RSS

ETIKA DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI

20 May

Bab 11

ETIKA DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI

 

          Di antara faktor-faktor yang mengakibatkan suasana etis di zaman kita sekarang, perkembangan pesat dan menakjubkan di bidang ilmu dan teknologi pasti mempunyai kedudukan penting. Dengan “ilmu” di sini terutama dimaksudkan ilmu alam. Dengan teknologi dimengerti penerapan ilmu alam yang memungkinkan kita menguasai dan memamfaatkan daya-daya alam. Di antara masalah-masalah etis berat yang dihadapi sekarang ini tidak sedikit berasal dari hasil – kadang-kadang spektekuler yang di capai ilmu dan teknologi modern. Di bandingkan dengan generasi sebelumnya, perkembangan ilmiah dan teknologis itu mengubah banyak sekali dalam hidup manusia, antara lain juga menyajikan masalah-masalah etis yang tidak pernah terduga sebelumnya. Tentu saja topic yang begitu luas dan rumit tidak mungkin di uraikan disini dengan lengkap dan menurut segala aspeknya. Kita harus membatasi diri pada beberapa catatan saja.

 

  1. 1.       MASALAH BEBAS NILAI

Dari yang dikatakan tadi kiranya sudah jelas bahwa kami melihat hubungan langsung antara ilmu dan pertimbangan moral. Ilmu dan moral tidak merupakan dua kawasan yang sama sekali asing yang satu terhadap yang lain, tetapi ada titik temu di antaranya. Pada saat-saat tertentu dalam perkembangan ilmu dan teknologi bertemu dengan moral. Dengan itu kami sebenarnya sudah menjawab pertanyaan hubungan antara ilmu dan nilai-nilai moral yang dikenal baik dalam bentuk “apakah ilmu itu bebas nilai?”. Atas pertanyaan ini sekarang agak umum dijawab bahwa ilmu tidak asing terhadap nilai dan dalam arti itu ilmu tidak bebas nilai. Dulu banyak ilmuwan merasa segan mengakui bahwa ilmu itu tidak bebas nilai, karena mereka mengkhawatirkan dengan itu otonomi ilmu pengetahuan akan dirongrong. Tapi kekhawatiran seperti itu tidak beralasan. Metode ilmu pengetahuan memang otonom dan tidak boleh dicampuri oleh pihak lain, entah itu terjadi atas nama nilai moral, nilai keagamaan, pertimbangan nasional atau alas an apapun juga. Dalam hal ini kita sudah cukup belajar dari sejarah. Kita ingat saja akan “perkara Galilei “ yang terjadi dalam abad ke-17. tahun 1633 Gereja Katolik memaksa ilmuwan Italia, Galileo Galilei, untuk menarik kembali teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari dan tidak sebaliknya (heliosentrisme), yang dinilai bertentangan dengan Kitab Suci Kristen. Campur tangan agama dalam metode ilmiah tidak saja merugikan ilmu, tapi merugikan agama itu sendiri, karena kredibilitasnya bisa berkurang. Dalam abad ke-20 masih terjadi kasus yang sejenis di Uni Soviet. Ahli biologi dan Genetika, T.D. Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintah Stalin bahwa teori genetika Mendel yang tradisional itu bersifat anti marxixtis dan bahwa teorinya sendiri sesuai dengan ajaran komunis dan akan memungkinkan loncatan maju di bidang pertanian. Di kemudian hari terbentuk pendapat umum dal;am kalangan ilmiah bahwa teori Lysenko itu tidak benar. Tapi Stalin memenangkan Lysenko dan para pengikutnya, sedangkan ilmuwan-ilmuwan yang tidak sependapat disingkirkan. Ahli genetika terkemuka, N>I> Vavilov, yang sampai berani mengeritik teori Lysenko, meninggal dalam camp konsentrasi sebagai martir demi ilmu pengetahuan yang otonom.

Bahwa ilmu adalah otonom dalam mengembangkan metode dan prosedurnya, kini bisa diterima tanpa keberatan apapun. Tidak ada instansi lain yang berhak menyensor atau memerintahkan penelitian ilmiah. “kami mencari kebenaran dan bukan sesuatu yang lain” sudah lama menjadi semboyan untuk banyak ilmuwan. Akan tetapi, ilmu dan terutama teknologi sebagai penerapan ilmu teoritis tercantum juga dalam suatu konteks lebih luas. Dan terutama karena alasan itulah ia berjumpa dengan nilai-nilai moral. Ilmu dan teknologi bergumul dengan pertanyaan “bagaimana” (bagaimana struktur materi, bagaimana crania membuat mesin mobil yang irit bahan bakar, banyak sekali lagi). Teori ilmiah dan penerapannya dalam tehnik memberi jawaban atas pertanyaan itu. Tapi disamping itu masih ada pertanyaan-pertanyaan lain, misalnya, pertanyaan yang sangat penting, yaitu “untuk apa?”. Dan sebenarnya pertanyaan terakhir ini secara kronologis tidak terpisah dari yang pertama. Konon, ketika seorang ilmuwan Amerika yang ikut serta dalam” Manhattan Project”- proyek yang mengembangkan bom atom pertama pada awal tahun 1940-an ditanyakan tentang implikasi lebih lanjut dari proyek ilmiah itu, ia menjawab: After all, it is superb physics, “bagaimanapun juga, inilah fisika yang luar biasa”. Maksudnya, ia membatasi diri pada segi ilmiah saja. Ia tidak bersedia meninggalkan lengkup pertanyaan “bagaimana?”. Namun demikian, pada kenyataannya pekerjaannya tidak bisa dilepaskan dari yang terjadi beberapa waktu kemudian di kota Hiroshima dan Nagasaki. Selama ilmuwan bisa membatasi diri pada pertanyaan “bagaimana?”, mungkin ia hanya mencari kebenaran murni. Tapi secara konkret pertanyaan ini dibarengi pertanyaan “untuk apa?”. Hal itu sekarang jauh lebih jelas daripada awal perkembangan ilmu modern. Dalam situasi kita, kemampuan manusia yang tampak dalam ilmu dan teknologi bertautan erat dengan kekuatan ekonomis dan politik/militer. Salah satu alasan terpenting adalah bahwa penelitian ilmiah yang amat terspesialisasi itu menjadi usaha yang semakin mahal. Ilmuwan dengan cita-cita paling luhur pun tidak bisa berbuat banyak, kalau tidak tersedia dana yang sangat dibutuhkan. “hampir semua ilmuwan adalah orang yang dari segi ekonomi tidak bebas” sudah dikatakan Albert Einstein. Yang membiayai penelitian ilmiah tentu sudah mempunyai maksud dan harapan tertentu. Karena keadaan itu di zaman kita sekarang perkembangan ilmu dan teknologi hampir tidak bisa dipisahkan lagi dari kepentingan bisnis dan politik/militer.

 

  1. 2.       AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMIAH

Pertama-tama perlu kita sadari bahwa kemajuan yang di capai berkat ilmu dan teknologi bersifat ambivalen, artinya di samping banyak akibat positif terdapat juga akibat-akibat negatif. Tidak bisa di sangkal, berkat adanya ilmu dan teknologi manusia memperoleh banyak kemudahan dan kemajuan yang dulu malah tidak diimpikan. Kita ingat saja akan fasilitas transportasi dan telekomunikasi yang sangat memudahkan komunikasi bagi banyak sekali orang. Contoh yang tidak kalah penting adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang membuat hidup kita lebih berkualitas dan cukup drastic meningkatkan umur harapan hidup (life expectancy). Memang benar apa yang di katakana Filsuf dan sastrawan Inggris, Bertrand Russell (1872-1970):”perbaikan dalam bidang kesehatan itu sendiri sudah cukup untuk membuat zaman ini lebih disenangi dibanding waktu-waktu sebelumnya yang kini kadang kala masih menjadi objek nostalgia sementara orang. Secara keseluruhan, menurut saya, zaman ini ditandai oleh perbaikan dan kemajuan dalam segala hal dibanding dengan sebelumnya, kecuali bagi yang dulunya sudah kaya dan memiliki hak-hak istimewa”. Yang terutama bertambah dengan kemungkinan-kemungkinan ilmiah dan teknologis ini adalah kemampuan manusia. Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1623) sudah menyadari aspek penting ini dengan menekankan bahwa knowledge is power, “ penetahuan adalah kuasa”. Tidak lama kemudian Filsuf Prancis, Rene Descartes (1596-1650), menulis buku kecil dimana ia menguraikan pendangannya tentang metode ilmu baru yang sedang bertumbuh itu dan pada akhir bukunya ia mengucapkan keyakinannya bahwa dengan demikian umat manusia bisa menjadi maitres et possesseurs de la nature, “penguasa dan pemilik alam”.

Mula-mula perkembangan ilmiah dan teknologi itu dinilai sebagai kemajuan belaka. Orang hanya melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka luas bagi manusia. Pandangan optimistic itu berlangsung terus dan mencapai puncaknya dalam abad ke 19. ilmu dan teknologi dianggap sebagai kunci untuk memecahkan semua kesulitan yang mengganggu umat manusia. Kepercayaan akan kemajuan itu menjadi kentara sekali dalam pemikiran filsuf Prancis, Auguste Comte (1798-1857), yang memandang zaman ilmiah yang disebutnya “zaman positif” sebagai puncak dan titik akhir seluruh sejarah. Pandangan yang begitu optimistic kini tampaknya agak naïf. Kita sekarang ini jauh lebih modest dalam menilai ilmu dan teknologi. Kita menginsafi ambivalensi seluruh proses ilmiah-teknologis itu : ada segi positif tapi ada juga segi negatif. Di samping kemajuan luar biasa, ditimbulkan juga banyak problem dan kesulitan baru. Dan tidak bisa dipungkiri, problem dan kesulitan ini sering mempunyai konotasi etis. Kesadaran akan aspek=aspek negatif yang melekat pada ilmu dan teknologi mungkin belum pernah dirasakan begitu jelas dan meyakinkan seperti pada saat bom atom pertama dijatuhkan di atas kota Hiroshima tanggal 6 agustus 1945 dan tiga hari kemudian di atas kota Nagasaki. Pada ketika itu segera disadari akibat-akibat dahsyat dari kemampuan manusia melalui penguasaan fisika nuklir. Dengan adanya bom nuklir ini ternyata manusia memiliki kemungkinan yang mengerikan utnuk memusnahkan kehidupan di seluruh bumi. Untuk kedua kalinya kesadaran yang sama menyatakan diri ketika sekitar tahun 1960-an mulai dikenal dan diinsafi dengan jelas masalah ekologi dan lingkungan hidup. Bukan saja bom nuklir, melainkan juga perusakan dan pencemaran lingkungan hidup merupakan ancaman besar bagi kehidupan di planet kita. Penggunaan teknologi tanpa batas dalam industri modern akhirnya membahayakan kelangsungan hidup itu sendiri. Yang dibawakan oleh ilmu dan teknologi bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran, bahkan kehancuran, jika manusia tidak segera tahu membatasi diri. Dengan adanya persenjataan nuklir dan perlunya kelestarian lingkungan hidup menghadapi manusia dengan tanggung jawabnya dank arena itu menjadi masalah – maslah etis.

TANDA-TANDA YANG MENIMBULKAN HARAPAN

Bukan saja sedikit sekali perhatian untuk etika dalam masyarakat, melainkan juga perhatian itu hampir selalu terlambat datang. Pemikiran etis hanya menyusul perkembangan ilmiah-teknologis. Baru sesudah problem-problem etis timbul, etika sebagai ilmu mulai diikutsertakan. Refleksi etis tentang persenjataan nuklir baru dimulai, setelah bom atom pertama diledakkan. Refleksi etis tentang reproduksi artificial baru dikembangkan, sesudah “bayi tabung” pertama telah lahir dan eksperimen-eksperimen sudah lama diadakan. Perkembangan ilmiah-teknologis selalu mendahului pemikiran etis. Yang ideal adalah bahwa pemikiran etis mendahului dan mengarahkan perkembangan ilmiah-teknologis, tapi cita-cita seperti itu rasanya masih mustahil untuk diwujudkan. Namun demikian, perlu dicatat bahwa di sini ada beberapa perkembangan yang menggembirakan dan dapat membesarkan hati. Salah satu di antaranya adalah munculnya komisi-komisi etika. Di banyak Negara modern sudah menjadi kebiasaan luas bahwa rumah sakit-rumah sakit dan proyek-proyek penelitian biomedis mempunyai komisi etika yang mendampingi dan mengawasi rumah sakit atau proyek penelitian itu dari sudut etis. Komisi etika seperti itu bisa menjadi semacam “hati nurani”, agar rumah sakit memberi pelayanan yang sungguh-sunggu manusiawi. Komisi dapat dikonsultasi, jika direksi dan staf medis mengalami keraguan etis dalam menjalankan tugasnya, dan komisi sendiri dapat mengambil inisiatif juga, jika menurut pendapatnya terjadi peristiwa yang dari segi moral menimbulkan tanda tanya. Komisi etiaka untuk setiap penelitian ilmiah yang melibatkan manusia sudah menjadi rutin di banyak Negara. Komisi itu harus menyetujui rancangan penelitian dan akan mendampingi seluruh penelitian selama proyek berlangsung. Perhatian untuk segi etis penelitian menjadi suatu sector penting di antara masalah–masalah etis yang disebabkan ilmu dan teknologi. Setelah lebih dulu di buat eksperimen dengan binatang atau ditempuh cara eksperimentasi lain lagi, mau tidak mau timbul saatnya bahwa tidak bisa dihindari lagi mengadakan percobaan langsung dengan manusia untuk mencobai obat baru, prosedur medis baru, atau sebagainya. Percobaan-percobaan ini selalu harus dilakukan demikian rupa sehingga martabat manusia tetap dihormati. Dalam hal ini kekejaman-kekejaman yang dilakukan dokter-dokter nasional-sosialis di Jerman waktu rezim Hitler merupakan peringatan tetap bagi seluruh umat manusia. Tidak pernah bisa diterima kemajuan ilmiah yang diperoleh dengan memperkosa martabat manusia.

Suatu gejala lain yang menggembirakan adalah keikutsertaan etika dalam penelitian genetika tentang gen-gen manusia. Di Amerika Seriakt pada tanggal 1 Oktober 1990 secara resmi dimulai proyek penelitian raksasa yang bertujuan mempelajari bentuk dan isi gen-gen manusia. Proyek yang diberi nama resmi The Human Genome Project ini akan memetakan dan menentukan runtunan seluruh DNA genom manusia. Melalui proyek besar ini lokasi yang tepat dan runtunan nucleotide yang menyusun sekitar 3 biliun DNA genom manusia akan diketahui dan dikatalogkan. Telah didirikan suatu institute khusus, yaitu National Center for Human Genome Research, yang akan melaksanakan penelitian ini dalam kerja sama dengan organisasi-organisasi lain dalam dan luar negeri. Diperkirakan penelitian ini dapat diselesaikan dalam jangka waktu 15 tahun. The Human Genome Project ini telah dinilai proyek Apollo dalam tahun 1960-an yang bertujuan membawa manusia ke bulan. Tidak mustahil informasi yang diperoleh melalui penelitian ini akan mengakibatkan revolusi baru di bidang ilmu-ilmu biomedis umtuk masa mendatang. Akan tetapi, penelitian genetis yang sangat kompleks ini mempunyai banyak implikasi etis yang berat. Bagaimana informasi yang diperoleh di sini akan dimanfaatkan? Penelitian seperti ini selalu dibayangi kekhawatiran bahwa manusia tergoda untuk memanipulasi gen-gennya sendiri dan akhirnya berusaha menciptakan keturunan yang serba-super. Tapi masih ada banyak penyalahgunaan lain lagi yang dimungkinkan dengan penelitian canggih ini. Tidak bisa disangkal, dengan memulai penelitian genetis seperti itu manusia memikul tanggung jawab moral yang berat. Rupanya dalam proyek ini tanggung jawab moral ini diakui sepenuhnya. Dari permulaannya seluruh proyek ini didampingi oleh Ethical, Legal and Social Implications Program: suatu program yang menyoroti implikasi moral, yuridis dan sosial dari proyek penelitian ini (yang konon diberi jatah 3% dari seluruh budgetnya). Dengan demikian mungkin untuk pertama kali dalam sejarah suatu proyek ilmiah besar menyoroti juga aspek-aspek non-ilmiah, khususnya aspek-aspek etis. Hal itu merupakan tanda yang menggembirakan. Kita hanya dapat mengharapkan bahwa dengan itu kesulitan-kesulitan etis dalam wilayah penelitian yang rawan ini dapat diatasi dengan memuaskan.

 

 

 

  1. 3.       TEKNOLOGI YANG TAK TERKENDALI

Dalam refleksi filosofis tentang situasi zaman kita sudah beberapa kali dikemukakan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi merupakan proses yang seakan-akan berlangsung secara otomatis, tak tergantung dari kemauan manusia. Keadaan ini bisa mengherankan, karena teknik sebenarnya dimulai untuk membantu manusia. Fungsinya pada dasarnya bersifat instrumental, artinya, menyediakan alat-alat bagi manusia. Teknik mula-mula dianggap memperpanjang fungsi-fungsi tubuh manusia : kaki (alat transportasi), tangan (mesin-mesin, alat-alat besar), mata (film,televisi), telinga (radio, telepon), sampai dengan otak (computer). Tapi apa yang dirancang sebagai sarana yang memungkinkan manusia untuk memperluas penguasaannya terhadap dunia ternyata menjadi sukar untuk dikuasai sendiri, malah kadang-kadang tidak bisa dikuasai. Martin Heidegger (1889-1976), filsuf jerman yang dalam hal ini barangkali mempunyai pandangan paling ekstrem, berpendapat bahwa teknik yang diciptakan manusia untuk menguasai dunia, sekarang mulai menguasai manusia sendiri. Kesan bahwa proses ilmu dan teknologi berkembang otomatis tampaknya sering kali beralasan. Ketika astronaut Amerika, Neil Amstrong, sebagai manusia pertama yang menginjakkan kakinya pada permukaan bulan tanggal 20 juli 1969, hal ini merupakan hasil suatu proses yang harus terjadi, walaupun tidak ada orang yang tahu persis maksudnya apa. Sekarang manusia akan menuju ke planet lain, khususnya Mars atau Venus. Hal itu merupakan proses yang seolah-olah tak terhindarkan. Pertanyaan tentang tujuannya apa dan apakah dana raksasa yang ditanamkan dalam proyek seperti itu tidak bisa dipakai dengan lebih baik, rupanya dalam konteks ini kurang relevan. Manusia diatas bulan dan manusia diatas planet Mars seolah-olah merupakan keniscayaan yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam hal yang sama berlaku untuk banyak proyek ilmiah dan teknologis lainnya.

Gambaran tentang situasi ilmu dan teknologi ini bagi banyak orang barangkali terlalu pesimistis. Tapi bagi orang lain setidak-tidaknya ada ini kebenaran didalamnya. Kesulitan yang dialami etika untuk memasuki kawasan ilmiah dan teknologis bisa memperkuat lagi kesan itu. Kita teringat di sini akan pengalaman peneliti Amerika, Thomas Grissom, yang disebut pada awal bab 2: hati nuraninya mendesak dia untuk berhenti bekerja dalam proyek pengembangan senjata nuklir, tapi ia insaf juga bahwa tempatnya akan diisi oleh orang lain, karena -bagaimanapun juga- proyek itu berjalan terus. Banyak orang mendapat kesan bahwa proses perkembangan ilmu dan teknologi seolah-olah kebal terhadap tuntutan etis. Dan memang benar, memperhatikan segi-segi etis tidak menjadi tugas ilmu pengetahuan sendiri, melainkan tugas manusia di balik ilmu dan teknologi. Jika kemampuan manisia bertambah besar berkat kemajuan ilmiah dan teknologis, maka kebijaksanaannya dalam menjalankan kemampuan itu harus bertambah pula. “Apakah semua yang bisa dikerjakan ilmu dan teknologi, pada kenyataannya boleh dikerjakan juga?” tidak merupakan pertanyaan yang dapat dijawab oleh manusia yang berperanan sebagai ilmuwan atau teknikus. Dan jelas jawabannya adalah: tidak. Tidak semuanya yang bisa dilakukan dengan kemampuan ilmiah dan teknologis boleh dilakukan juga. Itu berarti bahwa manusia harus membatasi diri. Batas bagi yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan ilmu dan teknologi harus ditentukan berdasarkan kesadaran moral manusia. Akan tetapi, secara konkret siapa yang akan mengambil keputusan? Organisasi profesi ilmuwan dan teknisi yang harus menentukan batas-batas moral itu, atau megara, atau masyarakat internasional? Atau keputusan moral sebaiknya diserahkan kepada ilmuwan dan teknikus masing-masing? Kita mulai menyadari bahwa dalam menangani masalah-masalah moral yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi, Individu-individu sendiri tidak berdaya. Masalah-masalah etis yang begitu berat meninta penanganan lebih menyeluruh. Dalam praktek kita lihat bahwa masalah-masalah etis yang ditimbulakan oleh ilmu dan teknologi ditangani dengan cara yang berbeda-beda. Masalah-masalah di bidang ilmu-ilmu biomedis biasanya ditangani oleh setiap negara, setelah diminta advis dari suatu komisi ahli (fertilisasi in vitro dan reproduksi artificial pada umumnya, transplantasi organ tubuh, eksperimen dengan manusia, dan lain-lain). Masalah-masalah persenjataan nuklir dan kimia diusahakan untuk diatur melalui perjanjian-perjanjian internasional. Masalah-masalah lingkungan hidup baru mulai dipikirkan: ada usaha pada taraf nasional, regional dan malah global, tapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Biarpun perhatian untuk segi etis perkembangan ilmu dan teknologi memang ada, namun usaha pemikiran etis ketinggalan jauh dari usaha untuk memacu ilmu dan teknologi. Jika kita lihat betapa banyak dana, tenaga dan perhatian dikerahkan untuk menguasai daya-daya alam melalui ilmu dan teknologi, perlu kita akui bahwa hanya sedikit sekali dilakukan untuk refleksikan serta mengembangkan kualitas etis dari usaha-usaha raksasa itu. Situasi di universitas- universitas dan institut-institut penelitian lainnya mencerminkan keadaan ini: ilmu dan teknologi digalakkan dengan cara mengagumkan, tapi sedikit sekali perhatian diberikan kepada studi mengenai masalah-masalah etisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. A.    KESIMPULAN

Gambaran tentang situasi ilmu dan teknologi bagi banyak orang barangkali terlalu pesimistis. Tapi bagi orang lain setidaknya ada inti kebenaran di dalamnya. Kesulitan yang dialami etika untuk memasuki kawasan ilmiah dan teknologi bisa memperkuat lagi kesan itu. Kita teringat di sini akan pengalaman peneliti Amerika, Thomas Grissom: hati nuraninya mendesak kita untuk berhenti bekerja dalam proyek pengembangan senjata nuklir, tapi ia insaf juga bahwa tempatnya akan diisi oleh orang lain, karena bagaimanapun juga proyek itu berjalan terus. Banyak orang mendapat kesan bahwa proses pengembangan ilmu dan teknologi seolah-olah kebal terhadap tuntutan etis. Dan memang benar, memperhatikan segi-segi etis tidak menjadi tugas ilmu pengetahuan sendiri, melainkan tugas manusia dibalik ilmu dan teknologi.

 

  1. B.     SARAN

Melalui makalah yang sederhana ini kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak lagi membaca referensi lain yang berhubungan dengan etika dan teknologi untuk menambah pengetahuan. Selain itu juga menerapkan apa yang telah didapatkan setelah berada di lapangan atau di lingkungan masyarakat nantinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

K. Bertens, Etika, 2001, PT. Gramedia, Jakarta.

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: