RSS

Kasuistik

20 May

BAB II

PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

  1. PENGERTIAN KASUISTIK

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengetian kasuistik yaitu ilmu atau moral. Jika dihubungan dengan ilmu kedokteran kasustik berarti sebab-sebab timbulnya sesuatu, kumpulan kasus penyakit dokter membuat catatan dan diagnosa melalui Tanya jawab dengan pasiennya.

 

  1. PERKEMBANGAN KASUISTIK

 

Jika kita memandang sejarah etika kasuistik mempunyai suatu tradisi panjang dan kaya yang sebebnarnya sedah dimulai dengan pengertian Aristoteles mengenai etika sebagai ilmu praktis. Karena sifatnya praktis, setiap uraian tentang etika dengan sendirinya disertai contoh-contoh konkret yang sudah terlihat sejak permulaan sejarah etika itu mudah berkembang kea rah kasuistik. Tapi dalam perkembangannya sering mengalami turun naik. Zaman kejayaan kasuistik di susul zaman kemunduran dan kecurigaan. Salah satu zaman kejayaan adalah abad pertengahan ketika metode kasuistik banyak dipakai dalam teologi moral Kristen khususnya dalam kaitan dengan praktek pengakuan dosa. Puncak kejayaan kasuistik berlangsung antara pertengahan abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17. pada waktu itu diterbitkan banyak buku tentang teologi moral yang di dasarkan atas metode kasuistik. Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan amat mendadak karena kritik Blaire Pascal (1623-1662). Dalam bukunya surat-surat provincial (1656-1657) Filsuf Prancis ini melontarkan serangan tajam kearah teolog-teolog yang menurutnya menyalahgunakan kasuistik untuk mempermudah tingkah laku permisif bagi orang-orang bangsawan yang kaya. Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama di anggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

 

  1. PENERAPAN KASUISTIK

 

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang dimana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis. Dalam buku pegangan dan majalah tentang etika biomedis sudah menjadi kebiasaan agak umum membicarakan kasus-kasus konkrit.

Praktek kasuistik ini cocok sekali dengan bidang kedokteran itu sendiri. Ilmu kedokteran juga mempunyai tradisi panjang menerapkan prinsip-prinsip ilmiahnya pada kasus-kasus konkret. Pengetahuan tentang penyakit pun bisa dianggap sebagai hal abstrak yang perlu diterapkan pada kasus pasien dengan mengikutsertakan situasinya yang khusus.

Sebelum menentukan diagnosis, seorang dokter yang baik tidak akan lupa membuat anamnesis dulu atau yang dalam bahasa Inggris disebut The Case History (riwayat kasusnya). Ia akan mengajukan pertanyaan seperti ini : “penyakit apa yang diidap pasien sebelumnya? Penyakit apa yang pernah terjadi dalam keluarganya ? akhir-akhir ini pasien berada di tempat mana (di daerah malaria umpamanya) ? dan lain-lain.” Baru sesudah itu ia akan memastikan penyakit pasien. Juga dalam mendidik dokter-dokter baru atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi dokter-dokter lama , sering dipergunakan metode kasus. Juga dalam teologi Kristen abad pertengahan berulang kali ditekankan bahwa seorang Teolog moral harus bertindak seperti “seorang tabib yang berpengalaman” dalam mengamalkan ilmunya. Dengan demikian minat besar untuk kasuistik dalam etika biomedis bukan merupakan hal yang baru, tapi hanya menghidupkan kembali suatu metode yang sudah lama dikenal dalam ilmu dan praktek kedokteran.

Suatu bidang lain dimana kasuistik sudah lama dipraktekkan adalah hukum. Disitu juga ketentuan-ketentuan yang umum diterapkan pada kasus-kasus konkret. Dan disitupun situasi khusus si klien memainkan peranan penting dalam konteks kehakiman sering dibicarakan tentang faktor-faktor yang meringankan atau memberatkan.

Hal yang masih agak baru bagi kasuistik adalah etika bisnis, seperti cabang terapan etika itu sendiri masih sesuatu yang baru. Dalam buku pegangan tentang etika bisnis kini tak urung akan ditemukan juga pembahasan kasus. Hal ini sejalan dengan ilmu manajemen modern yang juga banyak dipraktekkan dengan menganalisis kasus-kasus konkret, terutama di Amerika Serika. Tendensi dalam etika terapan sekarang ini rupanya sesuai dengan orientasi dalam ilmu manajemen modern, sehingga hampir diam-diam kasuistik memasuki etika bisnis juga. Mengapa kasuistik bisa menjadi cara yang popular untuk menangani masalah-masalah moral ? karena ternyata kasuiatik diakui sebagai metode yang efisien untuk mencapai kesepakatan di bidang moral. Jika orang berangkat dari teori, jauh lebih sulit untuk sampai pada kesepakatan seperti itu.

 

  1. PENTINGNYA KASUISTIK DALAM DUNIA KEPERAWATAN

 

Mengahdapi maslah-masalah moral yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tenaga medis harus bersedia melibatkan diri secara aktif , karena sumbangan mereka bersifat menentukan. Maslah ledakan penduduk yang berkaitan dengan praktik-praktik kontrasepsi, sterilisasi dan aborsi, tidak boleh ditentukan oleh para politisi dan ahli hukum saja. Masalah narkotik yang membahayakan kesejahteraan bangsa, terutama generasi muda, tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa keterlibatan aktif dari tenaga media. Juga dalam menangani masalah baru seperti AIDS, tenaga medis harus ikut menyumbangkan pikiran dan keahlian mereka.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pasien

 

Hubungan antara tenaga medis dan pasien ditandai oleh kepercayaan timbale balik. Tenaga medis berusaha membantu pasien dengan sebaik mungkin dan mau menyimpan semua rahasia. Pasien, bahkan sesudah pasien itu meninggal. Mereka menambah pengetahuan dan keterampilan terus menerus demi ke[pentingan orang sakit, dan tetap rendah hati dan mengenal batas-batas kemampuan mereka. Mereka setia membantu pasien, dan tidak meninggalkan mereka bila belum jelas bahwa ada tenaga media lain yang akan meneruskan perawatan. Mereka memberi kebebasan pada pasien untuk berhubungan dengan keluarga, dan dengan penasehat mereka dalam bidang agama. Itu semua merupakan dasar yang kuat bagi apsien, untuk percaya penuh pada mereka. Tenaga medispun percaya pada pasien, maka mereka menghargai hati nurani pasien. Yang terpenting untuk diperhatikan oleh tenaga medis dalam hubungan dengan pasien ialah bahwa merekka itu manusia seutuhnya, maka perlu siperlakukan dan dibantu secara manusiawi sepenuhnya. Walaupun tenaga medis teerutama bertanggung jawab atas kesehatan badan meraka, tidak boleh dilupakan segi-segi kejiwaan dan kerohanian yang merupakan kesatuan dengan segi kejasmanian mereka. Para ahli semakin memahami bahwa obat dan perawatan hanya merupakan salah satu usaha dari berbagai kenyataan yang memabntu penyehatan kembali para pasien. Sebab, ada kenyataan lain yang membantu kesembuhan orang sakit, misalnya : tekad pasien untuk sembuh, dan hidup terus; dukungan dan doa keluarga; dan berkat dari Tuhan sendiri.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan masyarakat

 

Dalam abad-abad terakhir ini, orang semakinmenyadari segi sosial dari hisup mereka. Walaupun setiap individu bersifat unik dan merupakan pribadi yang bebas, ia sekaligus mempunyai kodrat sosial sebagai mahkluk yang memerlukan dan diperlukan oleh orang lian. Proses sosialisasi, baik dalam kesadaran maupun dalam kenyataan kehidupan dalam masyarakat juga terjadi dalam lingkungan tenaga medis.

Kalau pada zaman dulu tenaga medis melakukan tugas mereka dengan perhatian penuh pada masing-masing pasienyang menjadi langganan mereka, maka dewasa ini mereka bekerja dalam “team” yang tidak hanya mempunyai tanggung jawab atas masing-masing penderitas sakit, melainkan juga terhadap kesejahteraan masyarakat luas, terhadap seluruh banagsa. Tanggung jawab keluarga besar tenaga medis terhadap kesejahteraan seluruh masyarakat tidak hanya bersifat kuratif, melainkan juga bersifat preventif. Tanggung jawab itu mereka laksanakan sebagai kewajiban moral, yang juga mereka jalankan tanpa diminta oleh masyarakat, tanpa diperintahkan oleh pemerintah. Sebab panggilan yang dulu dimenergerti sebagai panggilan membantu masing-masing orang sakiat, ini lebih dipahami sebagai pamnggilan untuk ikut mensejahterakan seluruh masyarakat.

 

  1. Hubungan antara tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya

 

Dalam sumpah Hipocrates, terungkap kerendahan hatinya sebagai tenaga medis, yang selalu bersedia bekerja sama dengan tenaga medis dan pejuang kemanusiaan lainnya. Ia bersumpah untuk mencintai para gurunya dalam bidang medis seperti mencintai bapak ibunya sendiri, dan bersedia membagi harta dengan mereka, apabila memang perlu. Ia bersedia memperlakukan anak-anak mereka sebagai saudara kandungnya. Ia bersedia mengajar siapa saja yang ingin menjadi tenaga medis , asal mau menerima etos yang menjiwainya.

Tenaga medis bekerja sama dengan tenaga medis serta pejabat-pejabat pemerintah di bidang kesehatan masyarakat, pertama-tama karena mereka mempunyai tujuan dan panggilan hidup yang sama, yakni mengabdikan hidup mereka untuk kemanusiaan, membantu orang-orang yang menderita sakit, dan membantu mereka yang sehat supaya tidak jatuh sakit. Kerja sama itu seharusnya meliputi berbagai bidang terutama di bidang penelitian, penyelidikan dan pengembangan kesehatan masyarakat. Sebab pengembangan dan pengetahuan dan pelayanan medis hanya terlaksana secara berdaya guna apabila dilaksanakan bersama,. Oleh berbagai spesialis bidang medis yang berbeda-beda. Para ahli yang mengadakan percobaan-percobaan dan penelitian medis harus jujur dan rendah hati dalam mengumumkan hasil-hasil usaha mereka. Sebab hanya dengan demikian para dokter dan tenaga medis lainnya sungguh-sungguh mendapat bantuan yang berarti. Percobaan-percobaan itu tidaklah dipakai dari kemasyuran mereka sendiri melainkan demi pengembangan pelayanan medis bagi mayarakat, bagi kemanusiaan.

Dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan baru yang dpat dilaksanakan oleh tenaga medis, kerja sama dengan para ahli di bidang etika mutlak perlu, supaya kemungkinan-kemungkinan baru itu tidak mewujudkan suatu ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan, misalnya dalam hal : inseminasi buatan dalam tabung, cloning, operasi otak, euthanasia, kontrasepsi, tranplantasi. Dalam kerja sama itu, kedua belah pihak saling mengembangkan pandangannya secara jujur, tidak saling menyalahkan. Juga etika tidak boleh mendikte begitu saja apa yang harus dilakukan oleh tenaga medis .

Selain hal tersebut di atas, masalah-masalah etika moral muncul di antara perawat dank lien, perawat dan dokter, perawat dan pegawai lainnya. Yang mana perawat sering mendapatkan masalah ketika dalam melaksanakan tugasnya.

  • Masalah perawat dan klien dapat berupa ketidakcocokan antara klien, terjadi pengelompokan dan tidak terjadinya interaksi satu sama lain.
  • Masalah lain yang timbul antara perawat dan dokter, yaitu :

v  Masalah rasa menghormati dalam lingkup profesi

v  Ketidakcakapan seorang dokter yang berdampak ke perawat.

  • Masalah perawat dengan perawat lain (pegawai lain) adalah :

v  Kurangnya loyalitas perawat = kurangnya kerja sama perawat dalam menangani pasien

v  Ketidak cakapan perawat = ketidakmampuan perawat dalam mengatasi masalah kliennya.

 

Dari masalah-masalah di atas, maka dipandang perlu adanya pembahasan masalah-masalah kasuistik untuk memecahkan kasus-kasus kompleks.

 

  1. UPAYA HUKUM BAGI KASUS MAL PRAKTEK

Definisi Mal Praktek menurut Taufik Basari, SH. SS, Kepala Divisi Advokasi Publik LBH Jakarta, adalah kesalahan dokter maupun tenaga medis sesuai dengan standar profesi kedokteran atau sesuai dengan ukuran-ukuran ilmu pengetahuan medis dan pengetahuan rata-rata tenaga medis secara umum.

Mal praktek dapat dikelompokkan dalam dua katagori yaitu perbuatan melawan hukum dan pelanggaran perjanjian. Hal hal yang masuk kategori perbuatan melawan hukum misalnya kelalaian, kesalahan atau ketidakhati-hatian yang dilakukan tenaga medis terhadap pasien. Sedangkan kategori pelanggaran perjanjian adalah setiap tindakan dokter bagi pasien yang dikatakan tidak tepat memberikan hasil.

Criteria “hasil”, menurut Taufik, bisa dalam arti sembuh atau lebih baik, ataupun berarti peningkatan. Misalnya pasien bedah plastic mungkin tidak sakit, tapi dia mengharapkan dengan operasi plastic bisa mendapat hasil yang lebih baik. Jadi dokter terikat untuk memenuhi perikatan tersebut. Ketika hasil itu tidak terjadi berarti ada pelanggaran perjanjian.

 

 

 

EMPAT UPAYA HUKUM

Korban atau keluarga korban yang mengalami malpraktek dapat menempuh 4 upaya hukum, yaitu :

  • Tuntutan pidana. Kasus kelalaian dokter atau tenaga medis yang menyebabkan kematian merupakan kasus yang dapat dituntut secara pidana.
  • Tuntutan perdata. Melalui tuntutan ini korban dapat meminta ganti rugi atau permintaan maaf dari dokter atau tenaga medis yang bersangkutan. Pada gugatan perdata juga dikenal istilah “pemenuhan kembali”, misalnya dalam kasus operasi plastic yang tidak berhasil sehingga malah merusak bagian tubuh pasien, maka dokter dapat dituntut melakukan operasi ulang tanpa biaya bagi si korban.
  • Prose internal korps kedokteran dengan menggunakan jalur MKEK ( Majelis Kode Etik Kedokteran ).
  • Upaya administrasi. Upaya hukum ini sangat lemah dan kasuistik sekali, yaitu hanya untuk permasalahan izin praktik, bukan untuk kasus kelalaian atau kecelakaan. Contohnya, seorang sarjana kedokteran yang membuka praktik dokter umum, bila melakukan salah penanganan pada pasien maka dapat dituntut secara administrative.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

  1. KESIMPULAN

Dengan kasuistik dimaksudkan usaha untuk memecahkan kasus-kasus konkret di bidang moral dengan menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum. Kasuistik ini sejalan dengan maksud umum etika terapan.

Tidak mengherankan bila dalam suasana etis yang menandai zaman kita sekarang, timbul minat baru untuk kasuistik. Salah satu zaman kejayaan kasuistik adalah abad pertengahan, ketika metode kasuistik banyak di pakai dalam teologi moral Kristen, khususnya dalam berkaitan dengan praktek pengakuan dosa.

Zaman emas bagi kasuistik ini berakhir dengan agak mendadak karena kritik Blaise Pascal (1623 – 1662). Mulai dengan serangan Pascal ini kasuistik mendapat nama kurang baik dan cukup lama dianggap sinonim dengan memanipulasi kasus moral sambil mengorbankan prinsip-prinsip etis yang penting.

Dalam etika terapan sekarang ini kasuistik menduduki tempat terhormat lagi. Uraian-uraian tentang etika terapan kerap kali disertai dengan pembahasan kasus. Salah satu cabang di mana kasuistik sekarang paling banyak dipergunakan adalah etika biomedis.

 

  1. SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas kelompok ingin menyarankan kepada pembaca untuk lebih banyak lagi membaca literatur dari sumber-sumber lainnya karena keterbatasan materi yang kami sampaikan di sini. Selain itu kami juga menyarankan untuk menerapkan ilmu yang telah di dapatkan selama berada di lapangan nantinya terutama di saat menemukan kasus-kasus kasuistik yang perlu di tangani secara moral berdasarkan prinsip etika.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

  1. K. bertens, 2001, Etika, PT. Gramedia, Jakarta.
  2. Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo Msf, 1989, Etika Medis, Pustaka Filsafat, Yokyakarta.
  3. Http://www. Tabloid-nakita.com/artikelz.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: