RSS

Author Archives: rudiskes

About rudiskes

saya adalah seorang dosen bertugas di STIkes Sintang Kalbar

RENCANA DAN EVALUASI KONSELING HIV/AIDS

TUGAS RENCANA DAN EVALUASI KESEHATAN

RENCANA DAN EVALUASI KONSELING HIV/AIDS


DISUSUN OLEH: Rudiansyah

 


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 1.    PENGERTIAN DAN KEGIATAN VCT

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV dan AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV dan AIDS.

 

Peran Konseling dan Testing Sukarela (VCT)

  1. Layanan VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien pada saat klien mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif maupun negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses untuk terapi suportif, terapi infeksi oportunistik, dan ART.
  2. VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih,menggali dan memahami diri akan risiko infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV dan AIDS, mempelajari status dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku berisiko dan mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain guna mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.
  3. c.    Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksaan dan tekanan, segera setelah klien memahami berbagai keuntungan, konsekuensi, dan risiko. Konseling dan tes HIV sukarela yang dikenal sebagai Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat sebagai pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV dan AIDS berkelanjutan.

Program VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien dengan memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif maupun negatif. Layanan ini termasuk pencegahan primer melalui konseling dan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) seperti pemahaman HIV, pencegahan penularan dari ibu ke anak (Prevention of Mother To Child Transmission-PMTCT) dan akses terapi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis (TBC) dan infeksi menular seksual)

VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV dan AIDS, mempelajari status dirinya, mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku berisiko dan mencegah penularan infeksi kepada orang lain guna mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.

VCT merupakan kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV di laboratoruim. Test HIV dilakukan setelah klien terlebih dahulu memahami dan menandatangani informed consent yaitu surat persetujuan setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar. VCT merupakan hal penting karena:

  1. Merupakan pintu masuk ke seluruh layanan HIV dan AIDS
  2. Menawarkan keuntungan, baik bagi yang hasil tesnya positif maupun negatif, dengan fokus pada pemberian dukungan atas kebutuhan klien seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, pemahaman faktual dan terkini atas HIV dan AIDS
  3. Mengurangi stigma masyarakat
  4. Merupakan pendekatan menyeluruh: kesehatan fisik dan mental
  5. Memudahkan akses ke berbagai pelayanan yang dibutuhkan klien baik kesehatan maupun psikososial.

Meskipun VCT adalah sukarela namun utamanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah terinfeksi HIV atau AIDS, dan keluarganya, atau semua orang yang mencari pertolongan karena merasa telah melakukan, tindakan berisiko di masa lalu dan merencanakan perubahan di masa depannya, dan mereka yang tidak mencari pertolongan namun berisiko tinggi.

Di dalam VCT ada 2 kegiatan utama yakni konseling dan tes HIV. Konseling dilakukan oleh seorang konselor khusus yang telah dilatih untuk memberikan konseling VCT. Tidak semua konselor bisa dan boleh memberikan konseling VCT. Oleh karena itu seorang konselor VCT adalah orang yang telah mendapat pelatihan khusus dengan standar pelatihan nasional. Konseling dalam rangka VCT utamanya dilakukan sebelum dan sesudah tes HIV.

Konseling setelah tes HIV dapat dibedakan menjadi 2 yakni konseling untuk hasil tes positif dan konseling untuk hasil tes negatif. Namun demikian sebenarnya masih banyak jenis konseling lain yang sebenarnya perlu diberikan kepada pasien berkaitan dengan hasil VCT yang positif seperti konseling pencegahan, konseling kepatuhan berobat, konseling keluarga, konseling berkelanjutan, konseling menghadapi kematian, dan konseling untuk masalah psikiatris yang menyertai klien/keluarga dengan HIV dan AIDS.

Pada konseling untuk hasil tes negatif, disarankan kepada klien yang mempunyai perilaku risiko tinggi untuk kembali melakukan VCT sesudah 3 bulan, karena klien pada saat tersebut mungkin sedang berada dalam periode jendela. Disamping itu, klien juga disarankan untuk mengurangi perilaku berisiko.

  1. 2.    PERENCANAAN TES VCT

Kebijakan pelaksanaan

  1. Setiap UPT Pemasyarakatan prioritas membuka layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS melalui kerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat, RS, laboratorium, dan Puskesmas;
  2. Layanan konseling pra dan paska tes dilaksanakan oleh petugas UPT Pemasyarakatan terlatih yang bekerja sama dengan petugas lain untuk bimbingan layanan dukungan, perawatan, dan pengobatan yang dibutuhkan;
  3. Layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan yang ada di UPT Pemasyarakatan;
  4. Pelaksanaan layanan mengacu pada pedoman yang berlaku dan berada di bawah pengendalian Direktorat.

Sasaran

  1. Meningkatnya akses layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS bagi WBP dan tahanan di UPT Pemasyarakatan prioritas;
  2. Meningkatnya kualitas layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS di UPT Pemasyarakatan prioritas;
  3. Terintegrasinya layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS ke dalam layanan kesehatan yang ada di UPT Pemasyarakatan.

Kegiatan Pokok

  1. Membangun dan memperkuat kerjasama dengan Dinas Kesehatan, RS, dan Puskesmas setempat untuk ketersediaan layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS;
  2. Setiap UPT Pemasyarakatan memastikan tentang ketersediaan petugas terlatih untuk melaksanakan layanan minimum:
  • Satu orang tenaga terlatih konseling;
  • Satu orang tenaga terlatih untuk dukungan, perawatan, dan pengobatan HIV-AIDS lanjutan.
  1. Mempromosikan layanan kepada WBP dan tahanan;
  2. Mengkampanyekan VCT baik di tingkat nasional maupun regional, dan kemudian keberlanjutan informasi pada masyarakat.
  3. Mendidik masyarakat umum atau mempromosikan pengetahuan pada masyarakat umum tentang epidemi HIV AIDS dan tes VCT untuk pendeteksian penyakit tersebut.
  4. Menjamin adanya kendali mutu layanan yang dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama mitrakerja terkait.
  5. Menciptakan kampanye mobilisasi yeng menargetkan orang yang tinggal di daerah pedesaan dan mendorong akses ke pelayanan VCT
  6. Memperlancar prosedur jaminan kualitas dengan hasil yang akurat.
  7. Menggunakan standart konseling dan testing yang telah ditetapkan oleh KEMENKES sebagai satu satunya alat untuk merekam data layanan VCT.
  8. Penyususnan anggaran lokal untuk mengadakan tes VCT.
  9. Kebutuhan dan mobilisasi sumber daya: SDM untuk penanggulangan HIV/AIDS; tenaga tenaga tingkat lapangan, tingkat layanan (petugas konselor, dokter spesialis, dokter umum, petugas laboratorium, perawat, petugas administrasi, ahli gizi, bidan manager kasus) dan tenaga tingkat menagemen di Kabupaten atau kota. telah dihititung jumlah yang dibutuhkan untuk setipa jenis tenaga. Mobilisasi SDM dilakukan melalui rekrutmen tenaga, peningkatan pengetahuan, ketrampilan tenaga, pengembangan kapasitas pelatihan dan bantuan teknis.

Keluaran

  1. Sedikitnya 35% UPT Pemasyarakatan prioritas telah memberikan layanan konseling dan tes HIV, TBC, dan IMS di akhir tahun 2014;
  2. 50% WBP dan tahanan yang beresiko di seluruh UPT Pemasyarakatan prioritas yang mengakses layanan tes HIV;
  3. 80% WBP dan tahanan suspek TBC di seluruh UPT Pemasyarakatan prioritas yang mengakses layanan tes TBC;
  4. 20% WBP dan tahanan yang beresiko di seluruh UPT Pemasyarakatan prioritas yang mengakses layanan tes IMS.
  1. 3.    PRINSIP VCT
  2. Atas persetujuan klien (Informed consent)
  3. Kerahasiaan
  4. Tidak diskriminatif
  5. Mutu terjamin

4. TAHAPAN KONSELING DAN TES HIV SUKARELA

1. Konseling Pra Tes HIV.

2. Tes HIV (Pengambilan dan Pemeriksaan darah).

3. Konseling Pasca Tes HIV. Ada tiga tahapan dalam pelaksanaan konseling dan tes HIV, yaitu :

1. Konseling pra tes HIV: Membantu kien menyiapkan diri untuk melakukan pemeriksaan darah atau tes HIV. Materi konseling yang diberikan:

  • Proses konseling dan tes HIV sukarela.
  • Manfaat tes HIV.
  • Pengetahuan tentang HIV/AIDS.
  • Meluruskan pemahaman yang salah tentang HIV/AIDS dan mitosnya.
  • Membantu klien mengetahui faktor resiko penuaran HIV/AIDS.
  • Menyiapkan kien untuk pemeriksaan darah.
  • Mendiskusikan kemungkinan hasi tes HIV positif dan negatif.
  • Persetujuan untuk tes HIV sukarela.
  • Mengembangkan rencana perubahan perilaku yang sehat dan aman.

2. Tes HIV: pemeriksaan darah laboratorium untuk memastikan status HIV.

3.  Konseling Pasca Tes HIV: Membantu klien memahami dan menyesuaikan diri dengan hasil tes. Materi konseling yang diberikan adalah mengenai penjelasan tentang hasil tes HIV.

 Jika hasil tes positif, petugas konseling akan menyampaikan hasil tes dengan cara yang dapat diterima klien, secara halus dan manusiawi. Petugas konseling akan merujuk kien ke ayanan medis dan sosial.

  Penanganan reaksi emosi yag ada.

  Jika hasil tes negatif, isu seks aman dan tes ulang tetap disarankan.

  Informasi dan layanan rujukan untuk pengobatan.

  Diskusi untuk mencegah penularan HIV.

  Diskusi untuk tetap sehat dan positif bagi ODHA.

  Dukungan moral yang dapat diberikan.

Pada tahap pre konseling, yang dilakukan adalah pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahan, dan periode jendela. Kemudian konselor dilaksanakan penilaian risiko klinis. Pada saat ini, klien harus jujur tentang hal-hal berikut: kapan terakhir kali melakukan aktivitas seksual, apakah menggunakan narkoba suntik, pernahkah melakukan hal-hal yang berisiko pada pekerjaan; misalnya dokter, dan apakah pernah menerima produk darah, organ atau sperma. Konselor VCT terikat sumpah untuk merahasiakan status klien. Pada saat melakukan VCT pastikan konseling dilakukan di tempat tertutup dan menjamin privasi. Konselor akan menawarkan kepada klien apakah bersedia untuk melakukan tes HIV berupa informed consent atau izin dari klien untuk melakukan tes HIV. Pada saat melakukan tes HIV, darah kita akan diambil secukupnya. Dan pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu, tergantung jenis tes HIV yang dipakai.

  1. 5.    RENCANA MONITORING DAN EVALUASI VCT

Manajer VCT bertanggung jawab untuk mengawasi kegiatan secara konsisten dengan rencana kerja. Perlengkapan untuk pengawasan proses:

  • Gantt Chart Sub Agreement (diagram/table sub agreement Gantt)
  • Notulen/catatan pertemuan koordinasi staf, supervisi dan konseling

Laporan yang ditulis dan diserahkan pada Kantor ASA Jakarta adalah:

  • Laporan bulanan indicator proses (Form standar PIF terlampir)
  • Laporan keuangan (bulanan dan final)
  • Laporan narasi final (harus dikumpulkan 30 hari sebelum proyek selesai)

Indikator Output (Kuantitatif):

  • Kemajuan yang terlihat dalam pertemuan ASA Program terkait dengan pelaksanaan Standar Minimum VCT dan Manajemen Kasus
  • Mengikuti protokol
  • Tersedia materi pendidikan kesehatan dan kondom
  • Tersedia dan menggunakan format penyimpanan dokumen/catatan
  • Tersedianya peralatan tes dan kebutuhan medis yang sesuai
  • Mengikuti peraturan staf dan dapat dipertanggung jawabankan

Manajer VCT atau konselor dari luar yang berpengalaman meninjau layanan VCT setiap 6 bulan atau setidaknya setahun sekali. Seusai peninjauan, hasil temuan layanan dipresentasikan dalam pertemuan bulanan administrasi tim VCT dan rapat manajemen.

1. Prosedur Peralatan/Pedoman/Tool untuk jaminan kualitas konselor

Tool/Prosedur Peralatan/pedoman yang dapat digunakan adalah observasi, mendengarkan rekaman sesi atau dengan cara membahas dengan pasien yang dirahasiakan. Prosedur Sesi Observasi atau menggunakan rekaman dengan meminta persetujuan/ijin dari konselor dan klien. Sebelum observasi dan rekaman dimulai, klien dan konselor harus memberi persetujuan. Alasan observasi/rekaman dijelaskan kepada klien dengan menekankan jaminan kualitas/pelatihan yang rasional. Tidak perlu kewajiban untuk merekam atau observasi yang dipaksakan. Klien dan konselor diberi informasi tentang kode yang akan dipakai dan akan digunakan untuk umpan balik. Nama samaran dapat dipakai oleh klien/konselor untuk tujuan rekaman jika dikehendaki.

Supervisor konselor dimemberikan penjelasan tentang tujuan kegiatan ini. Harus ditekankan bahwa hal ini tidak dipakai dalam hubungannya dengan tinjauan penampilan konselor selain untuk supervisi layanan. Konselor ahli dari tempat lain dapat mendengarkan dan menyimak rekaman atau mengobservasi sesi dan memberi tanda sesuai dengan kriteria. Skor total akan dicatat berlawanan dengan skor kemungkinan tertinggi. Konselor berhak menerima umpan balik rahasia sesegera mungkin jika mereka memintanya. Konselor tidak diinformasikan untuk menandai kriteria utama untuk observasi/rekaman. Rekaman atau observasi harus dilakukan supaya tidak menganggu pelayanan konseling.

2. Survey klien rahasia

Kegiatan ini adalah untuk :

  • Mengevaluasi penampilan keseluruhan dari staf pelayanan VCT
  • Mengukur kualitas menyeluruh dari perawatan yang disediakan konselor VCT
  • Mengukur seberapa jauh konselor mengikuti protokol yang direkomendasi ketika berinteraksi dengan pasien/klien

Karena kerahasiaan klien sangat penting, maka sulit untuk mengetahui tingkat kepuasan klien dengan pelayanan yang ditawarkan pelayanan VCT. Untuk mengetahui lebih informasi kualitatif sesuai standar perawatan konsumen dan konseling pada sejumlah pelayan VCT, survey klien rahasia dapat digunakan. Sejumlah layanan dan tipe pasien akan menentukan jumlah, jenis kelamin dan usia pasien rahasia, meskipun mereka mengaku sebagai individu atau berpasangan selama periode asessmen. Pasien rahasia akan dilatih berperan sesuai naskah skenario tertentu meliputi alasan yang bisa dipertanggungjawabkan seperti latarbelakang mereka mencari layanan VCT. Sesudah kunjungan, klien rahasia memberikan tanggapan sehubungan dengan interaksi antara konselor dan klien. Klien rahasia dapat memakai peralatan/pedoman/tool jaminan kualitas konselor. Alat dapat dilengkapi setelah kunjungan dan perjanjian dibuat untuk melengkapi umpan balik yang dirahasiakan pada konselor dan/atau supervisor konselor.

3. Formulir Kepuasan Klien

Staf administrasi VCT harus:

  • meminta semua pasien untuk melengkapi formulir
  • menanyakan apakah pasien mampu membaca formulir dengan jelas
  • memberikan petunjuk singkat bagaimana mengisi formulir

Nama klien tidak dicatat. Terdapat almari atau kotak terkunci tersedia untuk masukan formulir tersebut. Komentar-komentar yang ditulis di formulir akan dikumpulkan/dijadikan dan dibahas pada pertemuan staf pelayanan. Pasien yang menemui kesulitan dalam membaca formulir perlu ditanya apakah mereka bersedia bertemu dengan sukarelawan yang terlatih (bukan konselor atau staf langsung dalam pelayanan VCT). Sukarelawan perlu membaca keseluruhan items dan mencatat tanggapan klien.

Evaluasi

Tim tim pengawas bertanggung jawab memastikan:

  1. Konselor menggunakan alat pengumpulan data standarat yang telah dikembangkan oleh KEMENKES untuk mencatat jumlah orang yang di tes di lokasi dan data klien tambahan termasuk informasi demografi, hasil tes dan status rujukan.
  2. Pada semua tempat yang menyediakan tes VCT memiliki persediaan yang diperlukan dan jika diperlukan mencari dan mengatur pasokan tambahan termasuk transportasi untuk pendistribusian alat yang dibutuhkan.
  3. Pelaksanaan layanan mengacu pada pedoman yang berlaku dan berada di bawah pengendalian Direktorat, tidak ada paksaan dalam pelaksanaan test dan sangat terjaga kerahasiaanya setelah dilakukan tes VCT tersebut.
  4. Memastikan bahwa hasil tes VCT akurat dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak menjadi masalah bagi peserta test VCT tersebut.

Tim konseling terpadu yang terdiri dari dokter umum, psikolog, psikiater, penyuluhan lapangan, dan pembina mental dengan tujuan, antara lain:

ü  Memberikan pengertian dan informasi yang benar tentang HIV-AIDS.

ü  Mengidentifikasi masalah dan memberikan jalan keluarnya.

ü  Memberikan kesadaran berperilaku sehat dan bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat.

ü  Memberikan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah dan memberikan rasa aman

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2012 in Uncategorized

 

Pengaruh lingkungan dengan TB Paru

TB Paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat. Penyakit TB Paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit ini ditularkan melalui udara, yaitu percikan ludah, bersin, dan batuk. Penyakit TB paru biasanya menyerang paru, akan tetapi dapat pula menyerang organ tubuh lain. TB paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia produktif.

Gejala penyakit pada penderita TB paru dapat dibagi menjadi gejala lokal di paru dan gejala pada seluruh tubuh secara umum. Gejala di paru tergantung pada banyaknya jaringan paru yang sudah rusak karena gejala penyakit TB paru ini berkaitan bagaimana bentuk kerusakan paru yang ada. Gejala paru seseorang yang dicurigai menderita TB paru dapat berupa: batuk lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, sakit di dada selama lebih dari 3 minggu, demam selama lebih dari 3 minggu. Semua gejala tersebut diatas mungkin disebabkan penyakit lain, tetapi bila terdapat tanda-tanda yang manapun diatas, dahak perlu dilakukan pemeriksaan.

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit. Lingkungan adalah segala sesuatu baik fisik, biologis, maupun sosial yang berada di sekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Missal;nya saja pada lingkungan rumah,. adalah segala sesuatu yang berada di dalam rumah. Lingkungan rumah terdiri dari lingkungan fisisk yaitu ventilasi, suhu, kelembaban, lantai, dinding serta lingkungan sosial yaitu kepadatan penghuni. Lingkungan rumah menurut WHO adalah suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung. Lingkungan dari struktur tersebut juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu. Lingkungan rumah yang sehat dapat diartikan sebagai lingkungan yang dapat memberikan tempat untuk berlindung atau bernaung dan tempat untuk bersitirahat serta dapat menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, psikologis maupun sosial.

Pada umunya, lingkungan rumah yang buruk (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan berpengaruh pada penyebaran penyakit menular termasuk penyakit TB paru. Pada lingkungan fisik, kelembaban rumah dan kepadatan penghuni rumah memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru. Hal tersebut dapat dipahami karena kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan menjadi media yang baik bagi pertumbuhan berbagai mirkoorganisme seperti bakteri, sporoket, ricketsia, virus dan mikroorganisme yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara dan dapat menyebabkan terjadinya infeksi pernafasan pada penghuninya.

Kuman tuberkulosis dapat hidup baik pada lingkungan yang lembab. Selain itu karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri, maka kuman TB dapat bertahan hidup pada tempat sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya.

Penyakit TB paru ditularkan dari orang yang menderita tuberculosis ke orang sehat. Oleh karena itu, kepadatan penghuni yang berlebihan (overcrowded) sangat berhubungan dengan penularan infeksi TB paru. Kuman TB menular melalui droplet nuclei yang dibatukkan atau dibersinkan oleh seorang penderita kepada orang lain, dan dapat menularkan pada 10-15 orang disekitarnya. Luas ventilasi rumah dan pencahayaan rumah. Rumah yang memiliki luas ventilasi dan pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan memiliki risiko tinggi untuk terjadinya TB paru dibandingkan rumah yang memiliki luas ventilasi dan pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan.

Hal tersebut dapat dipahami, karena ventilasi memiliki berbagai fungsi, diantaranya adalah untuk membebaskan ruangan rumah dari bakteri-bakteri patogen, terutama kuman tuberkulosis. Kuman TB yang ditularkan melalui droplet nuclei, dapat melayang di udara karena memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu sekitar 50 mikron. Apaila ventilasi rumah memenuhi syarat kesehatan, maka kuman TB dapat terbawa ke luar ruangan rumah, tetapi apabila ventilasinya buruk makan kuman TB akan tetap ada di dalam rumah. Selain itu ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya sinar matahari masuk ke dalam rumah, padahal kuman TB hanya dapat terbunuh oleh sinar matahari alamiah secara langsung. Untuk memperolah cahaya matahari yang cukup pada pagi dan siang hari, diperlukan luas ventilasi dan jendela yang memenuhi syarat kesehatan.

Referensi:

  • Lumban, Tonny. 2009. Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan Kondisi Rumah Terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara: Medan.
  • Lismarni. Pengaruh lingkungan fisik rumah terhadap tersangka penderita TBC Paru di Indonesia Tahun 2004 (analisis lanjut data Susenas 2004). Deskripsi Dokumen: http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=107047
  • Ruswanto, Bambang. 2010. Analiasis Spasial sebaran kasus tuberkulosis paru ditinjau dari faktor lingkungan fisik dalam dan luar rumah, xvi, 165 halaman. Semarang.
  • http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=57
 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2012 in Uncategorized

 

Masalah Imunisasi diIndonesia

  1. Apakah tindakan imunisasi merupakan tindakan medik atau bukan?

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) no. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan tindakan medik adalah tindakan diagnostik atau terapeutik (pasal 1, ayat b).Jika ditinjau dari pengertian imunisasi yaitu pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.(Anonim. 2008. Arti Definisi/Pengertian Imunisasi, Tujuan, Manfaat, Cara dan Jenis Imunisasi Pada Manusia. http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuan-manfaat-cara-dan-jenis-imunisasi-pada-manusia).

Pemeriksan medis adalah upaya pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien yang dilakukan oleh tenaga medis terhadap pasien pada suatu lembaga kesehatan (C.S.T.Kansil, 1991:202). http://digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/02807200910141.pdf

Memasukkan sesuatu sesuatu ke dalam tubuh/invasi, di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran pada Bab 1 Pasal 1 poin 4 disebutkan bahwa Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien. Poin 3, Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif, diagnostik, terapeutik atau rehabilitative yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien.

Berdasarkan aturan aturan di atas dan pengertian imunisasi, maka dapat disimpulkan bahwa Imunisasi adalah tindakan Medik.

 

  1.  Apakah tindakan tersebut boleh dilaksanakan oleh perawat?

Di dalam kepmenkes/KMK No. 1611 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi disebutkan bahwa tenaga pelaksana imunisasi adalah petugas atau pengelola yang telah memenuhi standar kualifikasi sebagai tenaga pelaksana di setiap tingkatan dan telah mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya. Selain itu dikatakan bahwa : Berdasarkan tempat pelayanan, imunisasi rtin dibagi menjadi :

-   Pelayanan imunisasi di dalam gedung (komponen statis) dilaksanakan d puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan polindes.

-   Pelayanan imunisasi di luar gedung dilaksanakan di posyandu, kunjungan rumah dan sekolah.

-   Pelayanan imunisasi rutin dapat juga diselenggarakan oleh swasta seperti : rumah sakit, dokter praktik dan bidan praktik.

Berdasarkan penjelasan di atas, tidak ada penyebutan secara jelas apakah perawat boleh atau tidak memberikan imunisasi, tetapi dijelaskan di awal adalah petugas pelaksana di setiap tingkatan yang memenuhi standar dan telah mendapat pelatihan sesuai tugasnya. Berarti hal ini memungkinkan untuk perawat boleh memberikan imunisasi selama mendapat izin dari dokternya. Karena belum ada peraturan keperawatan yang menjelaskan mengenai hal ini secara lebih jelas.

 

  1. C.   Apakah untuk imunisasi yang menjadi program pemerintah masih memberlkan informed consent?

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) no. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan bahwa informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut (pasal 1 ayat a).

  • Informasi harus diberikan kepada pasien baik diminta ataupun tidak diminta (pasal 4 ayat 1)
  • Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan (pasal 2 ayat 2)
  • Apabila tindakan medik dilakukan tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya, maka dokter dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin prakteknya (pasal 13)

Sejalan dengan peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat serta kesadaran konsumen tentang hak-haknya, dihimbau kepada anggota IDAI sebelum melakukan imunisasi sebaiknya memberikan penjelasan bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak terhadap bahaya penyakit  mempunyai manfaat lebih besar dibandingkan dengan risiko kejadian ikutan yang dapat ditimbulkannya (sesuai maksud pasal 2 ayat 3 Permenkes 585/1989). Cara penyampaian dan isi informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien (Permenkes 585/1989, pasal 2 ayat 4). Imunisasi yang dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah untuk kepentingan masyarakat banyak dan berprogram pemerintah (di Posyandu, Puskesmas) tidak diperlukan persetujuan tindakan medik (sesuai Permenkes 585/1989 pasal 14).

(Guwandi J. Tanya jawab persetujuan tindakan medik (informed consert). Edisi kedua. Jakarta, FKUI 1994.)

 

 

 

  1. D.  Siapa saja yang harus bertanggngjawab dalam kasus tersebut?

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1626/MENKES/SK/XII/2005 tentang Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) disebutkan bahwa : Penanggung jawab program imunisasi adalah kepala instansi kesehatan pemerintah pada masing-masing jenjang administrasi sebagaimana ketentuan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1059/MENKES/SK/IX/2004.

Dalam hal ini Kepala Dinas Kesehatan setempat, selain itu pihak tim pelaksana BIAS juga bertanggungjawab atas terjadinya kematian anak tersebut. Seharusnya pelaksana program ini sudah benar benar dipesiapkan sesuai dengan kepmenkes/KMK No. 1611 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi, tenaga pelaksana imunisasi adalah petugas atau pengelola yang telah memenuhi standar kualifikasi sebagai tenaga pelaksana di setiap tingkatan dan telah mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya.

Disebutkan dalam kasus bahwa ”perawat tanpa didahului penjelasan yang memadai tentang manfaat  serta resikonya”, hal ini menunjukkan ketidaksiapan tim dalam pelaksanaan, seharusnya perawat tersebut tidak boleh melakukan imunisasi, secara pribadi perawat ini juga bersalah, seharusnya dia tau bahwa dia tidak berhak melakukan kegiatan tersebut karena belum mendapat penjelasan yang memadai.

”Tidak ada informed consent yang ditandatangani oleh orang tua”, BIAS adalah salah satu kegiatan imunisasi masal yang menjadi program pemerintah, sehingga tidak wajib diperlukan adanya kesepakatan orang tua secara tertulis. Tetapi untuk memenuhi hak pasien atas informasi tindakan medis maka perlu diberikan penjelasan mengenai BIAS ini kepada orang tua murid untuk diketahui manfaat dan resikonya.

 

  1.  Apakah menurut anda program imunisasi memerlukan perangkat hukum yang memadai guna melindungi tenaga medis pelaksana?

 

Berdasarkan peraturan peraturan yang telah ada, maka dalam setiap program dan kegiatan pemerintah haruslah ada perangkat hukum yang mengatur agar dapat berjalan secara teratur dan sesuai harapan. Demikian pula dengan program imunisasi, memerlukan perangkat hukum yang memadai yang mengatur segala aspek yang dibutuhkan dalam pelaksanaan imunisasi, dari mulai siapa yang bertanggungjawab, siapa yang berwenang melakukan, syarat vaksin, perjanjian dalam pelaksanaan antara pasien dan pelaksana dan sebagainya. Hal ini agar ketika terjadi masalah atau efek resiko setelah imunisasi dapat dipertanggungjawabkan dan diproses sesuai alur dan aturan hukum yang disepakati di awal.

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2012 in Uncategorized

 

mild head injury ( cedera kepala ringan )

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

      Sebelum memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala ini, pemahaman perawat tentang teori yang mendasar sangatlah penting. Dalam bab ini, penulis akan membahas mengenai konsep dasar anatomi fisiologi sistem persarafan, cedera kepala dan asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala secara teoritis.

 

  1. A.    Landasan Teori Kasus

 

  1. Pengertian cedera Kepala

Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injuri baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala ( Suriadi dan Yuliani, 2001 , hal . 39).

Cedera kepala adalah gangguan fungsi otak normal karena trauma (trauma tumpul atau trauma tusuk)  ( Nettina, 2001, hal. 72)

Cedera kepala adalah trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak (Smeltzer dan Bare, 2001, hal. 2210)

Cedera kepala meliputi : trauma apapun pada kulit kepala beserta rambutnya, tulang tengkorak atau otak. (Lewis, Heitkemper, Dirksen, 2000, hal. 1624 )

Cedera kepala adalah trauma yang mengenai otak yang disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan kemampuan kognitif, fungsi fisik, fungsi tingkah laku dan emosional. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008 : 103)

Kesimpulan dari cedera kepala adalah suatu trauma atau gangguan fungsi otak yang mengenai kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang   disebabkan oleh injuri, trauma tumpul atau trauma tusuk.

 

 

Cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi :

(1). Cedera kepala ringan/Mild Head Injury (GCS 13-15 dengan     kehilangan kesadaran kurang dari 0-15 menit)

(2). Cedera kepala sedang/Moderat Head Injury (GCS 9-12 dengan  kehilangan kesadaran sampai dengan 6 jam)

(3). Cedera kepala berat/Savere Head Injury (GCS 3-5 dengan kehilangan kesadaran > 6 jam)

  1. Etiologi

Jatuh; kecelakaan kendaraan motor, sepeda dan mobil; kecelakaan pada saat olahraga. (Suriadi dan Yuliani, 2001, hal . 41)

  1. Patofisiologi

Trauma langsung/ Benturan

   Cedera fokal                                                                        cedera difus

Memar otak, hematom epidural,                     Gangguan fungsional

Subdural, intraserebral

Gelombang kejut

Pada seluruh arah

Mengubah tekanan jaringan otak

Tekanan jaringan otak akan meningkat

Jaringan otak akan rusak(coup

Suplay darah keotak menurunGangguan suplay oksigen dan glukosa pada sel

Gangguan metabolisme( anaerob)

Penumpukan asam laktat

Udem

Herniasi pada foramen tentorium, magnum/ falks serebrum

Iskemi

Nekrosis

Mati

( Sjamsuhidayat & jong 2004 )

  1. Manifestasi klinis

Manifestasi klinis yang terjadi pada klien cedera kepala menurut Corwin

( 2000 ) adalah :

1).                Pada konkusio, segera terjadi kehilangan kesadaran

2).    Pada hematom, kesadaran mungkin hilang segera atau bertahap seiring dengan membesarnya hematom

3).                Pola pernapasan dapat secara progesif menjadi abnormal

4).                Respon pupil mungkin lenyap atau secara progesif memburuk

5).    Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan peningkatan tekanan intrakranium

6).    Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium

Menilai tingkat keparahan  menurut Mansjoer ( 2000 ) adalah :

a)      Cedera kepala ringan (kelompok risiko rendah)

(1). Skor skala koma Glasgow 15 (sadar penuh, atentif, dan          orientatif

(2). Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi)

(3). Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang

(4). Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing

(5). Pasien dapat menderita abrasi, laserasi, atau hematoma kulit     kepala

(6). Tidak adanya kriteria cedera sedang berat

b)      Cedera kepala sedang (kelompok risiko sedang)

(1) Skor skala koma Glasgow 9-14 (konfusi, latergi, atau stupor)

(2) Konkusi

(3) Amnesia pasca-trauma

(4) Muntah

(5) Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda Battle, mata    rabun, hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan serebrospinal)

(6) Kejang

c)      Cedera kepala berat (kelompok risiko berat)

(1)  Skor skala koma Glasgow 3-8 (koma)

(2)  Penurunan derajat kesadaran secara progesif

(3)  Tanda neurologis fokal

(4)  Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium

 

 

  1. Pemeriksaan diagnostik

Pada klien cedera kepala dilakukan pemeriksaan diagnostik sebagai berikut

1).    Tomografi komputerisasi atau pencitraan resonan magnetik untuk mengidentifikasi dan melokalisir lesi, edema serebral, pendarahan

2).    Sinar X tengkorak dan spinal servikal untuk mengidentifikasi fraktur dan dislokasi

3).    Uji neuropsikologis selama fase rehabilitasi untuk menentukan defisit kognitif  (Nettina, 2001,hal.73)

4).    Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma

5).    BAER (Brain Auditory Evoked Respons), menentukan fungsi korteks dan batang otak

6).    PET (Positron Enission Tomography), menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak

7).    Pungsi lumbal: dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarakhnoid

8).    GDA (Gas Darah Arteri): mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenisasi yang akan dapat meningkatkan TIK (Doenges, Moorhouse, Geissler, 1999,hal.272)

 

  1. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada klien dengan cedera kepala menurut Corwin (2000) adalah :

1).    Konkusio ringan atau sedang biasanya diterapi dengan observasi dan tirah baring

2).    Untuk cedera kepala terbuka di perlukan antibiotik

3).    Metode-metode untuk menurunkan tekanan intrakranium termasuk pemberian diuretik dan obat anti inflamasi

4).    Mungkin diperlukan ligasi pembuluh darah yang pecah dan evakuasi hematoma secara bedah

  1. B.     Tinjauan Asuhan Keperawatan Kasus

 

Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien cidera kepala ini menurut Doenges, Moorhouse, Geissler  (1999), dilakukan melalui lima proses keperawatan, yaitu : pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1)      Pengkajian

Berikut beberapa hal yang perlu dikaji pada pasien cedera kepala yaitu :

a).     Aktivitas/istirahat

Gejala : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.

Tanda :  Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quardreplegia,

   ataksia cara berjalan tak tegap, masalah dalam

   keseimbangan, cedera (trauma ortopedi), kehilangan tonu

   otot spastik.

b).    Sirkulasi

Gejala:  Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi),

Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia  yang

diselingi dengan bradikardia, disritmia).

c).    Integritas ego

Gejala :  Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau                      dramatis).

Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung,

depresi  dan  impulsif.

 

 

 

d).   Eliminasi

Gejala: Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami  gangguan

fungsi.

e).    Makanan/cairan

Gejala :  Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.

Tanda :  Muntah (mungkin proyektil). Gangguan menelan (batu air

liur keluar, disfagia).

f).     Neuro sensori

Gejala: Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian. Vertigo, sinkope, tinnitus, kehilangan pendengaran, tingling, baal pada ekstremitas. Perubaha

dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia

kehilangan sebagian lapang pandang,

fotofobia. Gangguan pengecapan dan juga penciuman.

Tanda: Perubahan kesadaran bisa sampai koma. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetris), deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan penginderaan, seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran. Wajah tidak simetris. Genggaman lemah, tidak seimbang. Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah. kejang. Sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. Kehilangan sensasi sebagian tubuh. Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.

g).    Nyeri /kenyamanan

Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda,

biasanya lama.

Tanda:  Wajah menyeringai, respons menarik pada rangsangan

nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa beristirahat, merintih.

h).    Pernapasan

Tanda : Perubahan pola napas (apnea yang diselingi hiperventilasi).

Napas berbunyi, stridor, tersedak. Ronki, mengi positif

(kemungkinan karena aspirasi).

i).      Keamanan

Gejala :  Trauma baru/trauma karena kecelakaan.

Tanda : Fraktur/dislokasi. Gangguan penglihatan. Kulit : laserasi,

abrasi, perubahan warna, seperti “raccoon eye”, tanda Batle

disekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma). Adanya

aliran cairan (drainase) dari telinga/hidung (cairan serebro

spinal). Gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak, tonus

otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralisis.

Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh.

j).      Interaksi sosial

Tanda : Afasia motorik/sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang

Sulang, disartria, anomia.

 

2)      Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau risiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Carpernito, 2000, dikutip oleh Nursalam, 2000, hal. 35). Adapun diagnosa keperawatan pada klien cedera kepala  menurut Wahyu Widagdo, dkk (2008)  dan Smeltzer dan Bare (2001) yaitu:

a).    Perubahan perfusi jaringan serebral b.d  trauma kepala, penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi, hematoma); edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera, perubahan metabolik, takar lajak obat/alkohol); penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung), peningkatan tekanan intrakranial (PTIK)(Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 109)

b).    Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak); kerusakan persepsi atau kognitif; obstruksi trakeobronkial. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 109)

c).    Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensori, transmisi dan atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). (Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

d).   Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologis; konflik psikologis. (Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

e).    Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan persepsi atau kognitif; penurunan kekuatan/tahanan; terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan, misal, tirah baring, imobilisasi. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

f).     Defisit perawatan diri b.d kerusakan mobilitas fisik(Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

g).    Risiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif; penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh; kekurangan nutrisi; respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid); perubahan integritas sistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS). (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

h).    Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran; kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan;  status hipermetabolik.(Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

i).      Perubahan proses keluarga b.d transisi dan krisis situasional; ketidakpastian tentang hasil/ harapan. .(Smeltzer dan Bare, 2001,hal. 2216)

j).       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi     dan kebutuhan pengobatan b.d kurang pemajanan, tidak mengenal informasi/sumber-sumber; kurang mengingat/ keterbatasan kognitif. (Wahyu Widagdo, dkk, 2008, hal. 110)

 

3)      Perencanaan

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasikan pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. (Doenges, Moorhouse, Geisser (1999)

a).    Perubahan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL (hemoragi, hematoma); edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera, perubahan metabolik, takar lajak obat/alkohol); penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung).

1)       Tujuan : Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi.

2)    Kriteria Hasil : mempertahankan tingkat kesadaran biasa/

perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sensorik;

mendemonstrasikan tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda

peningkatan tekanan intrakranial.

3)    Rencana :

a)Observasi  status neurologis.

Rasional : hasil dari pengkajian dapat diketahui secara dini adanya tanda-tanda PTIK sehingga dapat menentukan arah tindakan selanjutnya. Kecenderungan terjadinya penurunan nilai GCS menandakan adanya peningkatan tekanan intracranial dari normal 0-15 mmHg .

b)      Monitor TTV (TD, nadi, RR, suhu) minimal setiap jam sampai

keadaan pasien stabil.

Rasional : dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda peningkatan TIK.

c)                                          Naikkan kepala dengan sudut 15-450 (tidak hiperekstensi dan

fleksi) dan posisi netral (dari kepala hingga daerah lumbal

dalam garis lurus)

Rasional: dengan posisi kepala 15 – 450 dari badan dan kaki maka akan meningkatkan dan melancarkan aliran balik darah vena kepala sehingga mengurangi kongesti serebrum, edema dan mencegah terjadinya peningkatan TIK. Posisi netral tanpa hiperekstensi dan fleksi dapat mencegah penekanan pada saraf medula spinalis yang menambah peningkatan TIK.

d)                                                                       Monitor masukan dan haluaran setiap 8 jam sekali.

Rasional: untuk mencegah kelebihan cairan yang dapat menambah edema serebri sehingga terjadi peningkatan TIK.

e)  Monitor suhu dan atur suhu lingkungan sesuai indikasi.

Rasional: demam menandakan gangguan hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolik karena demam dan suhu lingkungan yang panas akan meningkatkan TIK.

f)  Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan                                    anti edema seperti manitol, gliserol dan lasix.

Rasional: manitol atau gliserol merupakan cairan hipertonis                                       yang berguna untuk menarik cairan dari intraseluler (sel) ke

ekstraseluler (vaskuler). Lasix untuk meningkatkan ekskresi

natrium dan air yang diinginkan, untuk mengurangi edema

                                    otak.

b).    Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak); kerusakan persepsi atau kognitif; obstruksi trakeobronkial.

1)Tujuan : pola napas efektif dalam batas normal.

2) Kriteria Hasil: Pola napas dalam batas normal dengan frekuensi 14-

20 kali/menit (dewasa) dan iramanya teratur; bunyi napas normal tidak ada stridor, ronchi, dullness dan wheezing; tidak ada pernapasan cuping hidung; pergerakan dada simetris/tidak ada retraksi; nilai AGD arteri normal, yaitu : pH darah 7,35-7,45; PaO2 80-100 mmHg; PaCO2 35-45 mmHg; HCO3- 22-26 mEq/L; BE -2,5 – +2,5; Saturasi O2 95-98%.

3) Rencana :

a)                                                                                                                              Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan.

Rasional: perubahan  yang terjadi dari hasil pengkajian berguna dalam menunjukkan adanya komplikasi pulmonal dan luasnya bagian otak yang terkena.

b)                                                                                                                              Catat kompetensi reflek gag / menelan dan kemampuan pasien

untuk melindungi jalan napas sendiri.

Rasional: kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas.

c)                                                                                                                              Lakukan pengisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari

15 detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari sekret.

Rasional: penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri.

d)                                                                                                                              Auskultasi suara napas.

Rasional: untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi serebral dan menandakan terjadinya infeksi paru.

e)   Kolaborasi berikan oksigen.

Rasional: memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan                                           membantu  dalam pencegahan hipoksia.

c).    Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensori, transmisi dan /atau integrasi (trauma atau defisit neurologit).

1) Tujuan: tidak terjadi perubahan persepsi sensori

2) Kriteria hasil: Melakukan kembali atau mempertahankan tingkat

kesadaran biasanya dan fungsi persepsi, mengakui perubahan

dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu,

mendemonstrasikan perubahan prilaku atau gaya hidup untuk

mengkompensasi atau defisit hasil.

3) Rencana :

a)  Kaji kesadaran sensorik seperti respons sentuhan, panas atau

dingin, benda tajam atau tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh .

Rasional: informasi penting untuk keamanan pasien.

b) Catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan seperti memusatkan kedua mata dengan mengikuti instruksi verbal yang sederhana dengan jawaban “ya” atau “tidak”, makan sendiri dengan  tangan dominan pasien.

Rasional: membantu melokalisasi daerah otak yang mengalami gangguan dan mengidentifikasi tanda dan perkembangan terhadap peningkatan fungsi neurologis.

c)   Hilangkan suara bising atau stimulasi yang berlebihan sesuai kebutuhan.

Rasional: menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan atau bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan.

d)  Pastikan atau validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik

Rasional: membantu pasien untuk memisahakan pada realitas dari perubahan persepsi.

e)   Berikan lingkungan terstruktur termasuk terapi, aktivitas.

Rasional: meningkatkan konsistensi dan keyakinan yang dapat menurunkan ansietas yang berhubungan dengan ketidaktahun pasien tersebut.

f)  Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas.

Rasional: menurunkan frustasi.

g)   Kolaborasi dengan ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi kognitif.

Rasional: pendekatan antar disiplin dapat menciptakan rencana penatalaksnaan integrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ ketidakmampuan secara individu yang berfokus pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik, kognitif, dan keterampilan perseptual.

d).   Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologis; konflik psikologis.

1) Tujuan : perubahan proses pikir tidak terjadi.

2) Kriteria hasil :mempertahankan/melakukan kembali orientasi

mental dan realitas biasanya, mengenali perubahan

berpikir/perilaku, berpartisipasi dalam aturan terapeautik.

3) Rencana :

a)   Pastikan dengan orang terdekat untuk membandingkan

kepribadian / tingkah laku pasien sebelum mengalami trauma dengan respon pasien sekarang.

Rasional : masa pemulihan cedera kepala meliputi fase agitasi, respons marah dan berbicara / proses pikir yang kacau.

b)  Dengarkan dengan penuh perhatian semua hal yang

diungkapkan pasien.

Rasional: perhatian dan dukungan yang diberikan pada individu akan meningkatkan harga diri dan mendorong kesinambungan usaha tersebut.

c)   Tingkatkan sosialisasi dalam batas-batas yang wajar.

Rasional: penguatan terhadap tingkah laku yang positif (seperti interaksi yang sesuai dengan orang lain) mungkin bermanfaat dalam proses belajar struktur internal.

d)  Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi.

Rasional: dapat membantu untuk memfokuskan kembali perhatian pasien dan untuk menurunkan ansietas.

e).    Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan persepsi atau kognitif; penurunan kekuatan/tahanan; terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan, misal, tirah baring, imobilisasi.

1) Tujuan : mampu melakukan aktivitas fisik dan ADL (activity daily living), tidak terjadi komplikasi dekubitus, bronkopneumonia, tromboplebitis dan kontraktur sendi.

2)   Kriteria hasil : pasien mampu dan pulih kembali setelah pasca akut

dalam mempertahankan fungsi gerak, tidak terjadi dekubitus, bronkopneumonia, tromboplebitis dan kontraktur sendi, mampu mempertahankan keseimbangan tubuh, mampu melakukan aktivitas ringan pasca akut dan aktivitas sehari-hari pada tahap rehabilitasi sesuai kemampuan.

 

 

 

3)  Rencana :

a)   Kaji tingkat kemampuan mobilisasi dengan skala 0 – 4.

Rasional : Untuk menentukan tingkat aktivitas dan bantuan yang diberikan.

b)  Atur posisi dan ubah secara teratur tiap 2 jam sekali.

Rasional: merubah posisi secara teratur dapat meningkatkan sirkulasi seluruh tubuh dan mencegah adanya penekanan pada organ tubuh yang menonjol.

c)   Berikan/bantu untuk melakukan latihan rentang gerak.

Rasional: mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus dan kekuatan otot dan mencegah kontraktur.

d)  Lakukan massage, perawatan kulit, dan mempertahankan alat

alat tenun bersih dan kering.

Rasional: meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit dan integritas kulit.

f).     Defisit perawatan diri b.d kerusakan mobilitas fisik

1)      Tujuan: klien mampu melakukan aktivitas fisik dan kebutuhan personal hygiene dan kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi

2)      kriteria hasil: klien mampu dan pulih kembali setelah kecelakaan dan klien tampak segar, badan klien tampak bersih, rambut klien tampak bersih dan rapi, kuku klien pendek dan bersih, gigi klien tampak bersih

3)      Rencana:

a).    Kaji kemampuan klien

Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien

 

b).    Bantu klien dalam aktivitas( bantu klien bangun dari tempat tidur),

Rasional: Untuk merelaksasi otot klien

c).    Kaji kekuatan tonus otot

Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien

d).    Bantu klien dalam personal hygiene, mandi, perawatan kuku jari kaki dan tangan, ganti alat tenun. Ganti alat tenun

Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene klien

e).    Anjurkan klien untuk Range of motion jika tidak ada indikasi Rencana: Untuk melatih kekuatan otot dan relaksasi

f).     Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam melakukan latihan fisik

Rasional: Untuk melatih kekuatan otot dan mencegah artrofi otot

g).    Risiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif; penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh; kekurangan nutrisi; respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid); perubahan integritas sistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS).

1) Tujuan: Infeksi tidak terjadi.

2) Kriteria hasil: tidak terdapat tanda-tanda infeksi seperti rubor,

    dolor, kalor, tumor dan fungsiolesa; tidak ada pus.

3) Rencana :

a)   Observasi  daerah luka.

Rasional : deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya.

 

b)   Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

perawatan secara aseptik dan anti septik.

Rasional : untuk mencegah infeksi nosokomil.

c)   Anjurkan untuk melakukan nafas dalam.

Rasional : peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan risiko terjadinya pneumonia, atelektasis.

d) Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran.

Rasional: untuk mendeteksi tanda-tanda sepsis.

e)   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik

Rasional: antibiotik berguna untuk membunuh atau memberantas bibit penyakit yang  masuk ke dalam tubuh sehingga infeksi dapat dicegah.

f)   Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksanaan

laboratorium  (kadar leukosit).

Rasional: kadar leukosit darah dan urin adalah indikator dalam menentukan adanya infeksi.

h).    Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran; kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah,menelan; status hipermetabolik.

1) Tujuan : kekurangan nutrisi tidak terjadi.

2) Kriteria hasil : BB pasien normal (BB normal = TB – 100 – (10 %

TB-100), tanda-tanda nutrisi tidak ada, nilai-nilai hasil laboratorium normal (protein total 6 – 8 gram %, albumin 3,5 – 5,3 gr %, globulin 1,8 – 3,6 gr %, Hb tidak kurang dari 10 gr %)

3) Rencana :

a)   Observasi kemampuan mengunyah, menelan, reflek batuk dan

cara mengeluarkan sekret.

Rasional: dapat menentukan pilihan cara pemberian jenis makanan.

b)   Auskultasi bising usus.

Rasional:  fungsi saluran pencernaan harus tetap dipertahankan pada penderita cedera kepala. Perdarahan lambung akan menurunkan peristaltik. Bising usus membantu untuk menentukan pemberian makanan dan mencegah komplikasi.

c)   Timbang berat badan.

Rasional: penimbangan berat badan dapat mendeteksi perkembangan berat badan.

d)   Berikan makanan dalam porsi sering tapi sedikit.

Rasional: memudahkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi.

e)  Tinggikan kepala ketika makan.

Rasional:  mencegah regurgitasi dan aspirasi.

f)   Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksaan laboratorium

(protein total, globulin, albumin dan Hb)

Rasional:  untuk mengidentifikasi defisiensi nutrisi.

i).      Perubahan proses keluarga b.d transisi dan krisis situasional ketidakpastian tentang hasil/ harapan.

1) Tujuan: keluarga dapat beradaptasi terhadap perubahan pengalaman

     traumatik secara konstruktif.

2) Kriteria hasil : mulai mengekspresikan perasaan dengan  bebas dan

tepat, mendorong dan memungkinkan anggota yang cedera untuk

maju untuk ke arah kemandirian.

3) Rencana :

a)   Catat bagian-bagian dari unit keluarga, dengan        keberadaan/ keterlibatan sistem pendukung.

Rasional: menentukan adanya sumber keluarga dan mengindentifikasikan hal-hal yang diperlukan.

b)  Anjurkan keluarga untuk mengungkapkan hal-hal yang menjadi perhatiannya.

Rasional: pengungkapan tentang rasa takut secara terbuka    dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan koping terhadap     realitas.

c)  Anjurkan untuk mengakui perasaannya.

Rasional: untuk membantu seseorang menyatakan     perasaannya tentang apa yang sedang terjadi.

d) Berikan penguatan awal terhadap penjelasan tentang luasnya trauma, rencana pengobatan dan prognosisnya.

Rasional: dapat membantu menurunkan konsepsi yang keliru.

j).      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang pemajanan, tidak mengenal informasi/sumber-sumber; kurang mengingat/ keterbatasan kognitif.

1) Tujuan : dapat berpartisipasi dalam proses belajar.

2) Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, aturan

pengobatan, potensial komplikasi.

3) Rencana :

a)   Evaluasi kemampuan dan kesiapan untuk belajar dari pasien dan keluarganya.

Rasional: memungkinkan untuk menyampaikan bahan yang             didasarkan atas kebutuhan secara individual.

b)  Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.

Rasional: berbagai tingkat bantuan mungkin perlu     direncanakan  yang  didasarkan atas kebutuhan yang bersifat    individual.

 

c)  Berikan instruksi dalam bentuk tulisan.

Rasional: memberikan penguatan visual dan rujukan setelah             sembuh.

d) Berikan kembali informasi yang berhubungan dengan proses trauma dan pengaruh sesudahnya.

Rasional: membantu dalam menciptakan harapan yang         realistis dan meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini            dan kebutuhannya.

e)   Berikan penguatan terhadap pengobatan yang diberikan sekarang.

Rasional: aktivitas, pembatasan, pengobatan yang     direkomendasikan diberikan atas dasar pendekatan dan     evaluasi amat penting untuk perkembangan   pemulihan/pencegahan terhadap komplikasi.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2012 in Uncategorized

 

Pencegahan dekubitus

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perawat dalam Mencegah Dekubitus.

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Salah satu aspek penting dalam pelayananan keperawatan adalah menjaga dan mempertahankan integritas kulit klien agar senantiasa terjaga dan utuh. Intervensi dalam perawatan kulit klien akan menjadi salah satu indikator Kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan. Kerusakan integriritas kulit dapat berasal dari luka karena trauma dan pembedahan, namun juga dapat disebabkan karena tertekannya kulit dalm waktu byang lama yang menyebabkan iritasi dan akan berkembang menjadi luka tekan atau dekubitus (Kozier, 1993)

Dekubitus merupakan problem yang serius karena dapat mengakibatkan meningkatnya biaya, lama perawatan dirumah sakit karena memperlambat program rehabilitasi bagi penderita (Potter, Perry, 1993). Selain itu dekubitus juga dapat menyebabkan nyeri yang berkepanjangan, rasa tidak nyaman, tergangu dan frustasi yang menghinggapi para pasien dan meningkatkan biaya dalam penaganan.

Estimasi biaya penanganan dikemukanan oleh Bryant et al (1992) mencapai 5000 dolar – 27000 dolar. Di Amerika, dekubitus akan meningkatkan biaya medis dan perawatan hamper mencapai 1,385 juta dolar Amerika (http:// www. Medlineplus. com). Dekubitus Juga dapat menyebabkan komplikasi berat yang mengarah ke sepsis, infeksi kronis, sellulitis, osteomyelitis serta meningkatkan pravalensi mortalitas pada klien lanjut usia. Karenanya angka kejadian dekubitus menjadi salah satu factor indicator penying mutu pelayanan Rumah skit (DEPKES, 1998)

Insidensi  dan pravelensi terjadinya dekubitus di Amerika tergolong masih cukup tinggi dan perlu mendapatkan perhatian dari kalangan tenaga kesehatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa insidensi terjadinya dekubitus bervariasi, tapi secara umum dilaporkan bahwa 5-11% terjadi ditanan perawtan acute care, 15-25% ditatanan perawat jangka panjang/ longterm care, dan 7-12% ditatanan perawatan rumah// homecare (Mukti, 2002)

Penelitian di Indonesia dilaporkan dari Annas, HA cit Purwaningsih (2000) menyebutkan bahwa dari 78 orang pasien tirah baring yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin  Sudirohusodo, Makasar sebanyak 12 orang (15,8%) mendapatka dekubitus. Setyajati (2001) juga melakukan penelitian yang menghitung angka kejadian dekubitus pada pasien tirah baring di RS Muwardi Surakarta, pada Bulan oktober 2002 angka kejadian dekubitus sebanyak 38,18 %. Penelitian tentang angka kejadian dekubitus juga dilakukan oleh Purwaningasih (2000) di Ruang Al, B1, C1, D1 dan ruang B3 IRNA I RSUP DR. sardjito pada bula oktober 2001, didapatkan hasil dari 40 pasien tirah baring, angka insiden mencapai 40 %. Angka ini relative tinggi dan akan semakin meningkatkan jika tidak dilakukan upaya dalam mencegahnya.

Perawat sebagai kesehatan yang memiliki tanggung jawab utama dalam mencegah kejadian dekubitus perlu mnerapkan pengetahuan terbaik yang dimilikinya dalam mencegah berkembangnya kejadina dekubitus (Moore, et al, 2004). Berbagi studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam kegiatan pencegahan dekubitus ( Buss, et al, 2004). Penelitian  ini telah dilakukan oleh Halfens dan Eggink (1995) dan menyebutkan bahwa sebagian besar perawat yang bekarja dirumah sakit umum tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan pencegahan dekubitus. Selanjutnya pieper dan Mott (1995) menemukan bahwa pengetahuan registered nurse tentang dekuditus tidaklah tinggi hanya mencapi 36% dari total pertanyaan yang dijawab dengan benar.

Penelitian yang dilakukan oleh Bostrom dan Kenneth (1992) menyimpulkan bahwa sikap, nilai dan kepercayaan perawat tidak menempatkan penbcegahandekubitus menjadi ptioritas yang tinggi dalam pelayanan keperawatan.

Moore, et,al  (2004) di Inggris telah melakukan penenlitian tentang hal-hal yang mengahalangi sikap, perilaku dan persepsi perawat dalam mencegah dekubitus, hasil yang diperoleh menyebutkan bahwa sikap yang positif tidak cukup untuk menjamin perubahan perilaku akan berjalan dalm praktek klinik. Selain itu kurangnya waktu, staf, pengetahuan dan informasi yang memadai juga dapat menjadi penghalang bagi perawat dalam mencegah dekubitus, karenanya penting untuk merubah pengetahuan, siakp, nilai dan tindakan perawt dalm upaya mencegah kejadian dekubitus (Buss, et, al, 2004).

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya dekubitus, diantaranya adalah dengan perbaikan keadaan umum penderita, pemeliharaan dan perawatan kulit yang baik, papan/alas tempat tidur  yang baik, pencegahan terjadinya luka dan berbaring yang berubah-ubah(Bauwhuizen, 1996). Selain pencegahan dekubitus juga dapat dilakukan dengan mengkaji resiko klien terkena dekubitus, massase tubuh maupun edukasi pada klien dan support system. Pengetahuan ini harus diniliki perawat, diikuti dengan sikap positif dan dipratekkan dalam tindakan. Antara pengetahuan, sikap dan perilaku selayaknya berjalan secara sinergis karena terbentuknya perilaku baru, akan dimulai dari domain kognitif/pengetahuan, yang selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikpa dank an dibuktikan dengan adanya tindakan atau praktek. Namun pengetahuan dan sikap tidak slalu akan diikuti oleh adnya tindakan atau perilaku (Notoatmojo, 2002).

Dari latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti   faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalh dalam penelitian ini adalah”faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

a. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus.

b. Mengetahui pengaruh sikap terhadap perilaku perawat dalam upaya pencegahan dekubitus.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengaruh factor pendorong ( dukungan pimpinan dan kebujakan rumah sakit) terhadap perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

b. Mnegetahui pengaruh factor pendukung (ketersediaan waktu dan ketersediaan alat) terhadap  perilaku perawat dalam mencegah dekubitus.

c.  Mengetahui factor dominan yang mempenagruhi perilaku perawat dalam mencegah dekubitus .

D. Manfaat penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi perawat tentang pentingnya pengetahuan dan sikap yang positif dalam mencegah dekubitus.

2. Manfaat bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan  informasi bagi rumah sakit dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pencegahan dekubitus.

3. Manfaat bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam menyusunkarya tulis ilmiah

E. Tinjauan Pustaaka

A. Dekubitus

1. Pengertian

Dekubitus adalah suatu keadaan dimanan timbul ulkus sebagai akibat penekanan yang lama mengenai suatu tempat pada permukaan tubu penderita (Bouwhuizen, 1996). Istilah lain yang sering dipakai dalah pressure sore atau pressure ulcers. Dekubitus  dapat terjadi karena terjepitnya pembuluh darah antara tulang pasien dan tenpat tidurnya. Akibat terjapitnya pembuluh darah tersebut, maka jaringan yang terdapat pada daerah itu tidak bisa nmemperoleh darah yang diperlukan dengan demikina juga tidak bisa memperoleh darah yang diperlukan dengan demikian juga tidak bisa memperoleh darah yang diperlukan dengan demikian juga tidak bisa memperoleh bahan makanan dan oksigen, akibatnya jaringan tersebut mengalami kematian. Orang yangs ehat akan melakukan gerakan spontan sebagai reaksi terhadap stimulasi yang diterima oleh otak, sekalipun orang tersebut dalam keadaan tidur, karena itu, kompresi tidakperbah berlangsung dalam waktu yang lama sehingga terjadi kerusakan jaringan

B. Pengetahuan, sikpa, dan perilaku

 

Pengertian
Dekubitus sering disebut ulkus dermal / ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi akibat tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi. Pertama jaringan kulit memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi kulit rusak dan pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar dan dalam.

Tempat – tempat yang paling sering mengetahui dekubitus, antara lain :
a.Siku e. Pinggul
b.Tumit f. Mata Kaki
c.Bahu g. Telinga
d.Sakrum
Dekubitus umum terjadi pada :
a.Pasien Lansia
b.Pasien yang sangat kurus
c.Pasien kegemukan (Obesitas)
d.Pasien yang tak dapat bergerak
e.Pasien Inkohtivensia
f.Pasien Lemah
Pencegahan Dekubitus
Karena dekubitus lebih mudah dicegah dari diobati, maka sedini mungkin harus dicegah dengan cara :
a.Merubah posisi pasien sedikitnya 2 jam sekali.
b.Anjurkan pasien untuk duduk dikursi roda atau seri gery untuk menegakkan mereka setiap 10 menit untuk mengurangi tekaan atau membantu pasien melakukannya.
c.Anjurkan masukan cairan dan nutrisi yang tepat dan adekuat. Karena kerusakan kulit lebih mudah terjadi dan lambat untuk sembuh jika nutrisi pasien buruk.
d.Segera membersihkan feses atau urin dari kulit karena bersifat iritatif terhadap kulit.
e.Inspeksi daerah dekubitus umum terjadi, laporkan adanya area kemerahan dengan segera.
f.Jaga agar kulit tetap kering
g.Jaga agar linen tetap sering dan bebas dari kerutan
h.Beri perhatian khusus pada daerah – daerah yang beresiko terjadi dekubitu.
i.Masase sekitar daerah kemerahan dengan sering menggunakan losion
j.Jangan gunakan losion pada kulit yang rusak
k.Beri sedikit bedak tabur pada area pergesekan tapi jangan biarkan menumpuk.menggumpal
l.Gunakan kain pengalas bila memindahkan pasien tirah baring
m.Lakukan latihan serak minimal 2x sehari untuk mencegah kontraktur
n.Gunakan kasur busa, kasur kulit atau kasur perubah tekanan.

Pengobatan / Intervensi
Tahap – tahap kerusakan jaringan. Kerusakan jaringan terjadi dalam 4 tahap, maka dari itu pengobatan atau intervensi keperawatan pada tiap tahap/dapat membatasi proses dan menghindari kerusakan lebih lanjut. Tahap satui, yang ditandai dengan :
1. Kulit menjadi kemerahan, akan berubah warna biru ke abu – abuan disekitar daerah yang mengalami tekanan. Pada orang yang berkulit gelap daerah tersebut terlihat lebih kering.
a. Beritahui perawat
b. Masase dengan sambur bagian luar daerah yang kemerahan
c. Jaga agar area sekitar kulit yang rusak tetap bersih dan kering
d. Kurangi semua tekanan berlebihan pada area tersebut
e. Menganjurkan diet bergizi dan cairan yang adekuat
f. Jaga agar kulit yang rusak tetap tertutup sesuai instruksi, biasanya dengan balutan steril kering atau penutup proteksif lainnya.
g. Lakukan pengobatan dengan lampu panas sesuai instruksi dokter
h. Tempatkan pasien pada matras egrate, agar berat badan terdistritansi ke seluruh permukaannya dan memberikan sirkulasi udara.
i. Laporkan indikasi infeksi seperti bau atau drainase, pendarahan dan perubahan ukuran.
j. Pokumatasikan adanya area yang potensia rusak pada catatan pasien menggunakan kata – kata dan diagram.

Tahap dua, yang ditandai dengan :
1. Kulit memerah dan terdapat lesi seperti suka melepuh didaerah tersebut, kulit bisa rusak atau tidak.
Tindakan
a. Pindahkan tekanan dengan mengganti posisi pasien
b. Masase dengan lembut daerah sekitar area yang memerah untuk mencegah pembentukan luka baring.
c. Laporkan ke perawat
d. Dokumentasikan pada catatan perawatan
Tahap tiga, yang diotandai dengan :
1. Semua lapisan kulit rusak,
Tindakan.
a. Perawatan yang diabaikan sama dengan perawatan tahap – tahap dan dilanjutkan dengan tepat jika berlanjut ke tahap 3.
b. Untuk mencegah infeksi perawar dapat mencari daerah luka dengan bahan bakteriostatik misalnya : Phisonex, cara klens, dan Bioleks, pengobatan spesifik bervariasi sesuai dengan instruksi dokter.
c. Jika ada jaringan mati (nevkrotik) salep yang mengangkat jaringan mati (debinderment) dari luka, tersebut dapat diinstruksikan. Pengobatan ini dilakukan oleh dokter atau perawat.
d. Pada beberapa fasilitas, lesi terbuka ditutup tidak terlalu ketat dengan kasa yang direndam dengan Ed. Carrington, yang menjaga agar lesi tetap lambat dan meningkatkan penyembuhan dan debidemen sendiri.
e. Suka dijaga agar tetap lembab dengan menutupinya menggunakan hidrokoloid seperti kembaran tipis dinoderm. Kmudian diplester
f. Ganti balutan setiap 3 sampai 5 hari, kecuali jika balutan tersebut bocor.
g. Pada kasus yang parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk menutupi daerah ulkus.
Tahap empat, ditandai dengan :
1. Ulkus meluas, menembus kulit jaringan subtenta, dan dapat melibatkan tentang, otot dan struktur – struktur lainnya.
Tindakan
a. Lanjutkan tindakan yang dighuanakn pada tahap sebelumnya
b. Pengkajian yang konstan terhadap kerusakan kulit meliputi pengukurn luas luka dan mengobservasi dan mengevaluasi penyembuhan.
Sumber : Buku Asisten Keperawatan

Luka dekubitus adalah kerusakan jaringan lokal pada bagian tubuh dengan permukaan tulang yang menonjol akibat tekanan, pergesekan atau pergeseran. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia.

ETIOLOGI
Luka Dekubitus disebabkan oleh kombinasi dari faktor ekstrinsik dan intrinsik pada pasien.

A. Faktor Ekstrinsik

  1. Tekanan : kulit dan jaringan dibawahnya tertekan antara tulang dengan permukaan keras lainnya, seperti : tempat tidur dan meja operasi. Tekanan ringan dalam waktu yang lama sama bahayanya dengan tekanan besar dalam waktu singkat. Terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi dan nekrosis.
  2. Gesekan dan pergeseran : gesekan berulang akan menyebabkan abrasi sehingga integritas jaringan rusak. Kulit mengalami regangan, lapisan kulit bergeser terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal.
  3. Kelembaban : akan menyebabkan maserasi, biasanya akibat inkontinensia, drain dan keringat.

B. Fase Intrinsik

  1. Usia : pada usia lanjut akan terjadi penurunan elastisitas dan vaskularisasi.
  2. Hilangnya sensasi : paraplegia, hemiparesis, neuropati perifer.
  3. Penurunan kesadaran : gangguan neurologis, trauma, analgetik narkotik
  4. Imobilitas : akibat paralisis, traksi, anestesia, sedasi, total bedrest.
  5. Malnutrisi : gangguan penyembuhan luka. Biasanya berhubungan dengan hipoalbumin.
  6. Dehidrasi
  7. Anemia
  8. Infeksi
  9. Gangguan vaskuler : perokok, diabet

PATOFISIOLOGI

Tekanan normal kapiler adalah 32 mmHg, bila mendapat tekanan lebih besar dari 50 mmHg pada daerah permukaan tulang yang menonjol secara terus menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan kerusakan jaringan. Penekanan pada jaringan lunak akan menyebabkan iskemi bila proses penekan terus berlanjut akan timbul nekrosis dan ulcerasi.

 

Gambar patofisiologi dekubitus

Klasifikasi Dekubitus

  • Stadium 1 : eritema yang menetap
  • Stadium 2 : kerusakan kulit partial (epidermis dan sebagian dermis) ditandai dengan adanya lecet dan lepuh
  • Stadium 3 : kerusakan seluruh lapisan kulit sampai subkutis, tidak melewati fascia
  • Stadium 4 : kerusakan seluruh lapisan melibatkan otot, tendon, ligamen dan sendi.

Penanganan Dekubitus

  1. Penerangan untuk pasien dan keluarga
  2. Bila ulkus kecil dapat sembuh sendiri bila faktor penyebab dihilangkan.
  3. Usaha pencegahan keadaan yang lebih buruk. Mengurangi tekanan dengan cara mengubah posisi selama 5 menit setiap 2 jam. Menggunakan alas tidur yang empuk, kulit dijaga kering dan bersih jangan sampai kotor karena urin dan feses. Diusahakan segera mobilisasi aktif jika telah memungkinkan.
  4. Rawat luka dan debridement
  5. Perbaiki keadaan umum
  6. Operasi dilakukan pada stadium 3 dan 4
  7. Rehabilitasi : melatih otot

Prosedur Operasi

  1. Debridement jaringan non vital
  2. eksisi bursa
  3. ostektomi tulang yang non vital
  4. hemostasis yang baik
  5. memilih flap yang sesuai
  6. hindari jahitan yang tegang
  7. perawatan post operasi : hindari penekanan selama 3-6 minggu dan dilakukan pengawasan, perbaikan nutrisi.

Flap yang Biasa Dipilih Untuk Rekonstruksi

  • Defek ischium : gluteal fasciocutaneous flap, musculocutaneous rotation flap, posterior hamstring musculocutaneous V-Y advancement flap, posterior thigh flap (fasciocutaneous), tensor fascia lata flap.
  • Defek Sacrum : lumbosacral flap (fasciocutaneous), unilateral / bilateral gluteal fasciocutaneous flap, musculocutaneous rotation flap, unilateral / bilateral gluteal musculocutaneous V-Y flap
  • Defek Trochanter : tensor fascia lata flap

Komplikasi Operasi

  • Hematom
  • Infeksi
  • Dehisensi
  • Rekurensi

 

ULKUS DEKUBITUS

AUTHOR: ALFONS OCTAVIAN SABANDAR. DR

MEDICAL FACULTY-SEBELAS MARET UNIVERSITY IN SURAKARTA

FEBRUARY, 2008

PENDAHULUAN

Istilah ulkus dekubitus telah digunakan secara luas dalam dunia kedokteran sejak lama dan sampai saat ini masih menjadi masalah serius. Dekubitus sendiri secara etimologi berasal dari bahasa latin “decumbree” yang berarti  “merebahkan diri” yang didefinisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam1,2. Luka ini terjadi sebagai akibat dari kerusakan jaringan setempat yang disebabkan oleh iskemia pada kulit sampai jaringan di bawah kulit akibat tekanan dari luar yang berlebihan. Umumnya terjadi pada penderita dengan penyakit kronik yang berbaring dalam jangka waktu lama1,3.

Ulkus dekubitus sering disebut sebagai Ischemic ulcers, Pressure ulcers, Pressure sore atau Bed sore1,3,4,5.

Frekuensi ulkus dekubitus di berbagai negara masih cukup tinggi. Di Amerika Serikat, dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa 3-10% pasien yang dirawat di rumah sakit menderita dekubitus dan 2,7%  peluang  terbentuk dekubitus baru, namun angka tersebut terus menunjukkan peningkatan hingga 7,7-26,9%. Penelitian lain memperlihatkan bahwa sekitar 28% pasien di rumah sakit berpeluang untuk menderita ulkus dekubitus, dan 2/3 penderita dekubitus tersebut terjadi pada pasien berusia lanjut1,4,5. Dekubitus juga terjadi  dengan frekuensi yang cukup tinggi pada pasien-pasien neurologis oleh karena imobilisasi yang lama dan berkurangnya kemampuan sensorik1. Insiden dekubitus pada  penderita dengan trauma medulla spinalis mencapai 25-85% dengan angka kematian antara 7-8%3.

Ulkus dekubitus termasuk salah satu daftar penyebab kematian secara langsung (7-8%) pada pasien-pasien paraplegia. Evaluasi secara luas telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa 1/3  pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit yang mengalami dekubitus selama perawatan, dilaporkan meninggal dunia, dan lebih dari setengahnya akan meninggal dalam 12 bulan ke depan. Secara umum pasien-pasien tersebut meninggal oleh karena proses penyakit primer, namun adanya ulkus dekubitus menjadi faktor yang dapat memperberat penyakit primernya1,4.

Ulkus dekubitus telah menjadi hal yang serius baik di negara maju maupun berkembang karena selain tingginya angka morbiditas dan mortalitas, adanya ulkus dekubitus juga mengakibatkan meningkatnya biaya perawatan dan memperlambat program rehabilitasi bagi penderita1,3,4,5,6.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Pada dasarnya ulkus dekubitus terjadi akibat adanya faktor primer dan sekunder.

Faktor primer

Beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab dari ulkus dekubitus oleh karena adanya iskemia dan hipoksia yang mengakibatkan terjadi penurunan asupan maupun distribusi O2 ke jaringan. Teori iskemia berpendapat bahwa ulkus dekubitus merupakan akibat dari tekanan konstan dari luar (tekanan eksternal) yang cukup lama yang merusak aliran darah lokal soft tissue. Tekanan eksternal tersebut harus lebih tinggi dari tekanan intrakapiler arterial dan harus lebih tinggi dari tekanan kapiler vena. Dalam keadaan normal, tekanan intrakapiler arterial adalah 32 mmHg dan tekanan ini dapat meningkat mencapai maksimal 60 mmHg yaitu pada keadaan hiperemia. Tekanan  mid kapiler adalah 20 mmHg, sedangkan tekanan pada vena kapiler adalah 13-15 mmHg. Pada saat tekanan eksternal melebihi tekanan intrakapiler arterial maupun tekanan vena kapiler, maka tekanan tersebut akan merusak aliran pada jaringan dan menghambat aliran darah balik, dan jika tekanan tersebut konstan selama 2 jam atau lebih akan menimbulkan destruksi dan perubahan ireversibel dari jaringan1,3,4,5,6,7.

Substansia H  yang mirip dengan histamine dilepaskan oleh sel-sel yang iskemik dan akumulasi metabolit seperti kalium, adenosine diphosphat (ADP), hidrogen dan asam laktat, diduga sebagai faktor yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Reaksi kompensasi sirkulasi akan tampak sebagai hiperemia dan reaksi tersebut masih efektif bila tekanan dihilangkan sebelum periode kritis terjadi yaitu 1-2 jam. Suatu penelitian histologis memperlihatkan bahwa tanda-tanda kerusakan awal terjadi di dermis antara lain berupa dilatasi kapiler dan vena serta edem dan kerusakan sel-sel endotel. Selanjutnya akan terbentuk perivaskuler infiltrat, agregat platelet yang kemudian berkembang menjadi hemoragik perivaskuler3. Yang menarik, pada tahap awal ini, di epidermis tidak didapatkan tanda-tanda nekrosis oleh karena sel-sel epidermis memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada keadaan tanpa oksigen dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, perubahan patologis oleh karena tekanan eksternal tersebut terjadi lebih berat pada lapisan otot daripada pada lapisan kulit dan subkutaneus1. Hal ini sesuai dengan pernyataan Daniel dkk (1981) yang mengemukakan bahwa iskemia primer terjadi pada otot dan kerusakan jaringan kulit terjadi kemudian  sesuai dengan kenaikan besar dan lamanya tekanan3.

Lindan dkk menyebutkan bahwa pada pasien posisi supine, tekanan eksternal 40-60 mmHg merupakan tekanan yang paling berpotensi untuk  terbentuk ulkus pada daerah sacrum, maleolus lateralis dan oksiput. Sedangkan pada pasien posisi prone, thoraks dan genu mudah terjadi ulkus pada tekanan 50 mmHg. Pada pasien posisi duduk, mudah terjadi ulkus bila tekanan berkisar 100 mmHg terutama pada tuberositas Ischii. Kesimpulannya, tekanan-tekanan tersebut lebih tinggi dari tekanan kapiler yang mengindikasikan alasan area anatomi tersebut sering terjadi ulkus dekubitus.

Kosiak (1959) membuktikan pada anjing, bahwa tekanan eksternal sebesar 60 mmHg selama 1 jam akan menimbulkan perubahan degeneratif secara mikroskopis pada semua lapisan jaringan mulai dari kulit sampai tulang, sedangkan dengan tekanan 35 mmHg selama 4 jam, perubahan degeneratif tersebut tidak terlihat3. Dulu faktor neurotropik disebutkan sebagai faktor penyebab utama ulkus dekubitus, tetapi ternyata hal tersebut tidak terbukti3,4.

Faktor Sekunder

Faktor-faktor yang menunjang terjadinya ulkus dekubitus antara lain:

  • gangguan saraf vasomotorik, sensorik  ataupun motorik,
  • kontraktur sendi dan spasisitas,
  • gangguan sirkulasi perifer,
  • malnutrisi dan hipoproteinemia,
  • anemia,
  • keadaan patologis kulit (gangguan hormonal, edema, autoimun),
  • maserasi,
  • infeksi,
  • higiene kulit yang buruk,
  • inkontinensia urin et alvi,
  • kemunduran mental dan penurunan kesadaran1,2,3,4,5,6,7.

 
KLINIS

Riwayat penderita

Terjadi pada pasien-pasien paraplegia, quadriplegia, spina bifida, multipel sklerosis dan imobilisasi lama di rumah sakit. Selain itu, faktor lain perlu diketahui dari riwayat penderita meliputi onset, durasi, riwayat pengobatan sebelumnya, perawatan luka, riwayat operasi sebelumnya, status gizi dan perubahan berat badan, riwayat alergi, konsumsi alkohol, merokok serta keadaan sosial ekonomi penderita1,3,4,5,7.

Anamnesa sistem termasuk di dalamnya antara lain demam, keringat malam, spasme (kaku), kelumpuhan, bau, nyeri1,4.

 

 

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi :

  1. Lokasi ulkus dekubitus

Setiap bagian tubuh dapat terkena dekubitus, tetapi umumnya pada daerah tekanan dan penonjolan tulang antara lain:

  1. Tuberositas Ischii

Frekuensinya mencapai 30% dari lokasi tersering, terjadi akibat tekanan langsung pada keadaan duduk. Juga karena foot rest pada kursi roda yang terlalu tinggi, sehingga berat badan tertumpu pada daerah ischii.

  1. Trochanter Mayor

Frekuensinya mencapai 20% dari lokasi tersering. Terjadi karena lama berbaring pada satu sisi, kursi roda terlalu sempit, osifikasi heterotropik, skoliosis, yang mengakibatkan berat badan tertumpu ke sisi panggul yang lain.

  1. Sacrum

Frekuensinya mencapai 15% dari lokasi tersering, terjadi pada penderita yang lama berbaring posisi supine, tidak berubah posisi berbaring secara teratur, salah posisi pada waktu duduk di kursi roda. Juga dapat terjadi karena penderita merosot di tempat tidur dengan sandaran miring, terlalu lama kontak dengan urin, keringat ataupun feces.

  1. Tumit

Frekuensinya mencapai 10% dari lokasi tersering. Keadaan spastik pada anggota gerak bawah dapat menimbulkan tekanan dan gesekan tumit pada tempat tidur atau pada foot rest kursi roda.

  1. Maleolous

Maleolus lateralis dapat terkena karena berbaring terlalu lama pada satu sisi, trauma pada waktu pemindahan pasien, posisi foot rest kurang baik. Maleolus medialis juga dapat terkena karena gesekan kedua maleolus kanan dan kiri akibat keadaan spastik otot aduktor.

  1. Genu

Terjadi pada penderita yang lama berbaring pada posisi prone, sedangkan sisi lateral genu karena lama berbaring pada satu sisi.

  1. Lainnya meliputi cubiti, scapula dan processus spinosus vertebrae1,3,4,5,7.

Tanda infeksi pada ulkus dekubitus antara lain tepi luka eritema, berbau, discharge purulen dan nekrosis tulang1,3,4.

  1. Klasifikasi1,3,4,5,6,7

Berdasarkan Nasional Pressure Ulcers Advisory Panel System di Amerika Serikat, ulkus dekubitus  terbagi menjadi 4 derajat berdasarkan tingkat kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot, tulang dan sendi.

 

Derajat  I

Menunjukkan kulit yang utuh (intak) dengan tanda-tanda impending ulkus. Awalnya berupa eritema yang mengindikasikan adanya hiperemis reaktif. Ketika jaringan menjadi iskemia untuk sementara, pembebasan tekanan menyebabkan hiperemis, kemungkinan sebagai mekanisme proteksi dengan meningkatkan aliran darah untuk meningkatkan oksigenasi jaringan dan melepaskan  produk-produk metabolism berbahaya. Hiperemi reaktif akan menunjukkan perubahan dalam 24 jam setelah pembebasan tekanan. Indurasi dan kalor mungkin dapat ditemukan. Eritema tersebut bertahan lebih dari 1 jam setelah tekanan dibebaskan.

Derajat  II

Hilangnya sebagian jaringan epidermis dan dermis (partial thickness). Pada tahap ini dapat ditemukan abrasi, lepuh atau ulkus superficial.

Derajat  III

Hilangnya seluruh jaringan kulit (full thickness) dengan perluasan ke arah jaringan subkutaneus tetapi tidak melampaui fascia. Lesi ini tampak sebagai ulkus dengan atau tanpa kerusakan jaringan sekitar.

Derajat  IV

Menunjukkan perluasan melewati fascia melibatkan otot, tulang,                   tendon dan kapsul sendi. Pada tahap ini dapat terjadi osteomielitis yang                  disertai destruksi tulang serta dislokasi atau fraktur patologis.

Pemeriksaan penunjang

Meliputi pemeriksaan laboratorium darah (antal leukosit, differential count, kadar protein serum, albumin, kadar elektrolit), urinalisa, mikrobiologi (kultur darah, urin, dan pus). Pemeriksaan radiologis jika dicurigai terjadi osteomielitis, dislokasi maupun fraktur, bila perlu dilakukan pemeriksaan MRI dan biopsi tulang. Biopsi luka pada luka kronis dilakukan jika dicurigai terjadi perubahan degeneratif ke arah malignansi 1,3,4,5,9.
KOMPLIKASI

 

Komplikasi sering terjadi pada ulkus dekubitus derajat III dan IV, walaupun dapat juga terjadi pada ulkus yang superfisial. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  1. Infeksi, umumnya bersifat multibakterial baik yang aerobik maupun anaerobik,
  2. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteitis, osteomielitis dan arthritis septik,
  3. Septikemia,
  4. Anemia,
  5. Hipoalbuminemia,
  6. Kematian1,3,4,5.

MANAJEMEN ULKUS DEKUBITUS

Pencegahan

  1. Mengatasi faktor resiko utama :
  1. Hilangkan tekanan : pasien melakukan perubahan posisi tiap 2 jam di tempat tidur sepanjang 24 jam. Melakukan push-up secara teratur pada waktu duduk di kursi roda. Pemakaian berbagai jenis tempat tidur, matras, bantal anti dekubitus seperti circolechic bed, tilt bed, air matras : gel flotation pads, sheepskin, dan lain-lain,
  2. Meminimalkan kelembaban dengan sering mengganti pakaian dan seprai,
  3. Meminimalkan regangan dengan penempatan posisi yang nyaman dan sesuai,
  4. Meminimalkan gesekan dengan cara pemindahan pasien yang hati-hati3,4,5,6,7.
  1. Mengatasi faktor resiko sekunder :
  1. Obati infeksi,
  2. Perbaiki nutrisi yaitu dengan diet tinggi kalori, protein dan vitamin dengan tujuan untuk mempertahankan balans nitrogen tetap positif dan dengan meningkatkan kadar  protein serum hingga 6 mg/100 ml atau lebih,
  3. Menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol,
  4. Kendalikan kadar gula pada pasien-pasien diabetes mellitus,
  5. Mengontrol nyeri,
  6. Mempertahankan volume darah tetap normal dan mengoreksi anemia untuk mencegah vasokonstriksi pada luka dan untuk mengoptimalkan asupan oksigen dalam darah3,4,5,7.

Penanganan Ulkus Dekubitus

Terdapat berbagai macam jenis pembedahan pada ulkus dekubitus. Debridement merupakan tindakan pembedahan untuk membersihkan dan mengangkat jaringan kulit ataupun otot yang mati atau terinfeksi1,3,7,8,9. Tindakan debridement ini akan menyebabkan luka menjadi luas tetapi luka tersebut menjadi lebih sehat dan penyembuhannya menjadi lebih cepat8. Dalam banyak kasus, dilakukan pengambilan sebagian kecil jaringan tulang dari dasar luka untuk mengurangi infeksi berulang1,8. Pada beberapa kasus, hip joint harus diangkat bersama dengan sebagian dari os femur8.

Bedah rekonstruksi pada ulkus dekubitus meliputi tindakan pemindahan sebagian jaringan sehat dari suatu area bagian tubuh penderita untuk menutupi luka di area yang lain. Kulit dan atau otot (flap) ini umumnya diambil dari punggung, glutea atau femur1,8. Jaringan flap ini memiliki suplai darah yang baik, digunakan untuk menutup luka dan membantu memelihara jaringan di sekitar ulkus. Pada saat ulkus telah ditutup, area asal flap juga ditutup dan kadang-kadang diperlukan skin graft untuk menutupi area tersebut8,9

Pada multiple ulkus dekubitus, umumnya dilakukan tindakan pembedahan lebih dari satu kali secara bertahap dan pada kasus-kasus berat dapat dilakukan amputasi tungkai untuk memenuhi kebutuhan jaringan pada proses rekonstruksi8.

Langkah-langkah penanganan ulkus dekubitus meliputi :

  1. Pastikan perubahan posisi pasien secara bertahap setiap 2 jam.
  2. Ulkus dekubitus Partial Thickness :
  1. Atasi semua etiologi,
  2. Penutupan luka, dapat ditambah dengan silver sulfadiazon,
  3. Biasanya sembuh dalam 2-3 minggu secara konservatif1,3,4,7.
  1. Ulkus dekubitus Full Thickness :
  1. Atasi semua etiologi.
  2. Debridement untuk membuang semua jaringan mati.

Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akan menghambat aliran bebas dari bahan yang terinfeksi dan karenanya juga menghambat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi, oleh karena itu pengangkatan jaringan nekrotik akan mempercepat proses penyembuhan luka7.

Terdapat 3 metode debridement yaitu :

  • Sharp debridement (dengan pisau, gunting, dan lain-lain)
  • Enzymatic debridement (dengan enzim proteolitik, kolagenolitik dan fibrinolitik)
  • Machanical debridement (dengan tehnik pencucian, pembilasan, kompres dan hidroterapi)3.
  1. Penutupan luka lembab-basah, antibiotik bila infeksi, penutup oklusif untuk luka pasca debridement tidak terinfeksi, mengobati infeksi jaringan lunak (debridement, drainase, antibiotik), mengobati bila terjadi osteomielitis (debridement agresif, antibiotik sistemik) dan penggunaan Vacuum Assisted Clossure pada luka dekubitus tertentu1,7,8.
  2. Jaringan yang terbuka ditutup dangan flap ataupun pada kasus sederhana dapat dengan graft 1,7,8,9.

 

PROGNOSIS

Terjadinya proses penyembuhan ulkus dekubitus tergantung faktor-faktor primer maupun sekunder serta penatalaksanaan ulkus itu sendiri. Meskipun perkembangan dan penerapan berbagai prosedur serta pengobatan baru pada ulkus dekubitus, namun tidak ada penelitian yang memperlihatkan penurunan insidensi maupun prevalensi dekubitus dalam 3 dekade terakhir4.

Perlu diingat pentingnya tindakan pencegahan karena pada dasarnya ulkus dekubitus dapat dicegah.

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

  1. Brandon J Wilhelmi. 2006. Pressure Ulcers, Surgical Treatment and Principles.

http://www.emedicine.com/plastic/topic462.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Arwaniku. 2007. Ulkus Dekubitus

http://surabayaplasticsurgery.blogspot.com/2007/05/pressure-sore-ulkus-dekubitus.html Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Djunaedi Hidayat, Sjaiful Fahmi Daili, Mochtar Hamzah. 1990. Ulkus Dekubitus dalam Cermin Dunia Kedokteran. FK UI, Jakarta. Hal : 33-5

 

  1. Don R Revis Jr. 2006. Pressure Ulcers, Nonsurgical Treatment and Principles.

http://www.emedicine.com/plastic/topic424.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Don R Revis Jr. 2005. Decubitus Ulcers.

http://www.emedicine.com/plastic/topic391.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Subhan Kadir. 2007. Dekubitus.

http://subhankadir.wordpress.com/2007/08/20/decubitus/ Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Gentur Sudjatmiko. 2007.  Ulkus Dekubitus dalam Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi. Mahameru Offset Printing, Jakarta. Hal : 95-8

 

  1. Jorge de La Torre and Ann. Marie Oberheu. 2005. Reconstruction Surgery for Pressure Sores.

http://images.main.uab.edu/spinalcord/pdffiles/PO-09-05.pdf+reconstruction+of+pressure+ulcer&hl=id&ct=clnk&cd=13&gl=id Diakses tanggal 2 februari 2008

 

  1. Don R Revis Jr. 2005. Skin, Grafts.

http://www.emedicine.com/plastic/topic392.htm Diakses tanggal 2 februari 2008

February 14, 2008 in Science | Permalink

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Asmatikus

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Meskipun asma sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, para ahli belum sepakat mengenai definisi penyakit ini. Definisi asma yang saat ini umumnya disetujui oleh para ahli adalah merupakan penyakit paru dengan karakteristik:

  1. Obstruksi saluran nafas yang reversible
  2. Inflamasi saluran nafas
  3. Peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan.

Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala- gejala asma seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Diduga baik obsrtuksi maupun peningkatan respon terhadap rangsangan didasari oleh inflamsai saluran nafas.

Prevalansi asma dipengaruhi banyak factor antara lain jenis kelamin. Umur klien, keturunan, serta lingkungan. Pada masa anak- anak ditemukan prevalansi 1,5 : 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak dari laki- laki. Di Indonesia prevalensi asma tikus berkisar antara 5 sampai 7%.

  1. Tujuan penulisan
    1. Tujuan umum

Diharapkan mahasiswa/i mampu memahami penyakit asma dan penatalaksanaannya dalam keperawatan gawat darurat.

  1. Tujuan khusus

Diharapkan mahasiswa/i dapat mengetahui tentang:

  1. Anatomi fisisiologi sistem pernapasan
  2. Pengertian asmatikus
  3. Etiologi penyakit asma
  4. Patofisiologi
  5. Manifestasi klinis
  6. Komplikasi
  7. Pemeriksaan diagnostic
  8. Penatalaksanaan
  9. Asuhan keperawatan
  1. Ruang lingkup penulisan

Makalah ini membahas mengenai konsep dasar penyakit asma meliputi anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asma tikus, etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan keperawatan serta dalam  penanganan penyakit asma dalam keperawatan gawat darurat.

  1. Metode penulisan

Makalah ini disusun menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan membaca dan menuliskan kembali pendapat, penjelasan/ uraian maupun hasil penelitian dari pustaka- pustaka yang kami pilih sebagai referensi yang berhubungan dengan meteri yang akan dibahas.

  1. Sistematika penulisan

Makalah ini disusun secara sistematis, yang terdiri dari tiga bab; Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, teknik penulisan, ruang lingkup penulisan dan sistematika penulisan; BAB II tinjauan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sistem pernafasan, Pengertian asmatikus, etiologi penyakit asma, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan, Asuhan keperawatan dalam penanganan kegawat daruratan; BAB III penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. Konsep Dasar
  1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan

Organ-organ pernafasan terdiri dari :

  1. Hidung / Nasal

Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang              ( kavum nasi ), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ). Didalamn ya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung. Lapisan-lapisan lubang hidung yaitu :

  1. lapisan luar dinding terdiri dari lapisan kulit
  2. lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan
  3. lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat (konka nasali/karang hidung) yang berjumlah 3 buah yaitu konka nasalis inferior, konka nasalis media, dan konka nasalis superior.

Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakrimalis. Fungsi hidung yaitu sebagai saluran pernafasan, penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung, menghangatkan udara pernafasan yang dilakukan oleh mukosa, membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir ( mukosa ).

  1. Tekak / Faring

Faring merupakan persimpangan antara jalan pernafasan dengan pencernaan, yang terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung atau mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain : ke atas berhubungan dengan rongga hidung, ke depan berhubungan dengan rongga mulut. Rongga faring terdiri dari  dalam tiga bagian : sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring, bagian tengah yang sama tingginya dengan ismus fausium disebut orofaring, bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.

  1. Pangkal / Tenggorok

Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea di bawahnya.

  1. Batang tenggorok / Trakea

Merupakan lanjutan dari faring yang dibentuk oleh 16 s/d 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda    (huruf C), sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar disebut sel bersilia, hanya bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel berselia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan, yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan yang disebut karina.

  1. Cabang tenggorok / Bronkus

Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis ke IV dan ke V. Mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-11 cincin mempunyai 2 cabang.

  1. Paru – paru

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung udara (alveoli). Gelembung-gelembung alveoli terdiri dari: sel-sel epitel dan endotel. Pada lapisan ini terjadi pertukaran darah, O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner: ventilasi pulmoner, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar; arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari tubuh masuk ke paru-paru; distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian; difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen (Syaifuddin, 1997, hal. 87-93).

  1. Pengertian

Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkeolus. (Corwin. 2001. hal, 430).

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (Ngastyah. 1997. hal, 66).

Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang terjadi karena spasme bronkus yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo. 1997. hal, 565).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner & suddart. 2001. hal 614).

Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkeolus berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).

Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal, 566).

  1. Etiologi

Menurut Mansjoer. 2003 hal 461 faktor pencetus dari asma adalah allergen, infeksi (terutama saluran nafas bagian atas) iritan, cuaca, kegiatan jasmani, refluks esophagus dan psikis. Sedaangkan status asmatikus itu sendiri menurud Brunner & Suddart 2002 hal 614, disebabkan oleh infeksi, asietas, penggunaan tranguilizer berlebihan, penggunaan nebulizer berlebihan, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic dan iritan non spesifik serta hipersensitifitas terhadap penicillin.

  1. Patofisiologi

Allergen masuk ke dalam tubuh

Merangsang sel plasma

Ig E

Sejumlah mediator (histamine, neokotrien, factor pengaktifasi platelet, bradikinin dll)

Permeabilitas kapiler meningkat

Produksi mucus meningkat (pembengkakan mukosa bronchial dan pengentalan sekresi)

Diameter bronchial menurun

Abnormalitas ventilasi perfusi

Hipoksemia dan respirasi alkalosis

Respirasi asidosis

(Brunner & Suddart. 2002. hal 614).

  1. Manifestasi klinis

Menurut Brunner & Suddart. 2002.hal 614.

  1. Asma hebat
  2. Perpanjangan ekhalansi
  3. Pembesaran vena leher
  4. Mengi

Menurut Hudak & gallo 1997. hal 566 adalah:

  1. Asietas akut
  2. Usaha bernapas dengan keras
  3. Takikardi
  4. Berkeringat

Menurut Corwin 2001. hal 431. adalah:

  1. Dipsnea  berat
  2. Retraksi dada
  3. Napas cupin hidung
  4. Whizzing
  5. Pernapasan dangkal dan cepat
  1. Komplikasi

Komplikasi dari status asmatikus adalah gagal nafas ( Brunner & Suddart. 2002. hal, 614).

  1. Pemeriksaan diagnostic
  2. Pemeriksaan fungsi paru: digunakan untuk mengkaji obstruksi jalan nafas akut
  3. Pemeriksaan gas darah arteri: dilakukan jika klien tidak mampu melakukan manufer fungsi pernapasan, karena obstruksi berat atau keletihan atau jika klien tidak berespon terhadap tindakan
  4. Respirasi alkalosis( CO2 rendah) adalah temuan yang palibg umum pada pasien asmatikus dan peninglatan PCO2) ke kadar normal atau kadar yang menandakan respirasi asidosis) sering kali merupakan tanda bahaya serangan gagal nafas
  5. Lakukan fototoraks
  6. Lakukan pemeriksaan EKG
  1. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan keperawatan:

  1. Berikan posisi fowler/ semi powler serta longgarkan pakaian klien.
  2. Buka saluran pernafasan dengan mengekstensikan leher.
  3. Tanda- tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa turgor kulit.
  4. Masukan cairan penting untuk melawan dehidrasi.
  5. Mengencerkan sekresi dan untuk memudahkan ekspekturasi hingga 3 sampai 4 liter per hari kecuali jika ada kontra indikasi.
  6. Pemantauan terhadap pasien oleh perawat secara terus- menerus penting dilakukan dalam 12 sampai 24 jam pertama, atau sampai status asmatikus dapat diatasi.
  7. Enegi pasien harus dihemat dan ruangan harus tenang serta bebas dari iritan pernapasan, termasuk bunga, asap tembakau, perfume, atau bau bahan pembersih.
  8. Bantal non alergik harus digunakan.
  9. Berikan pendidikan kesehatan pada pasien berupa instruksi untuk dengan segera melaporkan tanda dan gejala yang menyulitkan seperti bangun saat malam hari dengan serangan akut, tidak mendapatkan peredaan komplit dari penggunaan inhaler atau mengalami infeksi pernapasan.

Penatalaksanaan medik:

  1. Dalam lingkungan kedaruratan pasien mula- mula diobati dengan agonis beta (misalnya metapropanol, terbutalin, dan albuteron) dan kortikosteroid.
  2. Pasien juga membutuhkan oksigen supplemental dan cairan intravena untuk dehidrasi.
  3. Terafi oksigen dilaksanakan untuk mengatasi dipsnea, sianosis, dan hipoksemia.
  4. Aliran oksigen yang diberikan harus didasarkan pada nilai gas darah. PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg.
  5. Pemberian sedative merupakan kontra indikasi jika tidak mendapat respon dari pengobatan berulang, dibutuhkan perawatan dirumah sakit.
  1. Asuhan keperawatan
  1. Pengkajian

Pengkajian khusus:

Kaji ABCDE terlebih dahulu pada pasien yang mengalami kegawat daruratan

Pengkajian lengkap “Head to toe” hanya dilakukan jika masalah ABC telah tertangani only after.

  1. Airway

Tanyakan pada pasien bagaimana keadaannya?

  1. Breathing

1)      Minta pasien untuk bernafas dan batuk

2)      Observasi pergerakan dada

3)      Observasi kedalaman dan kecepatan nafas

4)      Catat pengunaan otot-otot bantu pernafasan

5)      auskultasi

  1. Circulation

1)      Kaji warna kulit / temperature / capilary reffil

2)      Pulse (kecepatan, kekuatan dan irama)

Pengkajian umum:

Dapatkan riwayat:

Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic, riwayat pasien tentang disfungsi pernafasan sebelumnya; bukti terbaru penularan terhadap infeksi, allergen atau iritan lain, trauma. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru.

Observasi pernafasan terhadap:

Frekuensi: cepat ( takipnea ), normal atau lambat

Kedalaman: kedalaman normal, terlalu dangkal ( hipopnea ), terlalu dalam (hiperpnea), biasanya diperkirakan dari amplitude torakal dan pegembangan abdomen.

Kemudahan: kurang upaya, sulit (dispnea), ortopnea, dihubungkan dengan retraksi enterkosta dan atau substrenal (inspirasi “ tenggelam” dari jaringan lunak dalam hubungannya dengan kartilaginosa dan tulang toraks), pulsus paradoksus (tekanan darah turun dengan inspirasi dan menigkat karena ekspirasi), pernafasan cuping hidung dan mengi.

Pernafasan sulit: kontinu, intermiten menjadi makin buruk dan menetap, awitan tiba- tiba pada saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi, menggorok, dihubungkan dengan nyeri.

Irama: variasi dalam frekuesi dan kedalaman pernafasan.

Observasi dalam adanya:

Bukti infeksi: peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe serfikal, membrane mukosa terinflamasi, dan rabas purulen dari hidung, telinga atau paru- paru (sputum).

Mengi (wheezing): ekspirasi atau inspirasi, nada tinggi atau musical, memanjang, secara lambat progresif atau tiba- tiba, berhubungan dengan pernafasan sulit

Sianosis: perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang tubuh sera wajah, derajat, durasi, berhubungan dengan aktivitas).

Nyeri dada: perhatikan lokasi dan situasi; terlokalisir atau menyebar, pernafasan cepat, dangkal atau menggorok.

  1. Diagnosa keperawatanan

1)      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekresi mucusa pada jalan nafas

2)      Pola nafas tidak efektif berhubugan dengan spasme otot bronkus

3)      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan

  1. Intervensi keperawatan

Diagnosa 1 dan 2

  1. Berikan klien posisi fowler atau semifowler

Rasional: posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan.

  1. lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi

Rasional: pembersihan jalan nafas secara mekanik pada klien akan membantu dalam pengeluaran sekret

  1. berikan cairan atau minuman hangat (kecuali ada kontra indikasi)

Rasional: cairan khususnya air hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret

  1. kolaborasi dalam pemberian nebulizer sesuai indikasi

Rasional: memudahkan pengenceran dan pengeluaran sekret.

Diagnosa 3

  1. Kaji tingkat toleransi klien
  2. Bantu klien dalam beraktivitas
  3. Berikan periode istirahat yang cukup
  1. Evaluasi keperawatan
    1. Bersihan jalan nafas adekuat
    2. Pola nafas kembali efektif
    3. Pasien mempertahankan tingkat energi yang adekuat

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Asma adalah penyakit jalan napas yang tak dapat pulih yang terjadi karena spasme brongkus yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti allergen, infeksi dan latihan (Hudak & Gallo. 1997. hal, 565).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespon terhadap terapi konvensional ( Brunner & suddart. 2001. hal 614).

Statatus asmatikus adalah keadaan spsme bronkeolus berkepanjangan yang mengancam nyawa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan (Corwin. 2001.hal, 432).

Status asmatikus adalah serangan asma akut yang refraktori dan keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan beta adrenergic atau tiofilin intravena (Hudak & Gallo. 1997. hal, 566).

Dalam penanganan keperawatan gawat darurat status asmatikus dapat disesuaikan dengan etiologi atau factor pencetusnya.

  1. SARAN

Diharapkan setelah mempelajari makalah seminar “asuhan keperawatan gawat darurat pada gangguan sistem pernafasan: status asmatikus” pembaca khususnya mahasiswa/ I akademi keperawatan sintang dapat mengerti dan mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan sesuai rencana keperawatan secara komprehensif.

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Kasuistik

BAB II

PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

  1. PENGERTIAN KASUISTIK

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengetian kasuistik yaitu ilmu atau moral. Jika dihubungan dengan ilmu kedokteran kasustik berarti sebab-sebab timbulnya sesuatu, kumpulan kasus penyakit dokter membuat catatan dan diagnosa melalui Tanya jawab dengan pasiennya.

 

  1. PERKEMBANGAN KASUISTIK

 

Jika kita memandang sejarah etika kasuistik mempunyai suatu tradisi panjang dan kaya yang sebebnarnya sedah dimulai dengan pengertian Aristoteles mengenai etika sebagai ilmu praktis. Karena sifatnya praktis, setiap uraian tentang etika dengan sendirinya disertai contoh-contoh konkret yang sudah terlihat sejak permulaan sejarah etika itu mudah berkembang kea rah kasuistik. Tapi dalam perkembangannya sering mengalami turun naik. Zaman kejayaan kasuistik di susul zaman kemunduran dan kecurigaan. Salah satu zaman kejayaan adalah abad pertengahan ketika metode kasuistik banyak dipakai dalam teologi moral Kristen khususnya dalam kaitan dengan praktek pengakuan dosa. Puncak kejayaan kasuistik berlangsung antara pertengahan abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17. pada waktu itu diterbitkan banyak buku tentang teologi moral yang di dasarkan atas metode kasuistik. Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan amat mendadak karena kritik Blaire Pascal (1623-1662). Dalam bukunya surat-surat provincial (1656-1657) Filsuf Prancis ini melontarkan serangan tajam kearah teolog-teolog yang menurutnya menyalahgunakan kasuistik untuk mempermudah tingkah laku permisif bagi orang-orang bangsawan yang kaya. Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama di anggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

 

  1. PENERAPAN KASUISTIK

 

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang dimana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis. Dalam buku pegangan dan majalah tentang etika biomedis sudah menjadi kebiasaan agak umum membicarakan kasus-kasus konkrit.

Praktek kasuistik ini cocok sekali dengan bidang kedokteran itu sendiri. Ilmu kedokteran juga mempunyai tradisi panjang menerapkan prinsip-prinsip ilmiahnya pada kasus-kasus konkret. Pengetahuan tentang penyakit pun bisa dianggap sebagai hal abstrak yang perlu diterapkan pada kasus pasien dengan mengikutsertakan situasinya yang khusus.

Sebelum menentukan diagnosis, seorang dokter yang baik tidak akan lupa membuat anamnesis dulu atau yang dalam bahasa Inggris disebut The Case History (riwayat kasusnya). Ia akan mengajukan pertanyaan seperti ini : “penyakit apa yang diidap pasien sebelumnya? Penyakit apa yang pernah terjadi dalam keluarganya ? akhir-akhir ini pasien berada di tempat mana (di daerah malaria umpamanya) ? dan lain-lain.” Baru sesudah itu ia akan memastikan penyakit pasien. Juga dalam mendidik dokter-dokter baru atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi dokter-dokter lama , sering dipergunakan metode kasus. Juga dalam teologi Kristen abad pertengahan berulang kali ditekankan bahwa seorang Teolog moral harus bertindak seperti “seorang tabib yang berpengalaman” dalam mengamalkan ilmunya. Dengan demikian minat besar untuk kasuistik dalam etika biomedis bukan merupakan hal yang baru, tapi hanya menghidupkan kembali suatu metode yang sudah lama dikenal dalam ilmu dan praktek kedokteran.

Suatu bidang lain dimana kasuistik sudah lama dipraktekkan adalah hukum. Disitu juga ketentuan-ketentuan yang umum diterapkan pada kasus-kasus konkret. Dan disitupun situasi khusus si klien memainkan peranan penting dalam konteks kehakiman sering dibicarakan tentang faktor-faktor yang meringankan atau memberatkan.

Hal yang masih agak baru bagi kasuistik adalah etika bisnis, seperti cabang terapan etika itu sendiri masih sesuatu yang baru. Dalam buku pegangan tentang etika bisnis kini tak urung akan ditemukan juga pembahasan kasus. Hal ini sejalan dengan ilmu manajemen modern yang juga banyak dipraktekkan dengan menganalisis kasus-kasus konkret, terutama di Amerika Serika. Tendensi dalam etika terapan sekarang ini rupanya sesuai dengan orientasi dalam ilmu manajemen modern, sehingga hampir diam-diam kasuistik memasuki etika bisnis juga. Mengapa kasuistik bisa menjadi cara yang popular untuk menangani masalah-masalah moral ? karena ternyata kasuiatik diakui sebagai metode yang efisien untuk mencapai kesepakatan di bidang moral. Jika orang berangkat dari teori, jauh lebih sulit untuk sampai pada kesepakatan seperti itu.

 

  1. PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

 

Mengahdapi maslah-masalah moral yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tenaga medis harus bersedia melibatkan diri secara aktif , karena sumbangan mereka bersifat menentukan. Maslah ledakan penduduk yang berkaitan dengan praktik-praktik kontrasepsi, sterilisasi dan aborsi, tidak boleh ditentukan oleh para politisi dan ahli hukum saja. Masalah narkotik yang membahayakan kesejahteraan bangsa, terutama generasi muda, tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa keterlibatan aktif dari tenaga media. Juga dalam menangani masalah baru seperti AIDS, tenaga medis harus ikut menyumbangkan pikiran dan keahlian mereka.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pasien

 

Hubungan antara tenaga medis dan pasien ditandai oleh kepercayaan timbale balik. Tenaga medis berusaha membantu pasien dengan sebaik mungkin dan mau menyimpan semua rahasia. Pasien, bahkan sesudah pasien itu meninggal. Mereka menambah pengetahuan dan keterampilan terus menerus demi ke[pentingan orang sakit, dan tetap rendah hati dan mengenal batas-batas kemampuan mereka. Mereka setia membantu pasien, dan tidak meninggalkan mereka bila belum jelas bahwa ada tenaga media lain yang akan meneruskan perawatan. Mereka memberi kebebasan pada pasien untuk berhubungan dengan keluarga, dan dengan penasehat mereka dalam bidang agama. Itu semua merupakan dasar yang kuat bagi apsien, untuk percaya penuh pada mereka. Tenaga medispun percaya pada pasien, maka mereka menghargai hati nurani pasien. Yang terpenting untuk diperhatikan oleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasien ialah bahwa merekka itu manusia seutuhnya, maka perlu siperlakukan dan dibantu secara manusiawi sepenuhnya. Walaupun tenaga medis teerutama bertanggung jawab atas kesehatan badan meraka, tidak boleh dilupakan segi-segi kejiwaan dan kerohanian yang merupakan kesatuan dengan segi kejasmanian mereka. Para ahli semakin memahami bahwa obat dan perawatan hanya merupakan salah satu usaha dari berbagai kenyataan yang memabntu penyehatan kembali para pasien. Sebab, ada kenyataan lain yang membantu kesembuhan orang sakit, misalnya : tekad pasien untuk sembuh, dan hidup terus; dukungan dan doa keluarga; dan berkat dari Tuhan sendiri.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan masyarakat

 

Dalam abad-abad terakhir ini, orang semakinmenyadari segi sosial dari hisup mereka. Walaupun setiap individu bersifat unik dan merupakan pribadi yang bebas, ia sekaligus mempunyai kodrat sosial sebagai mahkluk yang memerlukan dan diperlukan oleh orang lian. Proses sosialisasi, baik dalam kesadaran maupun dalam kenyataan kehidupan dalam masyarakat juga terjadi dalam lingkungan tenaga medis.

Kalau pada zaman dulu tenaga medis melakukan tugas mereka dengan perhatian penuh pada masing-masing pasienyang menjadi langganan mereka, maka dewasa ini mereka bekerja dalam “team” yang tidak hanya mempunyai tanggung jawab atas masing-masing penderitas sakit, melainkan juga terhadap kesejahteraan masyarakat luas, terhadap seluruh banagsa. Tanggung jawab keluarga besar tenaga medis terhadap kesejahteraan seluruh masyarakat tidak hanya bersifat kuratif, melainkan juga bersifat preventif. Tanggung jawab itu mereka laksanakan sebagai kewajiban moral, yang juga mereka jalankan tanpa diminta oleh masyarakat, tanpa diperintahkan oleh pemerintah. Sebab panggilan yang dulu dimenergerti sebagai panggilan membantu masing-masing orang sakiat, ini lebih dipahami sebagai pamnggilan untuk ikut mensejahterakan seluruh masyarakat.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya

 

Dalam sumpah Hipocrates, terungkap kerendahan hatinya sebagai tenaga medis, yang selalu bersedia bekerja sama dengan tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya. Ia bersumpah untuk mencintai para gurunya dalam bidang medis seperti mencintai bapak ibunya sendiri, dan bersedia membagi harta dengan mereka, apabila memang perlu. Ia bersedia memperlakukan anak-anak mereka sebagai saudara kandungnya. Ia bersedia mengajar siapa saja yang ingin menjadi tenaga medis , asal mau menerima etos yang menjiwainya.

Tenaga medis bekerja sama dengan tenaga medis serta pejabat-pejabat pemerintah di bidang kesehatan masyarakat, pertama-tama karena mereka mempunyai tujuan dan panggilan hidup yang sama, yakni mengabdikan hidup mereka untuk kemanusiaan, membantu orang-orang yang menderita sakit, dan membantu mereka yang sehat supaya tidak jatuh sakit. Kerja sama itu seharusnya meliputi berbagai bidang terutama di bidang penelitian, penyelidikan dan pengembangan kesehatan masyarakat. Sebab pengembangan dan pengetahuan dan pelayanan medis hanya terlaksana secara berdaya guna apabila dilaksanakan bersama,. Oleh berbagai spesialis bidang medis yang berbeda-beda. Para ahli yang mengadakan percobaan-percobaan dan penelitian medis harus jujur dan rendah hati dalam mengumumkan hasil-hasil usaha mereka. Sebab hanya dengan demikian para dokter dan tenaga medis lainnya sungguh-sungguh mendapat bantuan yang berarti. Percobaan-percobaan itu tidaklah dipakai dari kemasyuran mereka sendiri melainkan demi pengembangan pelayanan medis bagi mayarakat, bagi kemanusiaan.

Dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan baru yang dpat dilaksanakan oleh tenaga medis, kerja sama dengan para ahli di bidang etika mutlak perlu, supaya kemungkinan-kemungkinan baru itu tidak mewujudkan suatu ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan, misalnya dalam hal : inseminasi buatan dalam tabung, cloning, operasi otak, euthanasia, kontrasepsi, tranplantasi. Dalam kerja sama itu, kedua belah pihak saling mengembangkan pandangannya secara jujur, tidak saling menyalahkan. Juga etika tidak boleh mendikte begitu saja apa yang harus dilakukan oleh tenaga medis .

Selain hal tersebut di atas, masalah-masalah etika moral muncul di antara perawat dank lien, perawat dan dokter, perawat dan pegawai lainnya. Yang mana perawat sering mendapatkan masalah ketika dalam melaksanakan tugasnya.

  • Masalah perawat dan klien dapat berupa ketidakcocokan antara klien, terjadi pengelompokan dan tidak terjadinya interaksi satu sama lain.
  • Masalah lain yang timbul antara perawat dan dokter, yaitu :

v  Masalah rasa menghormati dalam lingkup profesi

v  Ketidakcakapan seorang dokter yang berdampak ke perawat.

  • Masalah perawat dengan perawat lain (pegawai lain) adalah :

v  Kurangnya loyalitas perawat = kurangnya kerja sama perawat dalam menangani pasien

v  Ketidak cakapan perawat = ketidakmampuan perawat dalam mengatasi masalah kliennya.

 

Dari masalah-masalah di atas, maka dipandang perlu adanya pembahasan masalah-masalah kasuistik untuk memecahkan kasus-kasus kompleks.

 

  1. UPAYA HUKUM BAGI KASUS MAL PRAKTEK

Definisi Mal Praktek menurut Taufik Basari, SH. SS, Kepala Divisi Advokasi Publik LBH Jakarta, adalah kesalahan dokter maupun tenaga medis sesuai dengan standar profesi kedokteran atau sesuai dengan ukuran-ukuran ilmu pengetahuan medis dan pengetahuan rata-rata tenaga medis secara umum.

Mal praktek dapat dikelompokkan dalam dua katagori yaitu perbuatan melawan hukum dan pelanggaran perjanjian. Hal hal yang masuk kategori perbuatan melawan hukum misalnya kelalaian, kesalahan atau ketidakhati-hatian yang dilakukan tenaga medis terhadap pasien. Sedangkan kategori pelanggaran perjanjian adalah setiap tindakan dokter bagi pasien yang dikatakan tidak tepat memberikan hasil.

Criteria “hasil”, menurut Taufik, bisa dalam arti sembuh atau lebih baik, ataupun berarti peningkatan. Misalnya pasien bedah plastic mungkin tidak sakit, tapi dia mengharapkan dengan operasi plastic bisa mendapat hasil yang lebih baik. Jadi dokter terikat untuk memenuhi perikatan tersebut. Ketika hasil itu tidak terjadi berarti ada pelanggaran perjanjian.

 

 

 

EMPAT UPAYA HUKUM

Korban atau keluarga korban yang mengalami malpraktek dapat menempuh 4 upaya hukum, yaitu :

  • Tuntutan pidana. Kasus kelalaian dokter atau tenaga medis yang menyebabkan kematian merupakan kasus yang dapat dituntut secara pidana.
  • Tuntutan perdata. Melalui tuntutan ini korban dapat meminta ganti rugi atau permintaan maaf dari dokter atau tenaga medis yang bersangkutan. Pada gugatan perdata juga dikenal istilah “pemenuhan kembali”, misalnya dalam kasus operasi plastic yang tidak berhasil sehingga malah merusak bagian tubuh pasien, maka dokter dapat dituntut melakukan operasi ulang tanpa biaya bagi si korban.
  • Prose internal korps kedokteran dengan menggunakan jalur MKEK ( Majelis Kode Etik Kedokteran ).
  • Upaya administrasi. Upaya hukum ini sangat lemah dan kasuistik sekali, yaitu hanya untuk permasalahan izin praktik, bukan untuk kasus kelalaian atau kecelakaan. Contohnya, seorang sarjana kedokteran yang membuka praktik dokter umum, bila melakukan salah penanganan pada pasien maka dapat dituntut secara administrative.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

  1. KESIMPULAN

Dengan kasuistik dimaksudkan usaha untuk memecahkan kasus-kasus konkret di bidang moral dengan menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum. Kasuistik ini sejalan dengan maksud umum etika terapan.

Tidak mengherankan bila dalam suasana etis yang menandai zaman kita sekarang, timbul minat baru untuk kasuistik. Salah satu zaman kejayaan kasuistik adalah abad pertengahan, ketika metode kasuistik banyak di pakai dalam teologi moral Kristen, khususnya dalam berkaitan dengan praktek pengakuan dosa.

Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan agak mendadak karena kritik Blaise Pascal (1623 – 1662). Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama dianggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang di mana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis.

 

  1. SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak lagi membaca literatur dari sumber-sumber lainnya karena keterbatasan materi yang kami sampaikan di sini. Selain itu kami juga menyarankan untuk menerapkan ilmu yang telah di dapatkan selama berada di lapangan nantinya terutama di saat menemukan kasus-kasus kasuistik yang perlu di tangani secara moral berdasarkan prinsip etika.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

  1. K. bertens, 2001, Etika, PT. Gramedia, Jakarta.
  2. Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo Msf, 1989, Etika Medis, Pustaka Filsafat, Yokyakarta.
  3. Http://www. Tabloid-nakita.com/artikelz.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.