RSS

Hedonisme

20 May

BAB II

PENERAPAN HEDONISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

  1. 1.      PENDAHULUAN

Sepanjang sejarah barangkali tidak ada filsafat moral yang lebih mudah dimengerti dan akibatnya tersebar lebih luas seperti hedonisme. Hedonisme berasal dari bahasa Yunani “hedone” yang berarti kesenangan. Dalam filsafat Yunani hedonisme sudah ditemukan oleh Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 s.M), seorang murid Sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tapi ia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengeritik jawaban yang dikemukakan oleh orang lain.Aristippos menjawab : yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan. Hal ini terbukti karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenangan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain daripada gerak dalam badan. Mengenai gerak itu ia membedakan 3 kemungkinan yaitu :

  • Gerak yang kasar dan itulah ketidaksenangan, misalnya rasa sakit
  • Gerak yang halus dan itulah kesenangan
  • Tiada gerak merupakan keadaan netral misalnya saat kita tidur.

Aristippos menekankan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan actual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di masa mendatang. Sebab, hal-hal terakhir ini hanyalah ingatan akan atau antisipasi atas kesenangan. Yang baik dalam arti sebenarnya adalah kenikmatan kini dan disini. Jika kita melihat pandangan Aristippos ini sebagai keseluruhan , perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, actual dan individual.

Akan tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Aristippos pun mengakui perlunya pengendalian diri, sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui perlunya pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terbawa olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti meninggalkannya, tapi menguasainya menurut kehendak kita. Konon kepada teman-teman yang mengeritiknya karena hubungannya dengan seorang wanita penghibur kelas tinggi yang bernama Lais ia menjawab :”Saya memiliki Lais, ia tidak memiliki saya”.secara konsekwen ia berpendapat juga bahwa manusia harus membatasi diri pada kesenangan yang diperoleh dengan mudah dan tidak perlu mengusahakan kesenangan dengan susah payah serta kerja keras.

Filsuf Yunani lain yang melanjutkan hedonisme adalah Epikuros (341-270 s.M), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan, tapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos. Walaupun tubuh manusia merupakan “asas serta akar” segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus dianggap paling hakiki , namun Epikuros mengakui adanya kesenangan yang melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia menulis : “ bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami tidak maksudkan kesenangan inderawi, tapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa” (surat kepada Menoikeus). Tapi kesenangan rohani itu hanyalah bentuk yang diperhalus dari kesenangan badani. Ia juga tidak membatasi kesenangan pada kesenangan actual saja. Dalam menilai kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan termasuk juga masa lampau dan masa depan.

3

  1. 2.      PANDANGAN TERHADAP HEDONISME
  1. KESENANGAN DAN KETIDAKSENANGAN

Dalam hedonisme terkandung kebenaran yang mendalam : manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidaksenangan. Psikologi modern –khususnya psikologi yang memamfaatkan psikoanalisis Sigmund Freud memperlihatkan bahwa kecendrungan manusia itu bahkan terdapat pada taraf tak sadar. Seringkali manusia mencari kesenangan tanpa diketahuinya (bandingkan paham libido pada Freud). Tidak bisa disangkal , keinginan akan kesenangan  merupakan suatu dorongan yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Tapi disini perlu dikemukakan sebuah catatan kritis yang pertama , apakah manusia selalu mencari kesenangan ? Apakah manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dalam arti bahwa ia tidak lagi manusia (tapi malaikat atau apa..), jika ia tidak mencari kesenangan ? Apa tidak mungkin juga manusia yang membaktikan seluruh hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan nilai murni dan tanpa pamrih? Tentu saja para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mencari kesenangan adalah motivasi terakhir. Jika kita melihat ibu Teresa dari Kalkuta beserta rekan-rekannya membaktikan hidupnya dengan melayani orang yang paling menderita dan miskin, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya melakukan hal itu untuk mencari kesenangan, untuk dipuji khalayak ramai, untuk meraih hadiah Nobel (dan ternyata ia berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh kebahagiaan kekal di Surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu juga menyenangkan , karena “lebih baik memberi daripada menerima”. Orang yang sanggup memberi selalu berada dalam posisi yang lebih menyenangkan . tetapi apakah itu seluruhnya benar ? Apakah orang seperti ibu Teresa berbuat baik hanya selama dan sejauh mana perbuatannya membawa kesenangan? Apakah kesenangan betul-betul motivasi terakhir hidupnya? Sulit untuk membuktikan ketidakbenaran para hedonis. Kita yakin mereka tidak benar bukan karena suatu kekurangan logis dalam argumentasinya, melainkan karena pandangan mereka tidak cocok dengan pengalaman hidup kita. Kita menerima kemungkinan sikap altruistic yang murni, biarpun barangkali jarang tercapai.

  1. HEDONISME TERDAPAT LONCATAN YANG TAK DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Dari anggapan bahwa kodrat manusia adalah mencari kesenangan , ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moralitas yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika deskripsi saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkah lakunya dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif (yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Jika manusia memang cenderung kepada kesenangan , apa yang membuktikan hal itu tentang kualitas etisnya? Jika manusia cenderung kepada kesenangan, apa yang menjamin kecenderungan itu baik juga? Ada yang memperoleh kesenangan dengan menyiksa atau malah membunuh orang lain, yaitu mereka yang disebut kaum sadis. Para hedonis tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu dengan menandaskan : tapi perbuatan seperti itu akan dihukum dan karena itu akan disertai ketidaksenangan. Sebab, banyak perbuatan jahat tidak diketahui dan akibatnya tidak dihukum. Karena itu kesenangan saja tidak cukup untuk menjamin sifat etis suatu perbuatan.

  1. KONSEPSI YANG SALAH TENTANG KESENANGAN

Para hedonis menpunyai konsepsi yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan tetapi. Kesenangan tidak merupakan suatu perasaan yang subjektif belaka tanpa acuan objektif apapun. Sebenarnya kesenangan adalah pantulan subjektif dari sesuatu yang objektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang baik.

4

Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinsic, bukan karena kita secara subjektif belaka menganggap hal itu baik. Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi objek kesenangan mendahului dan diandalkan oleh kesenangan itu. Dalam hal ini James Rachels memberi sebuah contoh yang jelas”andaikan saja saya mempunyai seorang sahabat . saya senang sekali dengan dia, karenan berulang kali saya mengalami keramahan, perhatian dan kebaikan hatinya terhadap saya. Saya pikir, belum pernah saya mempunyai seorang sahabat  sebaik dia. Tapi pada kenyataannya dan tanpa saya mengetahuinya , yang disebut sahabat itu terus menerus membohongi saya, menipu saya dan menjelekkan nama baik saya. Lalu timbul pertanyaan : Apakah saya sungguh sungguh senang dengan dia? Tentu tidak. Kesenangan saya dengan dia tidak lebih daripada sebuah ilusi saja, suatu dunia khayalan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi , tapi saya dijadikan senang karena memiliki sesuatu yang betul betul baik.

  1. HEDONISME DAN EGOISME

 

Jika dipikirkan secara konsekuen, hedonisme mengandung suatu egoisme, karena hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja. Itulah keberatan keempat terhadap hedonisme. Yang dimaksudkan dengan egoisme disini adalah egoisme etis atau egoisme yang mengatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban moral membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik bagi diri saya sendiri. Egoisme etis mempunyai prinsip : saya duluan, orang lain belakangan saja. Tapi prinsip itu sulit untuk dipertahankan. Apa yang membuat saya menjadi begitu istimewa? Mengapa saya membutuhkan lebih banyak atau hal hal lebih baik daripada orang lain ? Egoisme etis harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip persamaan: semua manusia harus diperlakukan dengan cara sama, selama tidak ada alasan untuk perlakuan berbeda. Jika dua pasien pada waktu yang sama tiba di rumah sakit, yang satu pasien gawat, yang lain pasien biasa, maka ada alasan untuk melayani pasien gawat dulu dan baru kemudian pasien biasa. Jika dua anak muda ikut dalam tes masuk perguruan tinggi dan yang satu memperoleh nilai bagus sedangkan yang kedua mendapat nilai jelek, maka ada alas an juga untuk perlakuan yang berbeda, yaitu menerima yang pertama dan menolak yang kedua. Tapi jika tidak ada alasan untuk perlakuan yang berbeda, dua oran harus diperlakukan dengan cara yang sama. Saya tidak bias menuntut bahwa sayalah yang didahulukan, jika tidak ada alasan yang relevan.

  1. 3.      PENERAPAN DAN DAMPAK HEDONISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

  1. A.    PENGARUH POSITIF HEDONISME

Biarpun pada dasarnya  setiap kesenangan bisa dinilai baik , namun itu tidak berarti bahwa setiap kesenangan harus dimamfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah perbedaan yang diajukan Epikuros antara tiga macam keinginan  yaitu : keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama yang harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena itu Epikuros menganjurkan semacam “pola hidup sederhana”. Orang bijaksana akan berusaha sedapat mungkin terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ataraxia, ketenangan jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikuros, sehingga ia menyebutnya juga tujuan kehidupan manusia (disamping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa, seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa itu akan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati pergaulan dengan sahabat-sahabat.

5

B. PENGARUH NEGATIF HEDONISME

         a. MASYARAKAT YANG MATERIALISTIK DAN KONSUMERISME.

Manusia mempunyai berbagai keinginan di dalam dirinya, yang diantaranya adalah keinginan atau kecenderungan kepada spiritual, keadilan, membantu kepada sesama dan kesenangan kepada keindahan. Dengan kata lain, Tuhan telah mengaruniakan kepada manusia kecenderungan kepada keindahan dan kecenderungan untuk memiliki kecantikan. Dengan begitu manusia akan berbuat untuk memiliki kehidupan materi dan spiritual yang lebih baik. Amat disayangkan, sebagian orang terlalu berlebihan dalam memandang keindahan sehingga terperosok ke dalam lembah hedonisme. Hedonisme berarti berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dan penyimpangan dari daya tarik alami ini. Imam Ali as menyebut tiga tanda bagi orang yang berlebihan dalam hal memanfaatkan karunia dan kenikmatan Allah. Pertama: Memakan apa yang tidak sesuai baginya, kedua mengenakan pakaian yang tidak seharusnya, dan ketiga membeli yang tidak pantas untuk dirinya.Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjerat ke dalam gaya hedonisme yang sebagiannya akan kami bahas pada kesempatan ini.Biasanya kecenderungan kepada hedonisme berpangkal pada kepribadian seseorang. Misalnya, kesombongan dan egoisme adalah penyebab kecenderungan seseorang kepada kehidupan mewah. Orang sombong akan selalu membanggakan kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya untuk menunjukkan keunggulannya atas orang lain.

Persaingan tidak sehat untuk menunjukkan kemewahan terkadang menimbulkan perasaan dengki dan iri. Mereka mengira bahwa cara menunjukkan kelebihan atas orang lain adalah dengan cara bersaing seperti ini. Orang yang hedonis memandang rendah kepada orang lain. Pandangan ini sudah barang tentu akan menyebabkan timbul jurang yang dalam antara mereka dengan orang lain. Dalam mengumpul harta dan barang-barang mewah mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan, dan orang seperti ini tidak akan bersedia memberikan harta mereka kepada orang lain.Penyebab lain penyakit hedonisme ialah, kepribadian tidak sempurna yang dimiliki oleh seseorang. Dari pandangan psikologi, orang yang cenderung kepada kemewahan berusaha menutupi kelemahan dirinya yang kurang dari segi ilmu dan spiritual. Pada sebagian kasus, kita menyaksikan orang-orang kaya yang tidak tahu bagaimana membelanjakan hartanya. Karena itu, mereka membeli dan mengumpulkan barang-barang mewah dan pakaian-pakaian yang mahal.

Faktor penting lainnya adalah, pandangan materialis dan cinta dunia. Orang yang tidak  beriman kepada alam akhirat dan tidak memperdulikan nilai-nilai moral seperti kesederhanaan, kedermawanan dan persahabatan, tidak akan memikirkan nasib orang lain. Mereka tenggelam dalam kemewahan hidup.

Ada pula faktor luar yang menjadi penyebab kecenderungan kepada kemewahan, antara lain adalah budaya masyarakat dan lingkungan sekitar. Dalam sebuah masyarakat yang memiliki budaya hidup mewah, kecenderungan kepada kemewahan akan menguasai seluruh anggota masyarakat. Dalam hal ini, kemewahan para pejabat dan tokoh masyarakat akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada gaya kehidupan ini.

Di era kontemporer ini iklan yang terdapat di berbagai sarana media ikut membantu menciptakan budaya hedonisme. Media-media ini dalam banyak kasus mengiklankan produk-produk yang sebenarnya tidak diperlukan. Iklan-iklan ini pula meninggalkan berbagai dampak psikologis terhadap para pemirsa.Tuhan mengaruniakan nikmat yang tidak terhingga untuk digunakan oleh manusia dalam kehidupan, dan Allah memerintahkan manusia untuk mengunakannya nikmat dan karunia ini secara benar dan adil serta tidak melanggar hak orang lain.

6

Dengan demikian, hedonisme berarti keluar dari aturan ilahi dan menyimpangkan karunia Allah dan hak orang lain.Orang yang hedonis, tidak hanya dikecam karena sikapnya yang memubazirkan anugerah Allah saja, tetapi ia dikecam juga karena dia menutup kesempatan berkembangnya nilai-nilai kebaikan seperti infak, kemanusiaan dan kedermawanan, serta menyebabkan berkembangnya kemiskinan dan ketidak-adilan dalam masyarakat serta meruntuhkan nilai-nilai spiritualitas.

Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya, berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.Di pihak lain, membuang-buang harta untuk membeli barang-barang mahal yang hanya dimaksudkan untuk berbangga-bangga, perlahan-lahan akan menyeret sebuah negara kepada pihak asing. Hal inilah yang terjadi saat ini dunia. Banyak negara dunia yang bergantung kepada Barat yang setiap waktu memasarkan produk-produk baru untuk dikonsumsi.Meskipun pekerjaan, usaha dan jerih payah untuk mencari harta, dapat mengantarkan seseorang dan masyarakatnya kepada kemajuan dan hal ini didukung oleh agama Islam, namun jangan sampai hal itu menjerumuskan kita ke lembah hedonisme dan kemewahan. Sebab, hal itu akan membawa kerugian dan menghalangi manusia untuk sampai kepada tujuan hidup yang sebenarnya. Untuk itu, harus dibedakan antara kecenderungan ke arah keindahan yang merupakan tuntutan fitrah manusia dengan hedonisme yang akan menyeret ke kemewahan dan kesombongan.

b.MUNCULNYA HEDONISME INSTAN

Caleg pemalsu ijazah, masyarakat pembeli gelar (akademis), plagiator skripsi dan tesis, pembobolan bank dan pengemplangan utang (uang rakyat), kleptokrasi habis-habisan, pola terabas perebutan kekuasaan dan seterusnya jika diteliti lebih dalam bermuara pada satu hal: sebuah budaya bangsa yang dinamakan dengan pola hidup jalan pintas. Intinya, ada yang mau terhormat, mau kaya raya, mau berkuasa, dan seterusnya, tetapi dalam tempo sesingkat-singkatnya (dan segampang-gampangnya).Pola hidup atau budaya jalan pintas ini seolah sudah menjadi penyakit bangsa ini, yaitu semacam sikap untuk mengambil jalan atau cara paling cepat dan praktis tanpa mempertimbangkan proses. Pendeknya, orang serba mau enak dengan cepat, tak mau repot. Ciri manusia Indonesia yang “suka main terabas” ini pernah dipopulerkan Mochtar Lubis. Selain itu, menurut Machiavelli, kebiasaan tujuan menghalalkan cara (the ends justify the means) telah menjadi senjata keseharian demi mendukung kelancaran pola jalan pintas tersebut. Pola hidup yang buruk dan dekil itu berakar pada dua sikap mental bangsa, yakni (1) sikap anti-aktualisasi diri dan (2) sikap yang pro hedonisme instan.

Sikap anti-aktualisasi diri adalah sikap hidup yang tidak lagi menjalani hidup demi makna hakiki hidup itu sendiri, hidup sebagai sebuah panggilan, yang konsekuensinya adalah sebuah keyakinan bahwa hidup tak lain sebuah tanggung jawab terhadap kehidupan itu sendiri. Menurut Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya adalah mereka yang membaktikan dan mempersembahkan hidupnya pada “panggilan” hidup tertentu yang dianggap bermakna, baik itu pekerjaan, tugas, profesi maupun status diri. Minat dan daya hidupnya menjadi besar, karenanya mereka akan dan selalu menjalankan fungsi hidupnya, bekerja dengan keras serta memenuhi kewajiban dengan hati dan cinta, menjalani semuanya dengan nikmat, nyaman, menggairahkan dan penuh sukacita.

Proses aktualisasi diri merupakan proses penemuan dan pengembangan (terus- menerus) jati diri serta mekar semerbaknya potensi terbesar dan terdalam manusiawi. Manusia yang menjalankan proses aktualisasi diri tidak emosional- reaktif-subyektif mampu melihat dan menyikapi permasalahan secara bening-obyektif serta memandang hidup apa adanya tanpa memaksakan persepsi dan keinginan egonya sendiri.

7

Jelaslah kini, budaya atau pola hidup jalan pintas sangat anti-aktualisasi diri, yang justru mengebiri jati diri itu sendiri, mereduksi potensi-potensi terdalam dan terbesar manusiawi.

Adapun sikap pro hedonisme instan adalah sikap hidup yang terobsesi oleh segala macam kenikmatan (duniawi) dan bersifat seketika serta sesaat. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memerlukan “kenikmatan-kenikmatan” (baca: reward) dalam hidupnya setelah ia mengusahakan sesuatu atau menjalankan sebuah fungsi hidup.

Namun, ketika orientasi perburuan kenikmatan itu sudah bersifat obsesif, persoalannya menjadi lain. Sikap pro hedonisme instan, sampai batas tertentu, terpengaruh oleh sikap pertama, sikap anti-aktualisasi diri. Tereduksinya potensi-potensi terdalam manusiawi menyebabkan manusia kehilangan kapasitas kesadaran (diri) dalam menyikapi dan mengejar kenikmatan dalam hidupnya.

Merujuk Nuttin, seorang tokoh psikologi humanistis, ada tiga lapis kesadaran manusia. Pertama, lapis kesadaran psikobiologis, sebuah lapis kesadaran yang bersifat sensasional dan terfokus pada pengalaman indriawi. Contoh sederhana adalah munculnya kesadaran manusia untuk makan karena distimulasi oleh perihnya perut yang lapar keroncongan.

Kedua, lapis kesadaran psikososial, sebuah lapis kesadaran yang membuat manusia sadar bahwa dirinya (dan juga orang lain) memiliki pusat kesadaran masing-masing dan karenanya memberikan keunikan (uniqueness) serta juga keterasingan (loneliness). Dari kondisi inilah lahir kebutuhan untuk bersosialisasi dan berbagi. Kegagalan terhadap pemenuhan kebutuhan ini bisa membuat manusia tertekan dan frustrasi.

Ketiga, lapis kesadaran transendental, sebuah lapis kesadaran yang mengacu kepada dimensi-dimensi di luar batas manusiawi tentang mistery of life. Kondisi inilah yang membuat manusia melakukan transendensi diri untuk menguak semua misteri kehidupannya, dimensi hidup yang kompleks, mencari eksistensi diri lewat beragam upaya pengembangan diri, ilmu pengetahuan, filsafat, dan religiositas.

Ketiga lapis kesadaran itu akan bersinergi dalam situasi-situasi stabil dan normal. Misalnya, orang yang makan dan minum, pada satu momentum tertentu, bisa sebagai upaya mengenyangkan perut lapar, bersosialisasi, namun sekaligus ketertundukan kepala oleh rasa syukur, haru sekaligus sukacita atas kemurahan hati Tuhan.Sikap pro hedonisme instan yang serba sensasi(onal), seketika, sesaat, hanya berada di lapis kesadaran psikobiologis, lapis terendah kesadaran manusiawi. Jadi singkatnya, sikap-sikap anti-aktualisasi diri serta pro hedonisme instan sebagai dasar pola hidup atau budaya jalan pintas tampaknya sangat menghegemoni kehidupan kita semua, masyarakat Indonesia.

Berbagai contoh di awal tulisan mengisyaratkan hal itu secara eksplisit. Secara prinsip, semuanya itu dilakukan dalam rangka upaya kita (manusia) mendapatkan berbagai peak experiences dalam kehidupan. Peak experiences (pengalaman-pengalaman puncak) merupakan kebutuhan hakiki manusia untuk terus-menerus mendaki puncak eksistensinya.

Nah, pola hidup jalan pintas adalah upaya untuk mencapai berbagai pengalaman puncak, namun bersifat segmental, sepotong-sepotong, sesaat, meaningless, dan bahkan sesungguhnya tidak manusiawi. Adapun pencapaian pengalaman puncak yang seharusnya dicapai secara esensial adalah komprehensif dan berkesinambungan, melalui proses aktualisasi diri, serta integral dan meaningful, melalui lapis kesadaran transendental.

Sampai di sini terlihat jelas, betapa budaya atau pola jalan pintas dalam menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara selama ini sangat kontradiktif dengan prinsip pemenuhan kebutuhan akan pengalaman puncak melalui aktualisasi diri dan fungsionalisasi kesadaran transendental. Padahal tanpa semuanya itu, kita sebagai individu warga negara, ataupun kolektif sebagai bangsa, tak akan pernah mampu menguak batas- batas tertinggi kapasitas manusiawi, sulit menyentuh berbagai misteri kehidupan yang kaya dengan hakikat kehidupan, mustahil mendaki tangga-tangga tertinggi eksistensi manusiawi.

8

Pada ujungnya, terjadilah semua kontradiksi kondisi dan fakta kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia. Katanya kita adalah bangsa yang besar, kenyataannya kita tetap bangsa yang kerdil oleh berbagai ketidakadilan, penindasan, dan ketidakmerdekaan. Katanya kita adalah bangsa yang kaya, tetapi faktanya kita adalah bangsa yang melarat, rakyat tergusur-gusur, pengangguran kececeran, dan kampiun utang. Katanya kita adalah bangsa yang luhur, tetapi kondisi keseharian justru berkata, kita bangsa yang culas, bopeng oleh korupsi, “manajemen maling”, dan lainnya yang serba buruk.

Kebesaran, kekayaan, serta keluhuran memerlukan masyarakat yang mempunyai sikap (mental) penuh aktualisasi diri serta dikuasai lapis kesadaran transendental dalam kehidupan dan dalam berkarya. Saat ini kita adalah bangsa yang kerdil, melarat, serta culas, akibat pola hidup jalan pintas.

Republik Indonesia namanya-negeri tercinta ini-mau hidup seribu tahun lagi, setidaknya! Dan itu memerlukan masyarakat yang penuh aktualisasi diri dan selalu memiliki kesadaran transendental. Negeri ini bukannya tempat persinggahan sementara semacam diskotik yang dipenuhi orang- orang maniak pesta pora dengan cara-cara seenaknya atau tempat orang melampiaskan hasrat-hasrat primitif hedonisme instannya.

  1. c.               HEDONISME DAN KAPITALISME GLOBAL

Kapitalisme, bila ditinjau dari asal-usulnya, merupakan bapak dari imperialisme dan kakek dari globalisasi ekonomi, politik, ideologi, hukum dan budaya. Sebagai generasi pertama kapitalisme, imperialisme mencaplok wilayah-wilayah di luar teritorinya dengan menggunakan kekerasan, yang melahirkan kolonialisme. Sesuai karakter bapaknya, imperialisme menguras semua kekayaan alam daerah yang menjadi koloninya, meski harus memberantas semua penghalangnya dengan senjata. Ketika tindakan kasar dan tidak manusiawi dikutuk banyak pihak dan dianggap ketinggalan zaman, generasi kedua kapitalisme lahir dan diberi nama globalisasi. Dengan keadaban yang lebih meningkat, keturunan lebih lanjut kapitalisme yang tetap rakus pada keuntungan maksimal tersebut, menggarap korbannya lewat kebudayaan.

Kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika dan spiritual. Bahkan, bidang ini makin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme dan peradaban modern. Perkembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata melahirkan masalah disharmonis antara pemenuhan tujuan duniawi dan rohani. Masalah disharmonis ini sangat serius, bahkan melahirkan krisis integrasi diri dan budaya. Peradaban dunia modern yang diwarnai dengan pola pikir dan gaya hidup yang rasionalitas, materialistis, hedonis dan pragmatis ternyata belum mampu memberikan kebahagiaan yang sejati. Jawaban yang diberikan oleh ilmu pengetahuan, sains dan teknologi bersifat parsial, temporal dan lokal, belum mampu holistik dan komprehensif.

Degradasi moral, keimanan, etika dan spiritual terasa makin tak terbendung. Temuan-temuan di bidang sains dan teknologi hanyalah sebagai instrumen, bukan tujuan. Sebagai sesuatu yang bebas nilai produk intelektualitas, sangat bergantung kepada manusia yang menggunakannya.

Dari pengamatan selama bertahun-tahun, bagi Rubag, kehendak setan justru lebih mendominasi tindakan manusia. Kekacauan yang menjurus ke tindakan “serigala makan serigala” terus berlanjut dan semakin menghebat, sementara berbagai jenis sains dan teknologi dikembangkan secara maksimal dan ajaran agama pun dikumandangkan tak henti-henti. Lucunya, pembunuhan oleh manusia atas manusia terus berlangsung, bahkan di antaranya dilakukan atas nama Tuhan.

Kehendak bebas, kata Fromm, merupakan kerinduan umat manusia yang teramat dalam di era kontemporer ini. Liberalisme ekonomi, demokrasi politik, otonomi religius dan individualisme dalam kehidupan pribadi adalah prinsip-prinsip yang mereka ingin wujudkan. Kerinduan terhadap kebebasan yang berkesan kontradiktif dengan prinsip-prinsip kebebasan menciptakan bentuk-bentuk penjajahan baru. Karena, hubungan antara kerinduan dan prinsip bersifat ambivalen atau ambigu, sehingga ketika keluar dari sarang macan, mereka masuk ke kandang buaya.

9

Banyak orang kemudian tidak siap menerima kebebasan yang gigih diperjuangkannya, karena terburu masuk perangkap konsumerisme dan hedonisme. Korupsi, kriminalitas dan prostitusi yang melahirkan berbagai varian, yang bagi Rubag merupakan kehendak setan, seperti yang difatwakan Luther, menjadi warna mencolok kehidupan manusia pascamodern yang menganut budaya postmodernisme (postmo).

Rubag tertarik pandangan kaum posmodernis yang mengatakan bahwa mereka tidak punya sejarah, karena sejarah bagi mereka dimulai hari ini. Karena itu, mereka tidak mau mengingat kejadian-kejadian masa lampau yang menurut mereka terlalu rumit untuk dipikirkan. Mereka juga tak tertarik memikirkan isu-isu masa depan, sebab mereka lebih menikmati masa sekarang yang abadi. Sejarah, mitologi dan buku-buku suci yang mengandung teks terlalu panjang, bagi para pengikut nabi Postmo Lyotard atau Baudrillard, adalah narasi besar yang cuma memberatkan pikiran dan tidak cocok lagi dipakai pandangan hidup.

Hedonisme dan konsumerisme lalu dijadikan kredo, sedangkan mal, swalayan, konser musik dan cafe dipilih sebagai pusat perayaan ritual mereka. Lalu, khotbah yang mereka percaya dan ikuti saran serta nasihatnya hanya televisi, internet dan radio, karena ketiganya menyajikan narasi-narasi kecil, berupa sinetron, infotainment dan iklan, yang diselingi irama pop, rock dan dangdut. Dari ketiga berhala baru itu, mereka menyerap gaya hidup glamour yang bersemboyan, “Karena bersenang-senanglah aku ada!” untuk mendekonstruksi semboyan kaum Cartesian, “Karena berpikirlah aku ada!” 

Amnesia sejarah akibat konsumerisme dan hedonisme menyebabkan lahirnya apatisme atau paham yang tidak peduli atas apa pun yang terjadi. Apalagi masa depan bangsa dan negara. Menggelembungnya jumlah Golput sebanyak 34,5 juta orang dan swingging voters yang mendongkrak perolehan suara parpol baru yang jelas belum punya ideologi pada Pemilu 2004 lalu, merupakan indikasi signifikan atas apatisme tersebut.

Konsumerisme dan hedonisme yang disebarkan kapitalisme global lewat berbagai cara, bagi Rubag, seakan-akan sudah mendarah daging bagi masyarakat, khususnya kalangan berpangkat dan berduit. Iklan-iklan menggoda, kata Wahyu Wibowo, mirip seperti nenek sihir yang datang setiap saat di sekitar masyarakat. Setelah menebar mantra-mantra lalu menghilang, namun segera diganti aktor dan aktris ganteng dan cantik pemain sinetron sabun, yang di sekujur tubuhnya juga menempel balutan iklan. Dari sandal atau sepatu hingga jepitan rambut, dari kutek hingga ikatan gigi, merupakan semiotika konsumerisme yang merangsang orang berduyun-duyun mengunjungi mall, shopping center, dan swalayan. Teknologi dan desain yang dimodifikasi setiap saat membuat para konsumen membeli karena keinginan, bukan kebutuhan. Semua dibeli bukan karena belum punya, namun karena yang dimiliki dirasa ketinggalan zaman dan untuk ”jaim” atau jaga imej, si dompet harus dikuras.

10

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Solovon C. Robert, 1987, Etika Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.

2.   Berstens,K, Etika, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994.

3.   Tjahjono, H, Republik Ini Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, www. Bali. Com

4.   Supeli Karlina, Carpe Diem, Majalah Kartini.

5.   Www. Bali-Post.co-id.

 

 

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Etika sebagai refleksi manusia tentang apa yang dilakukannya dan dikerjakannya mempunyai suatu tradisi yang panjang.namun banyak gejala menunjukkan bahwa di zaman kita minat untuk etika tidak berkurang justru bertambah. Sebabnya tentu karena kita lebih dari generasi sebelumnya menghadapi berbagai masalah moral yang baru dan berat. Masalah-masalah itu ditimbulkan karena perkembangan pesat dibidang ilmu dan teknologi, tapi juga karena perubahan sosio-budaya yang mendalam yang pada waktu bersamaanberlangsung dimana-mana dalam masyarakat modern.

Etika adalah pelajaran tentang hidup yang baik dalam pengertian bahwa hal itu merupakan usaha yang sangat penting untuk mengerti susunan dan prioritas nilai-nilai kita dan bagaimana nilai-nilai tersebut terpadu harmonis. Aristoteles menulis panjang lebar tentang hidup baik dan kebahagiaan, dan menegaskan bahwa hidup yang paling baik dan paling bahagia adalah hidup dengan penalaran dan perbuatan penuh kebajikan.sebagai seorang filsuf dia cenderung menekankan “hidup komtemplatif”, hidup berpikir, karena inilah kegiatan manusia yang paling tinggi dalam cara berpikirnya. Namun demikian dia juga menegaskan bahwa hidup mestinya penuh dengan kesenangan-kesenangan dan sahabat-sahabat, dengan kehormatan dan famili,dan mestinya bukan hidup terisolasi seperti kehidupan pertapa.

Terlepas dari kecendrungan seseorang terhadap kehidupan penuh kenikmatan yang tak bermoral atau terhadap hidup religius dengan penyangkalan diri dan kesederhanaan, bila pencarian hidup yang baik diukur dengan kepuasan perseorangan semata-mata, kitan mungkin akan menjadikan etika sebagai masalah kesenangan dan selera pribadi yang bersifat subjektif semata-mata.dan bukan lagi masalah benar atau salah.

Satu cara untuk memperjalan hal ini adalah membedakan diantara sekian pengertian “kepuasan” yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa mungkinlah memuaskan kinginan kita yang mendesak tetapi kemudian kita sendiri yang tidak puas pada akhirnya.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu filsafat moral yaitu hedonisme dan penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Hedonisme adalah pandangan tentang kesenangan. Dalam dunia modern ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk yang lain. Hedonisme merupakan “etika implicit” yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. Pada kenyataannya mereka berpegang pada prinsip-prinsip hedonistis. Didalam makalah yang sederhana ini tidak membahas hedonisme terlalu dalam tetapi hanya mengambil batasan hedonisme dalam kehidupan yang sederhana.

  1. RUANG LINGKUP PENULISAN

Ruang lingkup penulisan makalah ini mencakup sejarah hedonisme, ahli-ahli yang menganut paham hedonisme, dan pengaruh hedonisme dalam kehidupan kita sehari-hari.

  1. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. memperoleh gambaran yang jelas tentang hedonisme
  2. menambah pengetahuan dan ilmu tentang hedonisme dan pengaruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari
  3. menjalin kerjasama yang baik sesama mahasiswa dan dosen
  4. Menambah ilmu dan pengalaman dalam penyusunan makalah.

1

  1. METODE PENULISAN

Metode penulisan makalah ini dengan  cara studi kepustakaan yang mana sumber-sumber tentang pembahasan hedonisme diambil dari bahan-bahan perpustakaan dan juga internet.

  1. SISTEMATIKA PENULISAN

Makalah ini menguraikan tentang hedonisme dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh makalah ini diuraikan dalam tiga bab yaitu :

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang penulisan, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab kedua berisikan tentang teori hedonisme, pandangan terhadap hedonisme dan pengaruh yang ditimbulkan hedonisme dalam kehidupan sehari-hari.

Bab ketiga berisikan kesimpulan dan saran.

2

BAB III

PENUTUP

  1. A.                                  KESIMPULAN

Hedonisme atau pandangan yang menyamakan “baik secara moral” dengan “kesenangan” tidak saja merupakan suatu pandangan pada permulaan sejarah filsafat, tetapi dikemudian hari sering kembali dalam pelbagai variasi. Tendensi hedonistis terutama tampak dalam filsafat moral Inggris. Filsuf Inggris, John Locke (1632-1704), misalnya akan menandaskan : “ kita sebut baik apa yang menyebabkan atau meningkatkan kesenangan ; sebaliknya , kita namakan jahat apa yang dapat mengakibatkan atau meningkatkan ketidaksenangan apa saja atau mengurangi kesenangan apa saja dalam diri kita”. Juga dalam utilitarisme Inggris masih terdengar dengan jelas suatu nada hedonistis. Tapi dalam bentuk modernnya sifat individualistis dan egoistis dari hedonisme Yunani kuno telah ditinggalkan. Hedonisme yang menjiwai pemikiran modern itu mengakui dimensi social sebagai factor yang tidak bias disingkirkan.

Dalam dunia modern sekarang ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk yang lain. Hedonisme merupakan etika implisit yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. Dan bukan saja pada taraf individual hedonisme tersembunyi ini dapat ditemukan , dalam masyarakat luas pun hedonisme tidak absen. Jika kita menganalisis publisitas periklanan dalam masyarakat yang disebut konsumeristis sekarang ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk menunjukkan dibelakangnya cita-cita hedonisme.

Sudah sejak sastrawan Inggris, Oscar Wilde, menulis novel Dorian Grey, new hedonism ia sebut sebagai tuntutan zaman (maksudnya abad ke-18). Namun hedonisme sebetulnya sudah muncul sejak abad ke-4 SM. Bagi para hedonis yang sungguh baik bagi manusia adalah yang memberi kesenangan. Bukankah sejak kecil manusia selalu merasa tertarik akan kesenangan? Bila kesenangan sudah tercapai , ia tidak akan mencari sesuatu yang lain lagi.

Mungkin kita tidak perlu sampai membaca Dorian Gray untuk memahami hedonisme baru sesuai dengan zamannya.cukuplah kita menyetel televisidan memilih salah satu saluran yang mana saja, antara pukul 19.00 – 21.00. Itu prime time. Artinya jumlah pemirsa diyakini paling banyak. Saat itu semua saluran menayangkan hiburan mulai dari dangdut, sinetron, kuis sampai gossip.

Tawaran-tawaran kesenangan , ada musik yang dilengkapi dengan goyang tubuh yang kian hari kian sensual, ada tawaran dapat uang hanya dengan menebak jawaban bagi pertanyaan yang sebagian besar tidak mencerdaskan.ada dunia rekaan sinetron yang hampir tak ditemukan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.ada kisah sensasional para selebriti. Tayangan-tanyangan itu pun ditaburi janji iklan bagi improvement kilat laksana sulap (kulit lebih putih dalam lima hari, tubuh lebih langsing dalam seminggu, rambut lebih berkilap dalam sekali keramas dengan shampoo produk tertentu). Saking sibuknya mencari kesenangan , jangan jangan pada akhirnya kita semua Cuma meraih udara kosong , sementara para pemilik modal yang membuat kita berlarian mengejar kesenangan yang mereka tawarkan , meraih laba sebanyak-banyaknya dari kantong jiwa kita yang semakin dangkal.

Dari ini semua dapat disimpulkan bahwa dampak hedonisme dalam kehidupan kita sehari-hari lebih banyak mengarah kearah yang negatif dan merugikan diri sendiri dan orang banyak.

  1. SARAN

Sesuai dengan kesimpulan diatas maka kelompok menyarankan kepada pembaca :

  1. Cepat tanggap dan peka terhadap masalah masalah etika yang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari terutama yang berhubungan dengan hedonisme yang bersifat negatif.
  2. Meningkatkan pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan etika dan penerapannnya dalam kehidupan kita sehari-hari.
  3. Melaksanakan atau mempraktekkan apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk yang berhubungan dengan pelajaran etika dan hedonisme ini.
  4. Kepada perpustakaan untuk lebih banyak menyediakan referensi buku-buku yang berhubungan dengan etika.
 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: