan hasil yang positif 2-10 minggu kemudian. Lesi awal pada paru-paru umumnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan gejala sisa walaupun sangat jarang terjadi klasifikasi pada kelenjar limfe paru dan kelenjar limfe trakeobronkial.
c. Inapparent infections. Keadaan dimana kuman telah masuk ke dalam tubuh namun individu tersebut tidak menunjukkan gejala klinis penyakit tersebut, tetapi pada pemeriksaan serologis adalah positif, menunjukkan adanya antibodi spesifik terhadap Mycobacterium tuberkulosis dalam titer yang cukup tinggi, berpotensi untuk menularkan infeksi kepada orang lain.
d. Incubatory carriers. Pasien TBC yang berada pada waktu inkubasi yaitu antara kontak awal dengan agen menular dan kemunculan pertama dari gejala yang berhubungan dengan infeksi.
e. Convalescent carriers. Pasien TBC yang berada dalam masa penyembuhan
f. Chronic carriers. Hampir 90-95 % mereka yang mengalami infeksi awal akan memasuki fase laten dengan risiko terjadi reaktivasi seumur hidup mereka.
10. Lingkungan fisik
• Kepadatan penghuni rumah : Hunian yang padat menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit TB, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.
• Kelembapan rumah : Kelembaban udara berpengaruh terhadap kuman TB Paru karena kuman TB dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang lembab.
• Ventilasi : Ventilasi berfungsi untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tetap segar, dan menjaga sirkulasi Oksigen dirumah. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik, kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri TB. Selain itu, ventilasi akan membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri sehingga konsentrasi kuman patogen terutama penyebab TB Paru berkurang
• Pencahayaan sinar matahari : Pencahayaan berpengaruh terhadap kuman TB Paru karena kuman tersebut akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung
• Suhu : M. tuberculosis tumbuh baik pada kisaran suhu 35-37OC. Suhu panas akan berpengaruh pada aktivitas kuman TB.
• Kondisi lantai : Kondisi lantai yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis.
• Kondisi dinding : Kondisi dinding yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis

11. Lingkungan biologic
Hewan seperti adanya hewan ternak contohnya sapi, babi atau mamalia lain.
12. Lingkungan sosial-ekonomi
Kondisi sosial ekonomi merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi memburuk, serta perumahan yang tidak sehat dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Menurut perhitungan rata-rata penderita tuberkolosis kehilangan 3-4 bulan waktu kerja dalam setahun, dan juga kehilangan penghasilan setahun secara total mencapai 30% dari pendapatan rumah tangga.

13. Portal of exit
Sistem respirasi melalui dahak yang mengandung droplet
14. Mode of transmission
Penularan tuberkulosis dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam paru-paru penderita, persebaran kuman tersebut di udara melalui dahak berupa droplet. Penderita TB-Paru yang mengandung banyak sekali kuman dapat terlihat lansung dengan mikroskop pada pemeriksaan dahaknya (penderita BTA positif). Mekanisme penularan TB paru dimulai dari penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman ke udara dalam bentuk droplet yang sangat kecil (partikel aerosol) pada waktu batuk atau bersin. Partikel aerosol terhirup melalui saluran pernapasan mulai dari hidung menuju alveoli paru-paru dapat berpindah kepada orang lain yang rentan (pejamu potensial dalam jarak dekat) melalui saluran pernapasan. Droplet yang sangat kecil ini dapat terjatuh ke lantai atau benda lain lalu mengering dengan cepat dan menjadi droplet nuklei yang mengandung kuman tuberkulosis yang dapat bertahan di udara selama beberapa jam. Ukuran besarnya droplet nuklei dan debu sangat menentukan kemungkinan penularan kuman TB jika terhirup. Pada droplet nuklei dengan ukuran besar akan tersangkut pada jalan nafas. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan orang tersebut menjadi sumber penularan baru.
15. Portal of entry
Melalui batuk, maupun napas saat penderita berbicara atau sistem respirasi (mulut dan hidung)
16. Susceptible host
Yang termasuk kedalam susceptible host diantaranya adalah individu dengan kelainan sistem imunitas atau imunitas menurun, individu dengan berat badan rendah dan kekurangan gizi, penderita atau individu dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, kanker, silikosis, diabetes, postgastrekomi dan individu dengan infeksi HIV. Selain itu, dapat juga pada individu pemakai NAPZA atau minuman beralkoho dan merokok. Orang yang bekerja atau tinggal pada tempat pelayanan jangka panjang (rumah perawatan, penjara, rumah sakit) dapat juga menjadi susceptible host.
17. Moda transmisi penularan
Melalui kontak secara langsung melalui penyebaran droplet dimana pada penderita penyakit tuberculosis terbuka akan menghasilkan formasi droplet yang dapat berpindah kepada orang lain yang rentan (pejamu potensial dalam jarak dekat). Namun dapat juga secara tidak langsung melalui udara (Air borne diseases) jika droplet tersebut jatuh ke lantai dalam bentuk droplet nuklei dan kemudian terisap orang lain bersama debu dan terjadi penularan.
18. Course of infection atau patofisiologi
a. Incubation period :
Mulai saat masuknya bibit penyakit sampai timbul gejala adanya lesi primer atau reaksi tes tuberkulosis positif kira-kira memakan waktu 2 – 10 minggu. TB timbul berdasarkan kemampuannya untuk memperbanyak diri di dalam sel-sel fagosit. Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin. penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan perlengkapan tidur. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas. atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.

b. Prodromal period :
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman TB untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-5 minggu. Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB dengan cara menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman yang menetap secara “persisten” atau dormant”, sehingga daya tahan tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya yang bersangkutan akan menjadi penderita TB dalam beberapa bulan. Pada infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat sangat menular.
c. Fastigium period
Pada periode ini penderita TB sering terjadi komplikasi dan resistensi. Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut : Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian. ginjal dan sebagainya. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). Pada fase ini biasanya penderita akan mengalami batuk berdarah dan pernafasan yang cepat. Penderita juga akan mengalami cemas, stres, tegang. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu perawatan di rumah sakit.
d. Defervescence period
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA Negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikaitkan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Bila perdarahan berat penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.
e. Convalescence
Secara teoritis seorang penderita tetap menular sepanjang ditemukan basil TB di dalam sputum mereka. Penderita yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna dahaknya akan tetap mengandung basil TB selama bertahun tahun. Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer biasanya tidak menular
f. Defection
Penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya.

 

 

 

 

 

19. Web causation

 

 

 

3. DEMAM BERDARAH DENGUE

Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembab. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.

1. Agen biologik
Virus dengue, yang merupakan virus dari genus flavivirus, famili flaviviridae Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang viabilitas :
Suhu yang relatif rendah maupun tinggi, serta kelembaban udara yang rendah dapat mengurangi viabilitas virus Dengue yang hidup dalam tubuh nyamuk maupun viabilitas nyamuk itu sendiri, sehingga menambah population at risk
7. Host
manusia dan kera
8. Reservoir
Pada umumnya nyamuk Aedes aegypty, namun ditemukan pula spesies lain yaitu Aedes albopictus, Aedes scutellaris, Aedes Niveus, dan Aedes furcifer-taylori.
9. Tipe reservoir
a. Acute clinical cases :
• Tanda-tanda klinis demam, nyeri otot atau sendi yang disertaileukopenia, dengan atau tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakitkepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa mengecap terganggu,trombositopenia ringan dan bintik-bintik perdarahan (petekie) spontan.
• Pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah. Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.
b. Carriers : -
c. Inapparent infection (subclinical cases) : -
d. Incubator Carriers :
Orang yang mengandung virus dengue tetapi tidak sakit, dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegypti. Karena dalam darahnya terdapat virus Dengue (karena orang ini memiliki kekebalan terhadap virus dengue)
e. Chronic Carriers :-

10. Lingkungan fisik
Suhu yang meningkat menjadi panas (28 – 32°C) serta kelembaban tinggi membuat nyamuk tahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Pada musim penghujan. Letak geografis Indonesia yaitu beriklim tropis. Pergeseran Curah hujan mempunyai kontribusi utama terhadap tersedianya habitat nyamuk
11. Lingkungan biologik
Kepadatan vektor, kebiasaan reproduksi, usia hidup dan perkembangan serta ketangguhan dari patogen
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Kepadatan penduduk akibat pertumbuhan penduduk yang pesat, kemiskinan, bencana alam, kesadaran masyarakat akan program pemberantasan PSN. Tingkat mobilitas penduduk yang tinggi. Urbanisasi dan daerah endemik nhamuk.
13. Portal of exit
Cara agen meninggalkan reservoir, melalui pintu keluar : jalur kulit (isapan darah nyamuk) melalui pori-pori kulit. Melalui gigitan nyamuk.
14. Mode of transsmision
Transmisi tidak langsung melalui vektor . Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypty. Peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Biasanya menggigit pada siang hari.
15. Portal of entry
Agen masuk ke penjamu melalui pintu masuk : melalui jalur kulit juga, yaitu melalui pori-pori kulit. Melalui gigitan nyamuk.
16. Susceptible host
Penjamu yang rentan. Semua golongan umur dapat terkena DBD namun, penjamu yang rentan terkena usia dari balita sampai dengan usia remaja berkisar 15 tahun. Penjamu yang rentan biasanya penjamu yang memiliki aktivitas di siang hari misalnya balita ataupun pelajar.
17. Moda transmisi penularan
Transmisi tidak langsung
18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period : dari 3-14 hari, biasanya 4-7 hari.
b. Prodromal period : Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit.
c. Fastigium period : Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis.Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Suhu rendah dan risiko sindrom syok dengue tinggi.
d. Defervescence period : Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalencence : Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.
f. Defection : DBD terjadi setelah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi kedua dengan serotipe lain  setelah 6 bulan – 5 tahun
19. Web of causation

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. MALARIA

Malaria menurut World Health Organization (WHO) adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria (plasmodium) bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles spp) betina. Definisi penyakit malaria lainnya adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh agent tertentu yang infektif dengan perantara suatu vektor dan dapat disebarkan dari suatu sumber infeksi kepada host. Penyakit malaria termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menyerang semua orang, bahkan mengakibatkan kematian terutama yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum

1. Agen Biologik
Faktor Agent (plasmodium) :
Penyakit malaria adalah suatu penyakit akut atau sering kronis yang disebabkan oleh parasit genus plasmodium (Class Sporozoa). Pada manusia hanya 4 (empat) spesies yang dapat berkembang, yaitu :
a. Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menyebabkan malaria berat.
b. Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana.
c. Plasmodium malariae penyebab malaria quartana.
d. Plasmodium ovale spesies ini banyak dijumpai di Afrika dan Fasifik Barat
2. Agen Kimia
-
3. Agen Nutrisi
-
4. Agen Mekanik
-
5. Agen Fisika
-
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Sifat-sifat spesifik parasit berbeda-beda untuk setiap spesies malaria dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. Plasmodium falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek, namun menghasilkan parasitemia paling tinggi, gejala yang paling berat, dan masa inkubasi yang paling pendek. Gametosit Plasmodium falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah. Gametosit Plasmodium falciparum menunjukkan perioditas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vector. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah, gejala yang lebih ringan, dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnozoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps.
Plasmodium malariae jarang terdapat pada daerah subtropis. Plasmodium falciparum relative ditemukan lebih luas di semua wilayah tropis. Plasmodium ovale relative jarang dilaporkan ada di daerah Afrika termasuk Asia, Eropa dan Afrika Selatan, Plasmodium vivax banyak ditemukan dari tipe lain, banyak menginfeksi penduduk di daerah panas atau tropik, siklus hidup parasit penyebab malaria dalam tubuh manusia terdiri dari fase eksogenud seksual, pembentukan sprogoni dengan pembiakan dalam tubuh nyamuk dan fase endogenus aseksual schizon dengan pembiakan dalam tubuh manusia.
7. Host
Host pada penyakit malaria terbagi atas dua yaitu Host Intermediate (manusia) dan Host Definitif (nyamuk). Manusia disebut sebagai Host Intermediate (penjamu sementara) karena di dalam tubuhnya terjadi siklus aseksual parasit malaria. Sedangkan nyamuk Anopheles spp disebut sebagai Host Definitif (penjamu tetap) karena di dalam tubuh nyamuk terjadi siklus seksual parasit malaria.
a. Host Intermediate : Pada dasarnya setiap orang dapat terinfeksi oleh agent biologis (Plasmodium), tetapi ada beberapa faktor intrinsik yang dapat memengaruhi kerentanan host terhadap agent yaitu usia, jenis kelamin, ras, riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi, status gizi dan tingkat immunisasi.
b. Host Definitif : Host definitif yang paling berperan dalam penularan penyakit malaria dari orang yang sakit malaria kepada orang yang sehat adalah nyamuk Anopheles spp betina. Hanya nyamuk Anopheles spp betina yang menghisap darah untuk pertumbuhan telurnya. Host definitif ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : perilaku nyamuk itu sendiri dan faktor-faktor lain yang mendukung
8. Reservoir
Hanya manusia menjadi reservoir terpenting untuk malaria. Primata secara alamiah terinfeksi berbagai jenis malaria termasuk P. knowlesi, P. brazilianum, P. inui, P. schwetzi dan P. simium yang dapat menginfeksi manusia di laboratorium percobaan, akan tetapi jarang terjadi penularan/transmisi secara alamiah.
9. Tipe reservoir pada manusia
Malaria memiliki tipe reservoir Carriers, adalah orang yang terkena infeksi, tetapi belum memiliki tanda atau gejala yang jelas dan dapat menularkan infeksi yang diderita kepada orang lain. Carier malaria merupakan sumber infeksi yang potensial karena darah pada tubuh manusia ini dapat menularkan parasit melalui gigitan nyamuk
10. Lingkungan fisik
Faktor geografi dan meteorology di Indonesia sangat menguntungkan transmisi
malaria di Indonesia. Pengaruh suhu ini berbeda-beda bagi setiap spesies. Pada suhu 26,7˚C masa inkubasi ekstrinsik adalah 10-12 hari untuk Plasmodium falciparum dan 8-11 hari untuk Plasmodium vivax, 14-15 hari untuk Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.
a. Suhu
Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimum berkisar antara 20 dan 30 c. makin tinggi suhu (sampai batas tertentu), maka makin pendek masa inkubasi ekstrinsik dan sebaliknya makin rendah suhu, maka makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.
b. Kelembaban
Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembaban 60 % merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi, nyamuk lebih aktif dan lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.
c. Hujan
Pada umumnya hujan akan memudahkan perkembangan nyamuk dan terjadinya epidemik malaria. Besar kecilnya pengaruh tergantung dari jenis dan deras hujan, jenis vektor, dan jenis tempat perindukan. Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya nyamuk Anopheles.
d. Ketinggian
Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 meter jarang ada transmisi malaria. Hal ini bisa berubah bila terjadi pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino. Di pegunungan Papua, yang dulu jarang ditemukan malaria, kini lebih sering ditemukan malaria. Ketinggian paling tinggi masih memungkinan transmisi malaria ialah 2500 meter di atas permukaan laut (di Bolivia).
e. Angin
Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia.
f. Sinar matahari
Pengaruh sinar matahari terhadap larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka tempat yang teduh, Anhopheles hyrcanus sp dan Anopheles pinctulatus sp lebih suka tempat yang terbuka. Anopheles barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun yang terang.
g. Arus air
Anopheles barbirostris menyukai perindukan yang airnya statis atau lambat. Anopheles minimus menyukai aliran air yang deras, dan Anopheles letifer menyukai air tergenang.
h. Kadar garam
Anopheles sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya 12-18 % dan tidak berkembang pada kadar garam 40 % keatas. Namun, di Sumatera Utara ditemukan pula perindukan Anopheles sundaicus dalam air tawar.
11. Lingkungan Biologik
Adanya tumbuhan, lumut, ganggang, ikan kepala timah, gambusia, nila sebagai predator jentik Anopheles spp, serta adanya ternak sapi, kerbau dan babi akan mengurangi frekuensi gigitan nyamuk pada manusia
12. Lingkungan sosio – ekonomik
Meliputi kebiasaan masyarakat berada di luar rumah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit malaria dan pembukaan lahan dengan peruntukannya yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan banyak menimbulkan breading places potensial untuk berkembangbiaknya nyamuk
13. Portal of exit
Gigitan nyamuk Anopheles sehingga Plasmodium berpindah masuk ke tubuh nyamuk.
14. Mode of transmission
Melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang infektif. Sebagian besar spesies menggigit pada senja hari dan menjelang malam. Beberapa vektor utama mempunyai waktu puncak menggigit pada tengah malam dan menjelang fajar. Setelah nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung parasit pada stadium seksual (gametosit), gamet jantan dan betina bersatu membentuk ookinet di perut nyamuk yang kemudian menembus dinding perut nyamuk dan membentuk kista pada lapisan luar dimana ribuan sporosoit dibentuk. Ini membutuhkan waktu 8-35 hari tergantung pada jenis parasit dan suhu lingkungan tempat dimana vektor berada. Sporosoit-sporosoit tersebut berpindah ke seluruh organ tubuh nyamuk yang terinfeksi dan beberapa mencapai kelenjar ludah nyamuk dan disana menjadi matang dan apabila nyamuk menggigit orang maka sporosoit siap ditularkan.
Didalam tubuh orang yang terkena infeksi, sporosoit memasuki sel-sel hati dan membentuk stadium yang disebut skison eksoeritrositer. Sel-sel hati tersebut pecah dan parasit aseksual (merosoit jaringan) memasuki aliran darah, berkembang (membentuk siklus eritrositer). Umumnya perubahan dari troposoit menjadi skison yang matang dalam darah memerlukan waktu 48-72 jam, sebelum melepaskan 8-30 merosoit eritrositik (tergantung spesies) untuk menyerang eritrosit-eritrosit lain. Gejala klinis terjadi pada tiap siklus karena pecahnya sebagian besar skison-skison eritrositik. Didalam eritrosit-eritrosit yang terinfeksi, beberapa merosoit berkembang menjadi bentuk seksual yaitu gamet jantan (mikrogamet) dan gamet betina (makrogamet). Periode antara gigitan nyamuk yang terinfeksi dengan ditemukannya parasit dalam sediaan darah tebal disebut “periode prepaten” yang biasanya berlangsung antara 6-12 hari pada P. falciparum, 8-12 hari pada P. vivax dan P. ovale, 12-16 hari pada P. malariae (mungkin lebih singkat atau lebih lama). Penundaan serangan pertama pada beberapa strain P. vivax berlangsung 6-12 bulan setelah gigitan nyamuk Gametosit biasanya muncul dalam aliran darah dalam waktu 3 hari setelah parasitemia pada P. vivax dan P. ovale, dan setelah 10-14 hari pada P. falciparum. Beberapa bentuk eksoeritrositik pada P. vivax dan P. ovale mengalami bentuk tidak aktif (hipnosoit) yang tinggal dalam sel-sel hati dan menjadi matang dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun yang menimbulkan relaps. Fenomena ini tidak terjadi pada malaria falciparum dan malaria malariae, dan gejala-gejala penyakit ini dapat muncul kembali sebagai akibat dari pengobatan yang tidak adekuat atau adanya infeksi dari strain yang resisten. Pada P. malariae sebagian kecil parasit eritrositik dapat menetap bertahan selama beberapa tahun untuk kemudian berkembang biak kembali sampai ke tingkat yang dapat menimbulkan gejala klinis. Malaria juga dapat ditularkan melalui injeksi atau transfusi darah dari orang-orang yang terinfeksi atau bila menggunakan jarum suntik yang terkontaminasi seperti pada pengguna narkoba. Penularan kongenital jarang sekali terjadi tetapi bayi lahir mati dari ibu-ibu yang terinfeksi seringkali terjadi.
15. Portal of entry
Secara alami melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria. Juga bisa melaui induksi, induksi yaitu jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah manusia, misalnya melalui transfuse darah, suntikan, atau pada bayi yang baru lahir melalui plasenta ibu yang terinfeksi (congenital).
16. Susceptible host
Usia, bagi anak laki-laki lebih rentan terhadap infeksi penyakit malaria. Jenis kelamin, perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kerentanan individu, tetapi bila malaria terjadi pada wanita hamil akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan ibu dan anaknya, seperti anemia berat, berat badan lahir rendah (BBLR), abortus, partus prematur dan kematian janin intrauterine.
Ras, beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya : orang Negro di Afrika Barat dan keturunannya di Amerika dengan golongan darah Duffy (-) tidak dapat terinfeksi oleh Plasmodium vivax karena golongan ini tidak mempunyai reseptornya.
17. Moda transmisi penularan
Penularan secara langsung ( Direct )
melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria. Saat menggigit nyamuk mengeluarkan sporosit yang masuk ke peredaran darah tubuh manusia sampai sel-sel hati manusia. Setelah satu sampai dua minggu digigit, parasit kembali masuk ke dalam darah dan mulai menyerang sel darah merah dan mulai memakan haemoglobin yang membawa oksigen dalam darah
Penularan secara tidak langsung (Indirect )
terjadi jika bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Beberapa penularan malaria secara non alamiah antara lain : malaria bawaan (Kongenital) adalah malaria pada bayi baru lahir yang ibunya menderita malaria, penularannya terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Selain itu Transfusion malaria yakni infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama- sama pada pecandu narkoba atau melalui transplantasi organ.
18. Course of infection / patofisiologi penyakit meliputi :
a. Incubation period :
Masa tunas dapat berbeda – beda, antara 9 sampai 40 hari, dan ini menggambarkan waktu antara gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit dan permulaan gejala klinis. Selain itu, masa tunas infeksi P. vivax dapat lebih panjang dari 6 sampai 12 bulan atau lebih. Infeksi P. malariae dan P. ovale sampai bertahun – tahun. Karena itu di daerah beriklim dingin infeksi P. vivax yang didapati pada musim panas atau musim gugur, mungkin tidak menimbulkan penyakit akut sampai musim semi berikutnya. Malaria klinis dapat terjadi berbulan – bulan setelah obat – obatan supresif dihentikan. Serangan pertama pada malaria akut terdiri atas beberapa serangan dalam waktu 2 minggu atau lebih yang diikuti oleh masa laten yang panjang, dan diselingi oleh relaps pada malaria menahun. Serangan demam ini berhubungan dengan penghancuran sel darah merah yang progresif, badan menjadi lemah , dan limpa membesar. Tipe jinak biasanya disebabkan olehP. vivax, P. malariae atau P. ovale. Tipe ganas terutama disebabkan oleh P. falcifarum.
b. Prodromal period :
Dalam periode prodromal yang berlangsung satu minggu atau lebih, yaitu bila jumlah parasit di dalam darah sedang bertambah selama permulaan siklus aseksual, tidak tampak manifestasi klinis yang dapat menentukan diagnosis. Gejala dapat berupa perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi. Demam tiap hari atau tidak teratur, mungkin sudah ada. Di daerah non-endemi diagnosis pertama seringkali ialah influenza. Serangan permulaan atau pertama sangat khas oleh karena adanya serangan demam intermiten yang berulang – ulang pada waktu berlainan : 48 jam untuk P. vivax, P. ovale, P falcifarum dan 72 jam untuk P. malariae. Waktu yang sebenarnya pada berbagai strain P. vivax berbeda – beda dari 43,6 jam sampai 45,1 jam. Serangan mulai dengan stadium dingin atau rigor yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada waktu itu penderita menggigil, walaupun suhu badannya lebih tinggi dari normal. Kemudian menyusul stadium panas yang berlangsung lebih lama dan kulit penderita manjadi kering serta panas, muka menjadi merah, suhu mencapai 39o – 41oC, nadi cepat dan penuh, kepala pusing, mual, kadang – kadang muntah, dan pada anak kecil timbul kejang – kejang. Kemudian penderita berkeringat banyak, suhu badan turun, sakit kepala hilang, dan dalam waktu beberapa jam penderita menjadi lelah. Serangan demam biasanya berlangsung 8 sampai 12 jam, dan pada infeksiP. falcifarum berlangsung lebih lama.
c. Fastigium period :
Gejala yang timbul menjadi bertambah berat dengan timbulnya komplikasi seperti sakit kepala yang sangat hebat, mual, muntah, diare, batuk berdarah, gangguan kesadaran, pingsan, kejang, hemiplegi
d. Defervesence period :
e. Defection :

19. Web of causation

Nyamuk Anopheles yang membawa plasmodium

Menggigit manusia sehat

Mengalami masa inkubasi di dalam tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari). Akan muncul gejala mendadak berupa demam, pusing, mialgia, hilang nafsu makan, mual, muntah dan rash pada kulit

Fase viremia.

Terjadi Malaria

Digigit nyamuk Anopheles baru

Setelah mengalami masa inkubasi ekstrinsik selama 8-10 hari, kelenjar ludah nyamuk yang bersangkutan mengandung Plasmodium

Virus yang siap ditularkan kepada orang lain melalui luka gigitan (ketika menggigit, nyamuk mengeluarkan ludah yang mengandung Plasmodium ke dalam luka gigitan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Siklus Malaria

 

 

 

 

 
5. PENYAKIT AVIAN INFLUENZA
Avian influenza adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas.

1. Agen biologic : Virus Influenza tipe A (H5N1).
2. Agen kimia : -
3. Agen nutrisi : -
4. Agen mekanik : -
5. Agen fisika : -
6. Karakter agen biologic tentang viabilitas :
Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati pada pemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine
7. Host :
Host untuk virus H5N1 ini adalah, untuk dibahas adalah pada manusia terlebih dahulu :
• Jenis kelamin
Dari catatan statistik untuk kedua jenis kelamin masih berpeluang sama besar menderita flu burung.karena belum ada pelaporan lebih lanjut
• Umur
Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat. Padahal, penyakit ini belum ada obatnya. Penderita hanya akan diberi untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit flu itu, seperti demam, batuk atau pusing. Obat-obatan itu hanya meredam gejalanya, tapi tidak mengobati.
• Kekebalan
Kekebalan disini adalah bentuk vaksinasi yang diberikan kepada orang-orang yang sangat berpotensi terkena virus H5N1 ini.
8. Reservoir :
Manusia dan burung
9. Tipe reservoir pada manusia :
Convalescent carriers
10. Lingkungan fisik :
Lingkungan yang berdekatan dengan peternakan Unggas sehingga berpotensi lebih besar dalam menulari manusia
11. Lingkungan biologic :
Virus H5N1 yang menjangkiti unggas
12. Lingkungan sosio-ekonomik :
Bisa menyerang segala lapisan social masyarakat.
13. Portal of exit :
Kontak langsung dan Hidung
14. Mode of transmission :
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan berbagai jenis unggas terinfeksi, maupun tidak langsung. Maksudnya selain karena menyentuh unggas, ayam, burung dan sebagainya secara langsung, penularan dapat terjadi melaui kendaraan yang mengangkut binatang. Dikandangnya dan alat – alat peternakan (melalui pakan ternak).
Penularan juga dapat terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit, dan pada saat jual beli ayam hidup dipasar serta berbagai mekanisme lain.Penularan dari unggas kemanusia, pada dasarnya berasal dari unggas yang sakit masih hidup dan menular. Unggas yang sudah dimasak tidak akan menularkan flu burung kemanusia sebab virus itu akan mati dengan pemanasan 80°C lebih dari satu menit. Semakin meningkat suhu akan semakin cepat mematikan virus.
15. Portal of entry :
Sistem pernapasan
16. Susceptible host :
Pejamu yang suspect dan berisiko adalah orang yang bekerja pada bidang peternakan karena mereka bersentuhan langsung dengan Unggas
17. Moda transmisi penularan :
Bentuk penularan Avian Influenza dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
18. Course of infection:
a. Incubation Period:
Masa inkubasi rata-rata adalah 3 hari (1-7 hari). Masa penularan pada manusia adalah 1 hari sebelum, sampai 3-5 hari setelah gejala timbul dan pada anak dapat sampai 21 har
b. Prodormal Period :
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala. Seseorang yang menderita demam dengan suhu > 38oC disertai satu atau lebih gejala di bawah ini : batuk ,sakit tenggorokan ,pilek sesak napas dan risiko ontak erat (dalam jarak 1 meter), seperti merawat, berbicara atau bersentuhan dengan pasien suspek, probabel atau kasus H5N1 yang sudah konfirmasi. Terpajan (misalnya memegang, menyembelih, mencabuti bulu, memotong, mempersiapkan untuk konsumsi) dengan ternak ayam, unggas liar, bangkai unggas atau terhadap lingkungan yang tercemar oleh kotoran unggas itu dalam wilayah di mana infeksi dengan H5N1 pada hewan atau manusia telah dicurigai atau dikonfirmasi dalam bulan terakhir.
c. Fastigium period :
Dengan gejala pilek, sakit kepala, nyeri otot, infeksi selaput mata, diare atau gangguan saluran cerna. Bila ditemukan gejala sesak menandai terdapat kelainan saluran napas bawah yang memungkinkan terjadi perburukan. Jika telah terdapat kelainan saluran napas bawah akan ditemukan ronki di paru dan bila semakin berat frekuensi pernapasan akan semakin cepat.
d. Defervescence period:
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang
e. Convalescence:
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
19. Buatlah web of causationnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 
6. HEPATITIS C

1. Agen Biologi
Virus Hepatitis C (HCV)
2. Agen Kimia
Obat-obatan
3. Agen Nutrisi
4. Agen Mekanik
5. Agen Fisika
6. Karakter Agen Biologik tentang Viabilitas
• VHC tersusun sebagai RNA untai tunggal.
• Siklus hidup virus sebagai yang dari virus hepatitis C (HCV) sepenuhnya bergantung pada infrastruktur sel inang, mengandaikan bahwa virus telah berevolusi mekanisme untuk memanfaatkan dan mengendalikan semua molekul seluler atau jalur yang dibutuhkan untuk siklus hidup virus. HCV memanfaatkan jalur sinyal dari tuan rumah dengan dampak besar pada pertumbuhan sel, viabilitas, siklus sel atau metabolisme sel, seperti epidermal reseptor faktor-sinyal dimediasi pertumbuhan, kaskade PI3K/Akt atau keluarga kinase Src.
• Tahan terhadap pasteurisasi, asam, dan desinfektan.
7. Host
Manusia
8. Reservoir
Manusia
9. Tipe Reservoir Pada Manusia
• Chronic carriers
Carriers bisa berubah menjadi chronic carriers apabila terus sebagai reservoir walaupun telah melalui tahap pemulihan nyata dari penyakit. Kira-kira setengah dari kasus HCV akut menjadi carrier kronis.
10. Lingkungan Fisik
• Kelembaban dan suhu udara mempengaruhi viabilitas HCV.
11. Lingkungan Biologik
12. Lingkungan Sosio-Ekonomi
• Masyarakat menengah kebawah memiliki kesulitan finansial untuk mengakses pelayanan kesehatan dan sulit untuk memenuhi gizi seimbang sehingga status gizinya rendah menyebabkan sistem imunitas menjadi lemah terhadap serangan penyakit.
• Kurangnya pengetahun tentang hepatitis C, baik secara penularan maupun pencegahan.
• Jenis pekerjaan berpengaruh pada saat host terkena paparan ditempat kerja misalnya perawat, maupun dokter yang sedang menangani pasien hepatitis dapat tertular HCV saat di lingkungan kerjanya.
13. Portal Of Exit
• Darah
Penyebaran virus ini melalui darah, dapat melalui jalan tranfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, misal pada pengguna narkoba suntik, transplantasi organ. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual, namun kemungkinannya kecil, namun memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti dapat meningkatkan resiko infeksi. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui kecelakaan kerja, misalnya pada petugas kesehatan yang terkena darah / cairan tubuh yang terkontaminasi virus. Lebih dari 50% kasus hepatitis C ditransmisikan melalui penggunaan obat-obatan suntik / injeksi.
14. Mode of transmission
• Virus ini ditransmisikan secara parenteral.
15. Portal Of Entry
• Darah
Infeksi ini terutama diperoleh melalui kontak melalui kulit yang rusak dengan darah menular (sering melalui berbagi peralatan yang terkontaminasi kalangan pengguna narkoba suntikan)
16. Susceptible Host
• Individu yang memiliki sistem imun rendah dan berada di lingkungan yang buruk. Kelompok individu yang beresiko, antara lain :
– Orang yang menerima transfusi darah
– Orang yang melakukan transplantasi organ
– Orang yang bekerja dalam bidang kesehatan, misalnya dokter dan perawat
– Orang yang memakai narkotika dan meminum alkohol
– Orang menggunakan peralatan pribadi bersama-sama yang terpapar darah, misalnya alat cukur dan tusuk gigi.
17. Model transmisi penularan
• Injeksi penggunaan narkoba
Mereka yang saat ini menggunakan atau telah menggunakan narkoba suntikan sebagai rute pengiriman mereka untuk obat akan meningkatkan risiko untuk mendapatkan hepatitis C karena mereka mungkin berbagi jarum atau kepemilikan obat lain (termasuk kompor, kapas, sendok, air, dll), yang mungkin terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HCV.
• Produk darah
transfusi darah, produk darah, atau transplantasi organ sebelum pelaksanaan skrining HCV (di AS, ini akan mengacu pada prosedur sebelum 1992) merupakan faktor risiko penurunan untuk hepatitis C.
• Medis atau gigi paparan iatrogenik
Orang bisa terkena HCV melalui memadai atau peralatan medis atau gigi tidak benar disterilkan. Peralatan yang mungkin pelabuhan darah yang terkontaminasi jika benar disterilkan termasuk jarum suntik, peralatan hemodialisis, instrumen kebersihan mulut, dan udara jet senjata, dll menggunakan teknik sterilisasi teliti sesuai dan pembuangan yang tepat dari peralatan yang digunakan dapat mengurangi risiko pajanan terhadap HCV untuk iatrogenik hampir nol.
• Pemaparan darah
Tenaga medis dan gigi, responden pertama (misalnya, petugas pemadam kebakaran, paramedis, teknisi medis darurat, aparat penegak hukum), dan personil pertempuran militer dapat terkena HCV melalui paparan disengaja untuk darah melalui needlesticks disengaja atau berhamburan darah ke mata atau luka terbuka. Kewaspadaan universal untuk melindungi eksposur disengaja seperti secara signifikan mengurangi risiko pajanan terhadap HCV.
• Rekreasi “paparan dengan darah”
Hubungi olahraga dan kegiatan lainnya, seperti “menari slam” yang dapat mengakibatkan kecelakaan darah-ke-darah merupakan sumber paparan potensial dari paparan HCV.
• Seksual paparan
Transmisi seksual HCV dianggap langka. Studi menunjukkan risiko penularan seksual di heteroseksual, hubungan monogami sangat jarang atau bahkan nol. CDC tidak merekomendasikan penggunaan kondom antara jangka panjang pasangan diskordan monogami (di mana satu pasangan adalah positif dan lainnya negatif). Namun, karena prevalensi hepatitis C tinggi, risiko ini kecil dapat diterjemahkan ke dalam sejumlah non-sepele kasus ditularkan melalui rute seksual. Seks penetratif vagina diyakini memiliki risiko rendah penularan dari praktek-praktek seksual yang melibatkan tingkat yang lebih tinggi trauma mukosa dubur kelamin (seks penetratif dubur, fisting, penggunaan mainan seks).
• Tubuh “tindik atau tato”
Pewarna tato, pot tinta, stylets dan menusuk mengimplementasikan dapat mengirimkan darah yang terinfeksi HCV dari satu orang ke orang lain jika teknik sterilisasi yang tepat tidak diikuti. Tato atau tindik dilakukan sebelum pertengahan 1980-an, “bawah tanah,” atau non-profesional menjadi perhatian khusus karena teknik steril dalam pengaturan tersebut mungkin telah cukup untuk mencegah penyakit.
• Bersama “barang-barang perawatan pribadi”
Barang-barang perawatan pribadi seperti pisau cukur, sikat gigi, gunting kutikula, dan peralatan lainnya manicuring atau pedicuring dapat dengan mudah terkontaminasi dengan darah. Berbagi item seperti berpotensi dapat menyebabkan paparan HCV. Hati-hati yang tepat harus diambil mengenai kondisi medis yang menyebabkan pendarahan seperti sariawan, luka dingin, dan segera setelah flossing. HCV”tidak”menyebar melalui kontak biasa seperti berpelukan, berciuman, atau berbagi makan atau peralatan masak.
• Transmisi vertikal
Penularan vertikal mengacu pada transmisi penyakit menular dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya selama proses kelahiran. Ibu-ke-bayi penularan hepatitis C telah dijelaskan dengan baik, tetapi relatif jarang terjadi. Penularan terjadi hanya di antara wanita yang RNA HCV positif pada saat pengiriman, risiko penularan dalam pengaturan ini adalah sekitar 6 dari 100. Di antara wanita yang baik HCV dan HIV positif pada saat persalinan, risiko penularan HCV meningkat menjadi sekitar 25 dari 100.
Risiko penularan vertikal HCV tidak”tidak”tampaknya terkait dengan metode pengiriman atau menyusui.
• Transfusi darah.
Virus Hepatitis C adalah virus yang terkandung dalam darah, sehingga virus ini menyebar/menular melalui darah atau produk-produk darah. Cara penularannya melalui luka tusuk jarum suntik yang tercemar Hepatitis C.
• Pemakaian jarum suntik
Persis seperti penularan HIV, kelompok yang paling rentan terkena hepatitis C adalah pemakai narkoba suntik, tindik atau tato.
• Pemakaian bersama alat perawatan tubuh
Hal ini sering luput dari perhatian banyak orang karena dianggap remeh. Padahal alat ini sangat mungkin menyebabkan luka dan berdarah yang menjadi media penularan hepatitis C. Contoh alat perawatan tubuh adalah silet cukur, sikat gigi, dan gunting kuku.
• Hubungan seksual
Kemungkinannya sangat kecil bila Anda setia pada pasangan. Risiko penularan ini terjadi pada Anda yang suka berganti-ganti pasangan dan tidak pernah menggunakan alat pengaman saat berhubungan seksual.
• Transplantasi organ
18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period
Masa inkubasi dari waktu terpapar oleh virus sampai timbulnya penyakit. Biasanya masa inkubasi hepatitis C sekitar 15-160 hari. Kebanyakan pasien tidak memiliki gejala pada fase ini.
b. Prodomal period
Fase prodromal dimulai sekitar dua minggu setelah paparan dan di akhiri pada penyakit kuning. Kelelahan, malaise, mual, muntah, batuk, sakit kepala dan demam adalah gejala-gejala yang mendahului terjadinya penyakit kuning. Bau makanan dapat menyebabkan mual, dan perubahan rasa bersamaan menekan keinginan untuk merokok dan minum alkohol. Nyeri perut bagian atas di sisi kanan adalah umum, seperti kehilangan berat 5-10 pound. Selama fase ini, infeksi sangat menular.
c. Fastigium Period
Pada masa fastigium hepatitis C terdapat fase ikhterik yaitu bisa disebut penyakit kuning (jarang terjadi) dimulai urin berwarna kuning tua atau gelap, feses berwarna seperti dempul, warna sclera dan kulit menjadi kuning. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, ikhterik menghilang dan warna feses kembali normaldalam 4 minggu setelah enset.
d. Defervescence Period
e. Convalescence
Selama masa penyembuhan gejala-gejala dan keluhan yang dirasakan kebayakan berkurang atau mulai menghilang, biasayanya penyembuhan hepatitis akut secara sempurna memerlukan waktu sekitar enam bulan. Tetapi banyak terdapat hepatitis akut berubah menjadi penyakit kronik. Selain itu, menurunkan fungsi organ hati dan menurunkan aktivitas seseorang.
f. Defection

 

 

 

 
19. Buatlah web of causationnya !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. HEPATITIS A

1. Agen biologi
Penyakit hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis tipe A atau yang lebih dikenal dengan nama HAV yang berasal dari genus Hepatovirus family Picornaviridae, yang mencakup enterovirus dan rhinovirus. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, dan infeksi sitomegalovirus.
2. Agen kimia –
Obat-obatan
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Bukti eksperimental dihasilkan dalam dekade terakhir jelas menunjukkan kemampuan untuk bertahan hidup HAV baik di lingkungan indoor, di tangan manusia, serta di dalam dan pada banyak item makanan. Ini juga telah menunjukkan bahwa transfer dari virus menular dengan mudah dapat terjadi pada kontak biasa antara tangan dan permukaan lingkungan, dan HAV yang relatif tahan terhadap inaktivasi oleh germisida kimia dan kimia lainnya dan fisik agen. HAV sangat stabil, menunjukkan resistensi yang tinggi untuk agen kimia dan fisik seperti panas, asam dan pelarut dan telah ditunjukkan untuk bertahan di lingkungan untuk lebih dari 3 bulan.
7. Host
Host utama untuk virus hepatitis A (HAV) adalah manusia dan beberapa spesies primata non-manusia seperti simpanse, kera, dll.
8. Reservoir
Manusia merupakan satu-satunya reservoir hepatitis A. Jarang terjadi pada simpanse dan primata bukan manusia yang lain.
9. Tipe reservoir pada manusia
Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang akut, berarti tidak menyebabkan infeksi kronis. Sekali seseorang pernah terkena hepatitis A, maka seseorang tersebut tidak dapat terinfeksi lagi. Namun, masih dapat tertular dengan virus hepatitis lain.
10. Lingkungan fisik
Ekskreta dari manusia yang terinfeksi dapat mencemari tanah
atau air. Manusia feses pencemaran dari limbah pembuangan, lindi septic tank dan pembuangan perahu memiliki kontaminasi yang disebabkan dari tempat tidur kerang, rekreasi air, air irigasi dan minum air.
11. Lingkungan biologic
Virus hepatitis tipe A atau HAV dapat bertahan di lingkungan
(segar dan air laut, air limbah, sedimen laut, tanah dan kerang), pada 25°C.
12. Lingkungan sosio-ekonomik -
13. Portal of exit
14. Portal of entry
HAV yang keluar dari tubuh inang, tertanam dalam kotoran inang. Penularan virus ke individu yang sehat berasal dari ketika orang sehat, baik secara langsung atau tidak langsung, melakukan kontak dengan kotoran yang terkontaminasi dan kemudian masuk ke mulutnya. Hepatitis A juga dapat menyebar melalui kontak seksual, baik oral atau anal dengan orang yang terinfeksi.Makanan juga merupakan salah satu media umum di mana partikel-partikel kotoran yang
15. Mode of transmission:
Dari orang ke orang melalui rute fekal-oral. Virus ditemukan pada tinja, mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat setelah gejala disfungsi hati muncul bersamaan dengan munculnya sirkulasi antibodi HAV dalam darah.
Sumber KLB dengan pola ”Common source”umumnya dikaitkan dengan air yang tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan, termasuk makanan yang tidak dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan baik sebelum dihidangkan; karena mengkonsumsi kerang (cumi) mentah atau tidak matang dari air yang tercemar dan karena mengkonsumsi produk yang tercemar seperti sla (lettuce) dan strawberi. Beberapa KLB di Amerika Serikat dan Eropa dikaitkan dengan penggunaan obat terlarang dengan jarum suntik mauoun tanpa jarum suntik dikalangan para pecandu. Meskipun jarang, pernah dilaporkan terjadi penularan melalui transfunsi darah dan faktor pembekuan darah yang berasal dari donor viremik dalam masa inkubasi.
Cara umum penularan hepatitis A yang terjadi meliputi:
a. Kontak dengan orang yang terinfeksi.
b. Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi (lebih umum pada pria homoseksual).
c. Memakan atau meminum makanan/minuman yang terkontaminasi. Misalnya sandwich, buah-buahan dan jus buah, susu dan produk susu, sayuran, salad, kerang, dan minuman es yang umumnya terlibat dalam wabah. Kontaminasi makanan oleh pekerja yang terinfeksi pada tanaman pengolahan makanan dan restoran juga dapat terjadi.
d. Penggunaan peralatan makan yang terkontaminasi.
e. Menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menempatkan tangan di dekat atau di dalam mulut.
16. Susceptible host
Pada hepatitis A, susceptible host-nya adalah manusia, di mana unsur yang mempengaruhinya adalah faktor genetik, termasuk sistem imunitas dan faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan manusia untuk resisten terhadap infeksi dan juga untuk membatasi patogenisiti.
17. Moda transmisi penularan
Direct dan indirect.
18. Course of infection/patofisiologi penyakit meliputi:
Perjalanan hepatitis akut A dapat dibagi menjadi empat fase klinis:
a. fase inkubasi atau periode praklinis, adalah 15 sampai dengan 50 hari, rata-rata 28-30 hari, di mana pasien tetap asimtomatik meskipun HAV aktif bereplikasi. Dalam fase ini, transmisibilitas virus dapat meningkat pesat.
b. fase prodromal atau preicteric mulai dari beberapa hari sampai lebih dari seminggu, ditandai dengan munculnya gejala seperti kehilangan nafsu makan, kelelahan, nyeri perut, mual dan muntah, demam, diare, urin berwarna gelap dan tinja berwarna pucat.

c. fase icteric, di mana penyakit kuning berkembang di tingkat bilirubin total melebihi 20-40 mg/l. Fase icteric biasanya dimulai dalam waktu 10 hari gejala awal. Demam biasanya membaik setelah beberapa hari pertama setelah ikterus. Viremia berakhir tak lama setelah mengembangkan hepatitis, meskipun tinja tetap dapat menularkan selama 1-2 minggu. Manifestasi ekstrahepatik hepatitis A tidak biasa. Pemeriksaan fisik pasien dengan perkusi dapat membantu untuk menentukan ukuran hati dan mungkin mengungkapkan nekrosis masif. Angka kematian rendah (0,2% dari kasus icteric) dan penyakit akhirnya menyelesaikan. Kadang-kadang, nekrosis hati yang luas terjadi selama 6-8 minggu penyakit. Dalam hal ini, demam tinggi, sakit perut ditandai, muntah, penyakit kuning dan pengembangan ensefalopati hati terkait dengan koma dan kejang, adalah tanda-tanda hepatitis fulminan, menyebabkan kematian pada 70-90% dari pasien. Dalam kasus-kasus kematian ini sangat berkorelasi dengan bertambahnya usia, dan kelangsungan hidup jarang lebih dari 50 tahun usia. Di antara pasien dengan hepatitis B kronis atau C atau penyakit hati yang mendasarinya, yang superinfected HAV, angka kematian meningkat jauh.
d. masa penyembuhan, di mana resolusi penyakit ini lambat, tetapi pasien pemulihan lancar dan lengkap. Kambuh hepatitis terjadi dalam 3-20% dari pasien 4 sampai 15 minggu setelah gejala awal telah diselesaikan. Hepatitis kolestasis dengan tingkat bilirubin yang tinggi bertahan selama berbulan-bulan juga kadang-kadang diamati. Kronis dengan gejala sisa kegigihan infeksi HAV selama lebih dari 12 bulan tidak diamati.
19. Web of causation

 

 

 

 

 

 
8. LEPTOSPIROSIS
Menurut WHO, Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang mempengaruhi baik manusia dan hewan. Manusia terinfeksi melalui kontak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi atau dengan lingkungan yang terkontaminasi urin-. Bakteri memasuki tubuh lewat luka atau lecet pada kulit, atau melalui selaput lendir dari hidung, mulut dan mata. Orang-ke-orang transmisi langka.
Pada tahap awal penyakit, gejala termasuk demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri otot, menggigil, kemerahan pada mata, sakit perut, sakit kuning, pendarahan di kulit dan selaput lendir, muntah, diare, dan ruam.
1. Agen Biologi
Leptospira termasuk ke dalam genus Leptospira, family Leptospiraceae, ordo Spirochaetales. Leptospira terdiri dari kelompok leptospira patogen yaitu L. intterogans dan leptospira non-patogen yaitu L. biflexa (kelompok saprofit). Penentuan spesies leptospira saat ini didasarkan pada homologi DNA. Dalam setiap kelompok, organisme menunjukkan variasi antigen yang stabil dan memungkinkan mereka dikelompokkan dalam serotipe (serovar). Serotipe dengan antigen yang umum dikelompokkan dalam serogrup (varietas). Meskipun berlawanan dengan pemakaian umum, contoh penamaan Leptospira yang benar adalah sebagai berikut: serogrup Pomona dari L. interrogans atau L. interrogans var. Pomona, bukan L. Pomona
2. Agen Kimia -
3. Agen Nutrisi -
4. Agen Fisika -
5. Agen Mekanik -
6. Karakter Agen Biologi Tentang Viabilitas
Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup), dengan suhu pertumbuhan optimum antara 28°C-30°C. Leptospira memproduksi katalase dan oksidasi dan tumbuh dalam media sederhana yang diperkaya dengan vitamin-vitamin (vitamin B2 dan B12), asam lemak rantai panjang, dan garam-garam ammonium. Asam lemak rantai panjang dimanfaatkan sebagai satu-satunya sumber karbon dan dimetabolisme oleh oksidasi β.5
7. Host
Pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan pada kedua jenis kelamin (laki-laki/perempuan). Namun demikian, leptospirosis ini merupakan penyakit yang terutama menyerang anak-anak belasan tahun dan dewasa muda (sekitar 50% kasus umumnya berumur antara 10-39 tahun), dan terutama terjadi pada laki-laki (80%).
Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir.
8. Reservoir
Hewan peliharaan dan binatang liar; serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang terinfeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi (pomona), lembu (hardjo), anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi terbukti menjadi tempat hidup bratislava; sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia carnivora juga dilaporkan sebagai reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi hospes alternative, biasanya berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. Hewan-hewan tersebut adalah binatang pengerat liar, rusa, tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa laut). Serovarian yang menginfeksi reptile dan amfibi belum terbukti dapat menginfeksi mamalia, namun di Barbados dan Trinidad dicurigai telah menginfeksi manusia. Pada binatang carrier terjadi infeksi asimtomatik, leptospira ada didalam tubulus renalis binatang tersebut sehingga terjadi leptuspiruria seumur hidup binatang tersebut.
9. Tipe Reservoir Pada Manusia
Leptospirosis termasuk acute clinical cases yakni penyakit yang menginfeksi dan menular dengan periode sangat cepat.
10. Lingkungan Fisik
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25°C, serta pH mendekati neutral (pH sekitar 7); merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.
– Keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah
Keberadaan sungai menjadikannya sebagai media untuk menularkan berbagai jenis penyakit termasuk penyakit leptospirosis. Peran sungai sebagai media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya disebut Water-Borne Infection. Kotoran yang berasal dari hewan dan orang yang mengandung bakteri dan virus dapat dihanyutkan dalam sungai-sungai dan biasa terdapat dalam tanki-tanki tinja di desa dan bisa juga berada di dalam sumur-sumur atau mata air yang tidak terlindungi.
– Keberadaan parit/selokan yang airnya tergenang
Parit/Selokan menjadi tempat yang sering dijadikan tempat tinggal tikus atau wirok serta sering juga dilalui oleh hewan-hewan peliharaan yang lain sehingga parit/selokan ini dapat menjadi media untuk menularkan penyakit leptospirosis. Peran parit/selokan sebagai media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air yang ada di parit/selokan terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira.
– Genangan air
Air tergenang seperti yang selalu dijumpai di negeri-negeri beriklim sedang pada penghujung musim panas, atau air yang mengalir lambat, memainkan peranan penting dalam penularan penyakit leptospirosis. Tetapi di rimba belantara yang airnya mengalir deras pun dapat merupakan sumber infeksi. Biasanya yang mudah terjangkit penyakit leptospirosis adalah usia produktif dengan karakteristik tempat tinggal: merupakan daerah yang padat penduduknya, banyak pejamu reservoar, lingkungan yang sering tergenang air maupun lingkungan kumuh.Tikus biasanya kencing di genangan air. Lewat genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk ke tubuh manusia.
– Sampah
Adanya kumpulan sampah di rumah dan sekitarnya akan menjadi tempat yang disenangi tikus. Kondisi sanitasi yang jelek seperti adanya kumpulan sampah dan kehadiran tikus merupakan variabel determinan kasus leptospirosis. Adanya kumpulan sampah dijadikan indikator darikehadiran tikus.
– Sumber Air
Untuk keperluan sehari-hari, air dapat diperoleh dari beberapa macam sumber diantaranya:
a. Air Hujan
Air hujan merupakan penyubliman awan/uap air menjadi air murni yang ketika turun dan melalui udara akan melarutkan bendabenda yang terdapat di udara. Di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, sebagai dampak fenomena El-Nino menyebabkan curah hujan menjadi tinggi dan menyebabkan banjir. Oleh karena adanya banjir tersebut menyebabkan jumlah kejadian leptospirosis meningkat.
b. Air Permukaan
Air permukaan merupakan salah satu sumber yang dapat dipakai untuk bahan baku air bersih. Dalam menyediakan air bersih terutama untuk air minum, dalam sumbernya perlu diperhatikan tiga segi yang penting yaitu: mutu air baku, banyaknya air baku, dan kontinuitas air baku. Dibandingkan dengan sumber lain, air permukaan merupakan sumber air yang tercemar benar. Keadaan ini terutama berlaku bagi tempat-tempat yang dekat dengan tempat tinggal penduduk. Hampir semua buangan dan sisa kegiatan manusia dilimpahkan kepada air atau dicuci dengan air, dan pada waktunya akan dibuang ke dalam badan air permukaan. Di samping manusia, fauna dan flora juga turut mengambil bagian dalam mengotori air permukaan. Jenis-jenis sumber air yang termasuk ke dalam air permukaan adalah air yang berasal dari: Sungai, Selokan, Rawa, Parit, Bendungan, Danau, Laut, dan sebagainya.
c. Air Tanah
Sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi akan menyerap ke dalam tanah dan akan menjadi air tanah. Sebelum mencapai lapisan tempat air tanah, air hujan akan menembus beberapa lapisan tanah sambil berubah sifatnya.
– Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah
Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan. Jarak rumah yang dekat dengan tempat pengumpul sampah mengakibatkan tikus dapat masuk ke rumah dan kencing di sembarang tempat. Jarak rumah yang kurang dari 500 meter dari tempat pengumpulan sampah menunjukkan kasus leptospirosis lebih besar dibanding yang lebih dari 500 meter.
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25°C, serta pH mendekati neutral (pH sekitar 7); merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.

 

11. Lingkungan Biologi
1.) Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah
Bakteri leptospira khususnya spesies L. ichterrohaemorrhagiae banyak menyerang tikus besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah (Rattus diardii). Sedangkan L.ballum menyerang tikus kecil (mus musculus). Tikus yang diduga mempunyai peranan penting pada waktu terjadi Kejadian Luar Biasa di DKI Jakarta dan Bekasi adalah: R.norvegicus, R.diardii, Suncus murinus dan R.exulat.
2.) Keberadaan hewan peliharaan sebagai hospes perantara
Leptospira juga terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau dan lain-lain maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai dan sebagainya. Di dalam tubuh binatang tadi yang bertindak sebagai hospes reservoar, mikroorganisme leptospira hidup di dalam ginjal/air kemih.
Dari hewan peliharaan dapat diisolasi L. intterogans var. Pomona dan L. intterogans var. Javanica oleh Esseveld dan Colier 1938 kucing di Jawa. Kemudian Mochtar dan Cilier secara serologis menemukan L. intterogans var. Bataviae, L. intterogans var. Javanica, L. intterogans var. Icterohaemorrhagiae dan L. intterogans var. Canicola pada anjing di Jakarta. Hewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda, dan babi dapat ditemukan serovar L. intterogans var. Pomona, juga didapatkan 12 serovar lainnya. Di sebagian besar negara tropis termasuk Negara berkembang kemungkinan paparan leptospirosis terbesar pada manusia karena terinfeksi dari binatang ternak, binatang rumah maupun binatang liar
3.) Banyaknya binatang yang bias terjangkit lepstospirosis
4.) Banyaknya tumbuhan yang beresiko terpajan urin yang terinfeksi
12. Lingkungan Sosio-Ekonomik
1.) Lama Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam penularan penyakit khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang rendah akan membawa ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan masyarakat, akan membawa dampak yang cukup signifikan dalam proses pemotongan jalur transmisi penyakit leptospirosis.
2.) Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting dalam kejadian penyakit leptospirosis. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain: petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan, pekerja pengontrol tikus, tukang sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Faktor risiko leptospirosis akibat pekerjaan yang ditemukan pertama kali adalah buruh tambang. Pekerja-pekerja selokan, parit/saluran air, petani yang bekerja di sawah, ladang-ladang tebu, pekerja tambang, petugas survei di hutan belantara, mereka yang dalam aktivitas pekerjaan selalu kontak dengan air seni (kemih) berbagai binatang seperti dokter hewan, mantri hewan, penjagal di rumah potong, atau para pekerja laboratorium dan sebagainya, merupakan orang-orang yang berisiko tinggi untuk mendapat leptospirosis.2 Dari beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pekerjaan sangat berpengaruh pada kejadian leptospirosis.
3.) Kondisi Tempat Bekerja
Leptospirosis dianggap sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun demikian, cara pengendalian tikus yang diperbaiki dan standar kebersihan yang lebih baik akan mengurangi insidensi di antara kelompok pekerja seperti penambang batu bara dan individu yang bekerja di saluran pembuangan air kotor. Pola epidemiologis sudah berubah; di Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan Israel, leptospirosis yang berhubungan dengan ternak dan air paling umum. Kurang dari 20 persen pasien yang mempunyai kontak langsung dengan binatang; mereka terutama petani, penjerat binatang atau pekerja pemotongan hewan. Pada sebagian besar pasien, pemajanan terjadi secara kebetulan, dua per tiga kasus terjadi pada anak-anak, pelajar atau ibu rumah tangga. Kondisi tempat bekerja yang selalu berhubungan dengan air dan tanah serta hewan dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya proses penularan penyakit leptospirosis. Air dan tanah yang terkontaminasi urin tikus ataupun hewan lain yang terinfeksi leptospira menjadi mata rantai penularan penyakit leptospirosis.
4.) Ketersediaan pelayanan pengumpulan limbah padat
Indikator-indikator kesehatan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi rumah tangga misalnya, penyediaan air bersih, ketersediaan saluran pembuangan limbah, dan pengumpulan limbah padat dan juga karakteristik-karakteristik individu seperti kebiasaan dan perilaku. Semua variabel tersebut dipengaruhi oleh status sosial ekonomi.
5.) Sistem Distribusi Air Bersih dengan Saluran Tertutup
Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup dapat menghambat penularan penyakit leptospirosis dari binatang ke manusia karena apabila pelayanan sistem distribusi air bersih secara tertutup ini tidak tersedia dapat meningkatkan kontaminasi atau pencemaran air yang digunakan untuk konsumsi manusia.
6.) Sistem Pembuangan Limbah dengan Saluran Tertutup
Keberadaan bak pencucian pembuangan kotoran yang terbuka dan keberadaan kotoran dalam rumah dapat meningkatkan gangguan setempat oleh binatang pengerat. Kondisi-kondisi itu juga memberikan kemungkinan kontak baik langsung maupun tidak langsung dengan kotoran hewan yang terkontaminasi.30
7.) Ketersediaan Pengumpulan Limbah Padat
Tidak adanya pelayanan pengumpulan limbah padat menyebabkan akumulasi limbah organik, meningkatkan perkembangbiakan binatang pengerat sehingga memungkinkan terjadinya penularan leptospirosis dari binatang kepada manusia di lingkungan sekitar
8.) Bencana Alam, seperti banjir.
13. Portal Of Exit
Urin, Sekresi, darah, cairan tulang punggung, sel-sel hewan.
14. Mode Transmission
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
– Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease).
– Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.
15. Portal Of Entry
Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi; kadang kadang melalui makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang terinfeksi; dean kadang kadang melalui terhirupnya “droplet” dari cairan yang terkontaminasi.
Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, maka bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati.
16. Susceptible Host
Pada umumnya orang rentan; kekebalan timbul terhadap serovarian tertentu yang disebabkan oleh infeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah pemberian imunisasi tetapi kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari infeksi serovarian yang berbeda.
Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir.
17. Moda Transmisi Penularan
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
18. Course Of Infection / patofisiologi penyakit meliputi
a. Incubation Period
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 – 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Infeksi L. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat, Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif.
b. Prodromal Period
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala.
Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahanotot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati.
c. Fastigium Period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala . Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi. Sebanyak 83 persen penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada L. pomona. Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. Sedangkam L. pomonaatau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis)
Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat pada lanjut usia.
d. Defervescence Period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
Fase penyembuhan terjadi perbaikan klinik yang ditandai pulihnya kesadaran, hilangnya ikterus, tekanan darah meningkat dan produksi urine membaik. Fase ini terjadi pada minggu ke 2-4, sedangkan patogenesis fase ketiga ini masih belum diketahui, demam serta nyeri otot masih dijumpai, yang kemudian berangsur-angsur menghilang.
f. Defection
Defection adalah masa ketika patogen dibunuh atau dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh.

 

 

 

 

19. Buatlah Web Of Causationnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9. HIV AIDS
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
1. AGEN BIOLOGI
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah agen biologi penyebab AIDS. Jenis yang paling umum dikenal sebagai HIV-1 dan merupakan agen penular yang telah menyebabkan epidemi AIDS di seluruh dunia. Ada juga HIV-2 yang jauh kurang umum dan kurang virulen, tapi akhirnya menghasilkan temuan klinis yang sama dengan HIV-1. Jenis HIV-1 sendiri memiliki sejumlah subtipe (A sampai H dan O) yang memiliki distribusi geografis yang berbeda tetapi semua AIDS menghasilkan sama. HIV adalah retrovirus yang hanya berisi RNA. Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan orang yang telah terinfeksi menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit yang mengancam hidupnya.
2. AGEN KIMIA
3. AGEN NUTRISI
4. AGEN FISIKA
-
5. KARAKTER AGEN BIOLOGI TENTANG VIABILITAS
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD4. didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh penghisap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut. HIV termasuk dalam famili retrovirus dan subfamily lentivirus. Virus ini berbentuk lonjong, diameter 100 um, terdiri dari inti dan kapsul, inaktif dengan alcohol, pemutih klorine, aldehida, desinfectan, pelarut lemak, detergen, dan pada pemanasan 500C selama 30 menit, resisten dengan radiasi sinarX dan sinar ultraviolet. Sampai saat ini telah ditemukan 2 subtipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. kedua virus tersebut dapat menyebabkan AIDS, namun perjalanan penyakit yang disebabkan oleh HIV-2 berlangsung lebih lama.
HIV menginfeksi sel-sel darah sistem imunitas tubuh sehingga semakin lama daya tahan tubuh menurun dan sering berakibat kematian. HIV akan mati dalam air mendidih/ panas kering (open) dengan suhu 56oC selama 10-20 menit. HIV juga tidak dapat hidup dalam darah yang kering lebih dari 1 jam, namun mampu bertahan hidup dalam darah yang tertinggal di spuit/ siring/ tabung suntik selama 4 minggu. Selain itu, HIV juga tidak tahan terhadap beberapa bahan kimia seperti Nonoxynol-9, sodium klorida dan sodium hidroksida.

6. HOST
Ditinjau dari cara penularannya, kelompok yang berpotensi berperan sebagai host yang terinfeksi HIV/ AIDS adalah pekerja seks komersial dengan pelanggannya, pramuria/ pramupijat, kaum homoseksual, penyalahguna narkoba suntik dan penerima darah atau produk darah yang berulang.
Secara umum menurut data dari teens.drugabuse.gov, remaja pada usia pertengahan & akhir rentan untuk melakukan prilaku yang berbahaya & beresiko tinggi, seperti penyalah gunaan narkotika ataupun hubungan seksual tanpa pengaman. Konsumsi alkohol & narkotika juga dapat meningkatkan kemungkinan untuk melakukan prilaku beresiko lainnya, karena kedua zat tersebut dapat mempengaruhi penilaian & pengambilan keputusan. Selain itu, terlepas dari apakah seorang remaja melakukan penyalah gunaan narkotika atau tidak, melakukan hubungan seksual di luar nikah & tanpa pengaman juga dapat meningkatkan resiko mereka untuk terinfeksi HIV.

7. RESERVOIR
Reservoir merupakan habitat tempat agen infeksius biasa hidup, tumbuh dan memperbanyak diri dan berperan sebagai sumber penularan atau sumber infeksi. Dari sumber infeksi inilah kemudian penyakit itu menular kepada orang lain.
Pada penyakit AIDS yang menjadi sumber infeksi adalah Human reservoir(manusia) yang mengandung virus HIV dalam tubunhya yang sewaktu-waktu dengan cara tertentu dapat menular kepada orang lain.

8. TIPE RESERVOIR PADA MANUSIA

Human reservoir dapat berupa:

- orang sakit dengan gejala-gejala yang jelas (kasus klinis)
– orang sakit dengan gejala-gejala yang tidak jelas (kasus sub klinis)
– Karier, yaitu orang yang tidak sakit tetapi tubuhnya mengandung dan mengeluarkan hama penyakit.

9. LINGKUNGAN BIOLOGI
Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. HIV termasuk dalam famili retrovirus dan subfamily lentivirus. Virus ini berbentuk lonjong, diameter 100 um, terdiri dari inti dan kapsul, inaktif dengan alcohol, pemutih klorine, aldehida, desinfectan, pelarut lemak, detergen, dan pada pemanasan 500C selama 30 menit, resisten dengan radiasi sinarX dan sinar ultraviolet.

10. LINGKUNGAN SOSIO EKONOMI
Kondisi sosial dan ekonomi berperan dalam penyebaran virus HIV yang harus dihadapkan sebagai elemen penting dalam upaya-upaya lokal dan global untuk membendung penyebarannya dan menciptakan solusi yang efektif untuk menghentikan penyebarannya. Demografi epidemi saat ini menggambarkan bahwa hal ini sangat benar dipengaruhi oleh kondisi-kondisi kehidupan manusia selama masa kanak-kanak.
Dalam hal ini, HIV telah memiliki banyak kesempatan untuk berkembang di antara kondisi manusia yang tragis dipicu oleh kemiskinan, pelecehan, prasangka kekerasan, dan kebodohan. HIV telah berkembang dan dipicu oleh kondisi kemiskinan, pelecehan, prasangka, kekerasan dan kebodohan. Kondisi social dan ekonomi berkontribusi pada kerentanan terhadap infeksi HIV dan mengintensifkan dampaknya, sementara HIV / AIDS menghasilkan dan memperkuat kondisi yang sangat yang memungkinkan epidemi berkembang.
Secara umum, jika dilihat dari segi sosial, penyakit AIDS dihubungkan dengan stigma dan diskriminasi, masyarakat awam menganggap virus HIV dan penyakit AIDS ini dapat menular melalui kontak udara atau kulit yang sehat, penderita juga dianggap lemah dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang normal.
Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa jumlah wanita penderita HIV meningkat secara cepat, dampak epidemik akibat diskriminasi pada wanita dan remaja secara khusus telah diketahui. Pada banyak kasus, wanita yang menderita HIV mungkin banyak yang ditolak oleh keluarga mereka, banyak wanita tidak mau memberitahukan bahwa mereka menderita HIV karena respon buruk dari keluarga dan masyarakat sosial, anak-anak remaja keluar dari sekolah karena takut dikucilkan atau bahkan mungkin di isolasi dari lingkungannya.
11. PORTAL OF EXIT
Portal of exit/Pintu keluar adalah jalan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu keluar/dikeluarkan dari tubuh tuan rumah. Beberapa jenis penyakit infeksi memiliki pintu keluar yang berbeda-beda. Untuk HIV AIDS, portal of exit virus HIV dapat melalui alat kencing dan kelamin . Secara mekanik ; seperti suntikan atau gigitan.

12. MODE TRANSMISSION
HIV/AIDS menular melalui:
• Penggunaan satu jarum suntik secara bergantian/menggunakan jarum bekas. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh virus HIV merupakan risiko utama terkena penyakit HIV/AIDS.
• Hubungan seks berganti-gantian pasangan tanpa menggunakan pengaman/kondom (tidak disarankan hubungan seks dengan cara apapun sebelum terikat pernikahan). Penularan HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara pengeluaran cairan vagina wanita (yang terinfeksi) dengan alat kelamin atau mukosa mulut si pria, begitupun sebaliknya. Hubungan seksual tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual dengan pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral.
• Dari ibu ke anak melalui kelahiran. Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan, serta saat persalinan, yaitu ketika bayi kontak langsung dengan jalan lahir.
• Dari ibu ke anak melalui ASI. ASI pada penderita HIV/AIDS ialah ASI yang terkontaminasi virus HIV, sehingga penularan HIV melalui ASI dari ibu ke anak sangat mungkin terjadi.
13. PORTAL OF ENTRY
Bloodborne pathogens termasuk virus immunodeficiency virus atau HIV yang mematikan manusia, belum ada obatnya. Virus tersebut memasuki tubuh melalui banyak portal masuk. Sebuah portal of entri adalah bagian-bagian badan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu masuk ke dalam tubuh calon penderita. Pintu masuk itu disebut juga pintu infeksi. Patogen yang ditularkan melalui darah membutuhkan host untuk hidup dan dapat mencapai aliran darah dengan banyak metode.
– Needle Sticks
Although unintentional needle sticks are usually limited to health-care workers, anyone can get injured with a sharp, contaminated object. If you are considering getting a tattoo or piercing, or another voluntary needle stick, consider the environment first, as needle sticks can be deadly if contaminated wars osha.gov. Intravenous drug users who share dirty needles are sharing a portal of entry for bloodborne pathogens. Once used, the dirty needle can transmit disease through the skin directly into the bloodstream.
– Gestational Portals
A fetus is directly connected to its mother by umbilical arteries that facilitate transmission of the mother’s blood and nutrients to baby. However, this connection allows for bloodborne illnesses to pass from mother to baby while in utero, during labor, and while breastfeeding, according to the University of California, San Francisco. These portals of entry can be limited with the development of antiviral drugs used during pregnancy, surgical births, and bottle-feeding the infant.
– Open Wounds
Open wounds, including superficial and deep cuts, should be covered with am adhesive bandage or clean dressing at all times. Uncovered wounds are vulnerable portals of entry for potential contact with blood-borne pathogens. This may sound far-fetched, however, public health agencies such as the Indiana Health Department have drawn up guidelines to minimize the risk of transmitting bloodborne pathogens in school sports injuries.
– Mucous Membranes
Mucous membranes line the soft tissues of your mouth, eyes, nose, and lining of the reproductive organs and anus. Designed to absorb liquids and contain moisture, these membranes are easily permeable upon contact with a bloodborne pathogen. HIV, a bloodborne pathogen, is transmitted through mucous membranes during unprotected intercourse due to the potential for contact with blood and body fluids.

14. SUSCEPTIBLE HOST

Susceptible host adalah pejamu yang rentan terinfeksi oleh agen. Pada penularan penyakit AIDS, beberapa kelompok masyarakat yang rentan terkena Infeksi HIV/AIDS, terdapat dalam 2 kelompok :

1. Kelompok resiko tinggi :
a. Wanita Tuna Susila (WTS).
Prostitusi jalanan merupakan media penyebaran HIV/AIDS yang paling cepat, bahkan sebagian besar WTS yang beroperasi di jalanan mengidap penyakit tersebut. WTS mudah tertular virus HIV AIDS karena seringnya berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual, dan cara-cara berhubungan seks yang menyimpang.
b. Karyawati panti pijat, night club, bar dan diskotik. Karyawati nightclub,diskotik, bar dapat tertular HIV ADIS karena perilaku mengkonsumsi narkoba suntik. Biasanya di bar, diskotik dan nightclub menjadi tempat transaksi dan suntik narkoba, jadi dalam penggunaan jarum suntik yang berganti-ganti saat memakai narkoba tanpa sterilisasi yang membuat rentan tertular virus HIV AIDS.
c. Waria.
Waria merupakan salah satu populasi kunci yang beresiko tinggi terjangkit penyakit HIV/AIDS. Penerimaan masyarakat dan sulitnya mendapat identitas menjadi bebepara faktor yang menyebabkan mereka memilih untuk turun ke jalan dan bersinggungan dengan HIV/AIDS. Terbatasnya lahan kerja juga membuat banyak waria terpaksa melakukan pekerjaan yang rentan penyakit yang menyerang imun tubuh tersebut. Waria yang ada disekeliling kita biasanya dilabeli dengan label pekerja seks komersial. Dan memang beberapa waria menjadi pekerja seks komersial karena himpitan ekonomi, dank karena hal itulah waria yang berganti-ganti pasangan seks mudah tertular HIV ADIS.
d. Narapidana.
Kebanyakan para nara pidana yang mengidap HIV/AIDS barasal dari kasus narkoba. Tingginya para narapidana maupun para tahanan yang meninggal karena penyakit HIV/AIDS diakibatkan karena kurangnya kesadaran pengobatan terhadap pada penderita. Narapidana ini merupakan pengguna narkoba suntik yang mana jarum suntiknya dipakai bersama-sama tanpa sterilisasi, sehingga mudah sekali tertular HIV AIDS.
e. Kelompok gay. Gay rentan terkena virus HIV karena perilaku seks yang menyimpang, karena berhubungan dengan sesama jenis dan tanpa kondom ketika berhubungan seks.
f. Penderita penyakit menular seksual.
2. Kelompok resiko rendah :
a. Donor darah.
Dengan merebaknya kasus HIV/AIDS, seharusnya prosedur pendonoran darah lebih diperketat. Pengujian darah sebelum didonorkan muntlak dilakukan agar tidak merugikan pihak penerima. Namun sayangnya selama ini prosedur yang digunakan terkesan masih sangat seadanya. Petugas yang mengambil hanya melakukan tes untuk mengetahui golongan darahnya.
b. Ibu hamil.
Ibu hamil yang mengidap penyakit HIV/AIDS belum tentu menularkan penyakitnya ke bayi yang sedang dikandungnya. Untuk mengurangi resiko bayi yang dilahirkan agar tidak tertular penyakit HIV/AIDS dari ibu hamil dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
• Dengan menggunakan obat antiretroviral (ARV ) pada saat kehamilan dan pasca melahirkan
• Persalinan dilakukan dengan operasi Cesar
• Memberikan susu formula kepada bayi, karena ASI berpotensi besar menularkan HIV/AIDS
c. Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Calon TKI yang berperilaku sehat dalam seks tentunya akan terhindar dari HIV AIDS. Dan bukan menjadi kelompok yang menularkan virus mematikan ini.
d. Pelajar/mahasiswa.
Pelajar dan mahasiswa yang tidak melakukan seks bebas dan narkoba suntik akan terhindar dari penularan HIV AIDS. Gaya hidup yang sehat akan membuat orang suakr terkena dan terifeksi virus HIV AIDS.
15. COURSE OF INFECTION/PATOFISIOLOGI PENYAKIT MELIPUTI:
– INCUBATION PERIOD
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat tedeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

- PODROMAL PERIOD
Penderita mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebalan tubuhnya menurun/ lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani uji antibody HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang beresiko terkena virus HIV.

- FASTIGIUM PERIOD
Pada tahap ini penderita sudah tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk serta nyeri dada. Penderita mengalami jamur pada rongga mulut dan kerongkongan.
Terjadinya gangguan pada persyarafan central mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada sistem persyarafan ujung (peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang selalu mengalami tensi darah rendah dan impotent.
– DEFERVESCENSE PERIOD
Pada fase ini didalam tubuh terdapat HIV namun penderita tidak menunjukkan gejala apapun, tetapi jika dilakukan tes antibody hasilnya sudah menunjukkan positif. Fase ini berlangsung selama 1 sampai 6 bulan. Pada fase ini penderita mengalami perubahan patologi seperti sindrom retroviral akut berupa pembesaran kelenjar, pembesaran hati atau ginjal, nyeri otot, nyeri tenggorokan dan sebagainya seeprti pada infeksi virus lain.

- DEFECTION
Fase ini merupakan fase terakhir dari perjalanan penyakit AIDS pada tubuh penderita. Fase akhir dari penderita penyakit AIDS adalah meninggal dunia
– WEB CAUTION

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10. CHIKUNGUNYA

Chikungunya adalah penyakit virus nyamuk, pertama kali dijelaskan selama wabah di Tanzania selatan pada tahun 1952. Ini adalah virus dari Togaviridae keluarga. Nama ‘chikungunya’ berasal dari akar kata kerja bahasa Kimakonde, yang berarti “untuk menjadi berkerut” dan menggambarkan penampilan bungkuk pasien dengan nyeri sendi. Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki.

1. Agent biologik
Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
2. Agent kimia
-
3. Agent nutrisi
-
4. Agent Fisika
-
5. Agent mekanik
-
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Meskipun CHIKV ditunjukkan baru-baru ini yang bertahan di myoblasts, monosit dan makrofag, kami berpendapat bahwa mekanisme antivirus yang kuat, termasuk apoptosis, sangat penting untuk menangkal virus. Saat ini, kami menguji kemampuan CHIKV untuk memobilisasi mesin apoptosis pada sel HeLa dan fibroblast primer, menggunakan inhibitor caspase berbagai, blebbing sel dan rendondeadas terlibat di tetangga sel apoptosis. CHIKV memicu apoptosis melalui jalur intrinsik dan ekstrinsik. Virus ini berkembang apabila di kondisi iklim tropis dan subtropis
7. Host
Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan nyamuk (Aedes aegypti Aedes albopictus), tetapi host yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia. Beberapa factor host yang mempengaruhi penularan penyakit chikungunya adalah :
8. RESERVOIR
Nyamuk aedes albopictus dan aedes aeygypti, monyet, dan binatang liar.
9. Tipe Reservoir
Convalescent carriers
10. Lingkungan fisik
a. Kepadatan penduduk
b. Tempat bertelur
11. Lingkungan biologik
a. adaptasi genetik nyamuk aedes
b. jarak antara aedes albopictus dan aedes aeygypti dengan manusia
c. virus Chikungunya (CHIKV)
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Hal – hal yang mempengaruhi dalam segi sosio – ekonomi ialah :
a. Kepadatan penduduk
Hal ini terkait dengan tingkat penyebaran yang akan semakin besar dan berpotensi menjadi KLB karena jumlah penderitanya akan semakin banyak, karena berdempetan.
b. Bencana alam
Ini membuat ketimpangan antara ketersediaan pelayanan kesehatan dan kebutuhan warga akan pelayanan. Karena biasanya dalam kondisi ini semua pelayanan kesehatan serba terbatas. Hal ini ditakutkan akan terjadi penanganan kasus chikungunya yang tidak maksimal.
c. Kemiskinan
Orang yang berekonomi rendah cenderung mempunyai resiko terkena penyakit chikungunya yang tinggi karena asupan energi dan tindakan preventif yang cenderung lebih rendah dibanding yang memiliki ekonomi tinggi.
d. Pendidikan
Orang yang pendidikannya lebih rendah cenderung lebih beresiko dikarenakan pengetahuannya dalam menghadapi penyakit ini masih kurang.
e. Mobilitas
Semakin sering berpergian ke suatu daerah yang masih terdapat banyak angka kejadian chikungunya, maka semakin memperbesar seseorang terkena penyakit tersebut.

13. Portal of exit
Gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi virus Chikungunya (CHIKV).
14. Mode of transmission
Direct : Gigitan
Indirect : –
15. Portal of entry
Gigitan nyamuk
16. Susceptible host
Kelompok darah Rh-positif semua orang rentan terhadap Chikungunya. Di antara golongan darah ABO kelompok O + ve orang lebih rentan terhadap golongan darah chikungunya lainnya. Tidak ada kelompok Rh-negatif darah dipengaruhi oleh chikungunya, kata Rh – lihat lebih tahan chikungunya. Risiko untuk menjadi sakit paling tinggi pada usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak dan risiko meningkat lagi pada usia adolesen dan dewasa muda, usia tua dan pada penderita dengan kelainan system imunitas. Reaktivasi dari infeksi laten yang berlangsung lama sebagian besar terjadi pada penderita yang usianya lebih tua.
17. Moda transmisi penularan
Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Umumnya, nyamuk Aedes aegypti yang terlibat dan Aedes albopictus, dua spesies yang lain juga dapat menularkan virus nyamuk, termasuk berdarah. Gigitan nyamuk ini dapat ditemukan di seluruh siang hari, walaupun mungkin ada puncak aktivitas di pagi dan sore. Kedua spesies tersebut ditemukan menggigit luar rumah namun Ae. aegypti juga makan di dalam ruangan dengan mudah. Nyamuk terinfeksi virus chikungunya dengan memberi makan pada orang yang terinfeksi. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menularkan virus ke manusia lain ketika mereka menggigit. Monyet dan binatang liar lainnya mungkin juga dapat berfungsi sebagai reservoir virus. Aedes aegypti, wadah rumah tangga peternak dan penggigit siang hari agresif yang tertarik pada manusia, adalah vektor utama virus chikungunya ke manusia. Aedes albopictus (Asia harimau nyamuk) juga telah memainkan peran dalam penularan dari manusia adalah Asia, Afrika dan Eropa. Beberapa spesies nyamuk di sekitar hutan di Afrika telah terinfeksi virus.

18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period :
Masa inkubasi (waktu dari infeksi penyakit) bisa 2-12 hari, tetapi biasanya adalah 3 sampai 7 hari. Mulai terhitung saat nyamuk pembawa virus chikungunya mengigit calon penderita.
b. Prodromal period :
Setelah masa inkubasi 3-12 hari gejala berikut adalah demam tinggi berlangsung selama dua hari dan katanya bisa mengurangi nyeri sendi secara tiba-tiba mereka serius dan sering melumpuhkan petechiae – kecil berwarna merah bintik-bintik pada kulit ungu dan ruam kemerahan pada umumnya menyedihkan ekstremitas dan sakit kepala tubuh bagian atas terkait infeksi di mata masalah kelemahan sensitivitas cahaya yang parah tidur untuk jangka waktu variabel dari 5 sampai 7 hari setelah munculnya gejala pertama. Setelah masa inkubasi ada tiba-tiba mengalami flu seperti gejala termasuk sakit kepala parah, menggigil, demam (> 40 ° C, 104 ° F), nyeri mual, dan muntah sendi . Extermities sendi menjadi bengkak khususnya dan menyakitkan untuk disentuh. Kadang-kadang ruam mungkin terjadi. Perdarahan jarang terjadi, dan semua tetapi beberapa pasien sembuh dalam 3 sampai 5 hari. Beberapa mungkin menderita sakit sendi selama berbulan-bulan. Anak-anak mungkin menampilkan gejala-gejala neurologis.
c. Fastigium period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
d. Defervescence period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Tidak ada vaksin atau pengobatan antivirus spesifik yang tersedia saat ini untuk demam chikungunya. Pengobatan simtomatik dan mungkin termasuk obat-obat untuk meredakan gejala demam dan nyeri, seperti ibuprofen, naproxen, asetaminofen, cairan dan istirahat. Aspirin harus dihindari. Orang yang terinfeksi harus dilindungi dari paparan nyamuk lebih lanjut (tinggal di dalam rumah di daerah dengan layar atau di bawah kelambu) selama hari-hari pertama sakit sehingga Anda tidak dapat berkontribusi pada siklus penularan. ntibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat. Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

 

 

19. Web of Causation dari chikungunya

 

 

 

 

 

 

 

 

 
REFERENSI

1. Prawoto. 2008. Faktor – Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Terjadinya Reaksi Kusta ( Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Brebes ). Semarang: Magister Epidemiologi UNDIP

http://eprints.undip.ac.id/17745/2/PRAWOTO.pdf

2. Hiswani. 2001. Kusta Salah Satu Penyakit Menular yang Masih di Jumpai Di Indonesia. Medan: Fakultas Kedokteran USU

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3663/1/fkm-hiswani2.pdf

3. Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. Medan: Fakultas Kedokteran USU

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf

4. DITJEN PP&PL. 2010. Info Penyakit Menular.

http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=16&menuType=1&SubID=2&DetId=452

5. Timmreck, Thomas C. 2005. Epidemiologi: Suatu Pengantar, E/2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
6. Chin, James. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Terjemahan : Dr. I Nyoman Kandun, MPH.

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/01/03/epidemiologi-penyakit-malaria/

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2090636-pendekatan-epidemiologi-faktor-risiko-penyakit/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20325/4/Chapter%20II.pdf

http://www.ikatanapotekerindonesia.net/articles/pharmacy-newsflash/443-apakah-malaria-itu-.html

http://www.sobatsehat.com/communicable-disease/mengenal-penyakit-malaria-plasmodium-gejala-penularan-dan-pencegahannya/

http://books.google.co.id/books?id=FptaH_WZ2jAC&pg=PA126&lpg=PA126&dq=physical+environment+of+chikungunya&source=bl&ots=bF0tW4fJxP&sig=e43wUcyHS8aSYHsJOb8FwohcO6I&hl=id&ei=HkSYTpCfEouQiAf6lvirAg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBwQ6AEwAA#v=onepage&q=physical%20environment%20of%20chikungunya&f=false

http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=3011

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs327/en/

http://www.phac-aspc.gc.ca/lab-bio/res/psds-ftss/chikungunya-eng.php

http://www.fasebj.org/content/25/1/314.abstract

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20881210

http://www.virologyj.com/content/6/1/77

http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/Chikungunya/CH_FactSheet.html

http://www.cbwinfo.com/Biological/Pathogens/CHIK.html

http://www.medindia.net/alternativemedicine/homeopathy/Chikungunya_symptoms.htm

http://tipsku.info/penyebab-penyakit-liver/

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.who.int/vaccines/en/hepatitisa.shtml

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.ehow.com/howdoes_5367406_hepatitistransmitted.html

Basic epidemiological methods and biostatistics: a practical guidebook
Oleh Randy M. Page,Galen E. Cole,Thomas C. Timmreck

http://www.who.int/csr/disease/hepatitis/whocdscsredc2007/en/index3.html

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs164/en/

http://www.medicinenet.com/hepatitis_c/article.htm

http://www.drhoffman.com/page.cfm/622

http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/hepatitisc.htm

http://books.google.co.id/books?id=N6kNSiMqgoQC&pg=PA8&lpg=PA8&dq=fase+p mulihan+hepatitis+c&source=bl&ots=QfNSkcSs0J&sig=lhD7qOViD5ebVoAq0ZEdWqcpcL0&hl=id&ei=mqiVTq2-DcTprQerg-2oBg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=8&ved=0CEYQ6AEwBw#v=onepage&q&f=false

http://www.abclab.co.id/?p=792

http://www.news-medical.net/health/What-is-the-Hepatitis-C-Virus-%28Indonesian%29.aspx

http://www.who.int/topics/leptospirosis/en/

 

 

 

TUGAS INDIVIDU MATA KULIAH
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN NON MENULAR

 
Disusun oleh :

Rudiansyah
NIM 25010111150021

 

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2011

 

 

 

 
1. KUSTA
Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem muskulo retikulo endotelia, mata, otot, tulang, dan testis.
Macam-macam Kusta:
a. TuberculoidLeprosy (TT)
•Resistance relatiftinggi
•Tidakadabacilli yang padapatch
•Skin patches sedikit dan kering
b. LepromatousLeprosy (LL)
•Resistance sangatrendah
•Bacilli sangatbanyak
•Dapatditularkanpadaoranglain
•Matirasa dan lemah pada kedua tangan dan kaki
c. Borderline LeprosyDibagimenjadi:
1. Borderline Tuberculoid (BT)
2.Bordeline (BB)
3. Borderline Lepromatous (BL)
1. Agen biologik
Bakteri Mycobakterium leprae
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang Viabilitas
Mycobakterium leprae. Organisme ini belum bisa dibiakkan pada media bakteri atau kultur sel. Bateri ini dapat dibiakkan pada jaringan telapak kaki tikus dengan jumlah mencapai 106 per gram jaringan; pada percobaan infeksi melalui binatang armadillo, bakteri ini bisa tumbuh hingga 109 sampai 110 per gram jaringan. Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta. Sebuah bakteri yang tahan asam, M. leprae juga merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium. M. leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.
7. Host
Manusia dan binatang armadillo
8. Reservoir
Manusia, monyet dan simpanse
9. Tipe reservoir pada manusia
Pada penyakit kusta tipe reservoir pada manusia yakni carriers dan chronic carriers, karena jika orang tersebut melakukan kontak langsung dan dalam waktu yang lama dengan orang yang membawa bakteri kusta dan belum minum obat, maka orang tersebut akan mengalami sakit kusta dan Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2 – 5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun.
10. Lingkungan fisik
Mycobacterium leprae hidup dalam lingkungan kondisi lembab dan dingin, tidak tahan pada cuaca yang panas.
11. Lingkungan biologik
Hewan armadillo yang terkena kusta juga dapat menyebarkan penularan kusta pada manusia.
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Sebagian besar penderita kusta adalah dari negara yang sedang berkembang dan masyarakat golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakatnya.
Rata-rata orang yang memiliki pendapatan rendah sering terkena penyakit kusta, karena kondisi lingkungan rumah yang tidak sesuai dan buruk, asupan gizi yang kurang sehingga dapat menurunkan imunitas yang dimilikinya.
13. Portal of exit
Kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit.
14. Mode of transmission
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
15. Portal of entry
Pintu masuk dari M. leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan bahwa kulit yang terluka dan saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya bakteri.
16. Susceptible host
Individu yang memiliki sistem imun rendah dan berada dalam lingkungan yang buruk dan Lepra hanya menular jika terdapat dalam bentuk lepromatosa yang tidak diobati dan itupun tidak mudah ditularkan kepada orang lain. Selain itu, sebagian besar secara alami memiliki kekebalan terhadap lepra dan hanya orang yang tinggal serumah dalam jangka waktu yang lama yang memiliki resiko tertular.
17. Moda transmisi penularan
Transmisi tidak langsung melalui udara dan kulit yang terluka. Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas penularan di dalam rumah tangga dan konta/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta tipe lepromatosa yang tidak diobati, dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada penderita kusta lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Organisme kemungkinann masuk melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun, penularannya diduga melalui plasenta.

 

18. Course of infection
a. Incubation period
Berkisar antara 9 bulan sampai 20 tahun dengan rata-rata adalah 4 tahun untuk kusta tuberkuloid dan dua kali lebih lama untuk kusta lepromatosa. Penyakit ini jarang sekali ditemukan pada anak-anak dibawah usia 3 tahun; meskipun, lebih dari 50 kasus telah ditemukan pada anak-anak dibawah usia 1 tahun, yang paling muda adalah usia 2,5 bulan.
b. Prodromal period
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala.
Bentuk awal dari kusta ditandai dengan munculnya macula hipopigmentasi dengan batas lesi yang tegas yang dapat berkembang menjadi bentuk tuberkuloid, borderline atau bentuk lepromatosa. Gejala klinis dari kusta dapat juga berupa “reaksi kusta” yaitu dengan episode akut dan berat. Reaksi kusta ini disebutkan dengan nama erythema nodosum leprosum pada penderita tipe lepromatosa dan disebut dengan reaksi terbalik pada kusta borderline. Diagnosa klinis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan kulit secara lengkap dengan menemukan tanda-tanda terserangnya syaraf tepi berupa gejala hipestasia, anesthesia, paralysis pada otot dan ulkus tropikum.
c. Fastigium period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
Mycobacterium merupakan parasit obligat intraseluler, terutama pada makrofag disekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel schwan di jaringan saraf. Basil masuk ke tubuh, tubuh bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit). Pada tipe LL menyebabkan kelumpuhan sistem imunitas akibatnya makrofag tidak dapat menghancurkan basil. Pada tipe TT, fungsi imunitas masih tinggi dan makrofag mampu menghancurkan basil. Sel Schwan meruapakan sel target untuk pertumbuhan M.Leprae, berfungsi sebagai demielinisasi dan sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Gangguan imunitas tubuh dalam sel schwan, basil bermigrasi dan beraktivasi, akibatnya regenerasi sel saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif
d. Defervescence period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
Fakta klinis dan laboratorium membuktikan bahwa infektivitas penyakit ini hilang dalam waktu 3 bulan melalui pengobatan berkelanjutan dan teratur dengan menggunakan Dapsone (DDS) atau clofasimine atau dalam waktu 3 hari dengan menggunakan rifampin
f. Defection
Defection adalah masa ketika patogen dibunuh atau dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh.
Respon imun pada penyakit kusta meliputi respon imun humoral atau antibody mediated immunity dan respon imun seluler atau cell mediated immunity (CMI). Pada respon imun humoral, tubuh akan memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen yang masuk. Dengan CMI, bahan asing atau antigen akan memacu produksi sel pertahanan spesifik yang dapat dimobilisasi untuk menghancurkan antigen dan akan memicu terjadinya reaksi kusta. Sel pertahanan spesifik adalah limfosit, yang tidak berkemampuan fagosit. Sedangkan makrofag dapat memakan Mycobacterium leprae. Pada kusta terdapat respon imun seluler yang merupakan imunitas protektif, sebanyak 90 % – 95 % manusia mempunyai imunitas ini dengan berbagai tingkatan. Meskipun respon imun berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap bakteri atau antigen, tetapi respon imun yang berlebih dapat menimbulkan reaksi kusta reversal maupun ENL. 40 Mycobacterium leprae bersifat patogen intraseluler dan dapat mempengaruhi makrofag serta saraf tepi. Limfosit Th CD – 4 dan Th1 keduanya dapat memproduksi sitokin yang mengaktifkan makrofag dan efektif sebagai bagian respon imun seluler. Pada kusta tipe lepromatosa aktivasi limfosit Th2 mempengaruhi produksi IL – 4 dan IL -10, yang akan menstimulasi respon imun humoral dan intensitas produksi antibody limfosit B. Karakteristik respon imun yang diaktivasi limfosit Th2 oleh IL – 4 dan IL – 10 tidak menyebabkan formasi dari sel epitel granuloma dan dapat aktifitas makrofag. Sebanyak 15 % – 50 % kusta tipe lepromatosa berkembang menjadi ENL. Reaksi ENL berhubungan dengan bakteri yang hancur, antigen serta intensitas produksi antibodi. Berdasarkan tanda klinis dan laboratorium, patogenesis ENL belum dapat ditetapkan dengan jelas. 40 Reaksi ENL sering terjadi pada kusta tipe borderline lepromatous dan lepromatous. 41 Konsentrasi antigen dari bakteri yang tinggi dalam jaringan akan meningkatkan level antibodi IgM dan IgG pada penderita tipe lepromatosa. Formasi dan berkurangnya komplek imun serta aktivasi sistem komplemen dengan meningkatnya mediator inflamasi, merupakan mekanisme imunopatologi penting pada ENL. Selama reaksi ENL terjadi penurunan tingkat IgM anti PGL -1 (phenol glukolipid) yang berasal dari dinding M. leprae.
Sesudah penderita mengalami pemulihan, memacu antibodi IgM membentuk komplek imun dengan konsentrasi yang berlebihan dari PGL -1 dalam jaringan. Beratnya ENL disebabkan oleh meningkatnya produksi sitokin oleh limfosit Th2 sebagai respon imun tubuh untuk mengatasi peradangan. Sitokin tumor necrosis factor alpha (TNF-α) dan interferon gamma (IFN-γ), merupakan komponen sitokin spesifik pada ENL.39 Sirkulasi TNF yang tinggi terjadi pada reaksi ENL, diduga akibat sel mononuklear pada darah tepi penderita ENL yang dapat meningkatkan jumlah TNF. 41 Sebaliknya reaksi reversal (RR) merupakan reaksi hipersensitifitas tipe lambat yang dijumpai pada kusta tipe borderline. Antigen Mycobacterium leprae muncul pada saraf dan kulit penderita reaksi tipe ini. Infeksi Mycobacterium leprae akan meningkatkan ekspresi major histocompatibility complex (MHC) pada permukaan sel makrofag dan memacu limfosit Th CD – 4 untuk menjadi aktif dalam membunuh Mycobacterium leprae. Pada studi immunohistochemistry, terjadi peningkatan bercak TNF pada kulit dan saraf penderita dengan reaksi kusta tipe I dibandingkan penderita yang tidak mengalami reaksi kusta.

 

 

 

19. Web of causation

 

Jaring-jaring sebab akibat penyakit kusta

 

Asupan gizi kurang

Lingkungan yang buruk Imunitas rendah

Perubahan hormonal
Penyakit Kusta (M. Leprae)
Kelelahan Fisik

Antigen M. Leprae

Lama sakit >1 tahun

Tipe kutsa MB

Lama pengobatan >6 bulan

Riwayat pengobatan reaksi tidak adekuat

 

 

 

 

 

 

2. TUBERKULOSIS

1. Agen biologik
Mycobacterium tuberculosis
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang viabilitas
Mycobacterium tuberculosis mempunyai sifat khusus yaitu tahan asam (BTA). Kuman tuberkolosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tampat yang gelap dan lembap. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun.
7. Host
Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia.
8. Reservoir
Umumnya manusia berperan sebagai reservoir, jarang sekali primata, dibeberapa daerah terjadi infeksi yang menyerang ternak seperti sapi, babi dan mamalia lain.
9. Tipe reservoir pada manusia
a. Accute Clinical case : -
b. Carriers. : Seseorang mempunyai bakteri TBC dalam tubuhnya dan tidak ada gejala. tes tuberculin akan memberikan hasil yang positif 2-10 minggu kemudian. Lesi awal pada paru-paru umumnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan gejala sisa walaupun sangat jarang terjadi klasifikasi pada kelenjar limfe paru dan kelenjar limfe trakeobronkial.
c. Inapparent infections. Keadaan dimana kuman telah masuk ke dalam tubuh namun individu tersebut tidak menunjukkan gejala klinis penyakit tersebut, tetapi pada pemeriksaan serologis adalah positif, menunjukkan adanya antibodi spesifik terhadap Mycobacterium tuberkulosis dalam titer yang cukup tinggi, berpotensi untuk menularkan infeksi kepada orang lain.
d. Incubatory carriers. Pasien TBC yang berada pada waktu inkubasi yaitu antara kontak awal dengan agen menular dan kemunculan pertama dari gejala yang berhubungan dengan infeksi.
e. Convalescent carriers. Pasien TBC yang berada dalam masa penyembuhan
f. Chronic carriers. Hampir 90-95 % mereka yang mengalami infeksi awal akan memasuki fase laten dengan risiko terjadi reaktivasi seumur hidup mereka.
10. Lingkungan fisik
• Kepadatan penghuni rumah : Hunian yang padat menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit TB, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.
• Kelembapan rumah : Kelembaban udara berpengaruh terhadap kuman TB Paru karena kuman TB dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang lembab.
• Ventilasi : Ventilasi berfungsi untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tetap segar, dan menjaga sirkulasi Oksigen dirumah. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik, kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri TB. Selain itu, ventilasi akan membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri sehingga konsentrasi kuman patogen terutama penyebab TB Paru berkurang
• Pencahayaan sinar matahari : Pencahayaan berpengaruh terhadap kuman TB Paru karena kuman tersebut akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung
• Suhu : M. tuberculosis tumbuh baik pada kisaran suhu 35-37OC. Suhu panas akan berpengaruh pada aktivitas kuman TB.
• Kondisi lantai : Kondisi lantai yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis.
• Kondisi dinding : Kondisi dinding yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis

11. Lingkungan biologic
Hewan seperti adanya hewan ternak contohnya sapi, babi atau mamalia lain.
12. Lingkungan sosial-ekonomi
Kondisi sosial ekonomi merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi memburuk, serta perumahan yang tidak sehat dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Menurut perhitungan rata-rata penderita tuberkolosis kehilangan 3-4 bulan waktu kerja dalam setahun, dan juga kehilangan penghasilan setahun secara total mencapai 30% dari pendapatan rumah tangga.

13. Portal of exit
Sistem respirasi melalui dahak yang mengandung droplet
14. Mode of transmission
Penularan tuberkulosis dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam paru-paru penderita, persebaran kuman tersebut di udara melalui dahak berupa droplet. Penderita TB-Paru yang mengandung banyak sekali kuman dapat terlihat lansung dengan mikroskop pada pemeriksaan dahaknya (penderita BTA positif). Mekanisme penularan TB paru dimulai dari penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman ke udara dalam bentuk droplet yang sangat kecil (partikel aerosol) pada waktu batuk atau bersin. Partikel aerosol terhirup melalui saluran pernapasan mulai dari hidung menuju alveoli paru-paru dapat berpindah kepada orang lain yang rentan (pejamu potensial dalam jarak dekat) melalui saluran pernapasan. Droplet yang sangat kecil ini dapat terjatuh ke lantai atau benda lain lalu mengering dengan cepat dan menjadi droplet nuklei yang mengandung kuman tuberkulosis yang dapat bertahan di udara selama beberapa jam. Ukuran besarnya droplet nuklei dan debu sangat menentukan kemungkinan penularan kuman TB jika terhirup. Pada droplet nuklei dengan ukuran besar akan tersangkut pada jalan nafas. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan orang tersebut menjadi sumber penularan baru.
15. Portal of entry
Melalui batuk, maupun napas saat penderita berbicara atau sistem respirasi (mulut dan hidung)
16. Susceptible host
Yang termasuk kedalam susceptible host diantaranya adalah individu dengan kelainan sistem imunitas atau imunitas menurun, individu dengan berat badan rendah dan kekurangan gizi, penderita atau individu dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, kanker, silikosis, diabetes, postgastrekomi dan individu dengan infeksi HIV. Selain itu, dapat juga pada individu pemakai NAPZA atau minuman beralkoho dan merokok. Orang yang bekerja atau tinggal pada tempat pelayanan jangka panjang (rumah perawatan, penjara, rumah sakit) dapat juga menjadi susceptible host.
17. Moda transmisi penularan
Melalui kontak secara langsung melalui penyebaran droplet dimana pada penderita penyakit tuberculosis terbuka akan menghasilkan formasi droplet yang dapat berpindah kepada orang lain yang rentan (pejamu potensial dalam jarak dekat). Namun dapat juga secara tidak langsung melalui udara (Air borne diseases) jika droplet tersebut jatuh ke lantai dalam bentuk droplet nuklei dan kemudian terisap orang lain bersama debu dan terjadi penularan.
18. Course of infection atau patofisiologi
a. Incubation period :
Mulai saat masuknya bibit penyakit sampai timbul gejala adanya lesi primer atau reaksi tes tuberkulosis positif kira-kira memakan waktu 2 – 10 minggu. TB timbul berdasarkan kemampuannya untuk memperbanyak diri di dalam sel-sel fagosit. Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin. penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan perlengkapan tidur. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas. atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.

b. Prodromal period :
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman TB untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-5 minggu. Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB dengan cara menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman yang menetap secara “persisten” atau dormant”, sehingga daya tahan tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya yang bersangkutan akan menjadi penderita TB dalam beberapa bulan. Pada infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat sangat menular.
c. Fastigium period
Pada periode ini penderita TB sering terjadi komplikasi dan resistensi. Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut : Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian. ginjal dan sebagainya. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). Pada fase ini biasanya penderita akan mengalami batuk berdarah dan pernafasan yang cepat. Penderita juga akan mengalami cemas, stres, tegang. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu perawatan di rumah sakit.
d. Defervescence period
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA Negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikaitkan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Bila perdarahan berat penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.
e. Convalescence
Secara teoritis seorang penderita tetap menular sepanjang ditemukan basil TB di dalam sputum mereka. Penderita yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna dahaknya akan tetap mengandung basil TB selama bertahun tahun. Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer biasanya tidak menular
f. Defection
Penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up

19. Web causation

 

 

 

3. DEMAM BERDARAH DENGUE

Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembab. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.

1. Agen biologik
Virus dengue, yang merupakan virus dari genus flavivirus, famili flaviviridae Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
2. Agen kimia -
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologik tentang viabilitas :
Suhu yang relatif rendah maupun tinggi, serta kelembaban udara yang rendah dapat mengurangi viabilitas virus Dengue yang hidup dalam tubuh nyamuk maupun viabilitas nyamuk itu sendiri, sehingga menambah population at risk
7. Host
manusia dan kera
8. Reservoir
Pada umumnya nyamuk Aedes aegypty, namun ditemukan pula spesies lain yaitu Aedes albopictus, Aedes scutellaris, Aedes Niveus, dan Aedes furcifer-taylori.
9. Tipe reservoir
a. Acute clinical cases :
• Tanda-tanda klinis demam, nyeri otot atau sendi yang disertaileukopenia, dengan atau tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakitkepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa mengecap terganggu,trombositopenia ringan dan bintik-bintik perdarahan (petekie) spontan.
• Pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah. Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.
b. Carriers : -
c. Inapparent infection (subclinical cases) : -
d. Incubator Carriers :
Orang yang mengandung virus dengue tetapi tidak sakit, dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegypti. Karena dalam darahnya terdapat virus Dengue (karena orang ini memiliki kekebalan terhadap virus dengue)
e. Chronic Carriers :-

10. Lingkungan fisik
Suhu yang meningkat menjadi panas (28 – 32°C) serta kelembaban tinggi membuat nyamuk tahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Pada musim penghujan. Letak geografis Indonesia yaitu beriklim tropis. Pergeseran Curah hujan mempunyai kontribusi utama terhadap tersedianya habitat nyamuk
11. Lingkungan biologik
Kepadatan vektor, kebiasaan reproduksi, usia hidup dan perkembangan serta ketangguhan dari patogen
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Kepadatan penduduk akibat pertumbuhan penduduk yang pesat, kemiskinan, bencana alam, kesadaran masyarakat akan program pemberantasan PSN. Tingkat mobilitas penduduk yang tinggi. Urbanisasi dan daerah endemik nhamuk.
13. Portal of exit
Cara agen meninggalkan reservoir, melalui pintu keluar : jalur kulit (isapan darah nyamuk) melalui pori-pori kulit. Melalui gigitan nyamuk.
14. Mode of transsmision
Transmisi tidak langsung melalui vektor . Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypty. Peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Biasanya menggigit pada siang hari.
15. Portal of entry
Agen masuk ke penjamu melalui pintu masuk : melalui jalur kulit juga, yaitu melalui pori-pori kulit. Melalui gigitan nyamuk.
16. Susceptible host
Penjamu yang rentan. Semua golongan umur dapat terkena DBD namun, penjamu yang rentan terkena usia dari balita sampai dengan usia remaja berkisar 15 tahun. Penjamu yang rentan biasanya penjamu yang memiliki aktivitas di siang hari misalnya balita ataupun pelajar.
17. Moda transmisi penularan
Transmisi tidak langsung
18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period : dari 3-14 hari, biasanya 4-7 hari.
b. Prodromal period : Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit.
c. Fastigium period : Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis.Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Suhu rendah dan risiko sindrom syok dengue tinggi.
d. Defervescence period : Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalencence : Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.
f. Defection : DBD terjadi setelah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi kedua dengan serotipe lain  setelah 6 bulan – 5 tahun
19. Web of causation

 

 

4. MALARIA

Malaria menurut World Health Organization (WHO) adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria (plasmodium) bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles spp) betina. Definisi penyakit malaria lainnya adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh agent tertentu yang infektif dengan perantara suatu vektor dan dapat disebarkan dari suatu sumber infeksi kepada host. Penyakit malaria termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menyerang semua orang, bahkan mengakibatkan kematian terutama yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum

1. Agen Biologik
Faktor Agent (plasmodium) :
Penyakit malaria adalah suatu penyakit akut atau sering kronis yang disebabkan oleh parasit genus plasmodium (Class Sporozoa). Pada manusia hanya 4 (empat) spesies yang dapat berkembang, yaitu :
a. Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menyebabkan malaria berat.
b. Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana.
c. Plasmodium malariae penyebab malaria quartana.
d. Plasmodium ovale spesies ini banyak dijumpai di Afrika dan Fasifik Barat
2. Agen Kimia
-
3. Agen Nutrisi
-
4. Agen Mekanik
-
5. Agen Fisika
-
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Sifat-sifat spesifik parasit berbeda-beda untuk setiap spesies malaria dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. Plasmodium falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek, namun menghasilkan parasitemia paling tinggi, gejala yang paling berat, dan masa inkubasi yang paling pendek. Gametosit Plasmodium falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah. Gametosit Plasmodium falciparum menunjukkan perioditas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vector. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah, gejala yang lebih ringan, dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnozoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps.
Plasmodium malariae jarang terdapat pada daerah subtropis. Plasmodium falciparum relative ditemukan lebih luas di semua wilayah tropis. Plasmodium ovale relative jarang dilaporkan ada di daerah Afrika termasuk Asia, Eropa dan Afrika Selatan, Plasmodium vivax banyak ditemukan dari tipe lain, banyak menginfeksi penduduk di daerah panas atau tropik, siklus hidup parasit penyebab malaria dalam tubuh manusia terdiri dari fase eksogenud seksual, pembentukan sprogoni dengan pembiakan dalam tubuh nyamuk dan fase endogenus aseksual schizon dengan pembiakan dalam tubuh manusia.
7. Host
Host pada penyakit malaria terbagi atas dua yaitu Host Intermediate (manusia) dan Host Definitif (nyamuk). Manusia disebut sebagai Host Intermediate (penjamu sementara) karena di dalam tubuhnya terjadi siklus aseksual parasit malaria. Sedangkan nyamuk Anopheles spp disebut sebagai Host Definitif (penjamu tetap) karena di dalam tubuh nyamuk terjadi siklus seksual parasit malaria.
a. Host Intermediate : Pada dasarnya setiap orang dapat terinfeksi oleh agent biologis (Plasmodium), tetapi ada beberapa faktor intrinsik yang dapat memengaruhi kerentanan host terhadap agent yaitu usia, jenis kelamin, ras, riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi, status gizi dan tingkat immunisasi.
b. Host Definitif : Host definitif yang paling berperan dalam penularan penyakit malaria dari orang yang sakit malaria kepada orang yang sehat adalah nyamuk Anopheles spp betina. Hanya nyamuk Anopheles spp betina yang menghisap darah untuk pertumbuhan telurnya. Host definitif ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : perilaku nyamuk itu sendiri dan faktor-faktor lain yang mendukung
8. Reservoir
Hanya manusia menjadi reservoir terpenting untuk malaria. Primata secara alamiah terinfeksi berbagai jenis malaria termasuk P. knowlesi, P. brazilianum, P. inui, P. schwetzi dan P. simium yang dapat menginfeksi manusia di laboratorium percobaan, akan tetapi jarang terjadi penularan/transmisi secara alamiah.
9. Tipe reservoir pada manusia
Malaria memiliki tipe reservoir Carriers, adalah orang yang terkena infeksi, tetapi belum memiliki tanda atau gejala yang jelas dan dapat menularkan infeksi yang diderita kepada orang lain. Carier malaria merupakan sumber infeksi yang potensial karena darah pada tubuh manusia ini dapat menularkan parasit melalui gigitan nyamuk
10. Lingkungan fisik
Faktor geografi dan meteorology di Indonesia sangat menguntungkan transmisi
malaria di Indonesia. Pengaruh suhu ini berbeda-beda bagi setiap spesies. Pada suhu 26,7˚C masa inkubasi ekstrinsik adalah 10-12 hari untuk Plasmodium falciparum dan 8-11 hari untuk Plasmodium vivax, 14-15 hari untuk Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.
a. Suhu
Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimum berkisar antara 20 dan 30 c. makin tinggi suhu (sampai batas tertentu), maka makin pendek masa inkubasi ekstrinsik dan sebaliknya makin rendah suhu, maka makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.
b. Kelembaban
Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembaban 60 % merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi, nyamuk lebih aktif dan lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.
c. Hujan
Pada umumnya hujan akan memudahkan perkembangan nyamuk dan terjadinya epidemik malaria. Besar kecilnya pengaruh tergantung dari jenis dan deras hujan, jenis vektor, dan jenis tempat perindukan. Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya nyamuk Anopheles.
d. Ketinggian
Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 meter jarang ada transmisi malaria. Hal ini bisa berubah bila terjadi pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino. Di pegunungan Papua, yang dulu jarang ditemukan malaria, kini lebih sering ditemukan malaria. Ketinggian paling tinggi masih memungkinan transmisi malaria ialah 2500 meter di atas permukaan laut (di Bolivia).
e. Angin
Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia.
f. Sinar matahari
Pengaruh sinar matahari terhadap larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka tempat yang teduh, Anhopheles hyrcanus sp dan Anopheles pinctulatus sp lebih suka tempat yang terbuka. Anopheles barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun yang terang.
g. Arus air
Anopheles barbirostris menyukai perindukan yang airnya statis atau lambat. Anopheles minimus menyukai aliran air yang deras, dan Anopheles letifer menyukai air tergenang.
h. Kadar garam
Anopheles sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya 12-18 % dan tidak berkembang pada kadar garam 40 % keatas. Namun, di Sumatera Utara ditemukan pula perindukan Anopheles sundaicus dalam air tawar.
11. Lingkungan Biologik
Adanya tumbuhan, lumut, ganggang, ikan kepala timah, gambusia, nila sebagai predator jentik Anopheles spp, serta adanya ternak sapi, kerbau dan babi akan mengurangi frekuensi gigitan nyamuk pada manusia
12. Lingkungan sosio – ekonomik
Meliputi kebiasaan masyarakat berada di luar rumah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit malaria dan pembukaan lahan dengan peruntukannya yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan banyak menimbulkan breading places potensial untuk berkembangbiaknya nyamuk
13. Portal of exit
Gigitan nyamuk Anopheles sehingga Plasmodium berpindah masuk ke tubuh nyamuk.
14. Mode of transmission
Melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang infektif. Sebagian besar spesies menggigit pada senja hari dan menjelang malam. Beberapa vektor utama mempunyai waktu puncak menggigit pada tengah malam dan menjelang fajar. Setelah nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung parasit pada stadium seksual (gametosit), gamet jantan dan betina bersatu membentuk ookinet di perut nyamuk yang kemudian menembus dinding perut nyamuk dan membentuk kista pada lapisan luar dimana ribuan sporosoit dibentuk. Ini membutuhkan waktu 8-35 hari tergantung pada jenis parasit dan suhu lingkungan tempat dimana vektor berada. Sporosoit-sporosoit tersebut berpindah ke seluruh organ tubuh nyamuk yang terinfeksi dan beberapa mencapai kelenjar ludah nyamuk dan disana menjadi matang dan apabila nyamuk menggigit orang maka sporosoit siap ditularkan.
Didalam tubuh orang yang terkena infeksi, sporosoit memasuki sel-sel hati dan membentuk stadium yang disebut skison eksoeritrositer. Sel-sel hati tersebut pecah dan parasit aseksual (merosoit jaringan) memasuki aliran darah, berkembang (membentuk siklus eritrositer). Umumnya perubahan dari troposoit menjadi skison yang matang dalam darah memerlukan waktu 48-72 jam, sebelum melepaskan 8-30 merosoit eritrositik (tergantung spesies) untuk menyerang eritrosit-eritrosit lain. Gejala klinis terjadi pada tiap siklus karena pecahnya sebagian besar skison-skison eritrositik. Didalam eritrosit-eritrosit yang terinfeksi, beberapa merosoit berkembang menjadi bentuk seksual yaitu gamet jantan (mikrogamet) dan gamet betina (makrogamet). Periode antara gigitan nyamuk yang terinfeksi dengan ditemukannya parasit dalam sediaan darah tebal disebut “periode prepaten” yang biasanya berlangsung antara 6-12 hari pada P. falciparum, 8-12 hari pada P. vivax dan P. ovale, 12-16 hari pada P. malariae (mungkin lebih singkat atau lebih lama). Penundaan serangan pertama pada beberapa strain P. vivax berlangsung 6-12 bulan setelah gigitan nyamuk Gametosit biasanya muncul dalam aliran darah dalam waktu 3 hari setelah parasitemia pada P. vivax dan P. ovale, dan setelah 10-14 hari pada P. falciparum. Beberapa bentuk eksoeritrositik pada P. vivax dan P. ovale mengalami bentuk tidak aktif (hipnosoit) yang tinggal dalam sel-sel hati dan menjadi matang dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun yang menimbulkan relaps. Fenomena ini tidak terjadi pada malaria falciparum dan malaria malariae, dan gejala-gejala penyakit ini dapat muncul kembali sebagai akibat dari pengobatan yang tidak adekuat atau adanya infeksi dari strain yang resisten. Pada P. malariae sebagian kecil parasit eritrositik dapat menetap bertahan selama beberapa tahun untuk kemudian berkembang biak kembali sampai ke tingkat yang dapat menimbulkan gejala klinis. Malaria juga dapat ditularkan melalui injeksi atau transfusi darah dari orang-orang yang terinfeksi atau bila menggunakan jarum suntik yang terkontaminasi seperti pada pengguna narkoba. Penularan kongenital jarang sekali terjadi tetapi bayi lahir mati dari ibu-ibu yang terinfeksi seringkali terjadi.
15. Portal of entry
Secara alami melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria. Juga bisa melaui induksi, induksi yaitu jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah manusia, misalnya melalui transfuse darah, suntikan, atau pada bayi yang baru lahir melalui plasenta ibu yang terinfeksi (congenital).
16. Susceptible host
Usia, bagi anak laki-laki lebih rentan terhadap infeksi penyakit malaria. Jenis kelamin, perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kerentanan individu, tetapi bila malaria terjadi pada wanita hamil akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan ibu dan anaknya, seperti anemia berat, berat badan lahir rendah (BBLR), abortus, partus prematur dan kematian janin intrauterine.
Ras, beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya : orang Negro di Afrika Barat dan keturunannya di Amerika dengan golongan darah Duffy (-) tidak dapat terinfeksi oleh Plasmodium vivax karena golongan ini tidak mempunyai reseptornya.
17. Moda transmisi penularan
Penularan secara langsung ( Direct )
melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria. Saat menggigit nyamuk mengeluarkan sporosit yang masuk ke peredaran darah tubuh manusia sampai sel-sel hati manusia. Setelah satu sampai dua minggu digigit, parasit kembali masuk ke dalam darah dan mulai menyerang sel darah merah dan mulai memakan haemoglobin yang membawa oksigen dalam darah
Penularan secara tidak langsung (Indirect )
terjadi jika bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Beberapa penularan malaria secara non alamiah antara lain : malaria bawaan (Kongenital) adalah malaria pada bayi baru lahir yang ibunya menderita malaria, penularannya terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Selain itu Transfusion malaria yakni infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama- sama pada pecandu narkoba atau melalui transplantasi organ.
18. Course of infection / patofisiologi penyakit meliputi :
a. Incubation period :
Masa tunas dapat berbeda – beda, antara 9 sampai 40 hari, dan ini menggambarkan waktu antara gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit dan permulaan gejala klinis. Selain itu, masa tunas infeksi P. vivax dapat lebih panjang dari 6 sampai 12 bulan atau lebih. Infeksi P. malariae dan P. ovale sampai bertahun – tahun. Karena itu di daerah beriklim dingin infeksi P. vivax yang didapati pada musim panas atau musim gugur, mungkin tidak menimbulkan penyakit akut sampai musim semi berikutnya. Malaria klinis dapat terjadi berbulan – bulan setelah obat – obatan supresif dihentikan. Serangan pertama pada malaria akut terdiri atas beberapa serangan dalam waktu 2 minggu atau lebih yang diikuti oleh masa laten yang panjang, dan diselingi oleh relaps pada malaria menahun. Serangan demam ini berhubungan dengan penghancuran sel darah merah yang progresif, badan menjadi lemah , dan limpa membesar. Tipe jinak biasanya disebabkan olehP. vivax, P. malariae atau P. ovale. Tipe ganas terutama disebabkan oleh P. falcifarum.
b. Prodromal period :
Dalam periode prodromal yang berlangsung satu minggu atau lebih, yaitu bila jumlah parasit di dalam darah sedang bertambah selama permulaan siklus aseksual, tidak tampak manifestasi klinis yang dapat menentukan diagnosis. Gejala dapat berupa perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi. Demam tiap hari atau tidak teratur, mungkin sudah ada. Di daerah non-endemi diagnosis pertama seringkali ialah influenza. Serangan permulaan atau pertama sangat khas oleh karena adanya serangan demam intermiten yang berulang – ulang pada waktu berlainan : 48 jam untuk P. vivax, P. ovale, P falcifarum dan 72 jam untuk P. malariae. Waktu yang sebenarnya pada berbagai strain P. vivax berbeda – beda dari 43,6 jam sampai 45,1 jam. Serangan mulai dengan stadium dingin atau rigor yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada waktu itu penderita menggigil, walaupun suhu badannya lebih tinggi dari normal. Kemudian menyusul stadium panas yang berlangsung lebih lama dan kulit penderita manjadi kering serta panas, muka menjadi merah, suhu mencapai 39o – 41oC, nadi cepat dan penuh, kepala pusing, mual, kadang – kadang muntah, dan pada anak kecil timbul kejang – kejang. Kemudian penderita berkeringat banyak, suhu badan turun, sakit kepala hilang, dan dalam waktu beberapa jam penderita menjadi lelah. Serangan demam biasanya berlangsung 8 sampai 12 jam, dan pada infeksiP. falcifarum berlangsung lebih lama.
c. Fastigium period :
Gejala yang timbul menjadi bertambah berat dengan timbulnya komplikasi seperti sakit kepala yang sangat hebat, mual, muntah, diare, batuk berdarah, gangguan kesadaran, pingsan, kejang, hemiplegi
d. Defervesence period :
e. Defection :

19. Web of causation

Nyamuk Anopheles yang membawa plasmodium

Menggigit manusia sehat

Mengalami masa inkubasi di dalam tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari). Akan muncul gejala mendadak berupa demam, pusing, mialgia, hilang nafsu makan, mual, muntah dan rash pada kulit

Fase viremia.

Terjadi Malaria

Digigit nyamuk Anopheles baru

Setelah mengalami masa inkubasi ekstrinsik selama 8-10 hari, kelenjar ludah nyamuk yang bersangkutan mengandung Plasmodium

Virus yang siap ditularkan kepada orang lain melalui luka gigitan (ketika menggigit, nyamuk mengeluarkan ludah yang mengandung Plasmodium ke dalam luka gigitan

Siklus Malaria

 

 
5. PENYAKIT AVIAN INFLUENZA
Avian influenza adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas.

1. Agen biologic : Virus Influenza tipe A (H5N1).
2. Agen kimia : -
3. Agen nutrisi : -
4. Agen mekanik : -
5. Agen fisika : -
6. Karakter agen biologic tentang viabilitas :
Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati pada pemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine
7. Host :
Host untuk virus H5N1 ini adalah, untuk dibahas adalah pada manusia terlebih dahulu :
• Jenis kelamin
Dari catatan statistik untuk kedua jenis kelamin masih berpeluang sama besar menderita flu burung.karena belum ada pelaporan lebih lanjut
• Umur
Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat. Padahal, penyakit ini belum ada obatnya. Penderita hanya akan diberi untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit flu itu, seperti demam, batuk atau pusing. Obat-obatan itu hanya meredam gejalanya, tapi tidak mengobati.
• Kekebalan
Kekebalan disini adalah bentuk vaksinasi yang diberikan kepada orang-orang yang sangat berpotensi terkena virus H5N1 ini.
8. Reservoir :
Manusia dan burung
9. Tipe reservoir pada manusia :
Convalescent carriers
10. Lingkungan fisik :
Lingkungan yang berdekatan dengan peternakan Unggas sehingga berpotensi lebih besar dalam menulari manusia
11. Lingkungan biologic :
Virus H5N1 yang menjangkiti unggas
12. Lingkungan sosio-ekonomik :
Bisa menyerang segala lapisan social masyarakat.
13. Portal of exit :
Kontak langsung dan Hidung
14. Mode of transmission :
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan berbagai jenis unggas terinfeksi, maupun tidak langsung. Maksudnya selain karena menyentuh unggas, ayam, burung dan sebagainya secara langsung, penularan dapat terjadi melaui kendaraan yang mengangkut binatang. Dikandangnya dan alat – alat peternakan (melalui pakan ternak).
Penularan juga dapat terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit, dan pada saat jual beli ayam hidup dipasar serta berbagai mekanisme lain.Penularan dari unggas kemanusia, pada dasarnya berasal dari unggas yang sakit masih hidup dan menular. Unggas yang sudah dimasak tidak akan menularkan flu burung kemanusia sebab virus itu akan mati dengan pemanasan 80°C lebih dari satu menit. Semakin meningkat suhu akan semakin cepat mematikan virus.
15. Portal of entry :
Sistem pernapasan
16. Susceptible host :
Pejamu yang suspect dan berisiko adalah orang yang bekerja pada bidang peternakan karena mereka bersentuhan langsung dengan Unggas
17. Moda transmisi penularan :
Bentuk penularan Avian Influenza dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
18. Course of infection:
a. Incubation Period:
Masa inkubasi rata-rata adalah 3 hari (1-7 hari). Masa penularan pada manusia adalah 1 hari sebelum, sampai 3-5 hari setelah gejala timbul dan pada anak dapat sampai 21 har
b. Prodormal Period :
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala. Seseorang yang menderita demam dengan suhu > 38oC disertai satu atau lebih gejala di bawah ini : batuk ,sakit tenggorokan ,pilek sesak napas dan risiko ontak erat (dalam jarak 1 meter), seperti merawat, berbicara atau bersentuhan dengan pasien suspek, probabel atau kasus H5N1 yang sudah konfirmasi. Terpajan (misalnya memegang, menyembelih, mencabuti bulu, memotong, mempersiapkan untuk konsumsi) dengan ternak ayam, unggas liar, bangkai unggas atau terhadap lingkungan yang tercemar oleh kotoran unggas itu dalam wilayah di mana infeksi dengan H5N1 pada hewan atau manusia telah dicurigai atau dikonfirmasi dalam bulan terakhir.
c. Fastigium period :
Dengan gejala pilek, sakit kepala, nyeri otot, infeksi selaput mata, diare atau gangguan saluran cerna. Bila ditemukan gejala sesak menandai terdapat kelainan saluran napas bawah yang memungkinkan terjadi perburukan. Jika telah terdapat kelainan saluran napas bawah akan ditemukan ronki di paru dan bila semakin berat frekuensi pernapasan akan semakin cepat.
d. Defervescence period:
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang
e. Convalescence:
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
19. Buatlah web of causationnya

 

 
6. HEPATITIS C

1. Agen Biologi
Virus Hepatitis C (HCV)
2. Agen Kimia
Obat-obatan
3. Agen Nutrisi
4. Agen Mekanik
5. Agen Fisika
6. Karakter Agen Biologik tentang Viabilitas
• VHC tersusun sebagai RNA untai tunggal.
• Siklus hidup virus sebagai yang dari virus hepatitis C (HCV) sepenuhnya bergantung pada infrastruktur sel inang, mengandaikan bahwa virus telah berevolusi mekanisme untuk memanfaatkan dan mengendalikan semua molekul seluler atau jalur yang dibutuhkan untuk siklus hidup virus. HCV memanfaatkan jalur sinyal dari tuan rumah dengan dampak besar pada pertumbuhan sel, viabilitas, siklus sel atau metabolisme sel, seperti epidermal reseptor faktor-sinyal dimediasi pertumbuhan, kaskade PI3K/Akt atau keluarga kinase Src.
• Tahan terhadap pasteurisasi, asam, dan desinfektan.
7. Host
Manusia
8. Reservoir
Manusia
9. Tipe Reservoir Pada Manusia
• Chronic carriers
Carriers bisa berubah menjadi chronic carriers apabila terus sebagai reservoir walaupun telah melalui tahap pemulihan nyata dari penyakit. Kira-kira setengah dari kasus HCV akut menjadi carrier kronis.
10. Lingkungan Fisik
• Kelembaban dan suhu udara mempengaruhi viabilitas HCV.
11. Lingkungan Biologik
12. Lingkungan Sosio-Ekonomi
• Masyarakat menengah kebawah memiliki kesulitan finansial untuk mengakses pelayanan kesehatan dan sulit untuk memenuhi gizi seimbang sehingga status gizinya rendah menyebabkan sistem imunitas menjadi lemah terhadap serangan penyakit.
• Kurangnya pengetahun tentang hepatitis C, baik secara penularan maupun pencegahan.
• Jenis pekerjaan berpengaruh pada saat host terkena paparan ditempat kerja misalnya perawat, maupun dokter yang sedang menangani pasien hepatitis dapat tertular HCV saat di lingkungan kerjanya.
13. Portal Of Exit
• Darah
Penyebaran virus ini melalui darah, dapat melalui jalan tranfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, misal pada pengguna narkoba suntik, transplantasi organ. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual, namun kemungkinannya kecil, namun memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti dapat meningkatkan resiko infeksi. Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui kecelakaan kerja, misalnya pada petugas kesehatan yang terkena darah / cairan tubuh yang terkontaminasi virus. Lebih dari 50% kasus hepatitis C ditransmisikan melalui penggunaan obat-obatan suntik / injeksi.
14. Mode of transmission
• Virus ini ditransmisikan secara parenteral.
15. Portal Of Entry
• Darah
Infeksi ini terutama diperoleh melalui kontak melalui kulit yang rusak dengan darah menular (sering melalui berbagi peralatan yang terkontaminasi kalangan pengguna narkoba suntikan)
16. Susceptible Host
• Individu yang memiliki sistem imun rendah dan berada di lingkungan yang buruk. Kelompok individu yang beresiko, antara lain :
– Orang yang menerima transfusi darah
– Orang yang melakukan transplantasi organ
– Orang yang bekerja dalam bidang kesehatan, misalnya dokter dan perawat
– Orang yang memakai narkotika dan meminum alkohol
– Orang menggunakan peralatan pribadi bersama-sama yang terpapar darah, misalnya alat cukur dan tusuk gigi.
17. Model transmisi penularan
• Injeksi penggunaan narkoba
Mereka yang saat ini menggunakan atau telah menggunakan narkoba suntikan sebagai rute pengiriman mereka untuk obat akan meningkatkan risiko untuk mendapatkan hepatitis C karena mereka mungkin berbagi jarum atau kepemilikan obat lain (termasuk kompor, kapas, sendok, air, dll), yang mungkin terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HCV.
• Produk darah
transfusi darah, produk darah, atau transplantasi organ sebelum pelaksanaan skrining HCV (di AS, ini akan mengacu pada prosedur sebelum 1992) merupakan faktor risiko penurunan untuk hepatitis C.
• Medis atau gigi paparan iatrogenik
Orang bisa terkena HCV melalui memadai atau peralatan medis atau gigi tidak benar disterilkan. Peralatan yang mungkin pelabuhan darah yang terkontaminasi jika benar disterilkan termasuk jarum suntik, peralatan hemodialisis, instrumen kebersihan mulut, dan udara jet senjata, dll menggunakan teknik sterilisasi teliti sesuai dan pembuangan yang tepat dari peralatan yang digunakan dapat mengurangi risiko pajanan terhadap HCV untuk iatrogenik hampir nol.
• Pemaparan darah
Tenaga medis dan gigi, responden pertama (misalnya, petugas pemadam kebakaran, paramedis, teknisi medis darurat, aparat penegak hukum), dan personil pertempuran militer dapat terkena HCV melalui paparan disengaja untuk darah melalui needlesticks disengaja atau berhamburan darah ke mata atau luka terbuka. Kewaspadaan universal untuk melindungi eksposur disengaja seperti secara signifikan mengurangi risiko pajanan terhadap HCV.
• Rekreasi “paparan dengan darah”
Hubungi olahraga dan kegiatan lainnya, seperti “menari slam” yang dapat mengakibatkan kecelakaan darah-ke-darah merupakan sumber paparan potensial dari paparan HCV.
• Seksual paparan
Transmisi seksual HCV dianggap langka. Studi menunjukkan risiko penularan seksual di heteroseksual, hubungan monogami sangat jarang atau bahkan nol. CDC tidak merekomendasikan penggunaan kondom antara jangka panjang pasangan diskordan monogami (di mana satu pasangan adalah positif dan lainnya negatif). Namun, karena prevalensi hepatitis C tinggi, risiko ini kecil dapat diterjemahkan ke dalam sejumlah non-sepele kasus ditularkan melalui rute seksual. Seks penetratif vagina diyakini memiliki risiko rendah penularan dari praktek-praktek seksual yang melibatkan tingkat yang lebih tinggi trauma mukosa dubur kelamin (seks penetratif dubur, fisting, penggunaan mainan seks).
• Tubuh “tindik atau tato”
Pewarna tato, pot tinta, stylets dan menusuk mengimplementasikan dapat mengirimkan darah yang terinfeksi HCV dari satu orang ke orang lain jika teknik sterilisasi yang tepat tidak diikuti. Tato atau tindik dilakukan sebelum pertengahan 1980-an, “bawah tanah,” atau non-profesional menjadi perhatian khusus karena teknik steril dalam pengaturan tersebut mungkin telah cukup untuk mencegah penyakit.
• Bersama “barang-barang perawatan pribadi”
Barang-barang perawatan pribadi seperti pisau cukur, sikat gigi, gunting kutikula, dan peralatan lainnya manicuring atau pedicuring dapat dengan mudah terkontaminasi dengan darah. Berbagi item seperti berpotensi dapat menyebabkan paparan HCV. Hati-hati yang tepat harus diambil mengenai kondisi medis yang menyebabkan pendarahan seperti sariawan, luka dingin, dan segera setelah flossing. HCV”tidak”menyebar melalui kontak biasa seperti berpelukan, berciuman, atau berbagi makan atau peralatan masak.
• Transmisi vertikal
Penularan vertikal mengacu pada transmisi penyakit menular dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya selama proses kelahiran. Ibu-ke-bayi penularan hepatitis C telah dijelaskan dengan baik, tetapi relatif jarang terjadi. Penularan terjadi hanya di antara wanita yang RNA HCV positif pada saat pengiriman, risiko penularan dalam pengaturan ini adalah sekitar 6 dari 100. Di antara wanita yang baik HCV dan HIV positif pada saat persalinan, risiko penularan HCV meningkat menjadi sekitar 25 dari 100.
Risiko penularan vertikal HCV tidak”tidak”tampaknya terkait dengan metode pengiriman atau menyusui.
• Transfusi darah.
Virus Hepatitis C adalah virus yang terkandung dalam darah, sehingga virus ini menyebar/menular melalui darah atau produk-produk darah. Cara penularannya melalui luka tusuk jarum suntik yang tercemar Hepatitis C.
• Pemakaian jarum suntik
Persis seperti penularan HIV, kelompok yang paling rentan terkena hepatitis C adalah pemakai narkoba suntik, tindik atau tato.
• Pemakaian bersama alat perawatan tubuh
Hal ini sering luput dari perhatian banyak orang karena dianggap remeh. Padahal alat ini sangat mungkin menyebabkan luka dan berdarah yang menjadi media penularan hepatitis C. Contoh alat perawatan tubuh adalah silet cukur, sikat gigi, dan gunting kuku.
• Hubungan seksual
Kemungkinannya sangat kecil bila Anda setia pada pasangan. Risiko penularan ini terjadi pada Anda yang suka berganti-ganti pasangan dan tidak pernah menggunakan alat pengaman saat berhubungan seksual.
• Transplantasi organ
18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period
Masa inkubasi dari waktu terpapar oleh virus sampai timbulnya penyakit. Biasanya masa inkubasi hepatitis C sekitar 15-160 hari. Kebanyakan pasien tidak memiliki gejala pada fase ini.
b. Prodomal period
Fase prodromal dimulai sekitar dua minggu setelah paparan dan di akhiri pada penyakit kuning. Kelelahan, malaise, mual, muntah, batuk, sakit kepala dan demam adalah gejala-gejala yang mendahului terjadinya penyakit kuning. Bau makanan dapat menyebabkan mual, dan perubahan rasa bersamaan menekan keinginan untuk merokok dan minum alkohol. Nyeri perut bagian atas di sisi kanan adalah umum, seperti kehilangan berat 5-10 pound. Selama fase ini, infeksi sangat menular.
c. Fastigium Period
Pada masa fastigium hepatitis C terdapat fase ikhterik yaitu bisa disebut penyakit kuning (jarang terjadi) dimulai urin berwarna kuning tua atau gelap, feses berwarna seperti dempul, warna sclera dan kulit menjadi kuning. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, ikhterik menghilang dan warna feses kembali normaldalam 4 minggu setelah enset.
d. Defervescence Period
e. Convalescence
Selama masa penyembuhan gejala-gejala dan keluhan yang dirasakan kebayakan berkurang atau mulai menghilang, biasayanya penyembuhan hepatitis akut secara sempurna memerlukan waktu sekitar enam bulan. Tetapi banyak terdapat hepatitis akut berubah menjadi penyakit kronik. Selain itu, menurunkan fungsi organ hati dan menurunkan aktivitas seseorang.
f. Defection

 

 

 

 
19. Buatlah web of causationnya !

 

 

7. HEPATITIS A

1. Agen biologi
Penyakit hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis tipe A atau yang lebih dikenal dengan nama HAV yang berasal dari genus Hepatovirus family Picornaviridae, yang mencakup enterovirus dan rhinovirus. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, dan infeksi sitomegalovirus.
2. Agen kimia –
Obat-obatan
3. Agen nutrisi -
4. Agen mekanik -
5. Agen fisika -
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Bukti eksperimental dihasilkan dalam dekade terakhir jelas menunjukkan kemampuan untuk bertahan hidup HAV baik di lingkungan indoor, di tangan manusia, serta di dalam dan pada banyak item makanan. Ini juga telah menunjukkan bahwa transfer dari virus menular dengan mudah dapat terjadi pada kontak biasa antara tangan dan permukaan lingkungan, dan HAV yang relatif tahan terhadap inaktivasi oleh germisida kimia dan kimia lainnya dan fisik agen. HAV sangat stabil, menunjukkan resistensi yang tinggi untuk agen kimia dan fisik seperti panas, asam dan pelarut dan telah ditunjukkan untuk bertahan di lingkungan untuk lebih dari 3 bulan.
7. Host
Host utama untuk virus hepatitis A (HAV) adalah manusia dan beberapa spesies primata non-manusia seperti simpanse, kera, dll.
8. Reservoir
Manusia merupakan satu-satunya reservoir hepatitis A. Jarang terjadi pada simpanse dan primata bukan manusia yang lain.
9. Tipe reservoir pada manusia
Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang akut, berarti tidak menyebabkan infeksi kronis. Sekali seseorang pernah terkena hepatitis A, maka seseorang tersebut tidak dapat terinfeksi lagi. Namun, masih dapat tertular dengan virus hepatitis lain.
10. Lingkungan fisik
Ekskreta dari manusia yang terinfeksi dapat mencemari tanah
atau air. Manusia feses pencemaran dari limbah pembuangan, lindi septic tank dan pembuangan perahu memiliki kontaminasi yang disebabkan dari tempat tidur kerang, rekreasi air, air irigasi dan minum air.
11. Lingkungan biologic
Virus hepatitis tipe A atau HAV dapat bertahan di lingkungan
(segar dan air laut, air limbah, sedimen laut, tanah dan kerang), pada 25°C.
12. Lingkungan sosio-ekonomik -
13. Portal of exit
14. Portal of entry
HAV yang keluar dari tubuh inang, tertanam dalam kotoran inang. Penularan virus ke individu yang sehat berasal dari ketika orang sehat, baik secara langsung atau tidak langsung, melakukan kontak dengan kotoran yang terkontaminasi dan kemudian masuk ke mulutnya. Hepatitis A juga dapat menyebar melalui kontak seksual, baik oral atau anal dengan orang yang terinfeksi.Makanan juga merupakan salah satu media umum di mana partikel-partikel kotoran yang
15. Mode of transmission:
Dari orang ke orang melalui rute fekal-oral. Virus ditemukan pada tinja, mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat setelah gejala disfungsi hati muncul bersamaan dengan munculnya sirkulasi antibodi HAV dalam darah.
Sumber KLB dengan pola ”Common source”umumnya dikaitkan dengan air yang tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan, termasuk makanan yang tidak dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan baik sebelum dihidangkan; karena mengkonsumsi kerang (cumi) mentah atau tidak matang dari air yang tercemar dan karena mengkonsumsi produk yang tercemar seperti sla (lettuce) dan strawberi. Beberapa KLB di Amerika Serikat dan Eropa dikaitkan dengan penggunaan obat terlarang dengan jarum suntik mauoun tanpa jarum suntik dikalangan para pecandu. Meskipun jarang, pernah dilaporkan terjadi penularan melalui transfunsi darah dan faktor pembekuan darah yang berasal dari donor viremik dalam masa inkubasi.
Cara umum penularan hepatitis A yang terjadi meliputi:
a. Kontak dengan orang yang terinfeksi.
b. Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi (lebih umum pada pria homoseksual).
c. Memakan atau meminum makanan/minuman yang terkontaminasi. Misalnya sandwich, buah-buahan dan jus buah, susu dan produk susu, sayuran, salad, kerang, dan minuman es yang umumnya terlibat dalam wabah. Kontaminasi makanan oleh pekerja yang terinfeksi pada tanaman pengolahan makanan dan restoran juga dapat terjadi.
d. Penggunaan peralatan makan yang terkontaminasi.
e. Menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menempatkan tangan di dekat atau di dalam mulut.
16. Susceptible host
Pada hepatitis A, susceptible host-nya adalah manusia, di mana unsur yang mempengaruhinya adalah faktor genetik, termasuk sistem imunitas dan faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan manusia untuk resisten terhadap infeksi dan juga untuk membatasi patogenisiti.
17. Moda transmisi penularan
Direct dan indirect.
18. Course of infection/patofisiologi penyakit meliputi:
Perjalanan hepatitis akut A dapat dibagi menjadi empat fase klinis:
a. fase inkubasi atau periode praklinis, adalah 15 sampai dengan 50 hari, rata-rata 28-30 hari, di mana pasien tetap asimtomatik meskipun HAV aktif bereplikasi. Dalam fase ini, transmisibilitas virus dapat meningkat pesat.
b. fase prodromal atau preicteric mulai dari beberapa hari sampai lebih dari seminggu, ditandai dengan munculnya gejala seperti kehilangan nafsu makan, kelelahan, nyeri perut, mual dan muntah, demam, diare, urin berwarna gelap dan tinja berwarna pucat.

c. fase icteric, di mana penyakit kuning berkembang di tingkat bilirubin total melebihi 20-40 mg/l. Fase icteric biasanya dimulai dalam waktu 10 hari gejala awal. Demam biasanya membaik setelah beberapa hari pertama setelah ikterus. Viremia berakhir tak lama setelah mengembangkan hepatitis, meskipun tinja tetap dapat menularkan selama 1-2 minggu. Manifestasi ekstrahepatik hepatitis A tidak biasa. Pemeriksaan fisik pasien dengan perkusi dapat membantu untuk menentukan ukuran hati dan mungkin mengungkapkan nekrosis masif. Angka kematian rendah (0,2% dari kasus icteric) dan penyakit akhirnya menyelesaikan. Kadang-kadang, nekrosis hati yang luas terjadi selama 6-8 minggu penyakit. Dalam hal ini, demam tinggi, sakit perut ditandai, muntah, penyakit kuning dan pengembangan ensefalopati hati terkait dengan koma dan kejang, adalah tanda-tanda hepatitis fulminan, menyebabkan kematian pada 70-90% dari pasien. Dalam kasus-kasus kematian ini sangat berkorelasi dengan bertambahnya usia, dan kelangsungan hidup jarang lebih dari 50 tahun usia. Di antara pasien dengan hepatitis B kronis atau C atau penyakit hati yang mendasarinya, yang superinfected HAV, angka kematian meningkat jauh.
d. masa penyembuhan, di mana resolusi penyakit ini lambat, tetapi pasien pemulihan lancar dan lengkap. Kambuh hepatitis terjadi dalam 3-20% dari pasien 4 sampai 15 minggu setelah gejala awal telah diselesaikan. Hepatitis kolestasis dengan tingkat bilirubin yang tinggi bertahan selama berbulan-bulan juga kadang-kadang diamati. Kronis dengan gejala sisa kegigihan infeksi HAV selama lebih dari 12 bulan tidak diamati.
19. Web of causation

 
8. LEPTOSPIROSIS
Menurut WHO, Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang mempengaruhi baik manusia dan hewan. Manusia terinfeksi melalui kontak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi atau dengan lingkungan yang terkontaminasi urin-. Bakteri memasuki tubuh lewat luka atau lecet pada kulit, atau melalui selaput lendir dari hidung, mulut dan mata. Orang-ke-orang transmisi langka.
Pada tahap awal penyakit, gejala termasuk demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri otot, menggigil, kemerahan pada mata, sakit perut, sakit kuning, pendarahan di kulit dan selaput lendir, muntah, diare, dan ruam.
1. Agen Biologi
Leptospira termasuk ke dalam genus Leptospira, family Leptospiraceae, ordo Spirochaetales. Leptospira terdiri dari kelompok leptospira patogen yaitu L. intterogans dan leptospira non-patogen yaitu L. biflexa (kelompok saprofit). Penentuan spesies leptospira saat ini didasarkan pada homologi DNA. Dalam setiap kelompok, organisme menunjukkan variasi antigen yang stabil dan memungkinkan mereka dikelompokkan dalam serotipe (serovar). Serotipe dengan antigen yang umum dikelompokkan dalam serogrup (varietas). Meskipun berlawanan dengan pemakaian umum, contoh penamaan Leptospira yang benar adalah sebagai berikut: serogrup Pomona dari L. interrogans atau L. interrogans var. Pomona, bukan L. Pomona
2. Agen Kimia -
3. Agen Nutrisi -
4. Agen Fisika -
5. Agen Mekanik -
6. Karakter Agen Biologi Tentang Viabilitas
Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup), dengan suhu pertumbuhan optimum antara 28°C-30°C. Leptospira memproduksi katalase dan oksidasi dan tumbuh dalam media sederhana yang diperkaya dengan vitamin-vitamin (vitamin B2 dan B12), asam lemak rantai panjang, dan garam-garam ammonium. Asam lemak rantai panjang dimanfaatkan sebagai satu-satunya sumber karbon dan dimetabolisme oleh oksidasi β.5
7. Host
Pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan pada kedua jenis kelamin (laki-laki/perempuan). Namun demikian, leptospirosis ini merupakan penyakit yang terutama menyerang anak-anak belasan tahun dan dewasa muda (sekitar 50% kasus umumnya berumur antara 10-39 tahun), dan terutama terjadi pada laki-laki (80%).
Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir.
8. Reservoir
Hewan peliharaan dan binatang liar; serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang terinfeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi (pomona), lembu (hardjo), anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi terbukti menjadi tempat hidup bratislava; sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia carnivora juga dilaporkan sebagai reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi hospes alternative, biasanya berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. Hewan-hewan tersebut adalah binatang pengerat liar, rusa, tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa laut). Serovarian yang menginfeksi reptile dan amfibi belum terbukti dapat menginfeksi mamalia, namun di Barbados dan Trinidad dicurigai telah menginfeksi manusia. Pada binatang carrier terjadi infeksi asimtomatik, leptospira ada didalam tubulus renalis binatang tersebut sehingga terjadi leptuspiruria seumur hidup binatang tersebut.
9. Tipe Reservoir Pada Manusia
Leptospirosis termasuk acute clinical cases yakni penyakit yang menginfeksi dan menular dengan periode sangat cepat.
10. Lingkungan Fisik
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25°C, serta pH mendekati neutral (pH sekitar 7); merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.
– Keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah
Keberadaan sungai menjadikannya sebagai media untuk menularkan berbagai jenis penyakit termasuk penyakit leptospirosis. Peran sungai sebagai media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya disebut Water-Borne Infection. Kotoran yang berasal dari hewan dan orang yang mengandung bakteri dan virus dapat dihanyutkan dalam sungai-sungai dan biasa terdapat dalam tanki-tanki tinja di desa dan bisa juga berada di dalam sumur-sumur atau mata air yang tidak terlindungi.
– Keberadaan parit/selokan yang airnya tergenang
Parit/Selokan menjadi tempat yang sering dijadikan tempat tinggal tikus atau wirok serta sering juga dilalui oleh hewan-hewan peliharaan yang lain sehingga parit/selokan ini dapat menjadi media untuk menularkan penyakit leptospirosis. Peran parit/selokan sebagai media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air yang ada di parit/selokan terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira.
– Genangan air
Air tergenang seperti yang selalu dijumpai di negeri-negeri beriklim sedang pada penghujung musim panas, atau air yang mengalir lambat, memainkan peranan penting dalam penularan penyakit leptospirosis. Tetapi di rimba belantara yang airnya mengalir deras pun dapat merupakan sumber infeksi. Biasanya yang mudah terjangkit penyakit leptospirosis adalah usia produktif dengan karakteristik tempat tinggal: merupakan daerah yang padat penduduknya, banyak pejamu reservoar, lingkungan yang sering tergenang air maupun lingkungan kumuh.Tikus biasanya kencing di genangan air. Lewat genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk ke tubuh manusia.
– Sampah
Adanya kumpulan sampah di rumah dan sekitarnya akan menjadi tempat yang disenangi tikus. Kondisi sanitasi yang jelek seperti adanya kumpulan sampah dan kehadiran tikus merupakan variabel determinan kasus leptospirosis. Adanya kumpulan sampah dijadikan indikator darikehadiran tikus.
– Sumber Air
Untuk keperluan sehari-hari, air dapat diperoleh dari beberapa macam sumber diantaranya:
a. Air Hujan
Air hujan merupakan penyubliman awan/uap air menjadi air murni yang ketika turun dan melalui udara akan melarutkan bendabenda yang terdapat di udara. Di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, sebagai dampak fenomena El-Nino menyebabkan curah hujan menjadi tinggi dan menyebabkan banjir. Oleh karena adanya banjir tersebut menyebabkan jumlah kejadian leptospirosis meningkat.
b. Air Permukaan
Air permukaan merupakan salah satu sumber yang dapat dipakai untuk bahan baku air bersih. Dalam menyediakan air bersih terutama untuk air minum, dalam sumbernya perlu diperhatikan tiga segi yang penting yaitu: mutu air baku, banyaknya air baku, dan kontinuitas air baku. Dibandingkan dengan sumber lain, air permukaan merupakan sumber air yang tercemar benar. Keadaan ini terutama berlaku bagi tempat-tempat yang dekat dengan tempat tinggal penduduk. Hampir semua buangan dan sisa kegiatan manusia dilimpahkan kepada air atau dicuci dengan air, dan pada waktunya akan dibuang ke dalam badan air permukaan. Di samping manusia, fauna dan flora juga turut mengambil bagian dalam mengotori air permukaan. Jenis-jenis sumber air yang termasuk ke dalam air permukaan adalah air yang berasal dari: Sungai, Selokan, Rawa, Parit, Bendungan, Danau, Laut, dan sebagainya.
c. Air Tanah
Sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi akan menyerap ke dalam tanah dan akan menjadi air tanah. Sebelum mencapai lapisan tempat air tanah, air hujan akan menembus beberapa lapisan tanah sambil berubah sifatnya.
– Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah
Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan. Jarak rumah yang dekat dengan tempat pengumpul sampah mengakibatkan tikus dapat masuk ke rumah dan kencing di sembarang tempat. Jarak rumah yang kurang dari 500 meter dari tempat pengumpulan sampah menunjukkan kasus leptospirosis lebih besar dibanding yang lebih dari 500 meter.
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25°C, serta pH mendekati neutral (pH sekitar 7); merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.

 

11. Lingkungan Biologi
1.) Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah
Bakteri leptospira khususnya spesies L. ichterrohaemorrhagiae banyak menyerang tikus besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah (Rattus diardii). Sedangkan L.ballum menyerang tikus kecil (mus musculus). Tikus yang diduga mempunyai peranan penting pada waktu terjadi Kejadian Luar Biasa di DKI Jakarta dan Bekasi adalah: R.norvegicus, R.diardii, Suncus murinus dan R.exulat.
2.) Keberadaan hewan peliharaan sebagai hospes perantara
Leptospira juga terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau dan lain-lain maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai dan sebagainya. Di dalam tubuh binatang tadi yang bertindak sebagai hospes reservoar, mikroorganisme leptospira hidup di dalam ginjal/air kemih.
Dari hewan peliharaan dapat diisolasi L. intterogans var. Pomona dan L. intterogans var. Javanica oleh Esseveld dan Colier 1938 kucing di Jawa. Kemudian Mochtar dan Cilier secara serologis menemukan L. intterogans var. Bataviae, L. intterogans var. Javanica, L. intterogans var. Icterohaemorrhagiae dan L. intterogans var. Canicola pada anjing di Jakarta. Hewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda, dan babi dapat ditemukan serovar L. intterogans var. Pomona, juga didapatkan 12 serovar lainnya. Di sebagian besar negara tropis termasuk Negara berkembang kemungkinan paparan leptospirosis terbesar pada manusia karena terinfeksi dari binatang ternak, binatang rumah maupun binatang liar
3.) Banyaknya binatang yang bias terjangkit lepstospirosis
4.) Banyaknya tumbuhan yang beresiko terpajan urin yang terinfeksi
12. Lingkungan Sosio-Ekonomik
1.) Lama Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam penularan penyakit khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang rendah akan membawa ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan masyarakat, akan membawa dampak yang cukup signifikan dalam proses pemotongan jalur transmisi penyakit leptospirosis.
2.) Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting dalam kejadian penyakit leptospirosis. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain: petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan, pekerja pengontrol tikus, tukang sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Faktor risiko leptospirosis akibat pekerjaan yang ditemukan pertama kali adalah buruh tambang. Pekerja-pekerja selokan, parit/saluran air, petani yang bekerja di sawah, ladang-ladang tebu, pekerja tambang, petugas survei di hutan belantara, mereka yang dalam aktivitas pekerjaan selalu kontak dengan air seni (kemih) berbagai binatang seperti dokter hewan, mantri hewan, penjagal di rumah potong, atau para pekerja laboratorium dan sebagainya, merupakan orang-orang yang berisiko tinggi untuk mendapat leptospirosis.2 Dari beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pekerjaan sangat berpengaruh pada kejadian leptospirosis.
3.) Kondisi Tempat Bekerja
Leptospirosis dianggap sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun demikian, cara pengendalian tikus yang diperbaiki dan standar kebersihan yang lebih baik akan mengurangi insidensi di antara kelompok pekerja seperti penambang batu bara dan individu yang bekerja di saluran pembuangan air kotor. Pola epidemiologis sudah berubah; di Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan Israel, leptospirosis yang berhubungan dengan ternak dan air paling umum. Kurang dari 20 persen pasien yang mempunyai kontak langsung dengan binatang; mereka terutama petani, penjerat binatang atau pekerja pemotongan hewan. Pada sebagian besar pasien, pemajanan terjadi secara kebetulan, dua per tiga kasus terjadi pada anak-anak, pelajar atau ibu rumah tangga. Kondisi tempat bekerja yang selalu berhubungan dengan air dan tanah serta hewan dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya proses penularan penyakit leptospirosis. Air dan tanah yang terkontaminasi urin tikus ataupun hewan lain yang terinfeksi leptospira menjadi mata rantai penularan penyakit leptospirosis.
4.) Ketersediaan pelayanan pengumpulan limbah padat
Indikator-indikator kesehatan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi rumah tangga misalnya, penyediaan air bersih, ketersediaan saluran pembuangan limbah, dan pengumpulan limbah padat dan juga karakteristik-karakteristik individu seperti kebiasaan dan perilaku. Semua variabel tersebut dipengaruhi oleh status sosial ekonomi.
5.) Sistem Distribusi Air Bersih dengan Saluran Tertutup
Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup dapat menghambat penularan penyakit leptospirosis dari binatang ke manusia karena apabila pelayanan sistem distribusi air bersih secara tertutup ini tidak tersedia dapat meningkatkan kontaminasi atau pencemaran air yang digunakan untuk konsumsi manusia.
6.) Sistem Pembuangan Limbah dengan Saluran Tertutup
Keberadaan bak pencucian pembuangan kotoran yang terbuka dan keberadaan kotoran dalam rumah dapat meningkatkan gangguan setempat oleh binatang pengerat. Kondisi-kondisi itu juga memberikan kemungkinan kontak baik langsung maupun tidak langsung dengan kotoran hewan yang terkontaminasi.30
7.) Ketersediaan Pengumpulan Limbah Padat
Tidak adanya pelayanan pengumpulan limbah padat menyebabkan akumulasi limbah organik, meningkatkan perkembangbiakan binatang pengerat sehingga memungkinkan terjadinya penularan leptospirosis dari binatang kepada manusia di lingkungan sekitar
8.) Bencana Alam, seperti banjir.
13. Portal Of Exit
Urin, Sekresi, darah, cairan tulang punggung, sel-sel hewan.
14. Mode Transmission
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
– Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease).
– Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.
15. Portal Of Entry
Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi; kadang kadang melalui makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang terinfeksi; dean kadang kadang melalui terhirupnya “droplet” dari cairan yang terkontaminasi.
Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, maka bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati.
16. Susceptible Host
Pada umumnya orang rentan; kekebalan timbul terhadap serovarian tertentu yang disebabkan oleh infeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah pemberian imunisasi tetapi kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari infeksi serovarian yang berbeda.
Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir.
17. Moda Transmisi Penularan
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media.
18. Course Of Infection / patofisiologi penyakit meliputi
a. Incubation Period
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 – 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Infeksi L. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat, Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif.
b. Prodromal Period
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama kalinya muncul tanda-tanda dan gejala.
Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahanotot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati.
c. Fastigium Period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala . Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi. Sebanyak 83 persen penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada L. pomona. Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. Sedangkam L. pomonaatau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis)
Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat pada lanjut usia.
d. Defervescence Period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
Fase penyembuhan terjadi perbaikan klinik yang ditandai pulihnya kesadaran, hilangnya ikterus, tekanan darah meningkat dan produksi urine membaik. Fase ini terjadi pada minggu ke 2-4, sedangkan patogenesis fase ketiga ini masih belum diketahui, demam serta nyeri otot masih dijumpai, yang kemudian berangsur-angsur menghilang.
f. Defection
Defection adalah masa ketika patogen dibunuh atau dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh.

 

19. Buatlah Web Of Causationnya

HIV AIDS

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
1. AGEN BIOLOGI
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah agen biologi penyebab AIDS. Jenis yang paling umum dikenal sebagai HIV-1 dan merupakan agen penular yang telah menyebabkan epidemi AIDS di seluruh dunia. Ada juga HIV-2 yang jauh kurang umum dan kurang virulen, tapi akhirnya menghasilkan temuan klinis yang sama dengan HIV-1. Jenis HIV-1 sendiri memiliki sejumlah subtipe (A sampai H dan O) yang memiliki distribusi geografis yang berbeda tetapi semua AIDS menghasilkan sama. HIV adalah retrovirus yang hanya berisi RNA. Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan orang yang telah terinfeksi menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit yang mengancam hidupnya.
2. AGEN KIMIA
3. AGEN NUTRISI
4. AGEN FISIKA
-
5. KARAKTER AGEN BIOLOGI TENTANG VIABILITAS
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD4. didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh penghisap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut. HIV termasuk dalam famili retrovirus dan subfamily lentivirus. Virus ini berbentuk lonjong, diameter 100 um, terdiri dari inti dan kapsul, inaktif dengan alcohol, pemutih klorine, aldehida, desinfectan, pelarut lemak, detergen, dan pada pemanasan 500C selama 30 menit, resisten dengan radiasi sinarX dan sinar ultraviolet. Sampai saat ini telah ditemukan 2 subtipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. kedua virus tersebut dapat menyebabkan AIDS, namun perjalanan penyakit yang disebabkan oleh HIV-2 berlangsung lebih lama.
HIV menginfeksi sel-sel darah sistem imunitas tubuh sehingga semakin lama daya tahan tubuh menurun dan sering berakibat kematian. HIV akan mati dalam air mendidih/ panas kering (open) dengan suhu 56oC selama 10-20 menit. HIV juga tidak dapat hidup dalam darah yang kering lebih dari 1 jam, namun mampu bertahan hidup dalam darah yang tertinggal di spuit/ siring/ tabung suntik selama 4 minggu. Selain itu, HIV juga tidak tahan terhadap beberapa bahan kimia seperti Nonoxynol-9, sodium klorida dan sodium hidroksida.

6. HOST
Ditinjau dari cara penularannya, kelompok yang berpotensi berperan sebagai host yang terinfeksi HIV/ AIDS adalah pekerja seks komersial dengan pelanggannya, pramuria/ pramupijat, kaum homoseksual, penyalahguna narkoba suntik dan penerima darah atau produk darah yang berulang.
Secara umum menurut data dari teens.drugabuse.gov, remaja pada usia pertengahan & akhir rentan untuk melakukan prilaku yang berbahaya & beresiko tinggi, seperti penyalah gunaan narkotika ataupun hubungan seksual tanpa pengaman. Konsumsi alkohol & narkotika juga dapat meningkatkan kemungkinan untuk melakukan prilaku beresiko lainnya, karena kedua zat tersebut dapat mempengaruhi penilaian & pengambilan keputusan. Selain itu, terlepas dari apakah seorang remaja melakukan penyalah gunaan narkotika atau tidak, melakukan hubungan seksual di luar nikah & tanpa pengaman juga dapat meningkatkan resiko mereka untuk terinfeksi HIV.

7. RESERVOIR
Reservoir merupakan habitat tempat agen infeksius biasa hidup, tumbuh dan memperbanyak diri dan berperan sebagai sumber penularan atau sumber infeksi. Dari sumber infeksi inilah kemudian penyakit itu menular kepada orang lain.
Pada penyakit AIDS yang menjadi sumber infeksi adalah Human reservoir(manusia) yang mengandung virus HIV dalam tubunhya yang sewaktu-waktu dengan cara tertentu dapat menular kepada orang lain.

8. TIPE RESERVOIR PADA MANUSIA

Human reservoir dapat berupa:

- orang sakit dengan gejala-gejala yang jelas (kasus klinis)
– orang sakit dengan gejala-gejala yang tidak jelas (kasus sub klinis)
– Karier, yaitu orang yang tidak sakit tetapi tubuhnya mengandung dan mengeluarkan hama penyakit.

9. LINGKUNGAN BIOLOGI
Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. HIV termasuk dalam famili retrovirus dan subfamily lentivirus. Virus ini berbentuk lonjong, diameter 100 um, terdiri dari inti dan kapsul, inaktif dengan alcohol, pemutih klorine, aldehida, desinfectan, pelarut lemak, detergen, dan pada pemanasan 500C selama 30 menit, resisten dengan radiasi sinarX dan sinar ultraviolet.

10. LINGKUNGAN SOSIO EKONOMI
Kondisi sosial dan ekonomi berperan dalam penyebaran virus HIV yang harus dihadapkan sebagai elemen penting dalam upaya-upaya lokal dan global untuk membendung penyebarannya dan menciptakan solusi yang efektif untuk menghentikan penyebarannya. Demografi epidemi saat ini menggambarkan bahwa hal ini sangat benar dipengaruhi oleh kondisi-kondisi kehidupan manusia selama masa kanak-kanak.
Dalam hal ini, HIV telah memiliki banyak kesempatan untuk berkembang di antara kondisi manusia yang tragis dipicu oleh kemiskinan, pelecehan, prasangka kekerasan, dan kebodohan. HIV telah berkembang dan dipicu oleh kondisi kemiskinan, pelecehan, prasangka, kekerasan dan kebodohan. Kondisi social dan ekonomi berkontribusi pada kerentanan terhadap infeksi HIV dan mengintensifkan dampaknya, sementara HIV / AIDS menghasilkan dan memperkuat kondisi yang sangat yang memungkinkan epidemi berkembang.
Secara umum, jika dilihat dari segi sosial, penyakit AIDS dihubungkan dengan stigma dan diskriminasi, masyarakat awam menganggap virus HIV dan penyakit AIDS ini dapat menular melalui kontak udara atau kulit yang sehat, penderita juga dianggap lemah dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang normal.
Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa jumlah wanita penderita HIV meningkat secara cepat, dampak epidemik akibat diskriminasi pada wanita dan remaja secara khusus telah diketahui. Pada banyak kasus, wanita yang menderita HIV mungkin banyak yang ditolak oleh keluarga mereka, banyak wanita tidak mau memberitahukan bahwa mereka menderita HIV karena respon buruk dari keluarga dan masyarakat sosial, anak-anak remaja keluar dari sekolah karena takut dikucilkan atau bahkan mungkin di isolasi dari lingkungannya.
11. PORTAL OF EXIT
Portal of exit/Pintu keluar adalah jalan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu keluar/dikeluarkan dari tubuh tuan rumah. Beberapa jenis penyakit infeksi memiliki pintu keluar yang berbeda-beda. Untuk HIV AIDS, portal of exit virus HIV dapat melalui alat kencing dan kelamin . Secara mekanik ; seperti suntikan atau gigitan.

12. MODE TRANSMISSION
HIV/AIDS menular melalui:
• Penggunaan satu jarum suntik secara bergantian/menggunakan jarum bekas. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh virus HIV merupakan risiko utama terkena penyakit HIV/AIDS.
• Hubungan seks berganti-gantian pasangan tanpa menggunakan pengaman/kondom (tidak disarankan hubungan seks dengan cara apapun sebelum terikat pernikahan). Penularan HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara pengeluaran cairan vagina wanita (yang terinfeksi) dengan alat kelamin atau mukosa mulut si pria, begitupun sebaliknya. Hubungan seksual tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual dengan pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral.
• Dari ibu ke anak melalui kelahiran. Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan, serta saat persalinan, yaitu ketika bayi kontak langsung dengan jalan lahir.
• Dari ibu ke anak melalui ASI. ASI pada penderita HIV/AIDS ialah ASI yang terkontaminasi virus HIV, sehingga penularan HIV melalui ASI dari ibu ke anak sangat mungkin terjadi.
13. PORTAL OF ENTRY
Bloodborne pathogens termasuk virus immunodeficiency virus atau HIV yang mematikan manusia, belum ada obatnya. Virus tersebut memasuki tubuh melalui banyak portal masuk. Sebuah portal of entri adalah bagian-bagian badan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu masuk ke dalam tubuh calon penderita. Pintu masuk itu disebut juga pintu infeksi. Patogen yang ditularkan melalui darah membutuhkan host untuk hidup dan dapat mencapai aliran darah dengan banyak metode.
– Needle Sticks
Although unintentional needle sticks are usually limited to health-care workers, anyone can get injured with a sharp, contaminated object. If you are considering getting a tattoo or piercing, or another voluntary needle stick, consider the environment first, as needle sticks can be deadly if contaminated wars osha.gov. Intravenous drug users who share dirty needles are sharing a portal of entry for bloodborne pathogens. Once used, the dirty needle can transmit disease through the skin directly into the bloodstream.
– Gestational Portals
A fetus is directly connected to its mother by umbilical arteries that facilitate transmission of the mother’s blood and nutrients to baby. However, this connection allows for bloodborne illnesses to pass from mother to baby while in utero, during labor, and while breastfeeding, according to the University of California, San Francisco. These portals of entry can be limited with the development of antiviral drugs used during pregnancy, surgical births, and bottle-feeding the infant.
– Open Wounds
Open wounds, including superficial and deep cuts, should be covered with am adhesive bandage or clean dressing at all times. Uncovered wounds are vulnerable portals of entry for potential contact with blood-borne pathogens. This may sound far-fetched, however, public health agencies such as the Indiana Health Department have drawn up guidelines to minimize the risk of transmitting bloodborne pathogens in school sports injuries.
– Mucous Membranes
Mucous membranes line the soft tissues of your mouth, eyes, nose, and lining of the reproductive organs and anus. Designed to absorb liquids and contain moisture, these membranes are easily permeable upon contact with a bloodborne pathogen. HIV, a bloodborne pathogen, is transmitted through mucous membranes during unprotected intercourse due to the potential for contact with blood and body fluids.

14. SUSCEPTIBLE HOST

Susceptible host adalah pejamu yang rentan terinfeksi oleh agen. Pada penularan penyakit AIDS, beberapa kelompok masyarakat yang rentan terkena Infeksi HIV/AIDS, terdapat dalam 2 kelompok :

1. Kelompok resiko tinggi :
a. Wanita Tuna Susila (WTS).
Prostitusi jalanan merupakan media penyebaran HIV/AIDS yang paling cepat, bahkan sebagian besar WTS yang beroperasi di jalanan mengidap penyakit tersebut. WTS mudah tertular virus HIV AIDS karena seringnya berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual, dan cara-cara berhubungan seks yang menyimpang.
b. Karyawati panti pijat, night club, bar dan diskotik. Karyawati nightclub,diskotik, bar dapat tertular HIV ADIS karena perilaku mengkonsumsi narkoba suntik. Biasanya di bar, diskotik dan nightclub menjadi tempat transaksi dan suntik narkoba, jadi dalam penggunaan jarum suntik yang berganti-ganti saat memakai narkoba tanpa sterilisasi yang membuat rentan tertular virus HIV AIDS.
c. Waria.
Waria merupakan salah satu populasi kunci yang beresiko tinggi terjangkit penyakit HIV/AIDS. Penerimaan masyarakat dan sulitnya mendapat identitas menjadi bebepara faktor yang menyebabkan mereka memilih untuk turun ke jalan dan bersinggungan dengan HIV/AIDS. Terbatasnya lahan kerja juga membuat banyak waria terpaksa melakukan pekerjaan yang rentan penyakit yang menyerang imun tubuh tersebut. Waria yang ada disekeliling kita biasanya dilabeli dengan label pekerja seks komersial. Dan memang beberapa waria menjadi pekerja seks komersial karena himpitan ekonomi, dank karena hal itulah waria yang berganti-ganti pasangan seks mudah tertular HIV ADIS.
d. Narapidana.
Kebanyakan para nara pidana yang mengidap HIV/AIDS barasal dari kasus narkoba. Tingginya para narapidana maupun para tahanan yang meninggal karena penyakit HIV/AIDS diakibatkan karena kurangnya kesadaran pengobatan terhadap pada penderita. Narapidana ini merupakan pengguna narkoba suntik yang mana jarum suntiknya dipakai bersama-sama tanpa sterilisasi, sehingga mudah sekali tertular HIV AIDS.
e. Kelompok gay. Gay rentan terkena virus HIV karena perilaku seks yang menyimpang, karena berhubungan dengan sesama jenis dan tanpa kondom ketika berhubungan seks.
f. Penderita penyakit menular seksual.
2. Kelompok resiko rendah :
a. Donor darah.
Dengan merebaknya kasus HIV/AIDS, seharusnya prosedur pendonoran darah lebih diperketat. Pengujian darah sebelum didonorkan muntlak dilakukan agar tidak merugikan pihak penerima. Namun sayangnya selama ini prosedur yang digunakan terkesan masih sangat seadanya. Petugas yang mengambil hanya melakukan tes untuk mengetahui golongan darahnya.
b. Ibu hamil.
Ibu hamil yang mengidap penyakit HIV/AIDS belum tentu menularkan penyakitnya ke bayi yang sedang dikandungnya. Untuk mengurangi resiko bayi yang dilahirkan agar tidak tertular penyakit HIV/AIDS dari ibu hamil dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
• Dengan menggunakan obat antiretroviral (ARV ) pada saat kehamilan dan pasca melahirkan
• Persalinan dilakukan dengan operasi Cesar
• Memberikan susu formula kepada bayi, karena ASI berpotensi besar menularkan HIV/AIDS
c. Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Calon TKI yang berperilaku sehat dalam seks tentunya akan terhindar dari HIV AIDS. Dan bukan menjadi kelompok yang menularkan virus mematikan ini.
d. Pelajar/mahasiswa.
Pelajar dan mahasiswa yang tidak melakukan seks bebas dan narkoba suntik akan terhindar dari penularan HIV AIDS. Gaya hidup yang sehat akan membuat orang suakr terkena dan terifeksi virus HIV AIDS.
15. COURSE OF INFECTION/PATOFISIOLOGI PENYAKIT MELIPUTI:
– INCUBATION PERIOD
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat tedeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

- PODROMAL PERIOD
Penderita mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebalan tubuhnya menurun/ lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani uji antibody HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang beresiko terkena virus HIV.

- FASTIGIUM PERIOD
Pada tahap ini penderita sudah tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk serta nyeri dada. Penderita mengalami jamur pada rongga mulut dan kerongkongan.
Terjadinya gangguan pada persyarafan central mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada sistem persyarafan ujung (peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang selalu mengalami tensi darah rendah dan impotent.
– DEFERVESCENSE PERIOD
Pada fase ini didalam tubuh terdapat HIV namun penderita tidak menunjukkan gejala apapun, tetapi jika dilakukan tes antibody hasilnya sudah menunjukkan positif. Fase ini berlangsung selama 1 sampai 6 bulan. Pada fase ini penderita mengalami perubahan patologi seperti sindrom retroviral akut berupa pembesaran kelenjar, pembesaran hati atau ginjal, nyeri otot, nyeri tenggorokan dan sebagainya seeprti pada infeksi virus lain.

- DEFECTION
Fase ini merupakan fase terakhir dari perjalanan penyakit AIDS pada tubuh penderita. Fase akhir dari penderita penyakit AIDS adalah meninggal dunia
– WEB CAUTION

 

10. CHIKUNGUNYA

Chikungunya adalah penyakit virus nyamuk, pertama kali dijelaskan selama wabah di Tanzania selatan pada tahun 1952. Ini adalah virus dari Togaviridae keluarga. Nama ‘chikungunya’ berasal dari akar kata kerja bahasa Kimakonde, yang berarti “untuk menjadi berkerut” dan menggambarkan penampilan bungkuk pasien dengan nyeri sendi. Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki.

1. Agent biologik
Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
2. Agent kimia
-
3. Agent nutrisi
-
4. Agent Fisika
-
5. Agent mekanik
-
6. Karakter agen biologi tentang viabilitas
Meskipun CHIKV ditunjukkan baru-baru ini yang bertahan di myoblasts, monosit dan makrofag, kami berpendapat bahwa mekanisme antivirus yang kuat, termasuk apoptosis, sangat penting untuk menangkal virus. Saat ini, kami menguji kemampuan CHIKV untuk memobilisasi mesin apoptosis pada sel HeLa dan fibroblast primer, menggunakan inhibitor caspase berbagai, blebbing sel dan rendondeadas terlibat di tetangga sel apoptosis. CHIKV memicu apoptosis melalui jalur intrinsik dan ekstrinsik. Virus ini berkembang apabila di kondisi iklim tropis dan subtropis
7. Host
Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan nyamuk (Aedes aegypti Aedes albopictus), tetapi host yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia. Beberapa factor host yang mempengaruhi penularan penyakit chikungunya adalah :
8. RESERVOIR
Nyamuk aedes albopictus dan aedes aeygypti, monyet, dan binatang liar.
9. Tipe Reservoir
Convalescent carriers
10. Lingkungan fisik
a. Kepadatan penduduk
b. Tempat bertelur
11. Lingkungan biologik
a. adaptasi genetik nyamuk aedes
b. jarak antara aedes albopictus dan aedes aeygypti dengan manusia
c. virus Chikungunya (CHIKV)
12. Lingkungan sosio-ekonomik
Hal – hal yang mempengaruhi dalam segi sosio – ekonomi ialah :
a. Kepadatan penduduk
Hal ini terkait dengan tingkat penyebaran yang akan semakin besar dan berpotensi menjadi KLB karena jumlah penderitanya akan semakin banyak, karena berdempetan.
b. Bencana alam
Ini membuat ketimpangan antara ketersediaan pelayanan kesehatan dan kebutuhan warga akan pelayanan. Karena biasanya dalam kondisi ini semua pelayanan kesehatan serba terbatas. Hal ini ditakutkan akan terjadi penanganan kasus chikungunya yang tidak maksimal.
c. Kemiskinan
Orang yang berekonomi rendah cenderung mempunyai resiko terkena penyakit chikungunya yang tinggi karena asupan energi dan tindakan preventif yang cenderung lebih rendah dibanding yang memiliki ekonomi tinggi.
d. Pendidikan
Orang yang pendidikannya lebih rendah cenderung lebih beresiko dikarenakan pengetahuannya dalam menghadapi penyakit ini masih kurang.
e. Mobilitas
Semakin sering berpergian ke suatu daerah yang masih terdapat banyak angka kejadian chikungunya, maka semakin memperbesar seseorang terkena penyakit tersebut.

13. Portal of exit
Gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi virus Chikungunya (CHIKV).
14. Mode of transmission
Direct : Gigitan
Indirect : –
15. Portal of entry
Gigitan nyamuk
16. Susceptible host
Kelompok darah Rh-positif semua orang rentan terhadap Chikungunya. Di antara golongan darah ABO kelompok O + ve orang lebih rentan terhadap golongan darah chikungunya lainnya. Tidak ada kelompok Rh-negatif darah dipengaruhi oleh chikungunya, kata Rh – lihat lebih tahan chikungunya. Risiko untuk menjadi sakit paling tinggi pada usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak dan risiko meningkat lagi pada usia adolesen dan dewasa muda, usia tua dan pada penderita dengan kelainan system imunitas. Reaktivasi dari infeksi laten yang berlangsung lama sebagian besar terjadi pada penderita yang usianya lebih tua.
17. Moda transmisi penularan
Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Umumnya, nyamuk Aedes aegypti yang terlibat dan Aedes albopictus, dua spesies yang lain juga dapat menularkan virus nyamuk, termasuk berdarah. Gigitan nyamuk ini dapat ditemukan di seluruh siang hari, walaupun mungkin ada puncak aktivitas di pagi dan sore. Kedua spesies tersebut ditemukan menggigit luar rumah namun Ae. aegypti juga makan di dalam ruangan dengan mudah. Nyamuk terinfeksi virus chikungunya dengan memberi makan pada orang yang terinfeksi. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menularkan virus ke manusia lain ketika mereka menggigit. Monyet dan binatang liar lainnya mungkin juga dapat berfungsi sebagai reservoir virus. Aedes aegypti, wadah rumah tangga peternak dan penggigit siang hari agresif yang tertarik pada manusia, adalah vektor utama virus chikungunya ke manusia. Aedes albopictus (Asia harimau nyamuk) juga telah memainkan peran dalam penularan dari manusia adalah Asia, Afrika dan Eropa. Beberapa spesies nyamuk di sekitar hutan di Afrika telah terinfeksi virus.

18. Course of infection atau patofisiologi penyakit yang meliputi :
a. Incubation period :
Masa inkubasi (waktu dari infeksi penyakit) bisa 2-12 hari, tetapi biasanya adalah 3 sampai 7 hari. Mulai terhitung saat nyamuk pembawa virus chikungunya mengigit calon penderita.
b. Prodromal period :
Setelah masa inkubasi 3-12 hari gejala berikut adalah demam tinggi berlangsung selama dua hari dan katanya bisa mengurangi nyeri sendi secara tiba-tiba mereka serius dan sering melumpuhkan petechiae – kecil berwarna merah bintik-bintik pada kulit ungu dan ruam kemerahan pada umumnya menyedihkan ekstremitas dan sakit kepala tubuh bagian atas terkait infeksi di mata masalah kelemahan sensitivitas cahaya yang parah tidur untuk jangka waktu variabel dari 5 sampai 7 hari setelah munculnya gejala pertama. Setelah masa inkubasi ada tiba-tiba mengalami flu seperti gejala termasuk sakit kepala parah, menggigil, demam (> 40 ° C, 104 ° F), nyeri mual, dan muntah sendi . Extermities sendi menjadi bengkak khususnya dan menyakitkan untuk disentuh. Kadang-kadang ruam mungkin terjadi. Perdarahan jarang terjadi, dan semua tetapi beberapa pasien sembuh dalam 3 sampai 5 hari. Beberapa mungkin menderita sakit sendi selama berbulan-bulan. Anak-anak mungkin menampilkan gejala-gejala neurologis.
c. Fastigium period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
d. Defervescence period
Masa defervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.
e. Convalescence
Tidak ada vaksin atau pengobatan antivirus spesifik yang tersedia saat ini untuk demam chikungunya. Pengobatan simtomatik dan mungkin termasuk obat-obat untuk meredakan gejala demam dan nyeri, seperti ibuprofen, naproxen, asetaminofen, cairan dan istirahat. Aspirin harus dihindari. Orang yang terinfeksi harus dilindungi dari paparan nyamuk lebih lanjut (tinggal di dalam rumah di daerah dengan layar atau di bawah kelambu) selama hari-hari pertama sakit sehingga Anda tidak dapat berkontribusi pada siklus penularan. ntibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat. Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

 

 

19. Web of Causation dari chikungunya

 

 

 

REFERENSI

1. Prawoto. 2008. Faktor – Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Terjadinya Reaksi Kusta ( Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Brebes ). Semarang: Magister Epidemiologi UNDIP

http://eprints.undip.ac.id/17745/2/PRAWOTO.pdf

2. Hiswani. 2001. Kusta Salah Satu Penyakit Menular yang Masih di Jumpai Di Indonesia. Medan: Fakultas Kedokteran USU

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3663/1/fkm-hiswani2.pdf

3. Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. Medan: Fakultas Kedokteran USU

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf

4. DITJEN PP&PL. 2010. Info Penyakit Menular.

http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=16&menuType=1&SubID=2&DetId=452

5. Timmreck, Thomas C. 2005. Epidemiologi: Suatu Pengantar, E/2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
6. Chin, James. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Terjemahan : Dr. I Nyoman Kandun, MPH.

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/01/03/epidemiologi-penyakit-malaria/

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2090636-pendekatan-epidemiologi-faktor-risiko-penyakit/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20325/4/Chapter%20II.pdf

http://www.ikatanapotekerindonesia.net/articles/pharmacy-newsflash/443-apakah-malaria-itu-.html

http://www.sobatsehat.com/communicable-disease/mengenal-penyakit-malaria-plasmodium-gejala-penularan-dan-pencegahannya/

http://books.google.co.id/books?id=FptaH_WZ2jAC&pg=PA126&lpg=PA126&dq=physical+environment+of+chikungunya&source=bl&ots=bF0tW4fJxP&sig=e43wUcyHS8aSYHsJOb8FwohcO6I&hl=id&ei=HkSYTpCfEouQiAf6lvirAg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBwQ6AEwAA#v=onepage&q=physical%20environment%20of%20chikungunya&f=false

http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=3011

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs327/en/

http://www.phac-aspc.gc.ca/lab-bio/res/psds-ftss/chikungunya-eng.php

http://www.fasebj.org/content/25/1/314.abstract

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20881210

http://www.virologyj.com/content/6/1/77

http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/Chikungunya/CH_FactSheet.html

http://www.cbwinfo.com/Biological/Pathogens/CHIK.html

http://www.medindia.net/alternativemedicine/homeopathy/Chikungunya_symptoms.htm

http://tipsku.info/penyebab-penyakit-liver/

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.who.int/vaccines/en/hepatitisa.shtml

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.arphs.govt.nz/notifiable/downloads/Fact%20sheet%20NZFSA%20%20hepatitis-A.pdf

http://www.ehow.com/howdoes_5367406_hepatitistransmitted.html

Basic epidemiological methods and biostatistics: a practical guidebook
Oleh Randy M. Page,Galen E. Cole,Thomas C. Timmreck

http://www.who.int/csr/disease/hepatitis/whocdscsredc2007/en/index3.html

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs164/en/

http://www.medicinenet.com/hepatitis_c/article.htm

http://www.drhoffman.com/page.cfm/622

http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/hepatitisc.htm

http://books.google.co.id/books?id=N6kNSiMqgoQC&pg=PA8&lpg=PA8&dq=fase+p mulihan+hepatitis+c&source=bl&ots=QfNSkcSs0J&sig=lhD7qOViD5ebVoAq0ZEdWqcpcL0&hl=id&ei=mqiVTq2-DcTprQerg-2oBg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=8&ved=0CEYQ6AEwBw#v=onepage&q&f=false

http://www.abclab.co.id/?p=792

http://www.news-medical.net/health/What-is-the-Hepatitis-C-Virus-%28Indonesian%29.aspx

http://www.who.int/topics/leptospirosis/en/

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: