RSS

UTILITARISME

20 May

 

Dalam sejarah filsafat terdapat banyak sistem etika artinya banyak uraian sistematis yang berbeda beda tentang hakikat moralitas dan peranannya dalam hidup manusia. Utilitarisme mengajarkan bahwa semua tindakan dan keadaan harus ditentukan oleh akibat-akibatnya.

Utilitarisme adalah salah satu konsep tentang etika yang ada dalam masyarakat. Utilitarisme terbagi dua yaitu :

 

  1. 1.       Utilitarisme Klasik

 

Aliran ini berasal dari tradisi pemikiran moral di United Kingdom dan di kemudian hari berpengaruh ke seluruh kawasan yang berbahasa Inggris. Filsuf Skotlandia, Davis Hume (1711-1776), sudah memberi sumbangan penting kea rah perkembangan aliran ini, tapi utilitarisme menurut bentuk lebih matang berasal dari filsuf Inggris Jeremy Bentham (1748-1832), dengan bukunya Introduction to the Ptinciples of moral and Legislation (1789). Utilitarisme dimaksudkan sebagai dasar etis untuk membaharui hukum Inggris, khususnya hukum pidana. Jadi ia tidak ingin menciptakan suatu teori moral abstrak, tetapi mempunyai maksud sangat konkret. Ia berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga Negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi yang disebut hak-hak kodrati. karena itu ia beranggapan bahwa kalsifikasi kejahatan , umpamanya, dalam sistem hukum Inggris sudah ketinggalan zaman dan harus diganti. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan atas berat tidaknya pelanggaran dan yang terakhir ini diukur berdasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. Suatu pelanggaran yang tidak merugikan orang lain, menurut Bentahm sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan criminal, seperti misalnya pelanggaran seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Bentham mulai dengan menekankan bahwa umat manusia menurut kodratnya ditempatkan di bawah pemerintahan dua penguasa yang berdaulat : ketidaksenangan dan kesenangan. Menurut kodratnya manusia menghindaari ketidaksenangan dan mencari kesenangan. Kebahagiaan tercapai, jika ia memiliki kesenangan dan bebas ddari kesusahan. Dalam hal ini Bentham sebenarnya melanjutkan begitu saja hedonisme klasik.

Karena menurut kodratnya tingkah laku manusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk, sejauh mana dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Dalam hal ini Bentham meninggalkan hedonisme individualistis dan egoistis dengan menekankan bahwa kebahagiaan itu menyangkut seluruh umat manusia. Moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian Bentham sampai pada The principle fo utility yang berbunyi : the greatest happiness of the greatest number, “kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar”. Prinsip keguanaan ini menjadi norma untuk tindakan-tindakan kita pribadi maupun untuk kebijaksanaan pemerintah, misalnya dalam menentukan hukum pidana.

Menurut Bentham , prinsip kegunaan tadi harus diterapkan secara kuantitatif belaka. Karena kualitas kesenangan selalu sama, satu-satunya aspeknya yang bisa berbeda adalah kuantitasnya. Bukan saja greatest number tapi juga the greatest happiness dapat diperhitungkan. Untuk itu ia mengembangkan the hedonistic calculus. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungkan menurut intensitas dan lamanya perasaan yang diambil daripadanya, menurut akibatnya, menurut kepastian akan dapat menghasilkan perasaan itu, menurut jauh dekatnya perasaan, menurut kemurnian serta jangkauan perasaan dan sebagainya. Perhitungan ini akan menghasilkan saldo positif, jika kredit (kesenangan) melebi\hi debetnya (ketidaksenangan). Salah satu contoh dari perbuatan itu dapat digambarkan sebagai berikut :

 

KEMABUKAN

Ketidaksenangan (debet)

Kesenangan (kredit)

Lamanya : Singkat

 

Akibatnya : – Kemiskinan

-Nama buruk

-Tidak sanggup bekerja

 

Kemurnian : dapat diragukan

(= dalam keadaan mabuk

sering tercampur unsure

ketidaksenangan)

Intensitas    : membawa banyak

kesenangan

 

Kepastian   : kesenangan pasti terjadi

 

Jauh/dekat  : kesenangan timbul cepat

 

 

Seandainya tidak ada segi negatif, maka keadaan mabuk akan merupakan sesuatu yang secara moral baik. Tapi sebagai keseluruhan saldo adalah negatif dan menurut Bentham malah sangat negatif, sehingga kemabukan harus dinilai secara moral sangat jelek. Moralitas semua perbuatan dapat diperhitungkan dengan cara sejenis.

Utilitarisme diperhalus dan diperkukuh lagi oleh filsuf Inggris besar, John Stuart Mill (1806 – 1873) dalam bukunya utilitarianism (1864). Dari pendapatnya patutu disebut di sini dua hal. Pertama ia mengeritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus di ukur secara kuantitatif. Ia berpendapat bahwa kualitasnya perlu dipertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Kesenangan manusia harus dinilai lebih tinggi daripada kesenangan hewan, tegasnya, dan kesenangan orang seperti sokrates lebih bermutu daripada kesenangan orang tolol. Tetapi kualitas kebahagiaan dapat diukur juga secara empiris, yaitu kita harus berpendapat pada orang yang bijaksana dan berpengalaman dalam hal ini. Orang seperti itu dapat memberi kepastian tentang mutu kesenangan.

Pikiran Mill yang kedua yang pantas disebut di sini adalah bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan satu orang saja yang barangkali bertindak sebagai pelaku utama. Raja dan seorang bawahan dalam hal ini harus diperlakukan sama. Kebahagiaan satu orang tidak pernah boleh dianggap lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. menurut perkataan Mill sendiri : everybody to count for one, nobody to count for more than one. Dengan demikian suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan, di mana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

Salah satu kekuatan utilitarisme adalah bahwa mereka menggunakan sebuah prinsip jelas dan rasional. Dengan mengikuti prinsip ini pemerintah mempunyai pegangan jelas untuk membentuk kebijakannya dalam mengatur masyarakat. Dan salah satu tujuan utama Bentham memang demikian. Suatu kekuatan lain adalah bahwa teori ini memperhatikan hasil perbuatan. Kita semua mempunyai kesan spontan bahwa hasil perbuatan turut menentukan kualitas etis perbuatan itu. Suatu perbuatan yang mempunyai akibat jelek-karena umpamanya mencelakakan orang lain- mempunyai peluang lebih besar untuk dianggap secara etis jelek daripada perbuatan yang mempunyai akibat baik (karena umpamanya membantu orang lain). Kita mempunyai simpati untuk Robin Hood, karena ia mencuri dari orang kaya untuk membagi jarahannya kepada orang miskin. Dengan demikian kerugian orang kaya tidak seberapa dan orang miskin tertolong. Akibat dari perbuatannya itu memang membuat pencuriannya tampak lain daripada bilamana ia mencuri dengan akibat semata-mata memperkaya diri. Akan tetapi, utilitarisme mempunyai juga beberapa kelemahan serius. Sekarang kita akan memandang beberapa keberatan terhadap utilitarisme.

 

  1. Keberatan-keberatan yang dikemukakan terhadap hedonisme untuk sebagian berlaku juga bagi utilitarisme. Tapi utilitarisme tidak lagi memuat egoisme etis, karena prinsip kegunaan berbunyi: kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar. Utilitarisme tidak lagi mengambil sebagai titik acuan pelaku individual saja, melainkan umat manusia sebagai keseluruhannya. Tapi dapat dipertanyakan bagaimana Bentham bisa mempertanggung jawabkan sifat umum itu. Ia bertolak dari suatu dasar psikologis: Sebagai manusia kita mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Dasar psikologis itu bersifat semata-mata individualistis. Karena itu ia tidak konsekuen dengan loncatannya ke jumlah orang terbesar. Kita tidak mendengar bagaimana loncatan ini bisa dipertanggungjawabkan.
  2. Prinsip kegunaan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya benar. Misalnya, kita bisa bayangkan suatu kasus sadisme di mana satu orang dengan cara kejam disiksa oleh banyak orang lain. Kalau kesenangan para penyiksa melebihi penderitaan korban, maka menurut prinsip utilitarisme perbuatan itu bisa dinilai baik. Di sini kesdaran moral kita akan memberontak. Semua orang akan mengatakan bahwa kesenangan yang diperoleh dengan membuat menderita orang lain, tidak pernah dapat dibenarkan. Dengan kata lain, dalam sistem utilitarisme tidak ada tempat untuk paham “hak”. Padahal, hak merupakan suatu kategori moral yang amat penting.
  3. Keberatan lain lagi adalah bahwa prinsip kegunaan tidak memberi jaminan apapun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan sejahtera serta hanya ada minoritas kecil yang serba miskin dan mengalami rupa-rupa kekurangan, menurut utilitarisme dari segi etis masyarakat seperti itu telah diatur dengan baik, karena kesenangan melebihi ketidaksenagan. Akan tetapi, kita berpendapat bahwa masyarakat itu justru tidak diatur baik, karena tidak disusun dengan adil. Sebuah contoh lain yang bisa menimbulkan kesulitan untuk utilitaisme adalah menepati janji. Bila saja bahwa kebahagiaan lebih banyak orang akan ditingkatkan drastic karena suatu janji tidak ditepati dan bahwa neraca antara kesenangan dan tidak kesenangan menunjukkan bahwa secara menyeluruh kesenangan jauh lebih banyak, namun kita harus menegaskan bahwa janji tetap harus ditepati. Ini pun merupakan suatu masalah keadilan. Kita menyimpulkan bahwa salah satu kekurangan pokok utilitarime sebagai sistem moral adalah bahwa mereka tidak dapat menampung prinsip keadilan dalam teori mereka. Karena itu sistem moral yang hanya didasarkan atas prinsip kegunaan tidak bisa diterima sebagai suatu sistem moral yang lengkap.Tapi pretensi mereka sesungguhnya demikian.

 

  1. 2.       Utilitarisme Aturan

 

Suatu percobaan yang menarik untuk mengatasi kritikan berat yang dikemukakan terhadap utilitarisme adalah membedakan antara dua macam utilitarisme: utilitarisme perbuatan dan utilitarisme aturan. Hal ini dikemukakan antara lain oleh filsuf Inggris-Amerika Stephen Toulmin. Toulmin dan kawan-kawannya menegaskan bahwa prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas salah satu perbuatan (sebagaimana dipikirkan dalam utilitarisme klasik), melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan kita. Orang sebaiknya tidak bertanya “apakah akan diperoleh kebahagiaan paling besar untuk paling banyak orang, jika seseorang menepati janjinya dalam situasi tertentu?” Yang harus ditanyakan adalah: “apakah aturan moral ‘orang harus menepati janjinya’ merupakan aturan yang paling berguna bagi masyarakat atau sebaliknya, aturan ‘orang tidak perlu menepati janji’ menyumbangkan paling banyak untuk kebahagiaan paling banyak orang?” Tanpa ragu-ragu dapat kita jawab bahwa aturan “orang harus menepati janji” pasti paling berguna dan kerena itu harus diterima sebagai aturan moral. Juga kesulitan-kesulitan lain terhadap utilitarisme, seperti hak manusia atau perlunya keadilan, akan hilang dengan sendirinya, asal prinsip kegunaan diterapkan atas aturannya dan bukan atas perbuatan satu demi satu.

Filsuf seperti Richard B. Brandt melangkah lebih jauh lagi dengan mengusulkan agar bukan aturan moral satu demi satu, melainkan sistem aturan moral sebagai keseluruhan diuji dengan prinsip kegunaan. Kalau begitu, perbuatan adalah baik secara moral, bila sesuai dengan aturan yang berfungsi dalam sistem aturan moral yang paling berguna bagi suatu masyarakat.

Utilitarisme aturan ini merupakan sebuah varian yang menarik dari utilitarisme. Perlu diakui bahwa dengan demikian kita bisa lolos dari banyak kesulitan yang melekat pada utilitarisme perbuatan. Namun demikian, utilitarisme aturan ini sendiri tidak tanpa kesulitan juga. Kesulitan utama timbul, jika terjadi konflik antara dua aturan moral. Misalnya, seorang bapak keluarga mencuri uang untuk dapat membeli obat yang sangat dibutuhkan bagi anaknya.Jika anak itu tidak minum obat tersebut, segera ia akan mati. Bapak itu sudah berusaha seribu satu cara untuk memperoleh uang yang sangat diperlukan itu, tapi selalu gagal. Tinggal kemungkinan terakhir ini: mencuri. di sini terdapat konflik antara dua aturan moral: “orang tidak boleh mencuri” dan “orang tua harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya”. Dari dua aturan moral ini, mana yang paling penting? untuk menjawab pertanyaan ini harus kita lihat situasi konkret. Dan mungkin kebanyakan orang akan mengatakan bahwa dalam situasi konkret tadi bapak keluarga itu boleh saja mencuri, asal dengan itu ia tidak terlalu merugikan orang lain. Akan tetapi, apakah dengan demikian kita tidak meniggalkan utilitarisme aturan dan terjerumus ke dalam utilitarisme perbuatan? rupanya memang demikian.

 

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: